
"Gue harus gimana dong Al?" Tanya Naya panik sambil meremas tangannya.
"Gimana apanya sih Nay? Lo sendiri kan yang tahu gimana persisnya hubungan lo sama Reyhan." Ucap Alma.
Kini mereka sedang menunggu giliran mandi, karena Viola yang pertama menggunakan kamar mandi didalam kamar Naya.
"Ya lo tahu sendiri gue sama Reyhan sahabat. Kayak lo sama Reyhan, Viola sama Reyhan. Nggak lebih." Ucap Naya beranjak dari duduknya.
"Terus kenapa Reyhan bisa lamar lo?" Tanya Alma.
"Em." Naya tampak bingung harus menjawab bagaimana.
Kini Naya berjalan mondar mandir di depan Alma yang sedang duduk di ranjang Naya sambil memperhatikan sahabatnya yang kebingungan itu.
"Dan kenapa lo bisa terima lamaran Reyhan?" Tanya Alma lagi.
"Gu...gue. Ah lo kan tahu sendiri kalau Reyhan sudah sering lamar gue dari jaman SMA, itu cuma becandaan Alma. Terus apa kata Ibu sama Ayah kalau tahu ini semua cuma becandaan?" Ucap Naya kali ini dirinya benar-benar bingung harus bagaimana.
Tok tok tok
"Naya, ayo turun keluarga Reyhan sudah sampai nak." Ucap Ibu Elisha dibalik pintu kamar Naya.
"Apa?" Ucap Naya dan Alma bersamaan.
"Ibu tunggu dibawah ya nak." Ucap Ibu Elisha berlalu turun ke lantai bawah untuk menyambut keluarga calon menantunya itu.
---
"Viola buruannn!" Alma meneriaki Viola dan seketika itu Viola keluar dari dalam kamar mandi.
"Buru mandi Nay." Alma menarik tangan Naya ke dalam kamar mandi.
"Ta...tapi Al kenapa jadi gini? Kenapa gue dilamar Reyhan." Naya merengek pada Alma.
"Kita pikirin nanti, sekarang lo mandi dulu." Alma menutup pintu kamar mandi setelah Naya berhasil masuk kedalamnya.
"Kenapa tuh bocah?" Tanya Viola dengan polosnya.
"Nanti lo bantuin dandanin Naya, gue mau mandi di kamar mandi luar aja. Nanti gue nyusulin kesini kalau sudah selesai." Ucap Alma sambil mengambil salah satu gaun Naya yang akan dipakai olehnya.
"Kalau sudah selesai acaranya?" Ucap Viola yang hanya ditanggapi dengan tatapan tajam Alma.
---
30 menit kemudian Naya sudah tampil cantik dan anggun dalam balutan gaun berwarna navy yang menampakan pundaknya. Dengan bantuan Alma dan Viola rambut Naya berhasil digulung keatas seadanya sehingga anak rambut Naya sedikit berjatuhan akan tetapi malah menambah kecantikan Naya malam itu. Apalagi ditambah kalung dengan liontin kecil yang tampak sederhana namun sangat anggun jika dipakai oleh Naya.
__ADS_1
"Calon menantuku, cantik sekali kamu Nay. Kemarilah nak." Ucap Mama Chintya setelah menangkap Naya dalam pandangannya.
Seketika itu semua mata tertuju pada Naya, tidak terkecuali Reyhan. Naya tersenyum kikuk dan kembali menuruni anak tangga rumahnya.
"Gila cantik banget Naya. Astaga jantung gue copot." Reyhan berucap dalam hati sambil memegangi tempat dimana jantungnya berada karena dirasa jantungnya sudah tidak ditempatnya.
"Kenapa kak? Jantung lo mau meledak?" Goda Reyna karena memperhatikan Reyhan yang memegangi dadanya.
"Diem lo." Ucap Reyhan dengan tatapan tajam.
Reyna malah tertawa melihat tingkah kakaknya yang dirasa lucu sekali.
---
Acara pun dimulai...
"Alhamdulillah kalau tujuan baik putra saya diterima dengan baik oleh keluarga Tuan Reino. Saya sangat berterima kasih. Sekarang giliran putra saya yang akan menyampaikan secara langsung maksud dan tujuannya untuk meminta kami sebagai orang tua mendampinginya kemari. Ayo Reyhan." Ucap Papa Aksa.
Akan tetapi Reyhan hanya diam, dirinya benar-benar terpukau dengan penampilan Naya malam ini. Entah mengapa jantungnya berdetak hebat ketika memandang Naya saat ini, padahal Reyhan sudah biasa melihat Naya bahkan sedari SMP dirinya sudah tidak asing dengan wajah cantik Naya.
"Naya lo cantik banget." Ucap Reyhan memuji Naya dalam hati.
"Reyhan?" Panggil Papa Aksa kembali membuat Reyhan terkejut dan menghentikan lamunannya.
Krik krik krik
Semua mata disana memandang Reyhan tidak berkedip. Alma, Viola dan Reyna pun tidak kuasa menahan tawanya, walaupun mereka tidak sampai kelepasan membuat tawa yang nyaring. Sedangkan Naya menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti warna tomat itu dengan menundukan kepalanya.
"Eh em iya Pa. Sampai dimana tadi?" Ucap Reyhan kembali karena benar-benar tidak fokus dengan situasi ini.
"Reyhan yang fokus dong nak. Ayo utarakan maksud dan tujuanmu." Ucap Mama Chintya sambil mengusap lengan putranya.
"Iya ma. Ehem." Reyhan sedikit berdehem untuk memasuki mode serius.
"Assalamualaikum wr. wb. Saya Reyhan Daran Arthur, dengan segenap keseriusan ingin meminta izin pada Om Reino dan Tante Elisha bahwa Reyhan ingin menjadikan putri Om dan Tante, Kanaya Ayundya Wibawa untuk menjadi istri Reyhan. Apakah Om Reino dan Tante Elisha mengizinkan dan merestui Reyhan?" Ucap Reyhan sangat serius, tatapannya tidak berpindah mengunci Naya didalam bola matanya.
"Waalaikumsalam wr. wb. Reyhan, Om sangat menghargai keberanian kamu. Om dan Tante sangat mengizinkan dan menyetujui niat baikmu ini. Sekarang tinggal Naya yang akan menjawab permintaanmu ini." Ucap Ayah Reino.
"Kanaya Ayundya Wibawa, bersediakah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?" Ucap Reyhan sangat serius dihadapn Naya dan orang tua mereka.
Naya menatap Reyhan dalam tetapi air matanya berulang kali menetes, dirinya sungguh terharu sekaligus tidak percaya, bagaimana bisa dirinya dilamar seorang lelaki saat ini. Dan bagaimana bisa dirinya akan menjadi seorang istri. Terlebih lelaki itu adalah Reyhan. Sahabatnya.
Alma dan Viola sama seperti Naya, mereka tak henti-hentinya meneteskan air mata harunya. Baru kali ini mereka melihat Reyhan seserius ini dalam suatu hal, apalagi keseriusan itu ditujukan untuk Naya. Mereka sama-sama tidak menyangka hal seperti ini terjadi diantara persahabatan mereka.
"Naya ayo dijawab nak." Ucap Ibu Elisha.
__ADS_1
"Emmmm." Naya masih menatap Reyhan mencari keseriusan disana.
"Iya, aku bersedia." Ucap Naya dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Semua bernafas lega, sekaligus mengucapkan syukur bersama. Naya disambut ucapan selamat berupa pelukan dari Ibu Elisha.
"Selamat sayang. Ibu tidak menyangka jodohmu sedekat ini dengan dirimu." Ucap Ibu Elisha mencium pucuk kepala putrinya.
Tanggal pernikahanpun sudah ditentukan, karena hal baik tidak sebaiknya ditunda. Apalagi Reyhan yang menginginkan pernikahannya dilaksanakan minggu depan sesuai dengan penuturannya tadi siang di parkiran cafe kepada Naya. Jadi kedua keluarga itu sepakat untuk menentukan tanggal pernikahan Naya dan Reyhan tepat satu minggu lagi, pada hari Minggu.
Acara dilanjutkan dengan jamuan makan malam sederhana. Kehangatan sebuah keluarga sangat terasa dimeja makan keluarga Naya. Semuanya tertawa bahagia saling melemparkan gurauan. Hanya Naya dan Reyhan yang terlihat kikuk dan canggung satu sama lain.
---
Malam semakin larut, keluarga Reyhan sudah bersiap untuk pulang. Saat ini Reyhan berada ditengah Alma dan Viola, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sedangkan Naya sendiri dikerumuni oleh para orang tua.
"Naya tolong panggilkan Reyhan ya. Kami harus pulang sekarang karena sudah malam." Ucap Mama Chintya pada calon menantunya.
"Iya tante. Sebentar Naya panggilkan." Naya berlalu meninggalkan ruang keluarga menuju teras rumahnya karena memang Reyhan dan yang lainnya sedang berada disana.
---
"Eh calon lo nyamperin tuh Rey." Ucap Viola melihat kedatangan Naya dibelakang Reyhan.
Seketika itu Reyhan membalikan tubuhnya.
"Gue mau ngomong sama lo." Ucap Naya tidak menghiraukan sahabatnya yang lain.
"Beuhh, nggak ada manis-manisnya lo Nay sama calon suami." Celetuk Viola kembali membuat Alma terkekeh geli melihat kelakuan para sahabatnya.
"Bodoooo." Naya berlalu begitu saja.
Reyhan segera menyusul Naya yang belum jauh masuk ke dalam rumah.
"Nay." Reyhan menghentikan langkah Naya karena kini tangannya sudah menangkap pergelangan tangan Naya.
"Mau ngomong apa? Tapi jangan disini ya kita ngobrolnya." Ucap Reyhan sambil memperhatikan sekitar.
"Ya terus dimana? Dikamar gue? Jangan mimpi lo!" Ucap Naya menaikan nada suaranya satu oktaf.
Tidak seperti biasanya, Naya terlihat sedikit ketus pada Reyhan. Bukankah seharusnya Naya bersikap manis dan lembut?
"Ssstttt. Ya sudah disini saja." Reyhan berucap dengan meletakan jari telunjuknya didepan bibir Naya.
---to be continued
__ADS_1