My Unexpected Soulmate (Berantakan)

My Unexpected Soulmate (Berantakan)
Bukan Mimpi


__ADS_3

Viola dan Alma menghentikan aktivitas mereka setelah mendengar suara berisik dari arah luar cafe. Karena tempat mereka duduk saat ini tepat disamping kaca besar sebagai penghalang cafe dan tempat dimana kendaraan diparkirkan.


"Almaaaaaaa. Kita harus keluar Naya sama Reyhan beneran berantem." Pekik Viola pada Alma setelah bola matanya menangkap dengan jelas Naya sedang menghempaskan tangan Reyhan dengan air muka yang begitu marah.


"Yaelah bocah pada ngapain sih." Ucap Alma mengikuti arrah pandangan Viola.


Alma langsung meninggalkan tempat duduknya. Melihat Alma dengan sigap berjalan cepat, Viola mengikutinya dari belakang. Tapi bagai disambar petir di siang bolong, Alma dan Viola malah mendengar rencana pernikahan Reyhan dan Naya.


"Kita nikah minggu depan. Lusa gue akan ke rumah lo buat lamar lo. Gue buktikan kalau gue bukan pembohong dan gue adalah suami idaman lo! Siap-siap aja lo." Ucap Reyhan.


"Okey. Gue tunggu." Jawab Naya cepat.


Naya dan Reyhan langsung meninggalkan tempat tersebut. Naya dengan taxi online nya sedangkan Reyhan dengan mobil hitamnya. Tinggalah Alma dan Viola yang masih mengumpulkan kesadarannya.


"Gue nggak lagi mimpi kan Vi?" Ucap Alma tanpa memalingkan pandangannya.


"Awwwww" pekik Alma kemudian setelah Viala mencubitnya dengan keras.


"Sakit nggak Al?" Tanya Viola setelah Alma menolehkan pandangan tajam padanya.


"Ya sakitlah ****!" Ucap Alma sewot.


"Lo lah yang ****! Ini nyata Al, ini bukan mimpi. Naya sama Reyhan bakal nikah. Waaaaaa." Viola memutar tubuhnya dengan gembira.


Alma memandang heran sahabatnya yang sedikit aneh ini, sampai tawa dari orang sekitar mengharuskan Alma untuk menyadarkan sahabatnya yang sedang berbahagia.


"Violaaaaa. Malu-malu in deh lo. Ayo kita ke rumah Naya." Ajak Alma menggiring Viola pergi dari sana.


----


"Assalamualaikum." Alma dan Viola memberi salam setelah sampai di rumah Naya.


"Waalaikumsalam." Ibu Elisha membuka salah satu daun pintu rumahnya.


"Alma, Viola. Masuklah nak." Ibu Elisha mempersilahkan kedua sahabat putrinya untuk duduk.


Sekaligus ingin bertanya mengenai rencana Naya yang ingin menikah dengan Reyhan. Benar saja, 30 menit yang lalu Naya pulang dengan emosi yang tidak stabil, dan mengatakan bahwa malam ini Reyhan akan melamar dirinya.


Ibu Elisha yang kaget pun tidak menyadari bahwa setelah mengatakan hal mengejutkan itu sudah tidak ada disana. Bahkan Naya mengunci rapat pinttu kamarnya, sehingga Ibu Elisha mau tidak mau harus menunggu Naya sedikit lebih tenang agar dapat bercerita.


"Ini diminum dulu." Ucap Ibu Elisha setelah meletakkan dua gelas jus jeruk.


"Tante ini tahu saja Viola haus." Tanpa sungkan Viola menghabiskan isi dari gelas itu.


Ibu Elisha tersenyum melihat kelakuan Viola yang tidak ada duaya itu.


"Em tante, bolehkah kita bertemu dengan Naya?" Ucap Alma karena sudah tidak sabar ingin memberi Naya banyak pertanyaan dibenaknya.

__ADS_1


"Naya mengunci dirinya di kamar. Sebenarnya tante juga ingin menanyakan hal itu. Apa kalian tahu kalau selama ini Naya dan Reyhan memiliki hubungan selain sahabat?" Tanya Ibu Elisha.


"Em anu tante." Alma bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan dari Ibu Elisha.


"Nggak ada hubungan apa-apa tante. Kita cuma sahabatan." Celoteh Viola dengan jujur.


Alma yang kaget langsung melototi sahabatnya. Mendapat tatapan tidak suka dari Alma, Viola malah kembali berucap dengan tanpa dosa.


"Kenapa tuh mata lo? Kedip jangan lupa!" Ucap Viola.


"Hmm, lalu kenapa Reyhan akan melamar Naya nanti malam?" Tanya Ibu Elisha lagi.


"Mungkin mereka taaruf tante. Sudahlah tante tidak usah berfikir yang bukan-bukan. Lebih baik kita siapkan jamuan makan malam, Viola kesini buat bantuin tante." Ucap Viola melantur lagi.


Alma hanya menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Viola.


"Benar juga kamu Viola. Ya sudah tante kabari Om Reino dulu ya, setelah itu kita siapkan makan malam." Ucap Ibu Elisha meninggalkan dua gadis seumuran putrinya.


---


"Lo gimana sih Vi? Kita kan mau tanya dulu kebenaran hubungan Naya sama Reyhan. Kenapa lo malah mau bantuin masak?" Ucap Alma setelah Ibu Elisha meninggalkan mereka.


"Lo yang gimana? Jelas-jelas kita denger sendiri kalau Reyhan mau lamar Naya nanti malam. Naya juga sudah bilang ke Ibunya. Kita mau mastiin apa lagi Alma?" Sanggah Viola.


"Bener juga ya lo." Alma setuju penuh dengan pendapat Viola.


---


"Reyhan! Kamu itu sedang menjalin hubungan dengan Michel. Kenapa malah ingin melamar Naya?! Dimana komitmen kamu sebagai lelaki?!" Bentak Papa Aksa pada putra satu-satunya.


"Reyhan sudah janji buat nikahin Naya pa. Ini komitmen Reyhan, Reyhan akan menepati janji itu." Jawab Reyhan.


"Kamu benar-benar ya!" Papa Aksa sudah menaikan satu tangan terbukanya untuk dilayangkan pada pipi Reyhan, tapi Mama Chintya menghentikannya.


"Papa, sejak kapan papa menggunakan tangan untuk berbicara?" Ucap Mama Chintya menurunkan tangan suaminya.


"Lagian nggak papa kali pa, kak Rey nikahnya sama kak Naya. Kak Naya itu lebih baik daripada Michel. Lebih cantik, lebih pintar, lebih ramah, lebih bersahabat, lebih baik hati, lebih lebih lebih deh dari Michel." Timpal Reyna tidak memandang situasi saat ini.


"Kamu anak kecil tahu apa?" Bentak papa Aksa kali ini pada putri satu-satunya.


Tapi yang dibentak tidak takut karena menurut Reyna apa yang dikatakannya ada benarnya.


"Reyna tahu, karena Reyna yang mengenal dekat kak Naya dan Michel." Ucap Reyna.


"Reyn, sudah. Masuklah ke dalam kamar." Perintah Mama Chintya.


"Kalau memang Naya pilihan terbaikmu, lalu bagaimana dengan Michel?" Tanya papa Aksa setelah Reyna meninggalkan ruangan keluarga.

__ADS_1


Reyhan tidak menjawab papa Aksa, ia malah mengeluarkan ponselnya, ditekannya nomor ponsel Michel. Tidak lupa Reyhan juga menekan fitur loudspeeker smart phone nya.


"Bagaimana? Kamu pilih sahabat-sahabat bodohmu itu atau aku?" Michel langsung menanyakan jawaban Reyhan karena tadi setelah menurunkan Michel Reyhan langsung pergi tanpa memberikan menjawabnya.


"Aku pilih sahabatku. Sampai disini saja hubungan kita." Ucap Reyhan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"See." Ucap Reyhan pada kedua orang tuanya.


"Baiklah, bersiaplah lebih awal kita harus membeli cincin untuk Naya terlebih dahulu." Ucap papa Aksa dengan sedikit senyuman diakhir kalimatnya.


Karena sebenarnya papa Aksa dan mama Chintya juga tidak begit menyukai Michel. Mengingat kelakuan Michel yang masih seperti anak-anak dan sangat egois. Tetapi karena ini adalah pengalaman pertama Reyhan menjalin hubungan terlebih dengan putri teman bisnis papa Aksa membuat kedua orang tua Reyhan tidak mengahalangi hubungan putranya.


"Seriously pap?" Tanya Reyhan dengan senyum mengembangnya.


"Sure. Keep your commitment Rey." Papa Aksa menyambut Reyhan dalam pelukannya.


Mama Chintya tersenyum senang mendengar keputusan ini. Karena kelaurga Reyhan sudah mengenal betul keluarga Naya dan juga sahabat Reyhan yang lainnya. Bagaimana tidak bahagia jika yang akan menjadi menantunya adalah calon dokter cantik yang sudah dipastikan seperti apa keluarganya.


---


Ibu Elisha sudah memberitahukan rencana lamaran ini kepada Ayah Reino. Ayah Reino pun langsung pulang lebih awal untuk mendengar langsung bagaimana cerita Naya dan Reyhan sebenarnya. Walaupun Ibu Elisha juga tidak bisa menjawab pertanyaan Ayah Reino.


Setelah jamuan makan malam siap Alma dan Viola tidak memiliki waktu untuk pulang bersiap karena malam ini adalah hari spesial yang dadakan untuk kedua sahabatnya. Bahkan Alma masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Berkali-kali Alma meminta Viola untuk mencubitnya, mungkin saja dirinya akan terbangun dari tidur panjangnya.


"Vi." Alma memanggil Viola tepat setelah mereka berada di depan kamar Naya.


Ya karena mereka akan bersiap dan memakai baju Naya saja agar lebih menghemat waktu daripada harus pulang terlebih dahulu.


"Apa? Lo mau gue cubit lagi? Gue pukul aja Al biar lebih kerasa." Ucap Viola karena sudah lelah terus menerus mencubit Alma.


Cekleeek


Pintu terbuka dan tampaklah Naya dengan mata sembabnya dan rambut yang berantakan. Sepertinya Naya tertidur setelah menangisi nasibnya yang malang.


"Woi ngapain kalian disini?" Ucap Naya karena kaget kedua sahabatnya berdiri didepan pintu kamar rumahnya.


"Lo cantik banget sih Nay." Puji Viola tanpa memperdulikan ucapan Naya.


"Ih apaan sih lo Vi?" Naya berucap dengan bergidik ngeri karena dipuji oleh Viola.


"Lo yang apaan? Katanya mau dilamar? Tapi bentukan masih kayak kunti aja lo." Ucap Viola sambil berlalu masuk ke dalam kamar Naya.


"Jangan bilang lo nggak inget kalau lo bakal di lamar Reyhan malam ini." Tebak Alma tepat sasaran.


Naya yang mendengar ucapan Alma membulatkan matanya dengan sempurna. Mungkin kesadarannya sudah sepenuhnya kembali sejak tadi siang dirinya bertengkar dengan Reyhan diparkiran cafe.


---to be continued

__ADS_1


__ADS_2