
Naya merogoh sesuatu didalam tasnya saat dirasa ada yang bergetar disana.
Alma is calling
Sesaat setelah membaca nama yang tertoreh dilayar ponsel miliknya, Naya menghapus sisa sisa air mata yang masih membashi pipi mulusnya seakan jika air mata itu masih disana Alma yang berada diseberang sana dapat melihatnya.
Naya menggeser ikon berwarna hijau menerima panggilan telepon dari sahabatnya.
"Hallo. Lo dimana sih Nay?" Ucap Alma langsung to the point.
Naya hampir terlupa sudah membuat janji dengan sahabat-sahabatnya. Naya sejenak melirik jam dipergelangan tangannya. Pasti Alma dan Viola sudah menunggu lama di cafe karena sudah satu jam setengah lamanya dari waktu yang sudah dijanjikanya kepada sahabatnya.
"Eh iya nih gue udah dijalan. Tunggu ya." Naya terpaksa berbohong.
"Lo sama Reyhan kan?" Tanya Alma kembali memastikan.
Naya terlihat sedikit bingung harus menjelaskan kejadian tadi dengan cara bagaimana. Karena Alma dan Viola mengetahui jika tadi Naya bersama Reyhan dan mengajak mereka untuk sekedar minum kopi di cafe favorite mereka. Akan seperti apa pertanyaan Alma dan Viola jika tahu Naya datang sendirian tanpa Reyhan.
"Masa bodoh lah yang terpenting menemui mereka dulu." Putus Naya dalam hati saat itu juga.
"Em nanti saja gue ceritanya. Sudah dulu ya, gue hampir sampai. Bye." Naya langsung mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Alma.
"Pak kita ke Fantasy Cafe ya?" Pinta Naya pada sopir taxi untuk memutar arah tujuannya. Karena tadi Naya hendak pulang ke rumahnya.
Sopir taxi pun mengiyakan permintaan Naya dan langsung melajukan mobil berwarna biru muda itu untuk menuju ke tempat tujuan.
---
Setelah hampir 15 menit menunggu kedatangan sahabat tercantiknya, Alma dan Viola kini telah mendapati Naya di ambang pintu masuk cafe.
"Nayyyyy." Viola memanggil Naya dengan heboh bahkan kini tubuh dan tangannya terlihat sedikit bergoyang.
Naya yang mendengar suara tak asing memanggil namanya saat ini langsung menolehkan pandangannya ke sumber suara dan tak segan untuk menghampiri meja yang sudah terisi Alma dan juga Viola.
"Mana Reyhan?" Tanya Alma bahkan Naya baru saja mendudukan dirinya dikursi setelah melakukan sedikit cium pipi pada kedua sahabatnya.
"Ditaliin sama pacarnya." Jawab Naya kesal.
"Dih kenapa lo kesel? Lo cemburu?" Tanya Viola tepat sasaran.
__ADS_1
Tapi Naya tidak menyadari jika tebakan Viola itu benar adanya. Naya sedikit terkesiap mendengar pernyataan Viola. Apa benar dirinya sedang cemburu? Tapi Naya segera menyangkalnya.
"Nay. Yaelah malah bengong." Viola menyadarkan Naya dengan sedikit menyenggol lengan Naya.
"Eh em, lo tanya apa tadi?" Tanya Naya yang sudah lupa sampai dimana tadi pembicaraannya dengan Viola.
"Fix sih lo cemburu." Ucap Viola setelah membaca gerak tubuh dan jawaban Naya baru saja.
"Sssttt. Lihat tuh Reyhan nyusulin." Alma memberitahu kedua sahabatnya yang sedang bertengkar entah memperebutkan apa.
Seketika Naya dan Viola melihat ke arah pintu masuk. Terlihat Reyhan sudah berjalan ke arah meja mereka dengan terburu-buru. Naya secepat mungkin mengalihkan pandangannya. Entah kenapa rasanya ada pisau yang menyayat hati Naya mengingat ketika Reyhan lebih memilih Michel dan membiarkannya turun di jalan. Pasti dirinya sedang merasa terkhianati, persahabatan yang sekian lama terjalin serasa hancur begitu saja terkalahkan dengan manusia berpredikat "pacar", begitu pikir Naya.
"Darimana sih lo?" Sambar Alma bahkan ketika Reyhan baru saja sampai disana.
Belum sempat Reyhan menjawab pertanyaan Alma, Naya memotongnya begitu saja seperti ada rasa takut mendengar jawaban yang akan diberikan Reyhan pada Alma dan Viola.
"Gue balik dulu, mau konsul. Sudah ditungguin dosen." Ucap Naya.
Seketika Naya beranjak dari duduknya bahkan tanpa menegur ataupun sekedar melihat Reyhan.
"Nay gue anterin." Reyhan menahan Naya dengan memegang lengannya.
Naya sama sekali tidak menjawabnya, bahkan tangannya menyingkirkan tangan Reyhan yang masih setia berada di lengan Naya. Naya kembali melanjutkan langkahnya, bahkan tingkah Naya membuat ketiga sahabatnya tidak bergeming sedikitpun.
"Gue pergi dulu." Reyhan menukas cepat pertanyaan Viola yang belum sempat terlontar.
Alma dan Viola hanya saling melempar pandangan mereka, mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi diantara Reyhan dan Naya. Padahal dua jam sebelumnya mereka terlihat sedang bersama. Entahlah mungkin sebentar lagi mereka akan berbaikan, begitu kiranya pikir Alma dan Viola
---
Reyhan yang seketika menyusul Naya beranjak dari sana dengan mudah mendapatkan Naya masih berada di halaman cafe tersebut. Reyhan yang sudah merasa Naya sangat marah besar kepadanya menghentikan Naya seketika.
"Nay tunggu!" Reyhan memegang pundak Naya.
"Iya ada apa?"
Naya mengalah, ia menjawab sambil membalikan tubuhnya menghadap Reyhan sehingga tangan Reyhan terlepas dari pundak Naya begitu saja.
"Maafin gue Nay. Lo tahu kan Michel orangnya kayak gimana? Gue emang salah malah biarin lo turun dan kesini sendirian tadi." Ucap Reyhan panjang lebar.
__ADS_1
"Iya." Jawab Naya singkat.
Entah iya apa yang dimaksudkan oleh Naya, tapi sepertinya untuk saat ini Naya benar-benar malas berhadapan dengan Reyhan apalagi beradu argumen dengan dia.
"Lo maafin gue Nay? Lo nggak marah?" Tanya Reyhan menatap Naya.
"Ada lagi yang mau lo omongin? Gue harus pergi." Ucap Naya memilih menghindar.
"Gue anterin Nay." Reyhan sudah menggandeng tangan Naya.
"Nggak usah, gue bisa sendiri." Naya berucap sambil menghempaskan tangan Reyhan.
Naya berlalu begitu saja meninggalkan Reyhan setelah tangannya terbebas dari pegangan Reyhan. Reyhan sejenak mematung, ia tidak menyangka Naya akan semarah ini dengan dirinya.
Tiba-tiba kesadaran Reyhan kembali, dengan cepat Reyhan menarik tangan Naya kembali. Karena Naya yang berjalan dengan cepat mendapat tarikan yang tiba-tiba membuat tubuh Naya terhempas begitu saja dalam pelukan Reyhan.
Mereka sejenak beradu pandang. Saling mengamati satu sama lain, melihat setiap inci bagian dari wajah dihadapannya.
"Jantung. Jantung gue kenapa?!" Naya berucap dalam hati ketika merasakan jantungnya hampir meledak disana.
Bola mata Naya sedikit bergerak ke kanan dan ke kiri mengamati Reyhan. Mungkin Naya baru menyadari Reyhan memang benar-benar tampan.
"Inget Nay, dia Reyhan. Reyhan si cowo sableng sahabat lo." Sambung Naya dalam hati.
"Maafin gue Nay." Reyhan berucap dengan menatap dalam bola mata Naya, tidak memindahkan posisinya sedikitpun.
"Gue minta maaf karena lebih mentingin pacar daripada sahabat kayak lo." Sambung Reyhan karena Naya sama sekali tidak memberikan tanggapan.
Naya yang mendengar kalimat Reyhan yang terakhir kembali tersulut emosi. Naya melepaskan pelukan Reyhan.
"Lo pembohong! Lo selalu minta gue jadi istri lo! Kenapa lo pacaran sama tuh cewe sombong?! Ha?! Lo cuma ngehibur gue selama ini? Iya? Nggak perlu lagi lo hibur gue, dasar pembohong!!!! Gue bakal nemuin cowo yang bener-bener serius sama gue! Gue bakal nikah sama suami idaman gue. Jadi stop lo bilang bakal nikahin gue!!" Naya berucap dengan menggebu-gebu.
Entah setan apa yang memasuki jiwa Naya, bahkan kata-kata itu terlontar begitu saja. Tidak sinkron sama sekali dengan arah pembicaraan Reyhan.
Reyhan yang mendengar ucapan Naya pun ikut terpancing emosi, entah apa yang membuatnya tidak rela jika Naya menyebutnya pembohong, terlebih Naya akan mencari suami idamannya sendiri. Reyhan benar-benar tidak tahan dengan kalimat itu.
"Kita nikah minggu depan. Malam ini gue akan ke rumah lo buat lamar lo. Gue buktikan kalau gue bukan pembohong dan gue adalah suami idaman lo! Siap-siap saja lo." Reyhan berucap sama menggebu-gebunya dengan Naya.
"Okey. Gue tunggu." Jawab Naya cepat.
__ADS_1
Mereka sama-sama membalikan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.
---to be continued