My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
It's you, Kaina. (END)


__ADS_3

Author's PoV


Acara resepsi pernikahan Kaina dan Rayshaka sudah selesai sekitar setengah jam yang lalu. Namun Ballroom tempat diselenggarakannya acara masih sedikit ramai karena tamu undangan masih banyak yang bercengkrama.


Kaum eksekutif muda yang kebetulan bertemu di acara ini seperti sedang ber-reuni dadakan setelah tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Belum lagi rekan bisnis keluarga Wijaya yang banyak itu, seperti tidak kehabisan bahan pembicaraan kepada Ray dan ayahnya.


Kaina sebenarnya sudah kelelahan. Sejak pemberkatan di pagi hari hingga resepsi malam ini, dia tidak bisa bernafas dengan normal karena gaun ketat dan berat yang ia gunakan. Belum lagi heels bertumit sepuluh sentinya membuat telapak kakinya pegal bukan main. Namun dia harus ikut menemani Ray kemana pun pria itu membawanya untuk diperkenalkan ke semua orang-orang penting yang kelak menjadi rekan bisnia suaminya.


Untungnya Kaina sudah mengkonsumsi vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuhnya hari ini sehingga dia tidak terlihat loyo. Dia ingin memberikan kesan pertama yang baik bagi semua orang. Demi suaminya, Rayshaka.


*****


Pukul sepuluh malam, mereka semua akhirnya pulang ke kediaman Wijaya.


Ratih dan Kayla juga masih menginap disana sampai tiga hari kedepan. Malam ini mereka akan tidur berdua di kamar tamu, karena Kaina sudah akan tidur bersama Ray.


Kaina sedikit gugup membayangkan tidur bersama pria itu, seakan-akan belum pernah melakukannya. Namun malam ini sudah pasti akan berbeda. Kaina sudah merasakannya karena saat di mobil Raysahaka sudah curi-curi genit padanya. Suaminya itu tidak henti-hentinya menggoda dengan pertanyaan horor perihal apa yang akan mereka lakukan malam ini.


Untungnya, sesampainya di rumah, para wanita sepakat untuk membersikan riasan wajah dan rambut bersama setelah mengganti pakaian. Jadi dia tidak perlu cepat-cepat menemui Rayshaka di kamar. Tadi saja dia mengganti pakaiannya masih di kamar tamu, bersama mama dan adiknya.


Maria, Ratih, Kaina dan Kayla asyik bersenda gurau sambil menghapus bedak beserta foundation di wajah yang tebalnya minta ampun. Lalu untuk rambut, mereka rencananya akan menaburkan bedak bayi di atas kepala supaya hair spray -nya menghilang.


Rayshaka yang sudah mandi turun lagi untuk membantu para wanita itu agar cepat-cepat menyelesaikan urusan mereka. Hal itu membuatnya digoda habis-habisan oleh Maria dan Ratih.


"Enggak sabaran banget sih kamu Ray? Kaina-nya juga masih capek loh, jangan dipaksa kerja rodi malam ini ya," begitu kata Maria. Sontak semuanya tertawa terbahak-bahak, termasuk Ray sendiri.


"Tenang, Ma. Kalau dia paksa aku kerja rodi malam ini, aku bakalan teriak, supaya kalian dengar dan datang menolong aku," celetuk Kaina sambil tertawa.


"Wahh, kami pasti tidak akan tidur untuk menantikan teriakan kamu sayang," Ratih ikut menimpali dengan kalimat frontalnya.


Lagi-lagi gelak tawa menggema di ruangan besar itu.


Setelah itu, semua kembali diam meski masih tekekeh-kekeh kecil.


"Ratih, kalian pulang minggu depan saja ya? Biar kita ramai-ramai disini," tiba-tiba Maria berkata lagi, kini suaranya lebih lembut.


"Bu..." Ratih tersenyum lembut, "kita ingin sekali berlama-lama di sini. Di sini nyaman sekali. Tapi pekerjaan saya dan Kayla sudah menunggu, Bu. Sudah sebulan jahitan dianggurin. Saya enggak enak sama orang-orang."


Maria terlihat muram. Kaina mencuri-curi pandang sambil melepas-lepaskan rambutnya dari hair spray. Rayshaka sudah berdiri di belakangnya, membantu menaburkan bedak bayi sedikit-sedikit.


"Tapi kalian berjanji ya, harus sering berkunjung ke Bandung. Kita belum sempat trip keluarga loh ..."


"Iya, Bu. Kalau kerjaan sudah longgar, saya dan Kayla akan main ke sini lagi," jawab Ratih sambil tersenyum. Hatinya hangat sekali mengetahui besannya sangat menghargai mereka. Meski pun mereka tidak satu level, Maria dan suaminya tidak pernah menganggapnya demikian. Ratih seketika merindukan suaminya. Dia ingin menceritakan semua yang terjadi pada mereka belakangan ini.


*****


Jam sebelas malam semua orang masuk ke kamar masing-masing. Ray membantu mama dan mertuanya mengangkat peralatan dan barang-barang yang tersisa ke dalam kamar.


Kaina memanfaatkan momen itu untuk segera kabur dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Ray. Semua badannya lengket. Gerah.


Suara ketukan di pintu kamar mandi menghentikan aktivitas Kaina di dalam.


"Sayang, kamu mandi?"


"Iya sayang, sebentar yaa ..."


"Buka, aku mau masuk."


Kaina shock !


"Kamu kan sudah mandi???" teriaknya dari dalam.


"Mau pipis."


Kaina memeluk dirinya sendiri dalam bathtub. Jangan sekarang pleaseee ...


"Tunggu aku beres aja sihh ..." omelnya.


"Buka sayang. Atau aku dobrak nih ..."


Kaina kesal bukan main. Raysahka sudah resmi jadi suaminya dan dia tahu dia harus mematuhi semua perkatannya.


Dengan malas dia berdiri lalu mengambil handuk. Melilitkan tubuhnya yang basah lalu beranjak membuka pintu.


Ceklek.


"Aaaa!!" dia berteriak saat mendapati Ray berdiri di depannya TANPA BUSANA!!! Gerakan cepatnya ingin menutup kembali pintu itu gagal karena tangan Ray lebih lincah untuk mendorongnya masuk ke dalam.


Raysahaka tertawa terkekeh-kekeh saat dia sudah berhasil mengunci pintu dan berdiri menjaganya agar Kaina tidak kabur.


Istrinya itu sudah meringkuk sambil membelakanginya, menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.


Ray tersenyum nakal melihat tubuh Kaina yang basah dibalik handuk pendeknya.


"Ray, aku mandi duluuuu!" rengek Kaina ingin menangis. Rasanya dia baru melakukan tindak perzinahan yang sangat fatal.


Tapi kan itu suamimu, Kaina! Seru batinnya.


"Loh, aku kan mau pipis," jawab Ray enteng. Masih bersabar mengusili istrinya.


"Ya sudah buruan!! Aku mau mandi!"


"Tapi mau pipis enak," jawab Ray sambil tertawa.


Apa?? Pipis enak?? Pipis enak itu apa??? Kaina tidak mengerti.


"Pipis enak apaan? Ayolah Ray ..." Kaina masih ketakutan, berdiri membelakangi Ray sambil menangkup kedua wajahnya.

__ADS_1


Tiba-tiba dirasanya tengkuknya merinding. Ada yang menghembuskan hawa panas di sana. Kedua pundaknya juga merasakan sentuhan lembut, diikuti kecupan-kecupan kecil di punggungnya yang terbuka.


Kedua lengan kekar pria itu tau-tau sudah melingkari pinggangnya dan menariknya hingga merapat. Kaina terkejut saat dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal tubuhnya di belakang.


Ia menggigit bibir. Ray ingin meminta haknya dan itu adalah hal yang wajar. Tapi mbok ya tunggu dia selesai mandi dulu kek!


"Ray ... aku ... aku ... bisa mandi dulu?" dia ingin sekali menghindar dari gerakan-gerakan agresif Ray. Namun suaminya malah membuka paksa handuk yang ia kenakan.


Sesuatu yang mengeras tadi langsung menyentuh kulit telanjangnya. Dia meringis semakin keras menggigit bibirnya.


"Kamu merasakannya sayang?" kini tangan Ray sudah menjalar ke bagian sensitif Kaina yang di atas. Tanpa sadar membuat gadis itu mendesah kecil.


"Ngerasain a ... ssshh ...apa Ray?"


"Ada yang sudah enggak sabar ingin bertamu."


Kaina bersusah payah menahan dirinya yang sudah mulai terlena dengan perbuatan Ray. Tangan Ray begitu lincah memainkan ujung di dadanya. Ahh, mengapa rasanya senikmat ini? Pikir Kaina bodoh.


"Ray ..." Kaina tidak bisa menjawab perkataan suaminya barusan. Dia mengerti maksud Ray.


Seakan merasakan penerimaan dari Kaina, Ray membalikkan tubuh istrinya itu dan menyandarkannya dengan pelan ke tembok. Saat mendapati wajah Kaina yang melemah, Ray tersenyum puas.


Dia mundur dan berkacak pinggang. Mengamati tubuh polos istrinya dari atas sampai ke bawah.


"Tubuhmu indah sekali, Sayang..." pujinya penuh gairah. Kaina yang sudah lemas sangat malu di depan Ray. Ia ingin menutup dada dan bagian bawahnya, namun Ray melarang.


"Jangan! Aku belum puas melihatnya."


Kaina menunduk malu. Rasanya seperti ditelanjangi.


Ah iya, memang lagi telanjang kan? Kaina merutuk dirinya sendiri.


"Lihat aku."


"Enggak mau."


"Kamu harus berkenalan dengan dia. Lihat, dia sudah bangun seperti ini."


"Rayy!!" Kaina menutup wajahnya dan menyuruh Ray berhenti menggodanya.


Pria itu tertawa kesenangan.


Lalu Ray maju, meraih satu tangan Kaina. Ia menuntun tangan mungil itu ke bagian bawahnya dan meletakkan tangan Kaina di sana.


"Rayyyyyy! Apa yang kamu lakukan! Iseng banget sihhhh!!" teriak Kaina histeris ketakutan. Dia masih menutup kedua matanya rapat-rapat.


"Hahahaha. Kamu harus terbiasa dengan dia sayang. Enggak apa-apa kalau enggak mau lihat. Tapi coba pegang saja dulu. Dia senang di elus-elus."


Kaina tahu jika dia menolak, dia yang berdosa. Dia yang salah. Karena setelah Ray menyematkan cincin di jari manisnya, itu artinya dia sudah berhak melakukan itu dengan Kaina.


Tapi kan aku masih malu!! Protes Kaina dalam hati.


Dia menggenggamnya. Dia menggenggam itu !!!! Hebat!!


Rayshaka masih memperhatikan wajah Kaina yang ketakutan. Ada rasa gemas yang ingin segera ia lampiaskan, namun ia tahan dulu.


"Ray ... aku geli ..." tiba-tiba Kaina membuka matanya, namun masih menggenggam itu. Wajahnya meringis ingin tertawa.


"Geli ya? Nanti juga pasti terbiasa. Sini aku ajarin dulu cara maininnya gimana."


Cara maininnya. Well, bahasa Ray sangat bagus dan mudah dimengerti.


Kaina mengikuti instruksi Ray. Melakukan gerakan maju mundur dengan pelan. Membuat benda itu semakin mengeras. Ya iyalah, meskipun hanya sedang belajar tetap saja Ray menggeliat merasakan sentuhan Kaina. Saat Kaina menggerakkan tangannya terlalu cepat, Ray memberitahunya dan bilang jangan seperti itu, karena itu menyakitinya.


"Segitu saja belajarnya. Nanti kalau sudah praktek juga pasti makin lancar."


"Sudah bisa kulepas?" tanya Kaina takut-takut.


"Kamu masih mau pegang? Kalau masih mau, enggak apa-apa. Sebelum kita gantian."


Mendengar kata gantian, Kaina refleks mundur sendikit. Apa Ray akan membedah dirinya?


"Ehm ..." dehemnya pelan.


Ray maju selangkah. Wajah usilnya tidak kunjung hilang. Kaina semakin tersudut ke tembok.


Ray menyentuh kepala istrinya, merapihkan rambut-rambut yang lepas dari ikatannya. Menyingkirkan semua yang terjuntai ke bahu. Dia tidak ingin ada yang mengganggu penelusurannya.


Tangannya kemudian turun ke bagian dada istrinya. Ia meletakkan kedua tangannya yang besar di sana.


"Wah, tanganku saja enggak muat gini loh, Sayang ..." ia menggoda sambil melihat wajah Kaina. Wajah istrinya itu sudah bersemu merah. Ray tahu Kaina malu dan juga itu reaksi dari sentuhannya.


Kemudian Ray memainkan pucuk benda bulat itu lembut. Lalu melirik Kaina sekilas. Istrinya itu memejamkan matanya. Nafasnya tertahan.


Ray tersenyum licik lagi.


Diam-diam dia melakukan hal yang pasti tidak diduga oleh Kaina sama sekali. Ia menyentuh bagian itu dengan mulutnya.


Kaina tersentak. Apa-apaan itu! Kenapa rasanya seperti disengat lebah??? Fikirnya.


Saat dia membuka mata, dia mendapati Ray sedang sibuk di dadanya. Sialnya suaminya itu juga sedang memandanginya, seakan-akan memang sudah sengaja ingin melihat reaksinya.


"Ray ... kamu. Ahh ..." Kaina bungkam lagi saat Ray menggigit bagian puncaknya. Membuat sensasi gila di kepala gadis itu.


"Kenapa? Enak sayang?"


"Ehhhmm ..." Kaina menggigit jari telunjuk kanannya yang ditekuk. Ray berpindah ke dada yang satunya lagi.

__ADS_1


Nafas Kaina sudah tidak beraturan. Seisi tubuhnya bergejolak menahan rasa yang ditimbulkan aktivitas Ray.


Ray mencukupkan diri di bagian atas. Dia lalu turun ke bagian perut istrinya. Melabuhkan kecupan-kecupan panas yang membuat Kaina semakin kewalahan.


"R ... Ray ... j ... jangan ke situ ... " Kaina tahu setelah ini Ray akan menuju kemana.


"Kenapa sayang? Aku kan ingin berkenalan dengan dia juga," jawab Ray dengan nafas beratnya. Dia sudah berjongkok sehingga wajahnya semakin dekat dengan area sensitif Kaina yang lain.


"Lebarkan pahamu," perintahnya.


"A ... apa? N ... ngapain?"


"Lebarkan sayang ..." tatapan lembut Ray dibawahnya membuat Kaina luluh lagi dan lagi.


Dia pun dengan malu-malu membuka sedikit pahanya.


Ray memperhatikan.


"Kurang lebar."


Kaina melebarkan lagi.


"Masih kurang ..."


"Sampai selebar apa sih?!" Kaina yang malu luar biasa mengumpat kesal. Membuat Ray terkekeh dibawah sana.


"Ah, biar aku saja."


Tahu-tahu Ray mengangakat paha kanan Kaina dan menempelkannya ke tembok. Membuat semua bagian bawanya terkekspos dengan jelas. Kaina terkejut bukan main. Vulgar sekali Ray!! Protesnya dalam hati.


"Tahan seperti itu sayang. Aku mau berkenalan sebentar."


Kaina menurut, menahan pahanya untuk tetap menggantung seperti itu di tembok. Dia bersiap dengan sensasi yang sudah pasti lebih gila dari sebelumnya.


*****


Dua tubuh polos itu saling memeluk di dalam selimut yang mereka kenakan.


Kaina tertidur di pelukan Ray. Dia kelelahan setelah 'kerja rodi' bersama suaminya hingga jam dua pagi.


Bagian bawahnya terasa perih, namun dia tersenyum bahagia. Harta berharga miliknya sudah ia berikan kepada pria yang sangat dia cintai. Pria yang sekarang ini sedang bernyanyi lewat dengkuran halusnya.


Kaina mengingat lagi kegilaan mereka sesaat yang lalu. Mereka sampai melakukannya dua kali dengan jeda istirahat yang cuma 30 menit.


Rayshaka berkali-kali mengucapkan cinta sambil menatap lurus ke dalam matanya saat berusaha menembus tempat sucinya. Pria itu sebenarnya tidak tega melihat Kaina yang kesakitan sampai mengeluarkan air mata. Namun dia juga tahu mereka sama-sama menginginkannya.


Kaina mememeluk tubuh suaminya lagi. Dia sangat mencintai lelaki itu dengan segenap jiwanya.


"Belum bisa tidur sayang?" tahu-tahu Ray membuka matanya karena merasa pelukan erat Kaina.


"M ... kamu tidur saja sayang," ujar Kaina sambil membelai puncak kepala suaminya.


Bukannya kembali tidur, Ray malah memiringkan posisinya, menghadap istrinya.


Tangannya lalu jahil lagi, menyentuh puncak dada Kaina.


"Ray ... jangan lagi, hhhh ... " Kaina mendesis pelan.


"Siapa suruh kamu belum pakai baju? Aku kira kita masih mau lanjut ke ronde ketiga."


Ray menempelkan bagian bawahnya ke paha Kaina. Membuat istrinya itu membesarkan mata.


"Kenapa dia bangun lagi?" pekik Kaina frustasi. Ray terkekeh, tidak memperdulikan wajah masam perempuan itu.


"Because of you."


"Kenapa aku??"


"It's you, Kaina ... yang bikin dia pengen bangun lagi dan lagi," desah Ray yang kini sudah berada di atas tubuh istrinya itu. Dengan cepat dia mencari posisi yang nyaman untuk menempatkan semua bagian tubuhnya di atas tubuh istrinya itu.


"Ah ... aku akan gila," desah Kaina sudah setengah sadar karena kecupan Ray di puncak dadanya sudah mencuri kewarasannya.


TAMAT.


*****


.


.


.


**Author"s Greetings


Hai hai...


Terimakasih sudah mengikuti novel perdanaku ini dari awal sampai akhir yaa.. 😘😘😘😘


Terimakasih untuk dukungan Like, Comment dan Vote-nya. Semoga kalian suka ceritanya yaa 😍😍😍.


Mohon maaf kalau ada alur cerita yang menurut kalian tidak masuk akal.


Tapi penulis sudah sebisa mungkin memberikan yang terbaik.


Jangan lupa share ya guyss, biar teman-teman kalian juga baca 🤗🤗🤗.


See you di project selanjutnya yaaa**...

__ADS_1


God bless youu 😘😘😘


__ADS_2