
"Naya! Kamu kenapa?" Betapa kagetnya Alma mendapati sahabatnya yang sudah berantakan didepan pintu rumahnya itu.
Dengan segera Alma memeluk Naya dan membawanya kedalam kamarnya. Bahkan Alma melupakan kantung hitam besar yang sempat ia pegangi tadi.
Karena mereka sudah bersahabat sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama jadi rumah Alma sudah seperti rumah Naya. Naya tidak pernah canggung saat berada dirumah Alma, begitu pula sebaliknya.
"Katakan Naya." Pinta Alma dengan lembut setelah berhasil membawa Naya duduk dipinggir tempat tidurnya.
"Gue nggak papa Al, cuma kangen saja sama lo." Bohong Naya.
"Baiklah-baiklah" Alma kembali membawa Naya dalam dekapannya.
"Menangislah! Menangislah sampai kamu lelah." Sambung Alma sambil menepuk-nepuk punggung Naya.
Walaupun Alma mengetahui sahabatnya sedang berbohong tapi dia tidak mau memaksa Naya untuk menceritakannya sekarang. Alma mempererat pelukannya yang disambut dengan isakan yang semakin kencang dari Naya.
"Kamu kenapa Nay? Sungguh, aku tidak pernah melihatmu seperti ini." Batin Alma sambil mengusap lembut belakang kepala Naya agar sahabatnya lebih tenang.
---
Setelah lelah dengan tangisannya, Naya meminta Alma mengantarkannya pulang ke rumah. Bahkan dari tadi Naya hanya menumpahkan air matanya saja, tanpa bicara sepatah katapun. Mungkin hal ini sudah sedikit meringankan beban pikirannya.
Selama ini, Naya belum diizinkan pacaran oleh orang tua nya. Sehingga, Alma selalu dijadikan kambing hitam oleh Naya apabila dirinya hendak berpacaran seperti ini. Alma pun sudah terbiasa jika dijadikan alasan Naya untuk sekedar keluar rumah.
Naya adalah gadis yang sangat cantik. Selain cantik, Naya juga pintar dalam akademis. Dia selalu mendapat juara umum sehingga membuatnya banyak dikenal oleh guru-gurunya.
Besar harapan orang tua Naya agar ia bisa kuliah dan menjadi wanita sukses dikemudian hari. Karena memang Naya adalah anak perempuan dan anak satu-satunya sehingga membuat orang tua Naya over protective terhadapnya. Bahkan untuk berteman dengan laki-laki saja Naya tidak berani, apalagi jika orang tua Naya tahu kalau dirinya sudah berani berpacaran bahkan melakukan hal bodoh seperti tadi, entahlah Naya pun tidak bisa membayangkan nasibnya sendiri jika hal itu benar-benar terjadi.
Hanya ada satu orang teman lelaki Naya yang pernah berkunjung ke rumahnya, siapa lagi kalau bukan Reyhan, teman sekaligus sahabat Naya.
---
Sampailah Naya dan Alma dirumah yang lumayan besar walaupun tidak terlihat begitu mewah, gerbang besi yang sudah banyak berkarat disana sini termakan usia menyambut kedatangan Naya yang sedang dibonceng Alma menggunakan sepeda motor berwarna pink milik Alma.
"Thanks ya Al. Lo mau masuk dulu?" Tawar Naya pada Alma.
"Enggak Nay. Gue mau belajar. Inget besok ada ujian kimia Bu Endah, belajar jangan lupa! Nanti nggak bisa nyontekin gue lagi!" Alma mengingatkan Naya.
"Dasar plagiat jawaban orang." Merekapun tertawa. Sampai suara adzan maghrib membuyarkan obrolan singkat mereka.
"Eh sudah maghrib nih, balik dulu Nay." Belum sempat Naya menyampaikan mandat untuk hati hati pada sahabatnya itu, Alma sudah melejit dengan sepeda motornya.
---
Setelah dirasa Alma sudah hilang dari pandangannya, Naya membalikan tubuhnya dan menatap sendu rumahnya, ia kembali mematung setelah berada didepan pintu kayu tinggi rumahnya itu. Naya menarik panjang nafasnya namun belum sempat ia membuka handle pintu rumahnya, pintu itu sudah dibuka dari dalam.
"Naya! Darimana saja kamu? Ayahmu cemas sekali kamu pergi seharian penuh. Ibu jadi sasaran marahnya." Omelan Ibu Elisha hanya ditanggapi dengan cengiran kuda ala Naya.
"Ayahhhh, Naya sudah pulang nih." Naya mengeraskan suaranya dengan ceria seakan tidak ada hal buruk yang menimpa dirinya. Bahkan dirinya menorobos tubuh Ibu Elisha.
"Dasar anak nakal. Naiklah, mandi dulu setelah itu makan malam bersama." Saut Ayah Reino dari arah dapur, karena dirinya sudah berada di salah satu kursi meja makan.
"Siap paduka raja." Jawab cengengesan Naya yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala kedua orang tuanya.
Ya begitulah Naya, seorang gadis energik yang ceria. Bahkan Naya tidak pernah menangis didepan orang lain, catet tu. Kecuali kejadian tadi, hehe.
---
Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersih badannya, Naya turun menuju ruang makan. Ia menghembuskan nafas kasar, penyesalannya semakin menjadi melihat tawa kedua orang tuanya yang saling melemparkan candaan.
__ADS_1
Bagaimana hancurnya perasaan kedua orang tua Naya jika mengetahui apa yang sudah anaknya lakukan dengan pacarnya hari ini. Namun, apapun keadaanya Naya harus terlihat baik-baik saja, bagaimanapun keadaannya hanya Nayalah semangat orang tuanya saat ini. Jadi Naya tidak boleh memperlihatkan kesedihannya kepada siapapun.
"Nay, mau sampai kapan kamu berdiri disana? Sampai kakimu mengeluarkan akar?" Tegur Ibu Elisha yang melihat putri cantiknya melamun disebelah tangga rumahnya.
"Hehe, Naya tuh nggak mau ganggu Ibu sama Ayah. Salah siapa mesra banget, jadi nggak tega deh mau ikutan nimbrung." Jawab Naya asal. Padahal sedari tadi pikirannya berlarian entah kemana.
"Dasar anak nakal. Kemarilah, Ayah sudah lapar sekali." Perintah Ayah Reino, karena memang sedari tadi Ayah Reino dan Ibu Elisha menunggu putrinya untuk makan malam bersama walaupun dengan menu yang sederhana.
---
Sementara itu, Nathan menatap jalanan dengan mata yang penuh amarah. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di relung hatinya.
"Hah brengsek! Ternyata Naya nggak sepolos yang gue bayangin." Ucap Nathan sambil memukul kemudinya berulang-ulang.
Nathan memang sangat menyayangi Naya, walaupun hubungannya dengan Naya baru dimulai, tapi Nathan tidak ingin Naya diambil orang lain mengingat begitu cantiknya Naya yang membuatnya banyak digilai oleh lelaki dari segala golongan usia, mulai dari anak SMP, adik kelas maupun teman sebayanya, bahkan teman-teman Nathan juga ingin memiliki Naya sebagai kekasih hatinya.
Hal itu membuat Nathan berfikir dengan mengambil keperawanan Naya, Naya tidak akan dapat berhubungan dengan lelaki manapun. Entah itu cinta atau hanya obsesi semata Nathan terhadap Naya. Atau bahkan mungkin hanya pelampiasan Nathan untuk melupakan mantan kekasihnya yang sudah lama mengisi hari-harinya, Caca.
---
Sampailah Nathan dirumah luas yang mewah dan megah berlantai 2, dengan warna putih yang mendominasi dan halamannya yang luas ditumbuhi banyak tanaman dengan daun hijau yang berwarna merah dipucuknya sehingga sering disebut tanaman pucuk merah oleh Mamanya.
Setelah memarkirkan mobilnya digarasi, Nathan membuka pintu rumahnya. Betapa terkejutnya Nathan karena mendapati Mamanya dengan Caca, mantan pacarnya yang sudah dipacarinya selama 3 tahun sebelum ia berhubungan dengan Naya, sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Nathan, sudah pulang nak? Lihat siapa yang datang?" Sapa Mama Riana melihat putranya sudah pulang.
"Ada perlu apa Ca?" Tanya Nathan pada Caca tanpa menghiraukan Mama Riana.
"Nggak ada apa-apa kok, tadi tante Riana yang mengundang aku kesini." Jawab jujur Caca.
Caca memang gadis yang baik dan manis, karena telah lama berhubungan dengan Nathan, membuat Caca sangat disayangi Mama Nathan, Riana. Hubungannya dengan Nathan pun masih baik, karena alasan mereka memutuskan hubungan adalah keluarga Caca yang tidak menyukai Nathan yang berasal dari keluarga yang tidak utuh.
"Mama yang ngajak Caca makan malam disini, sudahlah mandi sekarang Mama sudah lapar sekali nunggu kamu ga pulang-pulang." Omel Mama Nathan sembari meninggalkan Nathan dan Caca berada di ruang tamu.
Nathan langsung menuju kekamarnya tanpa menjawab ataupun membantah Mamanya. Dan dia juga tidak menghiraukan Caca yang masih berdiri menatap dalam Nathan.
---
Caca langsung menyusul Mama Nathan untuk menduduki salah satu tempat dimeja makan.
"Tante, Caca takut Nathan marah karena Caca kesini." Ucap Caca sedikit takut.
"Tidak mungkin Nathan marah Ca. Sebenarnya dia masih sayang sama kamu. Buktinya foto kalian berdua saja dari dulu sampai sekarang masih terpajang, tidak ada yang dibuang sama Nathan. Meskipun dia sudah memiliki pacar baru, tapi Nathan tidak pernah memperkenalkannya tante. Bahkan tante tidak pernah melihat foto pacar baru Nathan ada di kamar nya." Cerita jujur Mama Riana.
"Tapi Caca tidak mau merusak hubungan Nathan dan Naya tan." Caca berucap dengan jujur.
"Masalah pacar Nathan itu urusan tante Ca. Yang penting sekarang orang tua kamu sudah menyetujui hubungan kalian. Bukankah kamu juga masih memiliki perasaan terhadap Nathan?" Caca hanya menanggapi dengan anggukan permintaan Mama Nathan.
Benar saja, jika hari ini Mama Nathan sudah menyetujui kerja sama bisnis dengan keluarga Caca yang juga lebih menguntungkan perusahaan Papa Caca. Sehingga, hal tersebut mengubah pandangan keluarga Caca terhadap Nathan.
Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Mama Nathan untuk menarik simpatik keluarga Caca. Karena dia sudah terlanjur menyayangi Caca dan tidak ingin Nathan menjalin hubungan lagi dengan perempuan lain selain Caca.
---
Makan malam berlangsung dengan hening, mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Hanya Mama Riana yang sesekali bertanya hal remeh temeh pada Caca untuk memecah kesunyian walaupun hanya ditanggapi "hehe" oleh Caca.
Mama Riana sengaja tidak ingin membicarakan perihal orang tua Caca yang sudah menyetujui hubungan putrinya dengan Nathan, dia ingin Caca yang memberitahu Nathan tentang hal itu.
Setelah selesai dengan makan malamnya, Mama Nathan meminta Nathan untuk mengantar Caca pulang, karena sudah larut malam. Itu merupakan salah satu strategi Mama Nathan agar putranya dan Caca dapat berbicara dari hati ke hati. Nathan pun terpaksa menuruti permintaan Mamanya.
__ADS_1
---
"Nat." Caca mengawali obrolan untuk memecah kesunyian di dalam mobil Nathan karena mereka sedang berada diperjalanan menuju rumah Caca.
"Hm?" Jawab Nathan singkat.
"Gimana kabar Naya?" Tanya Caca, karena Caca sudah mengenal Naya sebagai kekasih Nathan.
Siapa juga yang tidak kenal dengan Naya, daun muda sekolahan yang banyak diburu oleh lelaki.
"Baik. Kenapa?" Jawab Nathan tanpa menolehkan pandangannya.
"Kalau hubungannya? Gimana?" Tanya Caca ambigu.
"Ha? Apaan sih Ca?" Nathan sedikit melirik Caca dengan tatapan bingung.
"Aku tahu kamu pasti sakit hati menanyakan hal ini kepadaku." Batin Nathan. Karena ia tahu betul bagaimana perasaan Caca saat ini.
"Nat, aku kangen kamu." Tiba tiba terdengar suara sesenggukan disamping Nathan.
"Caaa jangan nangis!" Nathan segera meminggirkan mobilnya dan memeluk Caca.
Memang tidak bisa dipungkiri, sesayang apapun Nathan terhadap Naya, Caca sudah mengisi 3 tahun Nathan yang berharga. Apalagi tidak ada perselisihan diantara mereka yang mengakibatkan berakhirnya hubungan mereka.
"Aku juga kangen sama kamu Ca. Naya bukan perempuan baik-baik dan polos seperti yang ku kira. Kamu memang yang terbaik Ca." Nathan hanya mampu mengucapkannya dalam hati.
---
Malam itu Caca menumpahkan seluruh kesedihan yang ia pendam selama berbulan-bulan pada pujaan hatinya. Nathan pun tidak memberi ruang untuk Caca berpindah dari pelukannya. Sampai terlihat punggung Caca sudah berhenti naik turun yang menandakan bahwa gadis itu sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Nathan mengusap air mata Caca dengan kedua ibu jarinya sambil mengusap-usap pipi lembut milik Caca. Sedangkan tangan Caca ikut terulur memegang tangan Nathan yang masih tetap berada disana.
"Kamu tahu? Orang tua ku sudah menyetujui hubungan kita." Akhirnya Caca mampu memberitahu Nathan tentang hal yang sedari tadi ingin ia ungkapkan.
Mata Nathan membulat dengan sempurna, masih bingung harus seperti apa menanggapi pernyataan Caca baru saja.
"Kamu serius Ca?" Nathan menatap dalam mata Caca.
Caca hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku akan menyelesaikan semuanya dengan Naya. Lagi pula Caca jauh lebih baik daripada Naya." Begitu pikir Nathan sambil kembali mendekap Caca.
Sejenak Caca membiarkan Nathan memeluknya sampai ia tersadar akan Naya. Kekasih Nathan yang jauh lebih berhak atas Nathan daripada Caca yang hanya sebatas mantan kekasihnya.
"Em, tapi itu semua percuma Nathan. Aku nggak mungkin ambil kamu dari Naya." Caca mengulaskan senyum getir disana.
Karena ia sepenuhnya mengerti dan sangat menghormati perasaan Naya. Dirinya jugalah seorang perempuan, tidak mungkin menyakiti hati perempuan lainnya.
"Aku sudah mengakhiri semuanya dengan Naya Ca!" Nathan berbohong.
Ia bermaksud akan mengakhiri hubungannya dengan Naya sesegera mungkin setelah mendapat lampu hijau dari orang tua Caca, yang memang dari dulu menjadi batu besar dalam hubungan Nathan dan Caca.
"Kamu nggak lagi bohong kan?" Tanya Caca menyelidik.
"Enggak Ca. Kamu percaya kan sama aku?" Jawab Nathan meyakinkan Caca kembali.
Sejenak Caca memandang Nathan mencari kejujuran disana. Namun cinta Nathan pada Caca yang kembali bersemi begitu saja membuat matanya tidak menunjukan keraguan sedikitpun. Caca pun menganggukan kepalanya dengan mantap, mereka kembali melepas pelukan disana.
Nathan kembali melajukan mobilnya ke rumah Caca. Dengan begitu leganya senyuman dibibir Nathan maupun Caca mengembang dengan sempurna. Tangan dan jari mereka saling menaut satu sama lain seakan tidak ingin terpisahkan oleh siapapun atau apapun lagi. Memang benar kata orang-orang, jika sedang jatuh cinta dunia memang serasa hanya milik berdua.
__ADS_1
---to be continued