My Unexpected Soulmate (Berantakan)

My Unexpected Soulmate (Berantakan)
Duduk di Sampingku


__ADS_3

Naya langsung mengetikan beberapa kalimat ajakan di grub whatsapp yang berisikan Alma, Viola, Reyhan dan dirinya tersebut. Namun sepertinya Alma dan Viola akan sedikit terlambat mengingat waktu masih menunjukan pukul 10.30 WIB yang artinya mereka masih berada di kantor.


"Alma sama Viola nyusulin pas jam makan siang Rey. Lo free nggak hari ini?" Naya memberitahu sekaligus bertanya kepada Reyhan yang sekarang ini sudah mendudukan dirinya dibalik kursi kemudinya.


"Ya sudah kita tunggu saja, sekalian kangen-kangenan dulu sama lo." Ucap Reyhan menggoda Naya.


"Ih geli gue." Naya bergidik ngeri.


Namun belum sempat Reyhan menyauti Naya, ponselnya bordering didalam sakunya membuat dirinya mau tidak mau harus melihat ponselnya terlebih dahulu. Reyhan sedikit menyerngitkan dahinya ketika melihat nama Michel yang tertoreh di layar ponsel pintarnya. Naya hanya menatapnya dengan tatapan heran.


Reyhan sedikit menatap Naya balik kemudian ia menggeser ikon berwarna hijau diponselnya untuk mengangkat telepon dari kekasihnya.


"Halo Michel.” Sapa Reyhan terlebih dahulu membuat Naya mengerti siapa yang berada dibalik ponsel itu.


Naya seketika mengalihkan pandangannya keluar jendela seakan dengan melakukan hal tersebut dirinya tidak mendengar apa yang akan dibicarakan sepasang kekasih melalui gadget mereka masing-masing.


"Kamu bohong ya Rey? Temenku bilang dia lihat mobil kamu di gedung kedokteran." Ucap Michel dengan menggebu-gebu karena merasa dibodohi oleh Reyhan.


"Em iya meetingnya dicancel, jadi aku menemui Naya dan ingin menemui temanku yang lainnya.” Kata Reyhan lagi.


Entah apa yang ditanyakan Michel diseberang sana karena Naya tidak dapat mendengarnya. Dirinya hanya mampu mendengar suara Reyhan disebelahnya.


"Kamu mau bertemu dengan teman-teman konyolmu itu?" Tanya Michel.

__ADS_1


"Iya aku akan pergi bersama Naya, Alma dan Viola.” Jelas Reyhan lagi, kali ini ia sedang meminta izin pada kekasihnya.


"Antar aku pulang terlebih dahulu atau aku akan ikut denganmu." Ucap Michel.


"Baiklah-baiklah aku akan segera kesana.” Reyhan memutuskan panggilannya dengan Michel.


---


"Em Nay.” Panggil Reyhan sedikit ragu membuat Naya menolehkan pandangannya kini dengan ceria menatap sahabat kecilnya.


"Iya kenapa? Nggak jadi ya?” Tebak Naya.


"Jadi dong jarang-jarang nih kita free barengan gini.” Ucap Reyhan menggebu-gebu.


"Terus Michel?” Tanya Naya tepat sasaran karena Michel yang sedang ada dipikiran Reyhan saat ini.


Naya terlihat berpikir sejenak dan tidak segera menjawab ajakan dari Reyhan.


"Nay. Mau ya?” Reyhan mengembalikan kesadaran Naya.


"Hm ya udah deh.” Naya menjawab sambil membuang nafasnya yang terasa berat.


Naya tidak memiliki pilihan lain karena tidak mungkin jika Naya menunggu di cafe sendirian, pasti akan sangat membosankan begitu pikir Naya. Jika harus menunggu di kampus dia juga tidak akan tega menyuruh Reyhan untuk bolak-balik menjemputnya. Mengingat jarak kampus dan daerah perumahan Michel sangat jauh.

__ADS_1


Naya hendak membuka pintu mobil Reyhan berniat untuk duduk dikursi belakang, namun Reyhan segera menahannya.


"Mau kemana lo?” Tanya Reyhan tangannya masih setia memegang pergelangan tangan Naya yang dirasa sangat halus itu.


"Duduk belakang lah gue nggak mau ya cewe lo yang cantik itu cemburu lagi sama gue.” Perkataan Naya tidak segera dijawab oleh Reyhan.


Mengingat tiga bulan yang lalu ketika Reyhan tidak sengaja bertemu Naya di rumah sakit, kemudian dirinya mengantarkan Naya ke kampus karena Naya harus konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Michel yang mengetahui hal tersebut secara langsung sangat geram seketika dia marah pada Reyhan. Dan hal tersebut membuat Naya merasa tidak enak hati jika harus membuat hubungan sahabatnya dan kekasihnya merenggang.


"Lo pikir gue sopir apa?” Akhirnya Reyhan tidak membiarkan Naya berpindah tempat duduk.


"Gue nggak mau bikin Michel marah sama lo.” Naya sedikit menaikan nada suaranya.


Entah apa yang membuat Naya terlihat begitu geram ketika mengucapkan kalimat tersebut.


"Kalau dia marah sama gue gara-gara ini, ya sudah kita tinggal saja dia disana.” Ucap Reyhan.


"Tapi Rey..."


"Duduk disampingku!" Ucap Reyhan sambil memasang seatbelt pada tubuh Naya dengan cepat.


Naya tidak menghalangi aktivitas Reyhan saat ini. Dirinya begitu terkesima dapat melihat dengan sangat dekat wajah Reyhan. Ditatapnya lekat-lekat setiap lekuk wajah Reyhan.


"Tampan sekali." Ucap Naya dalam hati.

__ADS_1


Setelahnya Reyhan melajukan mobilnya menuju gedung dimana Michel berada.


---to be continued


__ADS_2