My Unexpected Soulmate (Berantakan)

My Unexpected Soulmate (Berantakan)
Malu Bukan Main


__ADS_3

Naya berlari keluar menyusuri lorong apartemen, segera ia menekan tombol didekat pintu lift agar lift segera terbuka untuknya. Ia sudah tidak sanggup untuk menahan laju air matanya lagi.


Naya sudah tidak perduli lagi dengan banyak sorotan mata yang menatap heran padanya. Yang dipikirannya sekarang adalah pergi jauh dari semua orang yang mungkin menganalinya. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan siapapun. Apapun keadaan yang akan dihadapinya didepan sana biarlah dirinya saja yang akan menanggungnya. Biarlah dirinya sendiri yang merasakan sakitnya.


Setelah keluar dari gedung apartemen Nathan, Naya berlari dengan menundukan kepalanya menyembunyikan air mata yang sudah berjatuhan membanjiri pipi mulusnya. Karena tubuhnya yang tidak seimbang, tiba-tiba...


Buggggg


"Nay lo kenapa? Naya." Tapi yang dipanggil panggil namanya tergolai lemas sampai tidak mampu membuka matanya lagi apalagi menahan berat ditubuhnya.


Reyhan menangkap Naya yang sudah menubruknya karena Naya berlari tanpa melihat kedepan. Perasaan Reyhan yang tidak enak sejak Naya ingin pulang sendiri mengatakan akan terjadi sesuatu terhadap Naya membuat Reyhan mengikuti Naya sejak Naya menumpangi taxinya.


Reyhan terkejut ketika Naya masuk ke dalam gedung apartemen milik Nathan, Reyhan menghargai privasi sahabatnya dan kekasih sahabatnya itu sehingga membuat Reyhan hanya menunggu Naya didepan gedung.


---


Reyhan membawa Naya ke dalam mobilnya, tapi ia tidak membawa sahabatnya untuk pulang kerumah dengan keadaan yang seperti ini. Bagaimana reaksi kedua orang tua Naya jika melihat putri semata wayangnya dalam keadaan seperti ini. Reyhan membawa Naya ke villa milik keluarganya yang ada di ujung kota. Itu tidak akan terlalu jauh, namun sangat sepi dari jangkauan orang-orang. Reyhan berharap Naya mau menceritakan masalahnya dengan Nathan.


Satu jam sedari mereka sampai di villa, Naya tak kunjung membuka kedua matanya. Reyhan hanya menggenggam erat tangan Naya berharap Naya akan membuka matanya karena Dokter yang dipanggil Reyhan untuk menangani Naya tadi mengatakan bahwa Naya terlihat depresi dan ia butuh istirahat karena terlalu banyak menangis.


"Hmm dimana aku?" Ucap Naya mulai mengerjabkan kedua matanya menyesuaikan cahaya senja yang masuk melalui jendela kaca.


"Nay." Reyhan langsung memeluk Naya dengan erat.


"Re, rey." Ucap Naya terbata menepuki punggung Reyhan.


"Sudah Nay, lo nggak perlu cerita dulu kalo lo belum siap." Reyhan semakin mempererat pelukannya.


"Ahk, nggak bi, bisa, napas Rey." Reyhan menyadari pelukannya pada Naya yang terlalu erat bahkan bisa dianggap pencekikian langsung melepas pelukannya pada Naya


"Uhuk uhuk uhuk, kalau mau bunuh gue bilang saja Rey. Uhuk." Sinis Naya disela batuknya.


"Hehe maaf Nay, gue terlalu bersemangat. Oh iya lo kenapa tadi?" Reyhan kembali memasang mode khawatir lebaynya.


"Lo ngikutin gue ya?" Selidik Naya yang langsung ditanggapi dengan anggukan cepat Reyhan.

__ADS_1


"Ya gue khawatir sama lo. Kalau lo dibunuh Nathan siapa yang bantuin gue belajar ujian nasional?" Jawab cepat Reyhan yang langsung mendapat tatapan tajam Naya.


"Eh bocah! Untung lo ngasih tumpangan terus buat gue Rey, kalo enggak udah gue tukerin lo sama bawang goreng diwarung, serius." Reyhan pun tertawa dan membawa Naya ke dalam pelukannya lagi, walaupun sekarang bukan pelukan erat.


Walaupun Reyhan tahu Naya tidak dalam keadaan baik-baik saja, tapi Naya tetaplah Naya, tetap saja bisa bercanda seperti itu.


"Kalau lo ada masalah bilang ke gue Nay. Cerita! Gue selalu dengerin lo. Jangan pernah pendam semua masalah lo sendiri. Nggak baik buat kesehatan mental lo!" Nada suara Reyhan sangat rendah, serious mode on.


Tangisan Naya pecah. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada sahabatnya itu. Tidak mungkin Naya sanggup menceritakan kelakuan Nathan terhadapnya apalagi hal itu merupakan aib bagi dirinya sendiri.


"Maafin gue Rey, gue nggak bisa cerita apa-apa sama lo. Gue juga masih bingung dengan situasi yang gue hadapi sekarang ini." Ucap Naya dalam hati dengan tangisnya yang sesenggukan.


---


Setelah lelah menangis, Naya meminta Reyhan untuk mengantarkannya pulang. Karena hari sudah hampir petang, pasti kedua orang tua Naya khawatir terhadapnya.


"Rey, lo jangan bilang anak-anak ya tentang kejadian hari ini." Pinta Naya terhadap Reyhan.


"Hm" Jawab malas Reyhan karena belum mendapat penjelasan apapun dari Naya.


"Hm." Reyhan menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Naya.


"Tapi lo hutang penjelasan sama gue." Naya menanggapi permintaan sahabatnya itu dengan cengiran.


---


Malam harinya, Naya sudah tidak memikirkan dirinya lagi. Dia hanya ingin fokus menghadapi ujian nasionalnya besok pagi. Dia tidak perduli kalaupun dirinya hamil nanti karena pikirannya benar-benar kacau beberapa hari ini. Dia hanya ingin fokus dan menyelesaikan ujian nasionalnya dulu, baru menyelesaikan masalah yang datang bertubi-tubi.


Nathan benar-benar melepaskan Naya begitu saja, setelah pertemuannya dengan Naya ia sama sekali tidak menghubungi Naya kembali. Dengan berat hati Naya memblokir nomor whatsapp Nathan dan semua sosial media milik Nathan. Naya bertekad untuk melupakan Nathan dan berdamai dengan masa lalunya sendiri.


"Apapun yang terjadi dikemudian hari, biar gue yang menanggungnya sendiri, karena Gue tahu semua kejadian ini nggak luput dari kesalahan gue sendiri yang dengan gampangnya nurut sama Nathan brengsek itu!" Naya berkata pada dirinya sendiri dan selalu menyalahkan dirinya sendiri.


---


Tidak terasa ujian nasional sudah terlewati. Siswa-siswi kelas 12 hanya tinggal menunggu hasil ujian. Sehingga membuat mereka lebih asik menyibukkan dirinya dengan berkumpul bersama teman-temannya seperti yang dilakukan Naya dan sahabatnya sekarang ini. Mereka berkumpul dirumah Reyhan yang sering digunakan sebagai tempat kongkow-kongkow mereka.

__ADS_1


"Kalian jadi daftar kuliah dimana nih?" Tanya Reyhan pada ketiga gadisnya itu.


"Hm gue sih maunya disini aja, di Universitas Negri X. Disana kan banyak tuh cowo cowo ganteng jadi kesehatan mata gue bakal terjamin." Ucap Viola sambil menatap keatas seakan membayangkan dirinya bertemu dengan lelaki impiannya.


"Yeeeeee gue timpuk juga lo." Timpal Alma yang gemas dengan tingkah sahabatnya itu.


"Lo jadi ambil kedokteran di Univ X juga Nay?"


"Hehe doain aja ya?" Jawab Naya.


"Pastilah Nay." Jawab ketiganya serempak


"Nay tolong ambilin remote tv disamping lo dong." Pinta Viola yang duduk diujung sofa berdekatan dengan Alma.


Naya segera berdiri mengambil remote tv, namun dengan sigap Reyhan menutup celana bagian belakang Naya dengan bantal sofa yang berada dipangkuannya.


"Gila lo Nay, apaan tuh? Lo dudukin sirup stroberry apa gimana sih?." Ucap Reyhan yang gelapan melihat pemandangan yang seumur hidupnya baru pertama kali ia melihatnya.


"Aaaaa maluuuuu" Teriak Naya mengambil alih bantal sofa yang dipegangi Reyhan.


Dia berlari menuju kamar mandi. Sementara kedua sahabatnya yang lain malah tertawa melihat ekspresi Reyhan yang tidak bisa ditebak disertai muka merah padam menahan malu dengan jakun yang sudah naik turun itu.


"Muka lo biasa aja dong Rey, hahaha sudah kayak udang direbus 5jam saja." Viola menyadarkan Reyhan yang masih mematung.


"Gosong dong." Sambar Alma dan mereka berduapun tergelak bersama.


"Eh em." Reyhan gugup menanggapi Viola dan Alma.


"Mending lo pinjemin gue motor deh Rey, gue pergi dulu ke mini market yang deket sini mau beliin Naya pembalut. Pasti nggak ada pembalut kan dirumah ini?" Ucap Alma mengingat tidak ada perempuan di rumah pribadi Reyhan.


Karena Mama dan adik perempuan Reyhan berada di rumah utama keluarga Arthur. Rumah pribadi milik Reyhan hanya digunakan untuk teman-temannya berkumpul seperti ini saja.


"Mini market disini mah jauh Al, lo lupa perumahan gue gimana? Lagian gue nggak punya motor disini." Reyhan mengingatkan Alma.


Alma menepuk dahinya karena tersadar rumah pribadi Reyhan berada di kawasan perumahan aneh menurut Alma karena minimarket berada di luar kompleks perumahan itu.

__ADS_1


"Ya terus gimana dong? Tuh bocah nggak akan keluar dari kamar mandi." Timpal Viola.


__ADS_2