
Terkadang aku juga binggung dengan istriku. caca dan anak-anak memiliki kesepatan dimana dalam sebulan tanggal yang memiliki angka 5 adalah waktu untuk Quality time.
Quality time ini yang dimaksud hanya berdua jadi diantara daniel, Danisa dan Fatih yang akan pergi bersama caca. cara pemilihannya pun unik jadi, tiap awal bulan alias tangal 01 mereka akan berkumpul layaknya orang arisan.
dalam sebulan ada 3 angka 5 yang tertera dikalender yaitu, 05, 15 dan 25, nah mereka selalu mengadu keberuntungan akan siapa yang lebih dulu pergi di awal pertama kali.
kalian mungkin tidak mengerti apa yang spesial dari angka itu?, biar kujelaskan spesialnya angka 05 dimata anak-anakku. bukan angkanya tapi quality time yang mereka rebutkan, bagaimana tidak?
saat giliran mereka tiba Caca mengizikan mereka membeli sesuatu yang sangat didambakan mereka. entah itu baju, tas atau sesuatu yang menunjang hobby mereka. sedari anak-anak kami kecil, Caca siap ikut dan membiayai hobby danisa di dunia modelling, mengantar Daniel berselancar ketempat-tempat impiannya, menemani Fatih ke Musium-musium bersejarah hampir seluruh dunia.
Caca mendukung, membiayai, dan menemani mereka berlomba namun ketika selangkah lagi mereka menuju impiannya, caca dengan kokoh berdiri dan menghadang bahkan menantang keras.
Namanya mereka masih tanggung jawab orangtua dan tidak memiliki kekuasan lebih akhirnya mereka hanya bisa pasrah dan tetap menggikuti kemauan atinya. caca tahu anak-anaknya kecewa namun dengan sangat pandainya dia membujuk dengan kalimat
"Ati tidak pernah menghalangi keinginan kalian, Hobby tetaplah hobby dan silahkan lakukan tapi jangan menjadikannya tujuan akhir karena bukan itu tugas kalian sesungguhnya"
"Ati sudah menyiapkan Danisa menjadi wanita yang tidak mudah dipermainkan lelaki, Daniel sebagai sosok pelindung untuk adik-adiknya baik itu dari kejahatan dan ekonomi sedangkan Fatih tetap berada di tengah sebagai pengamat juga pengontrol untuk kedua kakakmu"
kala itu aku seketika berkata "kenapa Fatih? toh Fatih yang paling muda diantara mereka bukannya Fatih yang akan dijaga oleh mereka?" tanyaku beruntun, lalu di jawab
"Diantara mereka, Fatih yang paling sulit untuk dipenggaruhi, tetap tenang walau sedang tertindas dan paling masa bodoh akan semuanya. dia akan membuat orang disekitarnya juga bersikap tenang sedangkan kedua kakaknya walau lebih dewasa tidak bisa menggatur ego mereka" dan kurasa memang benar seperti itu. dan itu terbukti disetiap perkembangan mereka bertiga
usia mereka kian bertambah, akhirnya Daniel dan fatih hanya bisa pasrah dan mencoba iklas dengan apa yang mereka alami. Tentu saja aku merasa kasihan pada Daniel dan Fatih yang harus berjuang terlebih dahulu tapi apalah daya aku juga enggan kehilangan jatah ranjangku, jadi kubiarkan saja caca dengan segala ajarannya toh aku tahu dibalik itu semua ada hal yang diajarkan caca pada kedua lelaki keturunan adipatih itu.
Walaupun caca sangat menyayangi anak-anak kami, tapi kadang kejahatannya yang lebih nampak misalnya saja tentang danisa yang sedikit di istimewakan karena dia seorang perempuan jadi boleh membeli sendiri keperluannya.
keperluan danisa itu seperti, pembalut dan keperluan yang bisa menunjang menonjolkan kecantikannya, Caca merasa jika hal itu harus diurusi oleh Danisa sendiri karena Danisa lah yang menetukan suka dan nyamankah dia dengan barang-barang tambahan yang bergender feminim itu.
Caca juga merasa jika Kecantikan Danisa itu tidak bisa dibiarkan begitu saja apalagi Danisa suka sekali dengan dunia modelling dan desainer.
caca memang terlihat sangat mendukung kegemaran Danisa itu hingga mentolerir kegiatan wanita sosialita jadilah mereka cukup rutin merias diri dua kali dalam sebulan tapi itu juga hanya di tanggal-tanggal tertentu.
diusia Danisa yang ke 15 Danisa sudah diikutkan Private class Make Up dan diajarkan oleh orang-orang ternama di Indonesia. Caca tidak pernah tanggung-tanggung untuk mendukung setiap hobby anak-anaknya.
Anak-anakku bahagia?. Jelas tapi itu hanya di awal saja. Penderitaan mereka berawal ketika Daniel baru saja menamatkan SMP. Daniel di perintah untuk bekerja di perusahaan. iya memang bekerja tapi bekerja jadi Office boy.
tentu saja Daniel brontak dan mengatakan jika Atinya itu terlalu jahat hingga merendahkannya kebagian paling terendah tapi caca tidak peduli. semenjak itulah hubungan mereka cukup merenggang dan tiap kali ketemu tatapan sinis atau kata-kata sarkislah yang selalu dilontarkan Daniel tapi saking tidak pedulinya caca, caca acuh saja.
Daniel hampir saja meninggalkan rumah karena tidak tahan lagi dengan perlakuan Ibu sambungnya itu, tapi untunglah aksinya diketahui oleh Danisa dan Fatih. Danisa tentu menjerit-jerit menghalanggi keingginan Daniel hingga membangunkanku dan Caca.
__ADS_1
hal itu terjadi saat waktu telah menunjukkan pukul 03 pagi, ternyata hal itu tidak menggurungkan niat caca untuk menggadili daniel.
diruang keluarga semua orang berkumpul menyaksikan reality drama keluarga Adipatih. kami semua berdiri ditempat masing-masing seolah menunggu hasil point dari persidangan tersebut dan aku, aku hanya ikut jadi penikmat toh ini masalah Daniel dan Caca dan hanya mereka berdualah yang bisa menyelesaikannya.
ketika caca sudah menggetahui penyebab keributan itu caca tanpa ancang-ancang menampari wajah daniel dihadapan kami semua termasuk para pembantu supir dan satpam yang terkejut dengan ulah penerus Adipatih.
kami semua terdiam karena tidak tahu harus berbuat seperti apa hingga suara Daniel memecah kesunyian kami. Caca benar-benar serius dengan niatnya. Daniel dulu sangat dekat dengan Caca tapi setelah beranjak dewasa Daniel seperti sangat membenci Caca tidak sekali dua kali mereka berdebat dan tidak sekali dua kali pula caca menampari wajah Daniel seperti kala itu.
"ahaha jadi hanya segitu kekuatan anda hah? ayo lagi, lagi pukul hamba yang ini nyonya besar, pukul pukul saya" teriak daniel dengan suara yang cukup keras, menggeluarkan segala amarah yang dipendamnya selama ini.
Kala kejadian itu, awalnya caca hanya melipat kedua tangannya didepan dada sembari memperhatikan daniel yang sudah dipenuhi segala benci dan amarah kepada wanita yang dulu menyelamatkan hidupnya.
"Jadi anda ingin pergi iya? silahkan tapi jelaskan pada kami semua alasan anda pergi" Ucap Caca menggikuti gaya bicara Daniel yang formal.
"Anda tanya kenapa saya ingin meninggalkan neraka anda? ahahaha pertanyaan bodoh macam apa itu?!" ucapnya sinis dan diakhiri dengan decih yang sangat meremehkan. aghh mungkinkan itu didapatkannya dariku atau dari wanita gilaku.
"jelaskan" kata caca tenang dan mencoba mengintimidasi daniel
"Ini semua karena anda, anda yang tidak adil menggurusi kami lihat, lihat danisa lihat" tunjuknya pada Danisa yang sudah menunduk menyembunyikan wajahnya namun tidak bisa menyembunyikan isak tanggisnya.
"...." tidak ada yang dikatakan caca kala itu dirinya hanya mengangkat sebelah alisnya meniru gayaku jika enggan berbicara namun menunggu orang itu melanjutkan ucapannya.
"Apa bedanya saya dan Danisa hah? ogh apa karena aku laki-laki dan danisa perempuan iya? jadi karena itu kau boleh bertindak tidak adil pada saya iya?" ujapnya menepis jarak antara Caca
"Daniel" bentakku padanya
"Ada apa api?, oghh Api takut ya kalo aku melukai majikan anda?" tanya daniel namun bukannya menjawab tangan Caca sekali lagi mendarat di pipi Daniel.
"Dengar Iel, kau boleh menghinaku tapi tidak dengan Apimu, jika kau mengganggapku orang lain itu tidak masalah tapi tidak dengan Apimu" kata caca dengan sangat marah.
"Hahaha romantis sekali kalian saling membela" katanya dengan wajah angkuhnya.
"Mentalmu sangat rusak bung" kata caca namun ternyata semua itu tidak berakhir karena caca memilih duduk lalu menyilangkan kakinya sembari bersedekap memperlihatkan gaya angkuhnya lalu memerhatikan daniel dengan sangat intens lalu berkata
"Kau tahu perusahaan itu atas namamu suatu hari nanti, jadi dimana ketidak adilannya?"
"Ahahaha mencoba menyegokku nyonya?"
"Kau hanya perlu menggenal perusahaan itu dari bawah, apa susahnya?" kata caca dengan entengnya namun tenyata kalimat itu memancing kemarahan Daniel sekali lagi.
__ADS_1
"Apa salahnya anda bilang? anda tidak tahu setiap hari orang-orang menlontarkan cercaan dan mengolok-ngolok saya karena kekejaman anda" katanya dengan suara sangat keras hingga menonjolkan urat-urat lehernya.
"Iel dengar" Panggil caca dengan nada lembut.
"Anda tidak berhak memanggil saya dengan panggilan itu" bentaknya.
"Oke dengar" ucap Caca sembari menggangkat tangan tanda menyerah, lalu kembali berkata
"Perusahaan itu dibangun dengan segala jerih payah leluhurmu, Opa, Api dan kelak kamu yang akan meneruskannya, untuk berhasil kau harus memulainya dari bawah terlebih dahulu, dan ...."
belum juga caca menyelesaikan ucapannya Daniel menyela dengan luapan emosi yang belum juga mereda
"Memulainya dari bawah biar semua orang bisa menghinaku iya?, hahaha mana ada bawahan yang menghormati atasannya jika sekarang saya lebih rendah dibanding mereka"
"Kau akan menggerti suatu saat, Daniel" ucap caca dengan pasrah, sepertinya caca sudah menyerah mengatasi kemarahan Daniel.
"Tidak saya tidak akan mengerti sampai kapanpun ketidak adilan anda" ucap Daniel sarkas lalu mulai bergerak meninggalkan kami yang terpaku menantikan akhir drama yang diperankan Caca dan Daniel, namun ternyata tidak dengan Caca.
Dengan sigap caca menarik tangan Daniel lalu mengarahkan Daniel bersitatap dengannya dan sekali lagi Caca menampar Daniel lalu berkata
"Ini yang terakhir dariku Daniel, lihat, lihat tanganku. Tangan ini yang membesarkanmu, tangan tuaku ini yang menyiapkan segala kebutuhanmu dan tangan ini yang menyadarkanmu dari semua perlakuan nakalmu" Bentaknya marah tapi air matanya tetap jatuh membasahi wajah.
"Aku ... aku orang pertama yang membimbingmu berjalan dan aku orang pertama yang menunjukkan jalan yang harusnya kau tujuh, salahkah aku jika aku mendidik dan menggarahkanmu kejalan kesuksesanmu?" katanya tidak setenang pertama berselisih dengan Daniel, deru air mata sudah membanjiri wajahnya namun ternyata ucapannya tidak jua berakhir
"Aku membimbingmu untuk kau tahu seperti apa kau harus membangun perusahan itu, jadi kelak perusahaan itu bangkrut kau bisa membanggun perusahaan baru yang lebih baik dari itu dan jika aku mati aku bisa dengan bangga menyatakan aku adalah jazat yang paling bahagia karena sudah menyelesaikan janjiku pada ibumu *******" katanya dengan ngos-ngosan dan masih disertai isak tangisnya
"......" Daniel tidak menggucapkan apapun, mungkin merasa bersalah karena untuk pertama kalinya melihat sang ibu sambung menitihkan air matanya.
"Oke tugasku selesai seperti keinginan anda tuan, anda tidak perluh pergi karena semua pasilitas mewah anda akan anda dapatkan besok pagi, jadi selamat beristirahat tuan muda" ucap Caca membungkukkan badan layaknya seorang pelayan kerajaan lalu bergegas meninggalkan ruang keluarga yang sedari tadi menjadi penggadilan dadakan untuk Daniel.
Danisa, Fatih dan seluruh pekerja yang tadinya saksi perdebatan, satu persatu meninggalkan Daniel yang terpaku terduduk lemas dilantai dengan tatapan kosongnya sedangkan aku memilih duduk dilantai bersama Daniel.
jelas aku sedikit kecewa dengan perbuatanya namun apa yang dilakukannya juga bukanlah sesuatu yang salah. kepeluk dirinya dan terdengarlah isak tanggis yang sangat memilukan.
sebagai lelaki tentu pantang baginya untuk meneteskan air mata tapi inilah yang segala luapan amarah yang dipendamnya selama ini.
wajar saja daniel kecewa pada Atinya toh salah caca yang mendidik tanpa menjelaskan apapun pada daniel hingga hubungan mereka merenggang tapi itulah mereka sekuat apapun daniel membenci atinya tapi tetap saja jika dirinya sakit Cacalah yang selalu dicarinya.
Perdebatan dan permusuhan antara Caca dengan Daniel terus terjadi tapi bersitegang, sekaligus perdebatan akhirnya dimenangkan oleh Caca. mau bagaimana lagi perintah mutlak telah dilontarkan tanpa kompromi jadi mau tidak mau, daniel tetap bekerja sebagai office boy.
__ADS_1