
Kala kejadian itu, awalnya caca hanya melipat kedua tangannya didepan dada sembari memperhatikan daniel yang sudah dipenuhi segala benci dan amarah kepada wanita yang dulu menyelamatkan hidupnya itu
"Jadi anda ingin pergi iya? silahkan tapi jelaskan pada kami semua alasan anda pergi" Ucap Caca menggikuti gaya bicara Daniel yang formal.
"Anda tanya kenapa saya ingin meninggalkan neraka anda? ahahaha pertanyaan bodoh macam apa itu" ucapnya sinis dan diakhiri dengan decih yang sangat meremehkan. aghh mungkinkan itu didapatkannya dariku atau dari wanita gilaku.
"jelaskan" kata caca tenang dan mencoba mengintimidasi daniel
"Ini semua karena anda, anda yang tidak adil menggurusi kami lihat, lihat danisa lihat" tunjuknya pada Danisa yang sudah menunduk menyembunyikan wajahnya namun tidak bisa menyembunyikan isak tanggisnya.
"...." tidak ada yang dikatakan caca kala itu dirinya hanya mengangkat sebelah alisnya meniru gayaku jika enggan berbicar namun menunggu orang itu melanjutkan ucapannya.
"Danisa bisa mendapatkan semua yang dia inginkan, danisa bisa menjadi sesuatu yang dibangga-banggakan dihadapan orang banyak sedangkan aku, lihat aku, lihat aku yang selalu menjadi gunjiingan orang-orang karena hanya bekerja sebagai office boy ditempat yang dikuasai oleh anda" jedanya sejenak sembari menarik nafas dan menggumpulkan semua amarahnya untuk kembali di lontarkan
"Apa bedanya saya dan Danisa hah? ogh apa karena aku laki-laki dan danisa perempuan iya? jadi karena itu kau boleh bertindak tidak adil pada saya iya?" ujapnya menepis jarak antara Caca
"Daniel" bentakku padanya
"Ada apa api?, oghh Api takut ya kalo aku melukai majikan anda?" tanya daniel namun bukannya menjawab tangan Caca sekali lagi mendarat di pipi Daniel.
__ADS_1
"Dengar Iel, kau boleh menghinaku tapi tidak dengan Apimu, jika kau mengganggapku orang lain itu tidak masalah tapi tidak dengan Apimu" kata caca dengan sangat marah.
"Hahaha romantis sekali kalian saling membela" katanya dengan wajah angkuhnya.
"Mentalmu sangat rusak bung" kata caca namun ternyata semua itu tidak berakhir karena caca memilih duduk lalu menyilangkan kakinya sembari bersedekap memperlihatkan gaya angkuhnya lalu memerhatikan daniel dengan sangat intens lalu berkata "Kau tahu perusahaan itu atas namamu suatu hari nanti, jadi dimana ketidak adilannya?"
"Ahahaha mencoba menyegokku nyonya?"
"Kau hanya perlu menggenal perusahaan itu dari bawah, apa susahnya?" kata caca dengan entengnya namun tenyata kalimat itu memancing kemarahan Daniel sekali lagi.
"Apa salahnya anda bilang? anda tidak tahu setiap hari orang-orang menlontarkan cercaan dan mengolok-ngolok saya karena kekejaman anda" katanya dengan suara sangat keras hingga menonjolkan urat-urat lehernya.
"Anda tidak berhak memanggil saya dengan panggilan itu" bentaknya.
"Oke dengar" ucap Caca sembari menggangkat tangan tanda menyerah, lalu kembali berkata "Perusahaan itu dibangun dengan segala jerih payah leluhurmu, Opa, Api dan kelak kamu yang akan meneruskannya, untuk berhasil kau harus memulainya dari bawah terlebih dahulu, dan.."
belum juga caca menyelesaikan ucapannya Daniel menyela dengan luapan emosi yang belum juga mereda
"Memulainya dari bawah biar semua orang bisa menghinaku iya?, ahaha mana ada bawahan yang menghormati atasannya jika sekarang saya lebih rendah dibanding mereka"
__ADS_1
"Kau akan menggerti suatu saat, saat Daniel" ucap caca dengan pasrah, sepertinya caca sudah menyerah mengatasi kemarahan Daniel.
"Tidak saya tidak akan mengerti sampai kapanpun ketidak adilan anda" ucap Daniel sarkas lalu mulai bergerak meninggalkan kami yang terpaku menantikan akhir drama yang diperankan Caca dan Daniel, namun ternyata tidak dengan Caca.
Dengan sigap caca menarik tangan Daniel lalu mengarahkan Daniel bersitatap dengannya dan sekali lagi Caca menampar Daniel lalu berkata
"Ini yang terakhir dariku Daniel, lihat, lihat tanganku. Tangan ini yang membesarkanmu, tangan tuaku ini yang menyiapkan segala kebutuhanmu dan tangan ini yang menyadarkanmu dari semua perlakuan nakalmu. Aku, aku orang pertama yang membimbingmu berjalan dan aku orang pertama yang menunjukkan jalan yang harusnya kau tujuh, salahkah aku jika aku mendidik dan menggarahkanmu kejalan kesuksesanmu?" katanya tidak setenang pertama berselisih dengan Daniel, deru air mata sudah membanjiri wajahnya namun ternyata ucapannya tidak jua berakhir
"Aku membimbingmu untuk kau tahu seperti apa kau harus membangun perusahan itu, jadi kelak perusahaan itu bangkrut kau bisa membanggun perusahaan baru yang lebih baik dari itu dan jika aku mati aku bisa dengan bangga menyatakan aku adalah jazat yang paling bahagia karena sudah menyelesaikan janjiku pada ibumu BANGSAT" katanya dengan ngos-ngosan dan masih disertai isak tangisnya
"......" Daniel tidak menggucapkan apapun, mungkin merasa bersalah karena untuk pertama kalinya melihat sang ibu sambung menitihkan air matanya.
"Oke tugasku selesai seperti keinginan anda tuan, anda tidak perluh pergi karena semua pasilitas mewah anda akan anda dapatkan besok pagi, jadi selamat beristirahat tuan muda" ucap Caca membungkukkan badan layaknya seorang pelayan kerajaan lalu bergegas meninggalkan ruang keluarga yang sedari tadi menjadi penggadilan dadakan untuk Daniel.
Danisa, Fatih dan seluruh pekerja yang tadinya saksi perdebatan, satu persatu meninggalkan Daniel yang terpaku terduduk lemas dilantai dengan tatapan kosongnya sedangkan aku memilih duduk dilantai bersama Daniel.
jelas aku sedikit kecewa dengan perbuatanya namun apa yang dilakukannya juga bukanlah sesuatu yang salah. kepeluk dirinya dan terdengarlah isak tanggis yang sangat memilukan.
sebagai lelaki tentu pantang baginya untuk meneteskan air mata tapi inilah yang segala luapan amarah yang dipendamnya selama ini.
__ADS_1
wajar saja daniel kecewa pada Atinya toh salah caca yang mendidik tanpa menjelaskan apapun pada daniel hingga hubungan mereka merenggang tapi itulah mereka sekuat apapun daniel membenci atinya tapi tetap saja jika dirinya sakit Cacalah yang selalu dicarinya.