My Unexpected Soulmate (Berantakan)

My Unexpected Soulmate (Berantakan)
I'm Okey Don't Worry


__ADS_3

"Woi Nay, kesambet ya lo?" Tiba-tiba seseorang merangkul Naya dari belakang.


Tanpa menolehkan pandangannya, Naya sudah tahu siapa yang saat ini mengalungkan lengan tangannya yang dirasa cukup berat dipundaknya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Reyhan, satu-satunya sahabat lelakinya yang somplak, yang selalu merengek pada Alma dan Viola jika tidak duduk satu meja dengan Naya.


"Eh setan, ngagetin tau nggak?" Jawab Naya dengan kalimat kaget tapi tidak sedikitpun menunjukan gerak tubuh yang kaget.


Mereka melanjutkan langkah kakinya untuk menyusuri koridor sekolahnya.


"Gue udah panggil lo dari sono noh ujung sono." Tunjuk Reyhan ke arah gerbang utama padahal mereka sudah hampir sampai depan pintu kelas.


"Tapi lo nggak denger! Kan gue sudah sering ngasih tahu lo Nay kalau sekarang ada kecanggihan teknologi yang namanya korek kuping!" Reyhan berucap dengan cepat.


Naya mendengus sedikit kesal karena moodnya yang sedang tidak baik jika hanya untuk menanggapi ocehan tidak penting sahabatnya itu. Terlebih dirinya tidak mendapatkan kabar dari kekasihnya yang sudah berjanji untuk tidak meninggalkan dirinya seusai mendapatkan sesuatu yang berharga milik Naya.


"Bodo lah Rey." Naya berucap lemas.


Tidak seperti biasanya, Naya terlihat tidak memiliki tenaga hari ini. Bahkan, Naya selalu terlihat aktif dan ceria sesulit apapun masalah hidupnya. Walaupun selama ini hanya soal matematika bab limit trigonometri yang membuat hidupnya bermasalah.


"Haha kenapa sih lo? Ga kayak biasanya. Pms? Dihukum nggak dapet uang jajan? Atau ngambek sama Ibu lagi?" Tebakan beruntun Reyhan tidak ada yang tepat sasaran.


Benar saja, beberapa hari yang lalu Naya marah dengan Ibunya karena dibentak akibat kecerobohan Naya yang hanya menumpahkan minyak goreng sebanyak 5 liter. Memang seperti itu cara bicara Ibu Naya, bahkan dia membentak Naya bukan karena jengkel tapi lebih karena kaget sehingga membuat nada suaranya menjadi lebih tinggi. Membuat Naya kaget karena tidak pernah dibentak sekaligus menangis sampai tidak mau menerima uang jajan pemberian Ibunya. Karena sebenarnya Naya yang ceria itu memiliki hati hellokitty, sangat sensitif sekali bahkan hanya dengan nada suara tinggi hatinya sudah menciut.


"Sok tahu!" Jawab Naya singkat dan melayangkan lirikan tajam pada Reyhan.


"Ya sudah ampun atuh jangan badmood gitu, nanti gimana nasib nilai Fisika gue kalau lo badmood gini." Rayu Reyhan.


Mereka benar-benar sampai di dalam kelas dan sudah mendudukan diri mereka dibangku masing-masing. Belum sempat Naya menanggapi ocehan sahabatnya itu, Bu Endah yang mengisi jam pertama sudah masuk kelas. Dan ulangan Fisika yang mendebarkanpun dimulai. Mulai jugalah kegiatan contek mencontek antara ke-empat sahabat dengan narasumber Naya. Mereka mengawali semuanya dengan Reyhan yang menyalin jawaban Naya dan membaginya kepada kedua sahabatnya yang lain, Alma dan Viola yang duduk didepan mereka.


Satu per satu soal sudah terjawab oleh Naya dan tercontek oleh ketiga sahabatnya. Naya memang seperti itu, jika banyak orang pandai pelit membagi jawaban mereka lain halnya dengan Naya yang dengan senang hati membagi jawabannya. Asalkan yang meminta jawaban adalah Reyhan, Alma atau Viola. Kalau sama yang lain sih sama, pelit juga. Haha.


---


Setelah bel jam pelajaran kedua berganti dengan jam istirahat berbunyi...


"Nay makan yuk. Gue traktir deh kan lo udah bantuin kita tadi." Ajak Reyhan.


"Nggak ah. Kalian saja gue males." Tolak Naya lemas.


"Kenapa sih lo Nay daritadi diam saja." Tanya Viola tidak sabar.


"Sudah-sudah, biarin Naya dikelas saja. Nanti gue bawain siomay Mbok Darmi Nay. Kita duluan ya." Akhir Alma.


Alma yang memang mengetahui kondisi Naya sedang tidak baik-baik saja mengingat kejadian kemarin ia mendapati Naya menangis tersedu-sedu dirumahnya tidak ingin memaksakan kehendaknya. Naya hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


---


Sepeninggalan sahabat-sahabatnya, Naya segera mengambil ponselnya yang sejak tadi malam tidak ada notifikasi apapun dari Nathan, kekasihnya yang merebut kesuciannya.


"Kak, kamu kenapa?"


Send to Kak Nathan❤️


15 menit Naya tidak mendapat balasan Whatsapp dari Nathan bahkan terlihat Nathan sudah membaca pesannya.


"Kak Nathan, Naya ada salah apa?"

__ADS_1


Send to Kak Nathan❤️


Belum sempat Naya menopang kepalanya kembali, Reyhan sudah menggangu acara galaunya hari ini.


"Nayaaa. Bilang ke gue siapa yang bikin lo nangis kemarin sore? Ha?" Teriak Reyhan dari depan pintu kelas mendekati mejanya dengan Naya.


"Almaaa-,-" Gerang Naya yang hanya ditanggapi cengiran Alma dibelakang Reyhan.


Begitulah Reyhan, dia selalu menjadi orang nomor dua yang marah besar ketika Naya menangis, ataupun merasa sedih dan kecewa. Kenapa Reyhan menjadi orang nomor dua? Apakah orang nomor satu adalah Nathan. Tettt, jawaban salah. Karena yang nomor satu adalah Ayah Reino.


"Nggak paa..."


"Apanya yang nggak papa? Berani lo bilang nggak papa pakai bibir lo itu gue gibeng sekarang tuh Natadecoco." Potong Reyhan bahkan sebelum Naya menuntaskan jawaban singkat ala perempuan itu.


"Nathaaan Rey." Koreksi Alma dan Viola bebarengan.


"Ah sama aja, dia kan putih kenyal ketimbun lemak. Sama aja bentuknya kayak natadecoco." Ucap Reyhan masih menggebu-gebu.


"Mana siomay punya ku?" Naya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Nggak ada. Jawab dulu kenapa Nay?" Nada suara Reyhan sudah merendah. Menandakan dirinya sedang dalam mode serius sekarang.


Reyhan mendudukan dirinya didepan Naya, menatap dalam kedua manik hitam mata Naya. Naya yang ditatap Reyhan seperti itu tidak dapat lagi menahan gejolak air mata yang sudah memaksa keluar. Matanya memanas lama kelamaan bulir air mata lolos begitu saja. Tak sampai satu second waktu berjalan Reyhan langsung membawa Naya dalam pelukannya.


"Nggak papa Nay, kalau lo belum bisa cerita nggak papa. Menangislah." Reyhan mengusap pelan pundak sahabatnya yang naik turun itu.


Pikiran Reyhan berkecamuk, amarahnya seakan memuncak melihat Naya yang ceria tiba-tiba menjadi lemah seperti ini. Alma dan Viola juga ikut memeluk sahabatnya yang sudah terlebih dahulu berada dipelukan Reyhan, mereka saling memberikan energi satu sama lain.


"Tapi gue nggak akan lepasin Nathan sialan itu." Batin Reyhan geram.


---


Sudah satu minggu lamanya semenjak kejadian di hotel, Nathan tidak pernah memberi kabar Naya. Seperti hilang ditelan bumi. Sakit, bahkan tidak bisa mewakilkan perasaan Naya saat ini. Merasa Nathan hanya membodohinya, mengambil keuntungan dari dirinya, habis manis sepah dibuang. Naya merasa jijik dengan dirinya sendiri. Apapun yang sedang dilakukan oleh gadis polos itu selalu saja terlintas dibenaknya betapa bodohnya ia melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan dengan Nathan.


"Kak Nathan, Naya ada salah apa?"


Send to Kak Nathan❤️


Naya kembali membaca pesan terakhirnya pada Nathan yang sampai sekarang tidak mendapat balasan. Naya memang gadis yang sama dengan gadis lainnya, ia tidak suka disakiti, dikhianati, dan diabaikan seperti ini, memangnya siapa yang mau diposisi Naya saat ini? Tapi, jika gadis lain akan mengejar lelakinya setelah ditinggalkan tanpa sebab, tidak dengan Naya. Ego dan gengsinya yang tinggi membuatnya tidak sudi menghubungi Nathan lagi. Meskipun sangat pedih baginya.


Dan selama itu pula Reyhan, Alma dan Viola selalu mencoba menghibur Naya. Mereka tidak berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. Bagi mereka Naya kembali seperti dulu menjadi Naya yang ceria adalah hal yang luar biasa.


Reyhan juga sudah dengan sekuat tenaga menahan untuk tidak melakukan hal buruk terhadap Nathan, karena Reyhan belum mengetahui dengan betul duduk masalah antara Naya dan Nathan.


---


Sedangkan Nathan, dia tenggelam dalam perasaan bimbangnya sendiri. Disisi lain, ia masih menyayangi Naya. Tapi disisi lain, ia kecewa terhadap Naya karena Naya tidak perawan. Dan abainya Naya yang tidak mencoba mencari Nathan setelah Naya melakukan hubungan terlarang dengannya membuat Nathan semakin yakin kalau Naya sudah terbiasa melakukan hal itu dengan lelaki lain.


Nathan semakin bimbang ketika Caca mengatakan bahwa orang tua nya telah menyetujui hubungannya dengan Nathan. Keadaan Nathan yang sekarang membuat Caca memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan hati Nathan kembali. Dan benar adanya, sejak pertemuannya dengan Caca malam itu Nathan sudah berpindah hati lagi pada Caca, bahkan tanpa memberi kejelasan status pada Naya.


"Gimana dengan Naya Nat?" Tanya Caca meyakinkan dirinya sendiri setelah Nathan mengajaknya kembali menjalin hubungan dengannya.


"Udah nggak usah dipikirin dia. Yang penting itu kamu sekarang." Yakin Nathan yang disambut anggukan Caca.


Saat ini mereka sedang berada di cafe tempat biasanya mereka berkencan. Caca merasa senang dan tidak enak hati secara bersamaan. Dia senang mendapatkan Nathan kembali, tapi dia juga tidak enak hati dengan Naya. Bagaimanapun dia juga perempuan, dia sangat mengerti perasaan Naya jika Nathan benar-benar meninggalkannya begitu saja sekarang.

__ADS_1


Buggggg


"****** lo!" Teriak seseorang yang tiba-tiba dengan mebabi buta menyerang Nathan.


"Hei sudah, ku mohon hentikan." Pinta Caca untuk menghentikan tontonan adegan berbahaya yang tidak boleh dilakukan sembarang orang tanpa latihan didepannya itu.


"Apa? Ayo lawan gue!" Tantang lelaki bertubuh atletis dengan tampangnya yang tampan bak selebriti itu.


"Apa sih masalah lo? Ha?" Teriak Nathan berusaha berdiri dan menahan perih diujung bibirnya.


"Lo sudah bikin Naya nangis! Gara-gara lo Naya nangis tiap hari. Seumur-umur baru kali ini gue lihat Naya nangis. Itu salah lo! Dan disini lo malah selingkuh sama nih cewe yang standartnya jauh dibawah Naya." Ucap Reyhan berapi-api.


"Berhenti menghina dia. Dia nggak ada sangkut pautnya dengan Naya. Ngerti lo!" Bela Nathan terhadap Caca.


"Terus apa ha?" Teriakan Reyhan yang tidak digubris sedikitpun oleh Nathan.


Nathan mengikuti langkah cepat Caca yang sudah terlebih dahulu meninggalkan cafe tersebut karena merasa sakit hati dengan ucapan lelaki yang baru saja ia temui.


---


Kejadian itu tak luput dari penglihatan Naya, karena benar saja hari ini Naya diantar pulang oleh Reyhan seperti seminggu belakangan ini. Tapi karena Reyhan yang harus membeli pie susu pesanan Mamanya mengharuskan mereka mampir di cafe tempat Nathan dan Caca makan siang disana.


Reyhan yang melihat Nathan dan Caca terlihat sangat dekat sudah tidak bisa menahan amarahnya, padahal Naya sudah menahannya.


"Rey, gue pengen pulang." Pinta Naya mengelus lengan Reyhan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nay." Reyhan menangkup pipi Naya kemudian membawanya kepelukannya.


Naya menumpahkan air matanya lagi dipelukan Reyhan bahkan untuk yang kesekian kalinya. Mungkin tidak ada tempat ternyaman lagi selain Reyhan untuk berbagi cerita. Tidak mungkin juga jika Naya menangis didekapan Ayah atau Ibunya.


---


Setelah dirasa Naya cukup tenang dan sudah mendapatkan pie susu pesanan Mamanya, Reyhan mengantar Naya pulang dengan mobilnya. Sepanjang perjalanan Naya hanya diam seribu bahasa, tatapannya kosong menerawang keluar kaca jendela, walaupun Reyhan sudah mencoba mengajaknya berbicara tetap saja tidak mendapatkan balasan dari Naya. Entah kemana perginya pikiran Naya saat ini.


"Nay sudah sampai." Reyhan menyadarkan Naya yang melamun bahkan tidak berpindah tempat setelah hampir 3 menit mereka berada didalam mobil tepatnya didepan rumah Naya.


"Eh iya Rey, makasih ya." Ucap Naya sambil melepaskan seatbelt nya.


Namun baru saja Naya akan membuka pintu mobil tapi buru-buru ia membatalkan niatnya dan membalikan tubuhnya menghadap Reyhan.


"Oh iya Rey, tolong jangan lakuin hal kayak tadi lagi ya? Gue nggak mau lo terlibat dalam masalah gue sama kak Nathan lagi. Sekali lagi, makasih ya Rey." Ucap Naya tulus pada Reyhan.


"Nggak bisa Nay, gue nggak..."


"I'm okey Rey. Don't worry. Ya?" Potong Naya cepat sebelum Reyhan menyelesaikan kalimatnya.


Tatapan Naya sendu, tangannya mengusap pelan lengan Reyhan. Mungkin hal tersebut sedikit membuat Reyhan tenang.


"Tapi lo harus janji sama gue, lo harus jadi Naya seperti yang gue kenal selama ini. Kalo engga, gue bakal bilang sama bokap gue buat narik sahamnya di perusahaan Mamanya Nathan sialan itu." Ucap Reyhan bersungguh-sungguh.


"Rey! Jangan! Nggak usah campurin urusan sepele ini dengan perusahaan. Gue nggak suka lo bersikap kayak gini!" Teriak Naya pada Reyhan.


Setelahnya Naya berlari ke dalam rumahnya, menyisakan Reyhan yang mematung karena terkejut mendapat serangan amarah Naya.


---to be continued

__ADS_1


__ADS_2