
setelah perdebatan panjang itu caca memilih memasuki kamar tidur kami, dikamar caca menumpahkan semua tanggisnya bahkan sampai berteriak untuk menggeluarkan semua perasaan yang menggangunya.
aku tentu dengan sigab memberi pelukan dan menenangkannya namun ternyata semua itu hanya sesaat karena setelah tanggisnya mereda dengan cara kasar Caca melepas pelukanku lalu berdiri menuju lemari untuk membereskan barang-barangnya.
aghh inilah yang paling kubenci dari caca, setiap ada malasah pasti dirinya memilih pergi begitu saja. aksi tarik menarik koper antara aku dan caca tentu tidak bisa terelakkan, bahkan aku sempat mencerca dan membentak caca yang sudah berumur tapi tidak juga bisa berpikiran matang, namun caca menjelaskan jika dirinya tidak berniat untuk meninggalkan rumah tetapi memilih berpindah kamar saja, dirinya juga berkata
"aku jadi egois itu hanya untuk mereka tapi sekarang tidak ada gunanya mereka sudah sangat mampu hidup sendiri. sudah cukup waktuku terbuang sia-sia untuk mereka, jadi biarkan aku kembali ketempatku dan menggurusi anakku yang kutitipkan di keluarga ini" aghh yaa mau tidak mau aku hanya bisa menggikuti keingginan caca kala itu.
"okey terserah kamu saja, kau boleh pergi asal aku ikut ya?" tanyaku
"...." dia memilih mengganguk sebagai jawaban.
Drama pertengkaran antara Daniel dan Caca akhirnya memanas dan menimbulkan sesuatu yang ganjal bagi keluarga kami.
iya seperti perkataan Caca sebelumnya jika tugasnya telah berakhir huh iya berakhir untuk menjadi ibu sambung untuk Daniel dan Danisa.
tidak ada lagi peraturan mengenai jalan hidup untuk Danisa dan Daniel tapi itu hanya berlaku untuk Daniel dan Danisa saja sedangkan Fatih, Fatih tetap dengan cara hidupnya yang sederhana dan tidak ada sedikit pun yang berubah.
tradisi tanggal 5 hilang otomatis quality time juga hilang, kini yang ada jika caca akan pergi dia selalu membawa pergi Fatih kemana pun itu bahkan saat dia mau pergi dia lebih memilih menunggu fatih pulang sekolah baru pergi sedangkan kala itu ada Daniel dan Danisa yang free.
__ADS_1
Caca benar-benar serius jika apa pun yang dilakukan Daniel dan Danisa bukan lagi urusannya, Danisa telat makan dan telah membuat ruang tamu berantakan dia biarkan, Daniel pulang dengan wajah lesu dan juga telat makan tetap sama.
Kami kecuali caca adalah tipekal yang pilih-pilih makanan biasanya caca akan memaksa kami memakan semua yang dia hidangkan atau memiliki varian makanan yang bisa kami pilih sendiri namun kini caca lebih memilih asistent kami yang menggerjakannya.
caca bahkan sudah enggan makan satu meja dengan kami, dirinya lebih memilih makan di dapur bersama asistent rumah tangga dan jelas membawa Fatih.
Dimeja makan kini hanya ada Aku, Danisa dan Daniel. Caca benar-benar keras hati untuk menurunkan egonya. selama hal itu terjadi, Daniel semakin giat bekerja dan tidak menggunakan semua fasilitas yang kini telah di dapatkannya.
Daniel bukannya tidak ingin meminta maaf dan berbaikan dengan caca namun dia malu juga takut karena selama ini, sekasar dan semarah apa pun caca, caca akan tetap memeluk tapi kini jangankan memeluk bertemu pun caca sudah pandai menggatur waktu agar tidak bertemu Daniel.
Daniel berkata "Api emang ngak bisa banget ya bantu kami?"
"ati segitu marahnya ya?"
"mmm"
"ngak ada sogokan gitu?"
"mana pernah atimu terima sogokan yang ada kalo dia mau dia langsung ngerampok"
__ADS_1
"terus gimana dong Api, ica ngak ngak suka dituasi ini"
"emang lu aja yang ngak luka" bslas daniel ketus
"diam, semua ini tuh gara-gara log ya, kalo aja lo ngak sok jagoan ati ngak bakal nelantarin kita"
"enak banget lo ngomong, lo ngak ada disituasi gue ya jadi lo ngak bakal tahu tersiksanya gua"
"lo memang manja, mau enaknya aja jadi.."
"Iel, ica diam dan makan makanan kalian" bentakku pada mereka.
kini aku semakin sadar jika caca benar, sekarang ini aku tahu alasan caca menempaykan Fatih selalu ditengah antara mereka.
satu persatu kebiasaan mereka terlihat jelas, dan baru beberapa hari saja aku sudah lelah menegur mereka. mereka rasanya lebih baik saat jadi balita dibanding saat ini, Ica yang tak ambisius dan Daniel yang tak terkontrol,
pengkaran antara mereka kadang membuatku migran, mm memang pawang dari ketiga anak-anak ini adalah caca.
tanpa sadar aku berteriak "CACA ANAK-ANAKMU" kataku beram dan meninggalkan meja makan dan mendekati caca untuk mendapat pelukan.
__ADS_1