NASIP CAMPUR

NASIP CAMPUR
11


__ADS_3

Flashback on


 


 


 


"Aududdudu ampun ati ampun" Ucapku memohon namun wanita itu tetap menyeretku untuk menggikuti langkahnya meninggalkan kamar tidur ku lalu menuju ke ruang tamu meinggalkan sosok wanita yang kini mencoba menyembunyikan tubuh polosnya dalam selimut.


 


 


"Kau " Ucapnya berang disertai nafas yang terputus -putus karena saking emosinya.


 


 


"Salah iel apa?" Ucapku sembari menggusap-usap kuping yang tadinya dijewer oleh wanita yang begit galak menurutku


 


 


"Kau bertanya apa kesalahanmu?" Ucapnya dengan suara melengking lagi sambil kembali ingin menggapai kuping untuk kembali dijewer namun kali ini aku lebih pandai membaca gerakannya jadi sebelum tangan wanita mencapai kupingku aku sudah menjaga jarak dengannnya lalu mengganguk dengan wajah polos yang ku miliki.


 


 


"Pura pura tidak tahu setelah kau hampir saja memperawani anak orang di rumah kita" amuknya katanya kembali ingin menjewerku namun kali ini tidak berhasil.


 


 


"Lag ceweknya mau kok ati" Ungkapku membela diri.


 


 


Tanpa kata sang wanita yang berstatus ibuku ternyata sudah menggerakkan tangannya hingga berhasil meraih perutku dan dengan sadisnya memutar kulit perut hingga membuatku hampir menjatuhkan air mata


 


 


"Aghh kejamnya dikau ati" Kataku tanpa sadar mengelurkan isi pikiran juga perasaanku.


 


 


"...." Tak ada katanya yang diucapkannya namun kini kedua tangannya sudah sangat sadis menyubitku lebih sadis lagi dibanding sebelumnya.


 


 


"Dududdduuuu" Jeritku semakin keras karena semakin aku menjerit semakin keras pulalah cubitan sang ibu.


 


 


"Eghh tidak mungkin gadisnya mau kalo tidak kau bujuk kupret" Umpatnya dengan suara yang melengking di akhir kalimatnya.


 


 


"Tidak tugh Nina juga issh Ati dudud ati nina juga ssstss Ati ampun Ati iyaa Ati, Nina udah ngak perawan kok" jelasku namun bukannya menggerti ati malah menamparku hingga terduduk di lantai karena tidak menyangka akan terkena temparan itu secara tiba - tiba.


 


 


Atiku itu sepertinya juga tidak menyangka jika aku sangat mudah merendahkan seorang wanita yang berjenis kelamin sama dengannya, hal itu membuat tubuhnya seakan terbakar dan hal itu tergambar jelas di wajahnya yang terlihat memerah menahan tanganya untuk tidak memukuliku lebih parah lagi.


 


 


cukup lama ati terdiam lalu memijiti kenitnya berulang-ulang kali mungkin itu disebabkan karena saking tidak bisanya menerima ucapan ku. tapi itu hanya sesaat karena mulut dan pikirannya lagi-lagi tidak bersekongkol untuk menggomeli ku.


 


 


"Kau dasar bocah tengil sejak kapan kau tahu fungsi siperkutut ha?" Tanyanya dengan suara lebih besar dibanding sebelumnya sambil bertolak pinggang disertai tatapan jahatnya.


 


 


beberapa asisten rumah tangga kami bahkan terbangun dan keluar dari kamar mereka untuk melihat keributan apa yang terjadi pada pukul 1: 30 malam.


 


 


"Sejak kecil ati" Ungkapku jujur karena Ati sangat tidak suka di bohonggi.

__ADS_1


 


 


"Apa?" ujarnya lalu tiba-tiba dia juga terduduk dilantai sembari terus beristigfar terus menerus.


 


 


"Iel diajari api, Api bilang jadi lelaki perkasa itu bagus"


 


 


"BAGUS KEPALA BURUNGMU KECIL IYA? kenikmatannya cuman sesaat nak, tapi kau akan kekal di neraka kalo seperti ini!" Katanya dengan suara yang lebih melengking


 


 


"Api bilang bagus jika sering menggasa perkutut" Ujarku lagi.


 


 


"menggasa apanya, merusak anak orang itu kok kamu begoknya ngak ketolong IEL" Katanya semakin menunjukkan frustasinya


 


 


"tapi Api yang ajari Ati"


 


 


"Apa siapa, siapa, siapa yang mengajarimu?"


 


 


"Api, Ati" Mendengar itu ati tiba tiba berteriak dan memanggil orang yang baru saja ku adukan pada pemiliki kekuasaan di keluarga Brawijaya.


 


 


"Dimassssss"


 


 


 


 


"Dimas kau dimana "


 


 


"Egh serius apimu yang menggajarimu? " katanya seorllah tidak percaya dan harus memastikannya lagi.


 


 


"Iya ati " Kataku lagi dan kali ini disertai dengan anggukan yang sangat yakin


 


 


"Dimas kutu busuk keluar kau aisss dimasss" Teriaknya dengan umpatan yang sudah sangat pamiliar di keluarga kami.


 


 


Cukup lama Ati berteriak lalu berjalan meninggalkanku yang tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh wanita jahat itu, namun ketika aku menggingat jika aku baru saja melanggar janji dengan Api aku segera meninggalkan ruang tamu dan berlari menuju kamar ku.


 


 


Kini terdengar dengan sayup orang bersahut-sahutan. Aku tahu apa yang dilakuakan oleh kedua orang tuaku di luar sana namun tiba-tiba pintu kamarku didobrak dengan paksa dan hal itu membuat pintu terbuka secara otomatis dengan cara sadis pintuku mendarat ke lantai marmer hingga menimbullkan suara yang sangat keras.


 


 


dihadapanku kini terlihatlah sosok api dengan wajah sangat lelah, aku yakin dirinya baru pulang dari kantor tapi telah diamuki wanitanya dan api kalah dari singga betina dirumah kami dan aku yakin dirinya ke kekamarku untuk kembali menyerangku lebih parah dari apa yang di dapatkannya.


 


 


Buktinya kini dirinya terlihat masih menggunakan baju yang dia gunakan kekantor, bahkan tas masih ditanganya. api terlihat sangat berantakan namun aura menyeramkan masih bisa dia keluarkan.

__ADS_1


 


 


entah apa yang di titahkan sang singga kepada anak kucingnya sehingga demikian namun dengan wajah itu aku percaya ada hukuman yang akan menyiksaku juga.


 


 


Awalnya api menampakkan wajah lesu dan putus asa namun ketika matanya bersitatap dengan wanita Nina tiba-tiba aura menyeramkan yang kurasakan.


 


 


Sungguh selama menjadi anaknya aura itu baru pertama ku kulihat dan terjadi di depan mataku karena api yang ku kenal adalah sosok yang pendiam tapi lembut, suka mengerjai ati namun sangat-sangat menyanyangi atiku itu, saking sayangnya dirinya selalu menuruti segala perintah ati walaupun kadang tidak masuk akal dan selalu mengguras isi kantong api tapi lagi lagi api merelakan dengan iklas.


 


 


Terkadang aku berpikir apa sih lebihnya wanita yang sangat di cintai oleh api ku itu. bagaimana tidak atiku itu kasar, tidak beratitut, matre, jiwa pengaturnya tidak bisa di kalahkan dengan mudah, dan yang paling parah adalah mulut tajamnya itu logh berfungsi layaknya katana milik samurai yang sekali tebas mampu menewaskan musuknya lalu siap untuk mencabik cabik organ-organ tubuh sang korban dengan cara sadis.


 


 


menurutku Ati itu jahat namun kini aura yang bersama Api lebih mencekam lagi. wajah lelah itu seakan memang telah membangunkan moster dalam tubuh Api hingga dengan nada datar dan wajah tanpa ekpresi Api berkata


 


 


"****** dari tong sampah mana yang telah kau pungut dan kau bawa pulang iel?"


 


 


Mendengar ucapan api, seketika aku hanya bisa diam dan menunduk. Khawatir jika api semakin marah dan hal yang tidak pernah ku tahu terjadi. Melihatku hanya diam, api kembali berkata


 


 


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Api dan Nina ketika mereka bersitatap tapi sepertinya Nina terintimidasi oleh tatapan Apiku itu.


 


 


Api dan Nina cukup lama bersitatap, aku saja yang melihat api yang menggeluarkan aura menyeramkan membuat ciut apa lagi nina yang baru pertama kali bertemu dengan api ku yang memang terkenal kejam di luar sana, keheningan yang menggisi ruangan yang berisikan kami bertiga hingga api menggeluarkan suaranya barulah Nina segera beranjak meninggalkan tempat tidur dan memungguti pakaiannya lalu dengan terburu buru memakai pakaiannya secara acak.


 


 


"Iel sebegitu rendahnya kah seleramu?"


 


 


"he?, ti.. tidak api, in.. ini cuman co.. coba-coba iya iel cuman coba-coba kok Api" kataku gagap karena tidak nyaman dengan pandangan Api.


 


 


"kali ini Api anggap Iel khilaf tapi besok tidak lagi" ujarnya tenang dengan wajah datar namun bulu kuduku rasanya merinding melihat Api kala ini.


 


 


"iy.. iya api" kataku terbata-bata dan lebih memilih menunduk


 


 


mata Api kini telah dipustkan padaku dan jujur itu membuatku menciut. setelah beberapa menit api lalu berkata


 


 


"Api yang bereskan atau iel yang menyingkirkannya? " Tanya api dengan suara lirih namun ada ancaman mutlak dari perkataannya itu.


 


 


"Biar Iel, api tapi, tapi Api, Iel minta uang taksi ya? " Kataku dengan ragu karena takut dengan aura tidak menyenangkan yang api keluarkan, mau seperti apa lagi harus ku lakukan karena tidak mungkin aku yang mengantarkan Nina pulang padahal waktu sudah menunjukkan tenggah malam.


 


 


Mendengar kata kataku api mencibir lalu tanpa kata dirinya melangkah ke kamar yang ternyata hanya di isi oleh sang wanita jahat, dengan pelan -pelan api mengetok pintu lalu dengan pelan-pelan mendorong pintu agar terbuka lebih lebar lagi.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2