NASIP CAMPUR

NASIP CAMPUR
9


__ADS_3

setelah perdebatan panjang itu caca memilih memasuki kamar tidur kami, dikamar caca menumpahkan semua tanggisnya bahkan sampai berteriak untuk menggeluarkan semua perasaan yang menggangunya.


 


aku tentu dengan sigab memberi pelukan dan menenangkannya namun ternyata semua itu hanya sesaat karena setelah tanggisnya mereda dengan cara kasar Caca melepas pelukanku lalu berdiri menuju lemari untuk membereskan barang-barangnya.


 


 


aghh inilah yang paling kubenci dari caca, setiap ada malasah pasti dirinya memilih pergi begitu saja. aksi tarik menarik koper antara aku dan caca tentu tidak bisa terelakkan, bahkan aku sempat mencerca dan membentak caca yang sudah berumur tapi tidak juga bisa berpikiran matang, namun caca menjelaskan jika dirinya tidak berniat untuk meninggalkan rumah tetapi memilih berpindah kamar saja, dirinya juga berkata


 


 


"aku jadi egois itu hanya untuk mereka tapi sekarang tidak ada gunanya mereka sudah sangat mampu hidup sendiri. sudah cukup waktuku terbuang sia-sia untuk mereka, jadi biarkan aku kembali ketempatku dan menggurusi anakku yang kutitipkan di keluarga ini" aghh yaa mau tidak mau aku hanya bisa menggikuti keingginan caca kala itu.


 


 


"okey terserah kamu saja, kau boleh pergi asal aku ikut ya?" tanyaku


 


 


"...." dia memilih mengganguk sebagai jawaban.


 


 


Drama pertengkaran antara Daniel dan Caca akhirnya memanas dan menimbulkan sesuatu yang ganjal bagi keluarga kami. iya seperti perkataan Caca sebelumnya jika tugasnya telah berakhir huh iya berakhir untuk menjadi ibu sambung untuk Daniel dan Danisa.


 


 


tidak ada lagi peraturan mengenai jalan hidup untuk Danisa dan Daniel tapi itu hanya berlaku untuk Daniel dan Danisa saja sedangkan Fatih, Fatih tetap dengan cara hidupnya yang sederhana dan tidak ada sedikit pun yang berubah.


 


 


tradisi tanggal 5 hilang otomatis quality time juga hilang, kini yang ada jika caca akan pergi dia selalu membawa pergi Fatih kemana pun itu bahkan saat dia mau pergi dia lebih memilih menunggu fatih pulang sekolah baru pergi sedangkan kala itu ada Daniel dan Danisa yang free.


 


 


Caca benar-benar serius jika apa pun yang dilakukan Daniel dan Danisa bukan lagi urusannya, Danisa telat makan dan telah membuat ruang tamu berantakan dia biarkan, Daniel pulang dengan wajah lesu dan juga telat makan tetap sama.


 


 


Kami kecuali caca adalah tipekal yang pilih-pilih makanan biasanya caca akan memaksa kami memakan semua yang dia hidangkan atau memiliki varian makanan yang bisa kami pilih sendiri namun kini caca lebih memilih asistent kami yang menggerjakannya.


 


 


caca bahkan sudah enggan makan satu meja dengan kami, dirinya lebih memilih makan di dapur bersama asistent rumah tangga dan jelas membawa Fatih.


 


 


Dimeja makan kini hanya ada Aku, Danisa dan Daniel. Caca benar-benar keras hati untuk menurunkan egonya. selama hal itu terjadi, Daniel semakin giat bekerja dan tidak menggunakan semua fasilitas yang kini telah di dapatkannya.


 


 


Daniel bukannya tidak ingin meminta maaf dan berbaikan dengan caca namun dia malu juga takut karena selama ini, sekasar dan semarah apa pun caca, caca akan tetap memeluk tapi kini jangankan memeluk bertemu pun caca sudah pandai menggatur waktu agar tidak bertemu Daniel.


 


 


Daniel berkata "Api emang ngak bisa banget ya bantu kami?"


 


 


"api bukannya ngak mau bantu, nah setiap kali kalian buat ulah api kena juga kan?"


 


 


"ati segitu marahnya ya?"

__ADS_1


 


 


"mmm"


 


 


"ngak ada sogokan gitu?"


 


 


"mana pernah atimu terima sogokan yang ada kalo dia mau dia langsung ngerampok"


 


 


"terus gimana dong Api, ica ngak ngak suka disituasi ini"


 


 


"emang lu aja yang ngak suka" balas daniel ketus


 


 


"diam, semua ini tuh gara-gara log ya, kalo aja lo ngak sok jagoan ati ngak bakal nelantarin kita"


 


 


"enak banget lo ngomong, lo ngak ada disituasi gue ya jadi lo ngak bakal tahu tersiksanya gua"


 


 


"lo memang manja, mau enaknya aja jadi.."


 


 


 


 


kini aku semakin sadar jika caca benar, sekarang ini aku tahu alasan caca menempaykan Fatih selalu ditengah antara mereka.


 


 


satu persatu kebiasaan mereka terlihat jelas, dan baru beberapa hari saja aku sudah lelah menegur mereka. mereka rasanya lebih baik saat jadi balita dibanding saat ini, Ica yang tak ambisius dan Daniel yang tak terkontrol,


 


 


pengkaran antara mereka kadang membuatku migran, mm memang pawang dari ketiga anak-anak ini adalah caca. Mereka tetap makan tapi perdebatan tetap terjadi. tanpa sadar aku berteriak


 


 


"CACA ANAK-ANAKMU" kataku beram dan meninggalkan meja makan dan mendekati caca untuk mendapat pelukan.


 


 


Pagi ini kupaksa caca ikut makan di meja makan. dimeja ini telah berkumpul kami berlima, ketika kami sedang sarapan kutanya kepada caca kenapa dirinya lagi-lagi berlaku tidak adil pada fatih namun dengan tenangnya caca berkata


 


 


"Fatih itu anak kandungku, darah yang mengalir dari Fatih itu darah orang miskin jadi jika pun dirinya bisa sukses itu karena kerja kerasnya bukan karena hasil warisan"


 


 


kalimat itu tentu menohok perasaan Daniel dan Danisa, bagaimana tidak. selama ini caca dengan bangga selalu bengakui dihadapan orang lain jika dirinyalah yang menggandung Danisa dan Daniel tapi kini dengan jelas dirinya menjelaskan jika itu hanya tipuan belaka lalu caca juga dengan gamblangnya mengatakan jika hanya fatih anaknya dan kini hanya Fatih yang diharapkan sukses dengan caranya sendiri.


 

__ADS_1


 


Kala itu Daniel hanya menundukkan pangannya, enggan bersitatap dengan Caca. tahukan rasanya jika kau sangat menyayanggi orang itu tapi tiba-tiba orang itu dengan terang-terangan menunjukkan kebenciannya padamu!.


 


 


tentu daniel merasakan kekosonggan dan selalu terpojokkan apa lagi kini caca meninggalkan kamar tidur kami lalu memilih tidur di salah satu kamar pembantu sehingga menambah rasa bersalah Daniel apa lagi Danisa ikut menyalahkan Daniel karena kini Danisa ikut terseret masalah dan diacuhkan oleh Caca.


 


 


tidak hanya itu, karena aku juga terkena imbasnya karena sudah terbiasa bersama caca, aku memaksakan diri ikut pindah kekamar pembantu yang tidak seberapa jika dibandingkan kamar tidur kami yang sebenarnya.


 


 


semua mewah benar saja mereka terima, mulai dari kendaraan sport yang sangat diidam-idamkan daniel, gold cart dengan dominal tak terhingga, debit plush debit sebagai pelengkap begitu pun Danisa, danisa mendapatkan sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan daniel namun mereka berdua malah menanggis tersedu-sedu bukannya bergembira karena terlepas dari semua aturan caca.


 


 


iya caca memberikannya dengan cara yang sangat sopan layaknya pelayan hal itu tentu saja terlihat aneh untuk mereka lalu ketika mereka ingin meminta maaf dan memeluk caca, caca memundurkan tubuhnya dan menjaga jarak dengan mereka.


 


 


ditolak secara tidak langsung tentu saja membuat mereka semakin meneteskan air mata. mereka berdua sudah sangat tergantung dengan caca dan kini caca menunjukkan jika dirinya sudah tidak punya kewajiban apapun lagi. aghh ingatkan jika caca itu keras kepala aku sudah beberapa kami membujuknya untuk memaafkan mereka. aku berkata


 


 


"ca, jangan terlalu keras dengan mereka"


 


 


"kurang lunak apa aku selama ini?"


 


 


"mereka masih sangat muda, sedang diambang ambisinya memang jadi tolong mengerti mereka ya?"


 


 


"kurang mengerti apa aku selama ini?"


 


 


"caca istriku adalah wanita terbaik yang ku punya tapi anak-anak kan tidak seperti istriku jadi bisa bersabar dan tuntun mereka sepertimu tidak?"


 


 


"mereka tidak akan jadi apa-apa kalo bukan dimulai dari kesadaran mereka sendiri"


 


 


"tolonglah ca, maafkan mereka ya?" bujurkku tapi caca malah berkata


 


 


"aku sudah memafkan mereka, tapi aku takkan menggalah pada mereka"


 


 


semua itu berlanjut dibulan kedua. Daniel dan Danisa selalu menarik perhatian Caca namun hasilnya selalu sama yaitu diacuhkan oleh caca lagi, lagi dan lagi.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2