My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Mengenang masa lalu.


__ADS_3

Author's PoV


Rayshaka kembali berkutat dengan kesibukannya sebagai ASM Nagata Paper yang terkenal sangat kompeten. Setelah hubungannya dan Kaina dimulai, dia merasa seperti memasuki sebuah babak baru kehidupan yang sudah lama ia dambakan. Sudah tidak ada lagi kekosongan di hatinya. Sudah tidak ada lagi waktu yang terbuang hanya untuk melamun dan menyesali masa lalu. Ray begitu bersyukur karena Tuhan akhirnya mengabulkan salah satu pokok doa terbesarnya selama ini.


Ia meminta Kaina Larasati akan dikembalikan ke dalam hidupnya. Dan setelah penantian panjang, akhirnya Tuhan mewujudkannya. Oleh karena itu, Ray tidak ingin membuang-buang waktu. Seperti yang ia katakan pada Kaina, dia ingin segera mengikat gadis itu dengan namanya.


Rayshaka langsung menceritakan pada kedua orangtuanya. Mengabari mereka jika dalam waktu dekat dia akan membawa Kaina ke rumah untuk berkenalan. Untungnya mama dan papanya menyambut informasi itu dengan bahagia. Akhirnya anak bungsu mereka akan segera menikah.


Senada dengan itu, Kaina juga memberitahu kepada mama dan adiknya jika dalam waktu dekat dia akan membawa Rayshaka berkunjung ke Tasikmalaya.


Kaina memandangi foto Rayshaka di ponselnya. Foto terbaru yang akhirnya dia punya setelah mereka resmi menjalin hubungan.


Ia memandangi wajah lelaki dewasa yang sudah berhasil membuatnya deg-degan terus setiap hari. Bagaimana tidak? Raysahaka benar-benar ingin segera melamarnya. Hanya berselang dua hari sejak dia menginap di kontrakan Kaina waktu itu, pria itu langsung mengajak Kaina membahas pernikahan. Dia ingin tahu kapan Kaina siap untuk menikah, karena dia sudah siap baik secara mental dan juga material. Kaina percaya tidak percaya saat Ray mengatakan bahwa dia sudah menabung dari jauh-jauh hari jika suatu saat sudah tiba waktunya untuk melamarnya. Padahal waktu itu Ray belum tahu Kaina ada dimana.


Kaina tidak berhenti berdebar saat Ray melontarkan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Kalau mau menikah nanti maunya acaranay dibuat di Bandung atau di Tasikmalaya. Mau pakai acara adat, atau resepsi modern saja.


Kaina merasa keterbukaan Ray sedikit banyak mempengaruhi kepercayaan dirinya. Jika Ray saja sudah yakin dan siap, mengapa dia harus ketakutan? Bukankah Ray adalah satu-satunya pria yang memang ingin dia nikahi? Tidak ada alasan untuk malu-malu lagi seperti anak kecil.


Oleh karena itu Kaina kini terbuka akan semua obrolan yang dibuat Ray. Terkadang mereka berdiskusi hingga berjam-jam lamanya lewat video call. Membuat jam tidur Kaina selalu mundur dari biasanya. Tapi gadis itu sama sekali tidak keberatan, karena dia suka. Dia suka mengakhiri setiap malamnya dengan mendengar suara kekasihnya.


*****


Ternyata Rayshaka termakan oleh perkataannya sendiri. Jika sebelumnya dia mengatakan mereka akan bertemu satu bulan sekali, pria itu justru mengingkarinya. Dia tidak bisa melewatkan akhir pekan tanpa Kaina.


Realitanya, setiap Jumat sore dia langsung ke Bekasi. Berakhir pekan bersama Kaina dan kembali ke Bandung di hari Minggu sore. Untungnya di setiap cabang disediakan fasilitas apartemen untuk ASM, terlepas dia datang untuk kunjungan kantor atau tidak. Mengetahui hal itu, Kaina sempat mencubit perutnya. Dia mengingat sewaktu Rayshaka ngotot ingin menginap bersamanya, padahal dia sendiri bisa tidur di apartemen.


Malam ini pun mereka sedang menghabiskan malam minggu bersama. Mereka duduk-duduk di sebuah taman kota yang cukup ramai pengunjung. Kaina mengajak Rayshaka untuk makan sate di pinggir jalan seraya menikmati udara sejuk kota Bekasi di malam hari. Oh iya, untungnya keduanya bukan tipe orang yang gengsian. Kalau bosan makan di kafe atau resto, mereka tidak keberatan untuk makan di warung tenda yang ada di pinggir jalan.


"Lucu ya kita dulu. Mau nunjukin suka saja harus cubit-cubitan. Pukul-pukulan," kenang Kaina. Mereka menikmati satenya sambil flashback ke masa lalu yang lucu.


"Hahaha ... iya. Dulu kalau kamu nyubit aku, sebenarnya rasa sakitnya cuma satu persen. Selebihnya kayak kesetrum sampai kayak mabuk kepayang," aku Ray sambil tergelak.

__ADS_1


"Aku suka tiap kali aku pergi, kamu ikutin. Sering aku sengaja ninggalin kamu supaya kamu kecarian."


"Asemmm. Jadi kamu sengaja ya?" Ray mencubit pipi Kaina geram. Yang dicubit malah asik tertawa.


"Habis kesel kamu godain Fany melulu. Ya aku keluar lah ..."


Ray tertawa lagi sambil menggigit potongan daging dari tusuk satenya.


"Eh, tapi dulu kamu beneran sempat suka Ferdi enggak sih?"


Kaina melongo, "Menurutmu?" tanyanya balik.


"Enggak. Kamu cuma mau buat aku jealous saja kan? "


"Itu tau."


"Terus, waktu yang kapan hari kita ciuman di kantor, Ferdi kan meluk kamu juga. Kok bisa?"


"Ya sama kayak kamu. Tiba-tiba datang, tiba-tiba meluk. Aku kaget juga. Tapi karena lagi baper parah sama kamu, jadinya melampiaskan ke dia," Kaina menjelaskan dengan detail.


"Banget. Tapi ya gimana, aku kesal sama kamu. Sama Ferdi juga sih."


"Habis itu kamu menghindari aku. Sumpah itu menyiksa banget, tahu."


Kaina tertawa kecil, "Aku juga kangen waktu itu sama kamu. Sebenarnya enggak pengen nyuekin kamu gitu. Tapi asli geli banget waktu dengar suaramu yang kesal enggak jelas di telepon. Hahaha. Apa lagi yah yang berkesan?"


"Ya semua sayang. Apalagi Dufan dan segala ceritanya. Tiga hari yang tidak akan terlupakan sampai saat ini. Pertama kalinya kita punya waktu yang intens tanpa Ferdi. Yaa, meskipun ada Rosa dan Tito, tapi mereka enggak ganggu-ganggu amatlah," Rayshaka menambahi.


"Iya. Itu kayak mimpi tau enggak? Ketemu orang yang ditaksir di tempat yang kalau dipikir-pikir itu impossible banget. Sampai bingung kenapa Tuhan izinkan bisa kejadian."


Rayshaka meletakkan piringnya lalu meneguk air mineral, "Bener. Aku juga kaget dan surprise banget pas pertama kali lihat kamu di antrian kora-kora. Awalnya aku ragu kalau itu benaran kamu loh. Tapi eh ternyata bener kamu. Asli jantungku pengen keluar waktu itu, sangking senangnya."

__ADS_1


"Ah lebayyy ..." Kaina tertawa meledek kekasihnya. Dia mengira hanya dia yang merasa demikian.


"Beneran. Tanya Tito deh, gimana gugupnya aku pas mau negur kamu duluan. Aku takut kamu pura-pura enggak kenal karena itu di luar jam kerja."


Kaina tergelak lagi mendengar pengakuan Ray. Ternyata pria itu pernah gugup juga saat ada di dekatnya. Padahal sejauh ini kelihatannya dia sangat percaya diri. Memikirkannya, Kaina seperti terbang di atas angin.


"Lucu ya kalau diingat-ingat. Bikin kangen Nagata ..."


Ray mengusap puncak kepala Kaina yang masih menikmati sate di sebelahnya, "Nanti kalau kita ke Bandung, mampir ke kantor yuk? Keisha pasti kangen kamu."


"Hmm ... tapi anak-anak sudah pada tahu kasus yang di Cisarua waktu itu kan? Apa enggak apa-apa kalau aku ke sana?"


"Justru anak-anak menyayangkan kamu resign, sayang. Mereka pada kangen Kaina yang keceriaannya sudah dikenal di semua divisi."


"Oh ya? Apa Kevin juga kangen sama aku?"


Rayshaka menaikkan satu alisnya. Seolah bertanya : maksudnya apa nih?


"Hahaha ... just kidding sayang," Kaina mencubit pipi Ray yang hampir saja kehilangan mood-nya.


"Aku tarik kata-kataku tadi. Kita tidak akan singgah ke kantor."


"Sayanggg ...."


"Atau aku harus memastikan si Kevin itu keluar kantor saat kita datang."


Kaina tertawa terbahak-bahak. Ray bertingkah seperti pacar yang overprotektif. Ternyata ada lucunya juga punya kekasih yang begitu cemburuan.


"Baiklah. Asal aku sama kamu saja, aku sudah senang kok sayang," ucap Kaina sambil mengelus pipi Rayshaka penuh sayang.


"Gombal."

__ADS_1


Kaina tertawa melihat wajah Ray yang memerah karena malu.


*****


__ADS_2