NASIP CAMPUR

NASIP CAMPUR
27. CACA P.O.V


__ADS_3

usiaku kian bertambah begitu pun dengan anak-anakku. sepanjang perkembangan mereka terkadang rasa sedih karena masa kanak-kanak mereka seakan berlalu begitu cepat.


masih kuingat ketika mereka bertiga suka sekali menggangguiku, minta disuapi, bermanja-manja hingga ketika harus berdebat bersama mereka, iya tidak jarang anak-anakku itu begitu egois tanpa mendengarkan larangku dan bukan sekali dua kali mereka sakit karena memakan makanan yang sudah jelas kularang atau sakit karena bermain-main hujan.


banyak hal yang membuatku harus menggalah karena namanya juga  anak-anak jiwa eksplorasinya lagi berkembang-kembangnya dan itu bagus untuk pertumbuhan mereka tapi kalo sudah sakit kan aku yang repot jadi ini salah siapa sebenarnya?


mereka itu tidak bisa dibilang akur karena mereka bertiga sangat-sangat egois dan selalu ingin diperhatikan lebih jadilah mereka bertiga sering bertengkar untuk mendapatkan perhatianku tapi ketika mereka tidur, ada rasa lega karena keributan itu berakhir.


senang sekali rasanya melihat wajah-wajah polos dan damai mereka dan ketika diperhatikan lagi aku tidak bisa berbohong jika mereka bertiga bersaudara dan berasal dari gen yang yaaa bisalah dikatan unggul.


__ADS_1


Banyak masa yang telah terlalui namun bahagianya masih sama, namun susahnya pun kian kemari kian bertambah dengan pesat.


bukan sesuatu yang mudah bisa merawat dan mendidik mereka, mereka bertiga memiliki egonya masing-masing sehingga jika aku tidak menggalah entah jadi apa kami ini, iya aku menggalah tapi itu dulu, dulu karena batasnya hanya sampai mereka tergolong remaja, dan ketika masa dewasa mereka yang harus lebih menggalah akan perintahku.


anak-anakku itu memiliki kenangan tersendiri, ada saja kenangan yang sangat berkesan untukku, seperti daniel, daniel itu orangnya sangat aktif tapi malas berbicara aku bahkan sampai khawatir jika ia menjadi bisu. iya kebiasaan diamnya itu sudah sedari kecil dan hingga saat ini malah semakin menjadi-jadi.


dari sekian banyaknya kebersamaan kami, aku paling menggenang ketika kami menghabiskan waktu berdua disana. Daniel sangat suka melihat segala sesuatu berantakan dan situasi yang berantakan itu ketika aku berada didapur dan sedang membuat kue untuk keluargaku.



__ADS_1


Dari mereka kecil memang aku lebih dekat dengan Daniel, bukan pilih kasih namun memang pada kenyataanya harus begitu, Daniel itu jika tidak diawasi kelakuannya ada-ada saja, sedangkan Danisa anak yang malas bergerak jadi ditempatkan di suatu tempat dia akan anteng sampai dia sendiri bosan.


tapi dari semua itu Daniel juga sangat suka bermain air, jadi ketika kue itu berhasil dibuat dirinya akan membantuku mencuci semua prabotan, dan ketika basah kena cipratan air malah minta sekalian di mandikan disana.


niatannya membantu walau sebenarnya dirinya hanya akan membuatku basah kuyup karena tangan kecilnya itu akan membuat air menetes kemana-mana.


pernah sekali aku menegurnya dan menolak dibantu mencuci dirinya malah berkata


"iel mau bantu ati, ini terimah kasih iel untuk ati" iya daniel mengucapkan seperti itu dengan menundukkan kepala dan ketika kutegakkan kepalanya agar mata kami bersitatap mata indahnya mengeluarkan cairan yang ikut membuatku ingin seketika merasa sangat-sangat terharu.


ya itu danielku, daniel tidak suka berbicara. untuk  mendengarkan suaranya saja harus ada adegan-adegan pemaksaan terlebih dahulu salah satu caranya itu menuduhnya yang tidak-tidak dengan hal itu dirinya akan sangat cepat merespon atau membela dirinya, selalu seperti itu karena tentu saja ia tidak ingin mendapat hukuman dariku.

__ADS_1


__ADS_2