My Unexpected Soulmate (Berantakan)

My Unexpected Soulmate (Berantakan)
Ep. 7


__ADS_3

Aku telat menstruasi satu minggu. Apa yang terjadi sama aku?"


From Naya


"Kamu bohong kan?"


Send to Naya


"Buat apa aku bohong?"


From Naya


"Temui aku besok di Apartemenku."


Send to Naya


Nathan benar-benar frustasi mendapat pesan dari Naya yang sudah hilang selama beberapa hari dan kembali membawa kabar yang entah harus diartikan sebagai kabar baik atau kabar buruk. Nathan terus mencoba membuat beberapa rencana untuk menangani masalah ini. Sekarang ia sudah yakin akan pilihannya untuk melanjutkan hubungannya dengan Caca. Karena rasa kecewa Nathan terhadap Naya bahwa Naya bukanlah seorang gadis polos yang masih suci. Tapi kabar dari Naya barusan sangat mengusik keputusan bulat yang sudah diambil Nathan.


"Kalaupun Naya hamil, pasti bukan anak gue. Mana bisa sekali berhubungan langsung hamil. Haha emang sehebat apa kecebong gue?" Nathan mencoba menyangkal kenyataan yang mungkin akan dihadapi.


----

__ADS_1


Hari ini Nathan skip kuliah siangnya. Ia memilih pulang ke apartemennya menunggu Naya. Sebelum pulang Nathan mampir dulu ke apotek untuk membeli beberapa peralatan untuk membuktikan sebuah kehamilan.


"Mba beli testpack yang akurat banget dong." Pinta Nathan pada pegawai apotek yang sudah senyum-senyum menanggapi permintaan Nathan.


Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Nathan kembali melajukan mobilnya menuju apartemen. Nathan memasuki basement dan naik ke lantai 6 menggunakan lift. Lift terbuka di lantai 1, dan benar saja Naya yang sedang menunggu lift itu. Naya masuk lift dengan menundukan kepalanya, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Nathan. Begitupun sebaliknya. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing sampai denting pintu lift berbunyi dan tibalah mereka di lantai 6 dimana apartemen Nathan berada.


Naya berjalan menunduk dibelakang Nathan masih dengan seragam putih abu-abunya dan tas ransel sekolah yang biasa Naya gunakan.


"Duduk dulu Nay." Pinta Nathan pada Naya setelah mereka memasuki apartemen Nathan.


"Kamu mau minum apa Nay?" Tawar Nathan karena Naya hanya diam sedari tadi.


"Jus jeruk aja ya Nay, biar banyak dapet vitamin C. Semalem aku baca-baca di web katanya sih vitamin C ga baik buat orang yang lagi ha..."


"Kamu coba cek dulu pakai ini." Nathan menyodorkan tespack yang sudah dibelinya tadi. Tapi Naya hanya menatapnya dengan tatapan hampa.


Jauh dilubuk hati Naya, sangat sakit rasanya mendapat perlakuan begitu jahat dari Nathan. Orang yang sangat disayanginya. Apalagi Naya memperhatikan jam tangan yang sedang dipakai Nathan, yang ia tahu betul bahwa itu adalah jam pemberian Caca sebelum ia dan Nathan menjalin sebuah hubungan.


"Bodohnya kamu Nay. Dia sudah mencuri segalanya dari kamu. Setelah mendapatkannya dengan entengnya dia menggantikan posisimu dengan wanita masa lalunya itu."


Sekuat tenaga Naya menahan air matanya. Egonya terlalu tinggi untuk menangisi lelaki brengsek didepannya ini. Rasa sayang dan cintanya runtuh seketika menyadari situasi yang dihadapinya sekarang.

__ADS_1


"Ambil Nay. Kalaupun kamu hamil, bukankah kamu harus meminta pertanggung jawaban dari lelaki yang sudah menghamilimu?" Ucap Nathan menjatuhkan harga diri Naya.


"Maksudnya?" Tanya Naya dengan dahi yang mengernyit.


"Ayolah Nay, aku tahu kamu biasa melakukan hal itu dengan lelaki lain. Bahkan kamu bukan seorang perawan, tidak ada darah yang keluar dari tubuhmu saat kita berhubungan!"


"Tapi aku ga pernah nglakuin hal serendah itu dengan lelaki manapun kecuali dengan badebah sepertimu." Ucap Naya dalam hati menatap nanar lelaki didepannya itu.


"Bahkan aku hanya melakukannya sekali denganmu, mana mungkin kamu segampang itu hamil. Haha." Lanjut Nathan karena Naya hanya diam saja dengan tampang menahan gejolak amarah yang sangat luar biasa.


Plakkkk


Satu tamparan keras dari Naya sukses mendarat mulus membentuk jejak telapak tangan berwarna merah dipipi mulus Nathan. Naya sudah tidak tahan dengan ucapan Nathan yang begitu merendahkannya. Sudah cukup Nathan menyakiti dan mempermainkan perasaan bahkan tubuhnya. Namun Nathan menambah pedih yang dirasakan Naya dengan kata-kata penghinaan yang baru saja dilontarkan ******** itu. Naya sudah tidak sanggup untuk berdiam diri lagi. Jika diam sudah tidak bisa dihargai, Naya harus meneriaki lelaki ini agar tidak merendahkan orang lain lagi.


"Hei Nathan dengar, aku ga pernah nglakuin hal rendahan menjijikan itu selain dengan ******** sepertimu. Sekarang kita luruskan saja, kamu sudah kembali pada Caca kan?" Tanya Naya karena sedari tadi ia terganggu dengan jam pemberian Caca dulu. Namun Nathan hanya diam saja menatap tajam kearah Naya.


"Pergilah! Berbahagialah dengan Caca! Semoga karma akan lebih kejam membalas semua perbuatanmu. Hiduplah seperti dulu sebelum kamu mengenalku." Lanjut Naya sealigus mengakhiri pertemuan bodoh ini dengan Nathan.


Naya berbicara dengan mata yang berkaca-kaca dan suaranyapun bergetar menahan tangis. Ia mencoba setegar mungkin agar tidak kelihatan lemah didepan lelaki nya yang sudah benar-benar menghancurkan perasaannya. Setelah mengatakan itu semua Naya menyambar tasnya dan keluar apartemen Nathan tanpa memperdulikan tespack, Nathan, atau kehamilan yang mungkin terjadi pada dirinya bahkan keadaan dirinya sendiri.


Nathan tertegun dengan ucapan Naya. Entah perasaan apa yang Nathan rasakan saat ini. Apakah ia harus bahagia karena Naya pergi tanpa diminta, atau sedih karena mengingat begitu kejam perlakuannya terhadap Naya, gadis cantik yang disayanginya atau hanya obsesinya saja.

__ADS_1


----to be continued


__ADS_2