
Setelah hampir 5 menit Naya dan Reyhan berada di dalam mobil akhirnya Reyhan benar-benar mematikan mesin mobilnya. Terlihat Michel sedang berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri mobil Reyhan.
Naya yang nelihat Michel sudah berjalan ke arahnya segera membuka pintu mobil Reyhan dan berpindah di kursi belakang tepatnya dibelakang calon kursi yang akan ditempati oleh Michel. Kali ini Reyhan membiarkan Naya, karena demi apapun Reyhan sangat malas jika harus berdebat dengan Michel. Pacarnya yang posesif, pemarah, dan egois itu.
Michel tidak langsung mendudukan dirinya disana, dia terlebih dahulu mengeluarkan tissue dari dalam tas miliknya. Kening Reyhan mengkerut melihat kelakuan kekasihnya saat ini, dimana Michel sedang membersihkan kursi mobil bekas Naya duduki dengan beberapa lembar tissuenya.
Sedangkan Naya tidak melihat apa yang dilakukan Michel disana karena pandangannya terhalang kursi.
"Kamu ngapain sih Chel?" Reyhan sedikit membentak Michel. Tapi tidak menghentikan kegiatan Michel.
Reyhan yang geram karena merasa tidak digubris oleh Michel terlebih dia takut jika Naya akan merasa tersinggung dengan sikap Michel kali ini. Reyhan merampas tissue Michel dan menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin menerkam Michel hidup-hidup sekarang.
Namun hal tersebut sama sekali tidak membuat Michel takut. Michel memang gadis yang berani bahkan bisa dikatakatan kelewatan berani.
"Apa?" Michel melipat kedua tangannya diatas perut memancing emosi Reyhan.
"Tinggal duduk aja apa susahnya?" Suara Reyhan meninggi, membuat Michel tersenyum puas.
Michel sengaja melakukan ini, agar Naya merasa menjadi benalu saat ini. Benar saja sejak tadi Naya sudah tidak enak hati dengan pertengkaran sepasang kekasih dihadapannya.
"Aku ga mau..."
"Duduk atau aku tinggalin?" Tukas Reyhan cepat karena ia tahu kemana arah bicara Michel saat ini.
Michelpun terpaksa duduk disana karena tidak ingin ditinggal Reyhan. Reyhan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dirinya begitu was was dengan apa yang akan Michel katakan kepada Naya selama diperjalanan. Maka dari itu sesegera mungkin Reyhan ingin menurunkan Michel di rumahnya.
"Lo mau ajak pacar gue kemana Nay?" Tanya Michel dengan suara yang tajam.
__ADS_1
Ternyata usaha tinggalah usaha, Michel tetap bertingkah. Belum sempat Naya menjawab pertanyaan Michel, Reyhan menjawabnya dengan cepat.
"Aku yang ngajakin Naya, bukan Naya yang ngajakin aku. Dan satu lagi, ga usah banyak nanya kamu." Ucap Reyhan tanpa melihat lawan bicaranya.
"Loh kenapa? Lagian aku nanya Naya bukan kamu!" Michel berkata sambil menunjukan jari dihadapan Reyhan.
"Kamu bisa sopan nggak sih Chel? Atau..."
"Atau apa? Kamu mau nurunin aku disini? Turunin aja! Aku nggak takut!" Tantang Michel.
Naya semakin dibuat tidak enak hati pada Reyhan. Bahkan saat ini dirinya merasa tidak layak untuk berkata sedikitpun untuk menyela membela dirinya agar tidak diikutsertakan dalam pertengkaran sahabatnya dan kekasih sahabatnya itu.
"Mau kamu tuh apa sih sebenarnya? Ha?!" Reyhan membentak Michel tepat setelah ia berhasil meminggirkan mobilnya, karena ia lebih mengutamakan keselamatan daripada egonya.
"Mau aku? Mau aku kamu tuh jauhin calon-calon perempuan perebut lelaki orang, seperti dia." Michel langsung menunjuk Naya sebagai tersangka.
"Naya temanku! Kamu tahu itu!" Reyhan hendak menyalakan lagi mesin mobilnya dan menyudahi cekcok tidak penting ini. Tapi niatnya urung akibat pernyataan Michel yang menggebu.
Naya yang hanya mendapat predikat sebagai teman Reyhan merasa ada yang nyeri dibagian jantungnya. Entah mengapa Naya merasa seperti itu, padahal memang Naya teman Reyhan bukan?
"Mana ada laki-laki dan perempuan berteman tanpa rasa cinta? Aku yakin dia suka sama kamu." Ucap Michel sudah tidak tahan dengan rasa cemburunya selama ini.
"Aku berteman ber-empat. Bukan hanya dengan Naya saja. Kamu nggak malu apa sama Naya?" Ucap Reyhan.
"Malu? Bukankah yang seharusnya malu itu teman kamu ya? Disini kamu lagi sama aku! Kekasihmu! Seharusnya dir tahu diri, dan tahu bagaimana harus bersikap padamu karena kamu sudah memiliki kekasih." Michel mendengus kecil sebelum melanjutkan kalimatnya lagi.
"Sekarang kamu pilih, aku turun dan pulang sendiri, atau dia yang turun dan pulang sendiri? Aku sudah tidak tahan melihatnya." Ucap Michel dengan menatap sinis Naya yang ada dibelakangnya melalui kaca yang ada di mobil itu.
__ADS_1
Reyhan terlihat bingung harus menjawab apa, pandangannya dibuang begitu saja, nafasnya terbuang berat, entah apa yang akan dikatakan pada Michel. Tapi Naya menganggap sikap Reyhan yang seperti itu artinya dirinya lebih memilih Michel. Tentu saja Reyhan akan memilih Michel, memang siapa Naya? Hanya teman. Bukan begitu yang dikatakan Reyhan tadi? Bahkan mereka bertengkar dengan hebat seakan tidak ada Naya disana.
"Maaf Michel memang aku yang salah disini. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Perlu ku luruskan dulu kalimatmu tadi, aku sama sekali tidak memiliki perasaan khusus terhadap Reyhan. Kami hanya berteman." Naya mengulang kalimat Reyhan yang mengatakan bahwa mereka hanya sebatas teman.
Namun kali ini giliran jantung Reyhan yang terasa tertusuk duri tajam. Entah mengapa terasa sakit sekali ketika Naya menyebutnya teman.
Naya sudah membuka pintu mobil itu, tapi niatnya terurungkan. Dia menatap Michel sekali lagi melalui kaca mobil.
"Dan perlu kau tau Michel, aku mengenal Reyhan jauh sebelum kau mengenalnya. Kenapa kau memberi pilihan seperti itu pada Reyhan?" Kalimat terakhir Naya tertuju pada Michel dan Reyhan sekaligus.
"Tapi gue yang memenangkan hati Reyhan. Bukan lo! Pergi lo!" Michel benar-benar mengusir Naya.
Reyhan hanya menatap kepergian Naya dengan sejuta rasa bersalahnya terhadap Naya. Kenapa Reyhan jadi semenurut ini pada Michel? Padahal Michel sudah benar-benar keterlaluan terhadap Naya.
"Apa yang kamu lihat? Pulang sekarang atau ku adukan pada Papa." Ancam Michel.
Karena Papa Michel sangat menyayangi anak gadisnya itu, semenjak Reyhan menjadi kekasihnya Michel, Papa Michel selalu berpesan dan memohon pada Reyhan untuk benar-benar menyayanginya dan tidak akan menyakitinya. Reyhan adalah sosok dengan hati yang sangat lembut dan berpegang teguh dengan janjinya. Sama halnya dengan janjinya terhadap Papa Michel. Tapi dirinya sendiri lupa akan janjinya yang akan menikahi Naya sewaktu sekolah dulu.
---
Reyhan melajukan mobilnya meninggalkan Naya dipinggir jalan sana. Dirinya benar-benar tidak tahan dengan sikap Michel yang seperti ini. Namun entah mengapa dirinya sulit sekali melepaskan Michel. Mungkin karena janjinya pada Papa Michel, atau mungkin Reyhan yang sudah terbiasa dengan Michel.
Reyhan ingin sekali mengantar Michel dan kembali membawa Naya, meminta maaf atas perlakuan Michel. Karena Reyhan yakin setelah ini Naya kan marah besar kepadanya. Dia tidak ingin kehilangan sahabat tercantik sedunianya itu.
---
Naya terlihat sedang berada di dalam taxi, matanya mengucurkan air dengan deras, entah apa yang saat ini menghujam jantungnya. Penghinaan Michel? Reyhan yang tidak membelanya? Atau perkataan Reyhan yang hanya menganggap Naya teman? Entahlah Naya pun tidak tahu.
__ADS_1
-to be continued