
"Dimas"
"Dimas woi"
"Dimas bangun aghh kau ini"
"Dimas"
"Dimas bangun ngak! ku hitung sampai tiga kamu ngak bangun ku mandikan kau" sayup-sayup terdengar suara si singga betina menggangu pagiku.
sudah biasa sebenarnya tapi hari ini adalah hari weekend jadi dirinya tidak ada alasan untuk menggusirku dari kekediamannya. aghh aku baru tersadar jika bisa tertidur disaat pagi hari itu begitu menyenangkan.
aku baru saja akan tertidur setelah semalam keasikan nonton bola bersama anak-anakku dan jadilah aku baru bisa menghimpit tubuhku diantara kasur dan selimut di saat waktu menunjukkan pukul 06 pagi, tapi semua itu ternyata tidak bisa berjalan mulus karena sang induk sudah mengaung layaknya kehabisan sembako.
sercaan sudah menghiasi pagiku, umpatan dan makian sudah meluncur begitu bebasnya namun mataku tak bisa diajak kompromi sehingga kuputuskan tetap menutup mata menikmati kehangatan selimut perpaduan usapan kasur yang begitu nyaman memaku tubuhku hingga enggan rasanya aku beranjak.
Tak kunjung aku menggikuti perintahnya suara sang singga seketika lenyap tergantikan suara sandal yang menghantam lantai, entahlah wanita itu berjalan atau melompat-lompat hingga suara pertemuan dua benda itu cukup mengganggu pendengaranku, namun lagi-lagi aku tidak peduli biarlah dia dengan segala amarahnya toh sudah menjadi hal wajib di kekediaman kami.
bahkan jika dirinya tidak mengamuk dalam seminggu membuatku dan yang lainnya dimerasa was-was. ya ingatkan jika dirinya senang sekali meninggalkan rumah dan hilang tanpa kabar selama berhari-hari ya jadilah jika kami masih mendengarnya menggumpat maka itu masih aman tapi jika dia diam, aku yakin akan ada mala petaka hebat dikediaman kami itu.
kebenahi bantal sembari menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhku hingga terdengar suara langkah kaki mulai menghilang senyumanku sedikit mengembang ternyata rencana tidurku bisa terealisasi.
tetapi ternyata hal itu tidaklah lama karena kembali kudengar dirinya menghentak-hentak ke tempok dan sekali lagi menimbulkan kegaduhan yang sangat menggangguhuuh memasang wajah cemburut miliknya lalu memperhatikanku sangat intens.
kami masih dalam posisi masing-masing.
aku baru saja akan menyelami dunia mimpi tapi belum juga itu terjadi kembali kudengar suara langkah kaki namun kini sepertinya itu bukan langkah kaki milik istriku melainkan orang lain karena langkah kaki kali ini terdengar lebih lembut dan tidak hanya seorang saja.
mataku masih terpejam karena jangankan untuk melihat melepaskan pelupuk mata dari peraduannya saja tidak bisa kulakukan jadi aku tidak tahu siapa pemilik langkah kaki itu tapi biarlah, yang terpenting saat ini adalah aku dan dunia mimpi.
"Dimas" rutuknya entah untuk kesekian kalinya
"Dimas bangun ngak! aku ngak cuman ngancam ini, Dimas woi" kubiarkan dirinya berbicara sendirinya
"Dimas sampai hitungan ketiga kamu tidak bangun juga, air seember ini yang berbicara"
"Dim" jedanya sesaat sungguh semua kaliatnya masih bisa kucerna dengan baik tapi dasarnya saja mataku enggan berkompromi lalu terdengar lagi kalimat
"tiggggaaa" ucapnya dengan suara melengking tapi itu tak seberapa menggangunya karena tiba-tiba
"byaarrrrrrr" suara air menghantam wajahku, jika hanya setitik dua titik tidak ada masalah tapi aku yakin ini lebih banyak dari itu.
__ADS_1
aku yang merasa basah tentu saja terbangun dengan spontan dan terduduk layaknya orang bodoh memperhatikan wajah sang pelaku tertawa dengan sangat bahagianya.
dengan liciknya ternyata dia tidak ingin kehilangan moment itu sehingga membawa anak-anak kami untuk berkonspirasi bersamanya, kulihat semua anak-anakku berkumpul dan merekam aksi gila sang Ati dan jangan lupakan kekompakan mereka menertawakanku.
aghh ternyata setelah usianya semakin bertambah dan memiliki buntut sendiri istriku itu ternyata tidak juga berubah.
hampir semuanya sama dimulai itu gaya pakaian, cara berbicara, hingga sikap matrealistisnya juga tidak berubah malah menjadi-jadi aghh sungguh aku tidak tahu mantra apa yang dia gunakan hingga membuatku sangat tunduh akan perintahnya yang terkadang tidak masuk akal itu tapi apalah daya kacung perindu desahan jadi yang bisa kulakukan hanya mengiayakan tanpa bantahan sedikit pun.
bodohkan aku?, iya kuakui aku sangat bodoh sudah tau akan dikerut hingga habis masih saja mengiklasnya demi servis ranjang yang hingga sampai saat ini tidak pernah membuatku jenuh.
oyah, satu hal yang perlu kalian tahu yang mencari nafkah untuk kebutuhan hidup kami dan anak-anak adalah aku, yang memiliki kekayaan dan terpandang dihadapan khalayak banyak adalah aku tapi itu semua kamuflase.
jika kalian tahu kenapa, ya karena beberapa tahun setelah drama menghilangnya dia dirinya makin cerdik lalu merubah hak kepemilikan menjadi namanya katanya agar dirinya bisa punya alasan untuk menetap dan bisa mengusirku kapan saja. aghh gila sungguh gila, orang sinting mana yang jelas-jelas menunjukkan kelicikannya tapi itulah dia.
menggenai kelicikannya semua itu tidak seberapa jika padaku, tapi begitu terasa pada Daniel. biar kuceritakan kisah pilu yang di alami daniel di masa remajanya.
FLASHBACK ON
dia itu wanitaku. wanitaku adalah wanita yang gila, kasar, keras kepala dan matre tentunya, jadilah harta bergerak maupun harta tidak bergerak itu miliknya dan bodohnya aku menjetujuinya saja, dan karena kebodohanku mengakibatkan aku malu untuk menyesesalinya dan hingga kini, walau begitu penyesalan itu masih sangat terasa.
jika ada yang mengatakan aku ******, maka kamu bukan yang pertama malah mungkin ke seribu. entah menggapa selama bersama caca rasa takut akan dihancurkan dan tidak percaya itu hilang dan tak pernah kembali.
Walau tahu semua akan baik, tapi tetap saja berefek pada kehidupan kami, untungnya kesialan itu tidak hanya merugikanku tapi juga merugikan anak-anak kami. kok untung, jelas karena aku tidak sendiri.
kala itu Usia Danisa dan Daniel masih 13 tahun sedangkan Fatih baru 10 tahun. Caca benar-benar memegang kendali dan memiliki kebijakannya sendiri.
Efek kebijakan itu sebenarnya yang merasakannya hanya aku, Daniel dan Fatih saja sih, sedangkan Danisa semenjak mendapat menstruasi pertamanya dirinya memiliki sedikit kelonggaran dibanding yang lainnya.
Iya Danisa diizinkan memegang kartu ATMnya hingga membuatnya bisa membeli keperluan pribadinya, Daniel dan Fatih tentu saja protes karena merasa diperlakukan dengan tidak adil namun ya namanya wanita gila tentu jawabanya juga gila.
"Danisa itu menggeluarkan darah tiap bulan, kalau kau mau ATM pribadimu juga sini ku sunat kau tiap bulan" agh aku dan kedua lelaki tanggung itu tentu saja merasa khawatir jika pusaka kami jadi korbannya. jadilah kami bertiga hanya diam saja.
Ditahap awal mereka masih saja pasrah namun kala danisa bisa membeli makanan, alat make up, dan majalah kesukaanya disanalah awal mulanya.
Hari minggu kami semua sedang bersantai di ruang tamu, jika biasanya kami akan bercerita atau menyaksikan film bersama kali ini Fatih dan Daniel memiliki rencananya sendiri. hal ini karena mereka tidak tahan lagi dengan kecemburuan mereka pada Danisa dan terjadilah perdebatan diantara mereka, Fatih berkata
"Ati ngak adil banget, kakak Ica boleh beli semuanya yang dia mau tanpa batas kami berdua kenapa harus kerja dulu baru boleh jajan?" protesnya
"Benar ini namanya deskriminasi gender. kami sebagai laki-laki merasa dijajah kali ini" ujar Daniel dengan membawa kertas layaknya orang demo.
"Betul" kata Fatih sambil menggoyangkan kertas demonya.
__ADS_1
"Kami tidak terimah Ati pilih kasih" Kata Daniel
"Betul"
"Kamu juga memiliki kebutuhan dan kami meminta hak kami"
"Betul" kata fatih lagi. Merasa Fatih tidak membantu Daniel seketika protes dan berkata
"Parnert demo macam apa kau dari tadi betul-betul terus, ngomong yang lain kek"
"Ok" katanya mengakat jari simbolis ok lalu kembali berkata "Benar"
Seketika Daniel hanya bisa menepuk jidadnya lalu memasang wajah kesal pada Fatih, sedangkan Fatih yang tidak sadar kesalahannya dengan santai berkata
"Apa lagi?" dengan wajah polos dan tetap memegang kertas aksi demonya.
Melihat itu, Caca bukannya membujuk atau mengabulkan mereka malah tertawa terbahak lalu dengan masa bodohnya caca berlalu pergi kedapur dan kembali dengan 2 gelas susu dan beberapa potong roti, setelah itu berkata
"Nih makan dan minum biar Demonya kuat"
lalu dibalas Fatih dengan kalimat "Makasih ati, tapi titi mau salad buah ya?"
"oke tunggu sebentar ya pendemoku"
"iya Ati"
melihat itu Daniel memasang wajah kesal namun tetap menikmati apa yang diberikan Caca. Selang tak begitu lama akhirnya caca kembali dengan semangkuk salat buat dan berkata
"ini buat pendemo Ati yang paling cakep"
Fatih jelas tertawa bahagia dan memeluk Caca dengan manja sedangkan Daniel seketika histeris dan berkata
"Ati tidak sayang Iel" jeritnya dan bersiap pergi namun dengan sigap caca memeluk dan membawanya kepangkuannya.
Daniel menangis dan berusaha berontak namun dengan lembut caca berkata
"Itu salad buah Iel dibawa Bibi, itu spesial dan banyak buah anggurnya sesuai kesukaan buat pendemo Ati yang paling manja" tidak sampai di situ caca juga mencium kening Daniel lama dan itu sukses membuat Daniel tenang dan berkata
"iel sayang Ati"
itulah mereka, kadang aku binggung dengan semua anak lelakiku, semakin usia bertambah bukannya semakin dewasa malah semaki manja pada Caca. seperti itu sok-sokan mau Demo? tidak mungkin karena caca lebih jago soal itu.
__ADS_1