
kini terlihatlah sosok wanita yang terbaring di kasur seorang diri. yang dilakukan api pertama kali yaitu membenarkan letak selimut yang ati gunakan lalu mengecup kecingnya sembari sedikit menggelus kepala atiku.
aghh sungguh ternyata Api adalah tipe lelaki yang romantis namun tetap saja jadi bahan jajahan sang pengguasa sesungguhnya. jujur ketika melihatnya aku juga berharap menemukan wanita yang bisa kucintai seumur hidupku.
itsss tapi aku takkan sebodoh api yang memilih wanita yang tidak ada kesan anggun-anggunnya sama sekali.
setelah puas Api lalu mengambili handphone dan dompetnya. ternyata apiku menelpon taksi terlebih dahulu lalu membuka dompetnya yang sudah kuperkirakan jumlahnya.
oyag sudahkah aku cerita jika hobby atiku itu mengguras isi dompet Api?. mungkin sudah, dan ya kata Api itu sudah menjadi tradisi tersendiri Ati selama mereka menikah, karena itu api tidak pernah mengisi dompetnya lebih dari 500 ribu.
ditariknya semua uang itu lalu diberikannya kepadaku, aku tentu sedang dong diberi uang lebih oleh api, secara selama aku menjadi anak di keluarga ini boro-boro hidup royal dan menghambur-hamburkan uang, mau jajan saja harus kerja dulu entah itu menggangkat barang belanjaan Ati, menjadi sopir pribadi Ati atau jadi pembantu ati ketika masak dan beberes rumah setelah itu selesai barulah aku mendapatkan upah dan jika aku mengginginkan sesuatu jangan harap diberikan secara cuma-cuma oleh Ati.
Ati memang pelit mengenai uang, kesekolah saja kami diberikan bekal layaknya anak TK dan itu berlaku hingga aku lulus SMA.
selama bersekolah aku dan Danisa yang terus-terus diledek oleh teman-teman karena tidak bisa jajan layaknya teman-teman lainnya namun ya bagaimana lagi kami tidak punya pilihan untung saja Ati itu kreatif sehingga menu makanan kami berbeda-beda setiap harinya.
aghh kedoknya saja kami anak dari orang kaya yang bernama Dimas putra Adipatih tapi kenyataanya ya kami dipekerjakan layaknya romusha.
oghh yaa satu lagi keburukan oleh Atiku, kalian ingat kan Fatih?. Fatih itu anak kandung dari sang penyihir itu, untungnya Ati tidak membeda-bedakan kami jadi aku dan Danisa tidak pernah merasa cemburu pada Fatih soal kasih sayang.
iya sih Ati mampu berlaku adil tapi aghh Fatih itu sikapnya lebih dominan ke Ati. jadi jelas-jelas Fatih sama menyebalkannya dengan Ati tapi, tidak hanya itu saja sikap diam dan dingin Api juga menular padanya.
sungguh menghadapi Ati saja kadang membuatku dan danisa menjerit-jerit ingin menyerah kini ati malah menggandakan dirinya menjadi Fatih belum lagi sikap angkuh dan dinginnya Fatih aghhh aku dan danisa menjulukinya marahbahaya karena tingkah dan sikapnya itu kerap kali menjadi bencana untuk kami. aku heran dia anak ketiga tapi kok layaknya anak pertama yang sangat berkuasa sih aghh lag aku ini dianggapnya tidak ya..??
aku terkadang suka sekali mengerjai anak itu bersama danisa tapi aghh anak itu diperlakukan seperti apa pun tetap saja wajahnya lempeng seperti tidak punya masalah, dan ternyata tidak hanya aku dan danisa yang tidak menyukai sikap Fatih itu ternyata Ati juga sering kali merutuki Fatih yang seperti tiruan Apiku dari segala jenis dan lagi-lagi Fatih cuek bebek tuh jika ditegur tapi sekali sembur beggg aku benar-benar yakin Fatih itu anak kandung persis dari segala arah.
back to topik, ternyata uang lebih itu bukan untukku tapi untuk Nina. Api yang tadi bersikap lembut dan romantis seketika melenyap ketika mata kami bersitatap lalu dengan aura menyeramkannya Api berkata
"Sekali lagi Api melihatnya api hilangkan dia sampai keakar-akarnya" katanya datar dan jelas. aku yang mendengarnya tentu hanya bisa menelan ludahku sendiri karena aku terintimidasi aura kepemimpinan Api.
tidak lama terdengar suara klakson mobil di bawah sana, aku akhirnya memilih untuk kembali ke kamarku dan melihat jika Nina sudah terlihat baik dari sebelumnya ku seret tangannya untuk meninggalkan kamarku menuju teras rumah dimana supir taksi telah menunggu kami.
kupaksa Nina memasuki mobil lalu kuberikan uang yang tadinya titipkan Api kepadaku. dia tentu menolak dan berkata
__ADS_1
"kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini Daniel"
"kau yang menggodaku, aku laki-laki normal jelas tepancing"
"ini bukan salahku, ini suka sama suka jika orangtuamu orang yang baik harusnya mereka menikahkan kita" ujarnya dengan na berang
seketika aku tertawa dengan sangat keras hingga Api pun yang masih mengawasi kami kini semakin mendekat
"ahahaha kau gila menikah denganmu adalah musibah, dan maaf orangtuaku memang orang baik, mereka iblis berbadan manusia" kataku dengan santai, api bahkan hanya mendecih mendengar penuturanku.
Nina hanya bisa terpengarah melihat itu namun sekali lagi berkata
"aku akan melaporkanmu dan membuatmu mempertanggung jawabkan perbuatanmu Daniel"
"silahkan" kataku terjeda tawa jahat lalu aku kembali berkata "dan kubawakan semua lelaki yang telah menidurimu di hadapan orangtuamu"
"kau gila Daniel" ujarnya berang
"Aku baik bahkan saking baiknya kau bisa memilih orang yang harusnya menikahimu, itu kan tujuannya?"
"ya itu aku"
mendengar itu dia dengan perasa marah memasuki taksi dan taksi melesat meninggalkan kediaman milik keluargaku.
ku pacu kakiku untuk kembali ke kamar tidur dan kudapati api sudah tergeletak diatas kasur sembari menatap lagit-langit kamarku terlebih dahulu.
Aura kekejaman sudah terganti, kini malah kulihat api menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong disana.
kulakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan aghh rasanya sudah sangat lama aku dan Api tidak pernah seintens ini menghabiskan waktu. kami berdua diam tapi itu hanya sesaat karena Api memulai percakapan kami
"Api pernah merasakan hal yang sama denganmu"
"....." tak kujawab perkataannya, aku malah lebih memilih mengerakkan kepalaku kekanan dimana api berada lalu aku memperhatikan mimik wajah api yang seakan menerawang masa lalu.
__ADS_1
"Api melakukan hal yang sama pada ibu kandungmu dulu" katanya dengan suara lirih namun jelas terdengar olehku, lagi-lagi aku tidak berkata apa pun karena menunggu Api melanjutkan ceritanya.
"Api hanya terbawa nafsu, tapi ibumu yang licik menjebak Api agar bisa menikahinya, ketika melihat wanita tadi Api menggingat Ibumu" katanya lagi namun sungguh aku tidak sanggup mendengar perkataan itu.
biarpun Ati sudah merawatku dengan sangat baik tentu jasa ibu kandungku tak bisa terupakan, apa lagi dirinya merelakan dirinya merenggang nyawa asalkan melahirkan aku dan Danisa ke dunia ini.
masih dengan posisi yang sama, entahlah mungkin karena tidak kunjung mendapat tanggapan Api melanjutkan ceritanya.
"ibumu gadis desa yang berasal dari M, tapi karena keberuntungannya dia mampu melanjutkan kuliahnya di jakarta. Api dan ibumu bertemu di salah satu pesta, ibumu itu sangat cantik dan memiliki body yang profesional layaknya model, orang-orang memperebutkannya tapi Apilah pemenangnya" katanya sembari menghembuskan nafas yang kuat seakan sengaja menjeda kalimatnya.
".." masih memilih diam dan sulit menerima kenyataan yang baru kuketahui ini. inikah rahasia terbesar dalam hidup Api?.
"ibumu dan Api menikah tanpa rasa, kami tidak seperti pasangan lainnya apa lagi api awalnya tidak mengizinkan ibumu menyentuh api seujung kukuku pun tapi.." katanya, namun kini dirinya seakan baru berpikir kembali untuk menyusun kata-kata yang cocok dilontarkan dan terdengar olehku
aku hanya diam memperhatikan api sembari menatap matanya mencari kebohongan di sana namun tidak kutemukan sedikutpun, saat mengatakannnya juga Api menatap tepat bolah mataku seakan meyakinkan jika apa yang di katakannya itu sebuah fakta yang selama ini di sembunyikan dari Ati.
"api mabuk dan melupakan prinsip api dan jadilah kalian" katanya lirih dan menggandung penyesalan didalamnya mengetahui itu aku hanya memalingkan wajah rasanya sangat sakit mengetahui kenyataan itu. ternyata aku dan Danisa terlahir karena kesalahannnya.
kubalikkan badan untuk membelakanggi Api yang terbaring dengan posisi telentang pasrah, kupejamkan mataku untuk menghilangkan perasaan yang begitu menyayat hatiku lalu berpura-pura tidur namun ternyata apa yang kulakukan tidak menghentika Api berbicara.
mau tidak mau akhirnya kalimat-kalimat Api menembus telingga dan membuatku sadar jika ya, aku harus seperti Fatih yang sok jual mahal pada semua wanita. belum puas membandingkan aku dengan Fatih, Api kembali berkata
"jadilah berlian yang diincar semua wanita layaknya Fatih, iel jangan jadi uang yang senang dipunggut siapa pun ya?" katanya tegas, jelas singkat dan memiliki makna tersendiri.
setelah menggucapkan kalimat itu Api meninggalkan kamarku namun sebelum benar-benar pergi dirinya kembali nembalikkan badannya sedikit lalu berkata
"renungkanlah iel sebelum kau sepertiku" katanya menutup pembicaraan kami. kakinya kini telah melangkah namun sebelum benar-benar pergi Api berbalik dan berkata
"Iel ini Rahasia kita ya?, baik Ati, Ica dan Fatih tidak boleh tahu! terutama Ica. tolong bantu Api tetap menjadi cinta pertama dan tolong jangan buat dia merasa dia bukan wanita yang baik" kata Api lembut dan diakhiri dengan senyuman yang tulus.
setelah itu dirinya bener-benar melesat meninggalkanku yang termenung dan meresapi kalimat-kalimat yang di lontarkan Api.
Kutegaskan hati lalu pemikiran itu muncul dengan sendrinya "ya benar aku harus menjadi berlian, dan ya aku akan menjadi seperti api juga Fatih yang dingin dan angkuh" katakan itu dengan lantang dengan penuh semangat.
__ADS_1
oke dunia, Iel baru telah lahir.
FLASHBACK OFF