My Unexpected Soulmate (Berantakan)

My Unexpected Soulmate (Berantakan)
Prewedding


__ADS_3

Naya yang menyadari jari Reyhan sedang menyentuh bibirnya langsung menepisnya.


"Ihh awas." Ucap Naya menepis tangan Reyhan.


"Buru ngomong." Ucap Reyhan tidak sabar.


"Lo gila ya Rey lamar gue? Terus gimana Michel?" Akhirnya Naya menanyakan hal yang sangat ingin ia tanyakan sedari tadi.


Mengingat tadi siang Naya diturunkan dijalan oleh Reyhan karena menuruti Michel.


"Gue udah putus sama Michel." Ucap Reyhan membuat Naya membulatkan matanya dengan sempurna.


"Gara-gara gue?" Ucap Naya menunjuk dirinya sendiri.


"Ya bukan lah, PD banget lo." Ucap Reyhan sambil tertawa namun mendapat tatapan tajam dari Naya.


"Eh em. Bukan Nay, gue sebenarnya sudah nggak betah gitu sama dia. Apalagi kejadian tadi siang sama lo. Tapi gue juga berterima kasih sama Michel, karena kejadian tadi siang lo jadi jujur pengen dilamar sama gue. Hehe." Reyhan menjelaskan panjang lebar.


"PD banget lo! Siapa yang mau dilamar sama lo?" Ucap Naya langsung berjalan menjauhi Reyhan.


"Lo kan juga terima lamaran gue Nay. Haha. Naya..." Reyhan berucap sambil menyusul Naya yang sudah berjalan didepannya.


Naya berjalan cepat sambil menutup kedua daun telinganya dengan tangan karena dirinya merasa malu digoda Reyhan seperti itu.


---


Hari demi hari dilewati oleh Naya, Reyhan dan tak terkecuali kedua sahabatnya yang lain Alma dan Viola yang sibuk mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan Naya dan Reyhan.


Walaupun Wedding Organizer ternama sudah menanganinya, tapi untuk fitting pakaian pengantin ataupun foto prewedding tidak bisa diwakilkan bukan?


Seperti hari ini, Reyhan dan Naya sedang berada disebuah studio foto untuk melakukan foto prewedding agar bisa dicetak dan dipamerkan digedung pernikahan mereka. Naya sengaja ingin foto preweddingnya indoor saja, karena dirinya merasa lebih nyaman didalam ruangan saja.

__ADS_1


"Ayo dong yang mesra posenya." Ucap seorang fotografer yang sudah kesal karena Naya dan Reyhan sama sekali tidak bisa mesra.


"Gue capek Rey." Bisik Naya pelan tidak menanggapi fotografer yang sudah lelah itu.


"Sorry, kita istirahat dulu. Naya capek." Ucap Reyhan pada sang fotografer.


"Hmm ya sudah 15 menit ya." Ucap fotografer mengalah.


Naya langsung duduk disalah satu kursi tunggu yang ada disana, sepertinya dirinya memang benar-benar lelah melakukan sesi foto ini.


---


"Gue kan udah bilang, nggak usah ada foto prewedding kayak gini. Sayang sama uangnya, kita juga nggak bisa difoto bagus kan?" Omel Naya pada Reyhan yang kini terlihat sedang menghampiri Naya dengan memegang dua botol minuman air mineral.


"Lo lupa gue orang kaya?" Ucap Reyhan menyodorkan botol minum pada Naya.


"Cih." Naya merampas botol minuman itu dan langsung menegak habis isinya.


"Sudahlah Nay, ini juga kan permintaan orang tua kita. Tinggal ngikutin saja apa susahnya sih?" Ucap Reyhan pelan.


"Maksud lo?" Tanya Reyhan.


"Iya mimpi bakal nikah sama lo!" Ucap Naya berlalu meninggalkan Reyhan.


Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap punggung Naya yang sudah menjauh dari sana.


"Yang ada gue yang mimpi bisa nikah sama lo Nay." Senyuman Reyhan mengembang di ujung kalimatnya.


---


10 menit kemudian Reyhan meminta fotografer untuk menyelesaikan acara foto berfoto hari ini. Karena Naya selalu merengek ingin segera melepas gaun dan menghapus riasan dipermukaan kulit wajahnya.

__ADS_1


Sang fotografer pun menyerah karena tidak bisa memaksa kedua insan didepannya ini untuk sedikit mesra. Bahkan yang ada mereka selalu beradu mulut hanya karena hal-hal sepele.


"Ih rambut lo nih masuk mulut gue."


"Tangan lo berat jauhin dari bahu gue."


"Jangan deket-deket, gerah tahu."


"Mahkota lo nyangkut jas gue."


Dan banyak lagi protes Naya terhadap Reyhan dan Reyhan terhadap Naya yang sudah didengar sang fotografer. Akhirnya fotografer tersebut mengambil foto candid mereka berdua yang sedang bertengkar tapi malah membuat pose yang sangat lucu. Bahkan tidak terasa oleh Naya dan Reyhan jika sesi foto prewedding ini sudah selesai, padahal tadi sebelum istirahat terasa sangat lama sekali.


---


Disisi lain...


Terkadang ada hati yang harus patah setelah adanya kebahagiaan orang lain. Seperti yang dirasakan Michel saat ini. Pagi ini membuat mood nya benar-benar berantakan, bagaimana tidak? Mami nya membawa kabar bahwa putra jeng Chintya teman arisan nya yang diketahuinya sebagai kekasih putrinya akan segera menikah dengan perempuan lain.


"Mami...aku nggak rela Reyhan nikah sama orang lain. Aku nggak akan rela Mamiiiii. Please." Michel berucap sesenggukan didekapan Maminya.


"Stop baby, don't cry. Reyhan doesn't deserve you. Kamu terlalu baik untuk dia." Ucap Mami Michel menenangkan putrinya.


"Kenapa Papi diam saja Mi? Kenapa Papi nggak tarik saja sahamnya dari perusahaan Om Aksa?" Michel menangkat kepalanya agar pandangannya dapat menjangkau Maminya.


"Sssttt. It's not professional. Kita tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan urusan bisnis sayang." Ucap Mami Michel sangat bijaksana.


Mami dan Papi Michel memang sangat profesional. Mereka tidak akan mencampurkan urusan bisnis dan urusan pribadi. Entah darimana sifat Michel yang tidak profesional, egois dan selalu ingin menang sendiri muncul.


"Lagian kan kamu sendiri yang meminta Reyhan memilih antara kamu dan sahabatnya, kenapa kamu tidak bisa menerima persahabatan Reyhan? Sekarang Reyhan memilih sahabatnya, kamu juga yang sedih." Tutur Mami Michel.


"Ya kan aku menyuruh Reyhan pilih bukan untuk jadi pendamping hidup. Aku sebagai kekasih atau sahabatnya sebagai sahabat saja, bukan calon istri Mamiiiii." Michel semakin mengeraskan tangisannya.

__ADS_1


Mami Michel hanya mendekap erat putrinya. Dia tahu bahwa putrinya memang selalu seperti ini, padahal Michel sangat terlihat sekali hanya bermain-main dengan Reyhan. Bahkan Mami Michel yakin bahwa nanti malam perasaan putrinya akan membaik dan akan melupakan Reyhan secepatnya.


---to be continued


__ADS_2