
Naya tertegun beberapa saat mendengar pertanyaan dari Reyhan. Apakah seharusnya Naya berterus terang pada Reyhan? Setidaknya hanya untuk berbagi dan meringankan beban pikirannya. Tapi ini aib, yang tidak boleh Naya beritahukan kepada siapapun termasuk Reyhan sahabat terdekatnya yang sudah dianggapnya sebagai Kakak.
Tidak. Naya tidak boleh memberitahu siapapun. Termasuk Reyhan, Alma ataupun Viola. Hanya Naya dan Tuhan yang boleh mengetahui hal menjijikan itu.
"Rey, gue ingin lo janji satu hal sama gue." Ucap Naya yang tidak menanggapi pertanyaan Reyhan.
"Apa?" Reyhan mengkerutkan keningnya.
"Jangan pernah bertanya tentang Nathan atau tentang apapun yang berhubungan dengan gue dan Nathan." Pinta Naya pada sahabatnya.
"Kenapa?" Reyhan lagi-lagi bertanya.
"Ya pokoknya jangan. Gue sedang berusaha melupakan semuanya. Lo ngerti kan Rey?" Ucap Naya dengan raut muka yang sudah berubah menjadi sendu.
"Hm." Reyhan menjawab dengan malas.
"Janji enggak?" Naya kembali memastikan karena tidak puas dengan jawaban Reyhan.
"Iya janji." Ucap Reyhan pasrah.
Reyhan mengalah walaupun gejolak keingintahuannya menjadi beribu-ribu kali lipat karena Naya terkesan menutupi sesuatu.
"Gue masuk dulu ya. Makasih sudah mau nganterin. Byeee." Naya berucap sembari membuka pintu mobil hitam itu bahkan tidak mau menatap Reyhan agar Reyhan tidak melihat cairan bening yang sudah berkumpul dikelopak matanya dan siap untuk keluar kapan saja.
---
__ADS_1
Akhirnya Reyhan memutuskan untuk tidak mencari tahu lagi sebab hubungan Naya dan Nathan menjadi seperti ini. Biarlah mereka berdua yang menyimpan. Reyhan tidak ingin Naya sedih lagi. Benar, bukan seperti ini sikap yang harus ditunjukan seorang sahabat ketika sahabatnya bersedih. Bukan dengan mengungkit ataupun mencari tahu masalahnya, seharusnya Reyhan menghibur Naya dan membantunya menyembuhkan luka. Toh Naya akan bercerita sendiri jika sudah waktunya, jika hatinya siap untuk berbagi cerita. Dan sekarang bukanlah saatnya.
Reyhan memutar mobilnya untuk keluar dari kompleks perumahan Naya dan kembali ke rumahnya karena harus menyambut Papa dan Mamanya yang baru saja pulang dari luar negeri setelah perjalanan bisnis. Mama Reyhan selalu mengikuti suaminya kemanapun suaminya pergi. Bahkan Reyhan dan Rayna adiknya sudah terbiasa tinggal berdua karena ditinggal kedua orang tuanya.
Menurut mereka Papa dan Mama adalah pasangan terbucin seluruh dunia yang tidak ingat usia tapi masih mesra saja. Mungkin Reyhan dan Reyna memberinya predikat seperti itu karena mereka belum merasakan indahnya mencintai dan dicintai, maklum saja mereka ini jomblo sejak dini. Jadi ya iri gitu.
---
Sedangkan Naya kembali kerumahnya dan menjalankan rutinitas seperti biasanya membantu Ibunya berjaga di toko untuk melayani beberapa pembeli yang datang dan pergi.
"Nay, kapan kamu ujian seleksi PTN nak?" Tanya Ibu Elisha sembari merapikan beberapa tepung beras berbagai macam merk untuk dipajang.
"Lusa bu, kebetulan Naya dan Reyhan satu ruangan. Jadi enak deh." Jawab Naya karena memang dia dan Reyhan dalam satu ruangan ujian yang sama.
"Enak deh bisa contekan sama Reyhan." Sambung Ibu Naya yang seakan mengerti maksud perkataan anaknya.
"Haha benarkah? Kalau begitu kamu belajar saja sana gih, nanti kasihan Reyhan udah jemput dan nganter kamu pulang eh kamunya nggak bisa nyontekin dia lagi." Ucap Ibu Naya.
"Haha Ibu ini ada-ada saja. Memang Ibu nggak apa-apa Naya tinggal belajar?" Tanya Naya mengingat ini masih jam 3 sore belum saatnya toko tutup.
"Ya ga papa dong Nay. Sudah sana." Ucap Ibu Naya sambil sedikit mendorong bahu Naya untuk pergi meninggalkan toko mereka yang berada didepan rumah.
---
Naya kembali memasuki kamarnya, mengambil buku simulasi ujian seleksinya, dan mulai menuliskan beberapa rumus untuk menyelesaikan soal yang tertulis dibukunya.
__ADS_1
Naya memang bukan hanya gadis yang pandai dan cantik. Tapi dirinya adalah gadis yang baik dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Dia tidak ingin mengecewakan Ibu dan Ayahnya sekali lagi. Biar saja kemarin menjadi hal terbodoh yang pernah ia lakukan. Untuk pertama dan terakhir kalinya, Naya tidak akan pernah mengulanginya lagi.
---
Sesampainya Reyhan di rumah utama Arthur...
"Lama banget sih lo kak?" Ucap Reyna kesal mendapati Reyhan yang baru saja pulang.
"Yang penting gue pulang." Jawab Reyhan melalui Reyna begitu saja yang duduk diruang keluarga, karena dirinya ingin mandi terlebih dahulu sebelum menyambut kedua orang tuanya pulang.
"Mama sama Papa bakal ngenalin lo sama cewe, mandi sono yang bersih." Kali ini ucapan Reyna menghentikan langkah Reyhan.
"Maksud lo?" Tanya Reyhan.
"Biar lo punya pacar! Salah sendiri jomblo." Jawab Reyna nyeleneh.
Karena baru saja Mama Chintya memberi kabar Reyna bahwa akan segera sampai di bandara. Mama Chintya juga mengatakan bahwa mereka bersama dengan putri sahabat Papa Aksa, karena dia akan kembali ke negara ini setelah menempuh pendidikan Senior High School nya di luar negeri.
"Gue bukan jomblo. Tapi gue sedang menunggu seseorang." Jawab Reyhan menatap tajam adik perempuan menyebalkannya itu.
"Dari dulu lo selalu beralasan itu itu saja, siapa sih yang lo tunggu? Naya?" Tanya Reyna tapi tepat membidik sasarannya.
"Ah apaan sih? Gue masih SMA lo juga masih kecil. Jangan mikir hal yang nggak penting, ngerti lo." Ucap Reyhan kali ini dia benar-benar meninggalkan Michel.
"Kenapa juga ya gue nggak pernah menaruh hati sama cewe? Apa benar gue nunggu Naya? Tapi kenapa?" Batin Reyhan membenarkan ucapan Reyna.
__ADS_1
---to be continued