
Malam itu Naya sudah tidak memikirkan dirinya lagi. Dia hanya ingin fokus menghadapi ujian nasionalnya besok pagi. Dia tidak perduli kalaupun dirinya hamil nanti karena pikirannya benar-benar kacau beberapa hari ini. Dia hanya ingin fokus dan menyelesaikan ujian nasionalnya dulu, baru menyelesaikan masalah yang datang bertubi-tubi.
Nathan benar-benar melepaskan Naya begitu saja, setelah pertemuannya dengan Naya ia sama sekali tidak menghubungi Naya kembali. Dengan berat hati Naya memblokir nomor whatsapp Nathan dan semua sosial media milik Nathan. Naya bertekad untuk melupakan Nathan dan berdamai dengan masa lalunya dengan Nathan. Apapun yang terjadi dikemudian hari biarlah Naya yang menanggungnya sendiri, karena Naya tahu semua kejadian ini tak luput dari kesalahan dirinya sendiri yang dengan gampangnya menurut pada Nathan. Begitulah Naya selalu menyalahkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Naya kembali melanjutkan belajarnya setelah sholat subuh ditunaikannya pagi itu, sampai jam menunjukan pukul 06.00 WIB tepat. Naya sudah siap berangkat sekolah setelah memastikan tidak ada nasi yang tersisa dipiring sarapan paginya. Sampai sang pemberi tumpangan gratis datang menjemputnya.
"Assalamualaikum. Pagi Tante." Sapa Reyhan dibalik pintu utama rumah Naya.
"Waalaikumsalam Reyhan. Naya udah siap tuh dibelakang. Tante panggilin dulu ya." Belum sempat Ibu Naya membalikan tubuhnya Naya sudah muncul dibelakangnya
"Naya berangkat dulu ya Bu. Doain Naya biar bisa ngerjain ujiannya dengan lancar dan benar." Naya mencium tangan Ibunya
"Pasti doa Ibu selalu ada buat kamu Nay."
"Doain Reyhan yang ganteng ini juga ya tan."
"Ih PD gila" Sewot Naya yang tidak terima dengan pernyataan yang dibuat Reyhan
"Hasss, sudah sudah berangkat gih keburu telat. Ibu doain kalian semua bisa lancar ngerjain soalnya."
"Aamiiin." Kompak keduanya.
"Om Wibawa kemana tan? Calon menantu mau minta restu juga nih sama calon papa mertua." Reyhan mencari Ayah Naya.
"Papa Naya sudah berangkat tadi pagi setelah subuh karena ada urusan Rey." Ucap Puspa, Ibu Naya menanggapi ocehan ngawur Reyhan dengan diselingi senyuman geli.
"Ngimpi banget sih Rey. Udah lah ayo berangkat keburu telat." Ajak Naya pada sahabat sekaligus go-car pribadinya.
"Assalamualaikum." Salah kompak keduanya kepada Ibu Naya.
"Waalaikumsalam" Ibu Naya menatap Naya dan sahabatnya itu sampai mobil hitam Reyhan hilang ditelan jarak.
------
Tidak terasa ujian nasional sudah terlewati. Siswa-siswi kelas 12 hanya tinggal menunggu hasil ujian. Sehingga membuat mereka lebih asik menyibukkan dirinya dengan berkumpul bersama teman-temannya seperti yang dilakukan Naya dan sahabatnya sekarang ini. Mereka berkumpul dirumah Reyhan yang sering digunakan sebagai tempat kongkow-kongkow mereka.
__ADS_1
"Kalian jadi daftar kuliah dimana nih?" Tanya Reyhan pada ketiga gadisnya itu.
"Hm gue sih maunya disini aja, di Universitas Negri X. Disana kan banyak tuh cowo cowo ganteng jadi kesehatan mata gue bakal terjamin." Ucap Viola sambil melirik keatas seakan membayangkan dirinya bertemu dengan lelaki impiannya.
"Yeeeeee gue timpuk juga lo." Timpal Alma yang gemas dengan tingkah sahabatnya itu.
"Lo jadi ambil kedokteran di Univ X juga Nay?"
"Hehe doain aja ya?" Jawab Naya.
"Pastilah Nay." Jawab ketiganya serempak
"Nay tolong ambilin remote tv disamping lo dong." Pinta Viola yang duduk diujung sofa berdekatan dengan Alma.
Naya segera berdiri mengambil remote tv, namun dengan sigap Reyhan menutup bokong Naya dengan bantal sofa yang berada dipangkuannya.
"Gila lo Nay, apaan tuh? Lo dudukin sirup stroberry apa gimana sih?." Ucap Reyhan yang gelapan melihat pemandangan yang seumur hidupnya baru pertama kali ia melihatnya.
"Aaaaa maluuuuu" Teriak Naya mengambil alih bantal sofa yang dipegangi Reyhan. Dia berlari menuju kamar mandi. Sementara kedua sahabatnya yang lain malah tertawa melihat ekspresi Reyhan yang tidak bisa ditebak disertai muka merah padam menahan malu dengan jakun yang sudah naik turun itu.
"Muke lo biasa aja dong Rey, hahaha udah kayak udang direbus 5jam." Viola menyadarkan Reyhan yang masih mematung.
"Eh em." Reyhan gugup menanggapi Viola dan Alma.
"Mending kamu pinjemin aku motor deh Rey, aku pergi dulu ke mini market yang deket beliin Naya pembalut. Pasti ga ada pembalut kan dirumah ini?" Ucap Alma
"Mini market disini mah jauh Al, lo lupa perumahan gue gimana? Ojol aja ga bisa masuk."
Ya benar saja, rumah utama Reyhan berada di perumahan elite yang kebanyakan dari penghuninya adalah CEO perusahaan berpengaruh dinegeri ini.
"Ya terus gimana dong? Tuh bocah ga akan keluar dari kamar mandi." Timpal Viola.
"Yaudah gue aja yang keluar. Kalian temenin Naya aja, shok banget kayaknya gara-gara gue liat dia tadi." Putus Reyhan dan diangguki oleh sahabatnya.
Sementara itu, didalam kamar mandi Naya terlihat pucat selain karena kaget Reyhan melihat dirinya, ia juga tersadar bahwa selama ini dia tidak hamil. Dia hanya terlambat menstruasi. Mungkin karena fikiran setres dan masalah yang datang padanya membuat siklusnya menjadi mundur dari biasanya. Lega, mungkin kata tersebut sangat pas dengan perasaan Naya sekarang ini.
__ADS_1
"Aku ga hamil. Syukurlah yaa Allah." Entah apa yang membuat Naya mengucapkan kalimat itu sambil meneteskan air matanya sesenggukan.
Tok tok tok
"Nay, lo gapapa kan?" Teriak Viola dibalik pintu.
"Gapapa Vi, bantuin dong beliin..."
"Udah dibeliin sama Reyhan tunggu aja Nay." Potong Alma yang malah membuat Naya semakin tenggelam dalam rasa malunya.
"Aaaaa kenapa harus Reyhan sih?" Ingin rasanya Naya menenggelamkan dirinya ditumpukan jerami saking malunya.
"Dianya yang mau." Jawab Alma.
Seumur-umur baru kali ini Naya dalam situasi seperti ini, dimana seorang lelaki melihat darah kotornya keluar. Walaupun Nathan sudah melihat tubuh bagian bawah milik Naya, tetap saja rasanya seperti ditelanjangi.
Setelah menunggu hampir 10 menit, ponsel Alma berbunyi dan terlihat nama Reyhan terpampang dilayar HP 5inc miliknya itu.
"Ada apa Rey?" Tanya Alma tanpa mengucapkan salam.
"Woi Al yang mana nih? Gue bingung." Reyhan terlihat sedang berada ditengah tumpukan merk pembalut yang bermacam-macam.
"Yang mana aja Rey, yang penting jangan pempers bayi aja." Jawab asal Alma.
"Ntar Naya ga suka lagi." Reyhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Woi masih bisa ya lo mikir kesukaan Naya. Udah buruan."
"Ini aja dah ya? Klaimnya adem bikin nyaman gitu, gimana?" Reyhan menunjukan salah satu merk pembalut dengan kata "cool in fresh" didalamnya.
"Hahaha ya buruan, gitu aja lama banget." Sebelum Reyhan menjawab, Alma sudah memutuskan panggilannya.
15 menit kemudian Reyhan sudab tiba dirumahnya. Reyhan mengetuk pintu dan menyodorkan bungkusan plastik hitam sambil menutup kedua matanya dengan tangannya yang tidak dominan. Segera Naya menyambar kantong berisi kebutuhannya itu. Setelah selesai dengan urusannya Naya ingin pulang karena ia sangat malu jika terus bersitatap dengan Reyhan.
"Gue anter kalian. Nih pake Nay!" Reyhan menyodorkan hoodie nya untuk diikat dipinggang Naya.
__ADS_1
"Thanks Rey." Samber Naya sambil masih menundukan kepalanya.
----to be continued