NASIP CAMPUR

NASIP CAMPUR
12. DIMAS P.O.V


__ADS_3

FLASHBACK ON



dia itu wanitaku. wanitaku adalah wanita yang gila, kasar, keras kepala dan matre tentunya, jadilah harta bergerak maupun harta tidak bergerak itu miliknya dan bodohnya aku menjetujuinya saja, dan karena kebodohanku mengakibatkan aku malu untuk menyesesalinya dan hingga kini, walau begitu penyesalan itu masih sangat terasa.


jika ada yang mengatakan aku goblok, maka kamu bukan yang pertama malah mungkin ke seribu. entah menggapa selama bersama caca rasa takut akan dihancurkan dan tidak percaya itu hilang dan tak pernah kembali.


Di kantor notaris dan didepan pengacara, kami membuat perjanjian jika harta itu akan menjadi milik caca hingga semua anak-anak kami menikah dan dianggap layak mewarisi harta kami, mati tidak mati pun mereka layak mendapatkannya juga selama pengalihan harta belum terjadi aku, Dimas Putra Adipatih bertugas untuk menjaga dan mengikuti perintah dari atasanku yaitu Mahardica Calista. nah kalo seperti ini lebih gila yang mana?


Walau tahu semua akan baik, tapi tetap saja berefek pada kehidupan kami, untungnya kesialan itu tidak hanya merugikanku tapi juga merugikan anak-anak kami. kok untung, jelas karena aku tidak sendiri.


kala itu Usia Danisa dan Daniel masih 13 tahun sedangkan Fatih baru 10 tahun. Caca benar-benar memegang kendali dan memiliki kebijakannya sendiri.


Efek kebijakan itu sebenarnya yang merasakannya hanya aku, Daniel dan Fatih saja sih, sedangkan Danisa semenjak mendapat menstruasi pertamanya dirinya memiliki sedikit kelonggaran dibanding yang lainnya.


Iya Danisa diizinkan memegang kartu ATMnya hingga membuatnya bisa membeli keperluan pribadinya, Daniel dan Fatih tentu saja protes karena merasa diperlakukan dengan tidak adil namun ya namanya wanita gila tentu jawabanya juga gila.


"Danisa itu menggeluarkan darah tiap bulan, kalau kau mau ATM pribadimu juga sini ku sunat kau tiap bulan" agh aku dan kedua lelaki tanggung itu tentu saja merasa khawatir jika pusaka kami jadi korbannya. jadilah kami bertiga hanya diam saja.


Ditahap awal mereka masih saja pasrah namun kala danisa bisa membeli makanan, alat make up, dan majalah kesukaanya disanalah awal mulanya.

__ADS_1


Hari minggu kami semua sedang bersantai di ruang tamu, jika biasanya kami akan bercerita atau menyaksikan film bersama kali ini Fatih dan Daniel memiliki rencananya sendiri. hal ini karena mereka tidak tahan lagi dengan kecemburuan mereka pada Danisa dan terjadilah perdebatan diantara mereka, Fatih berkata


"Ati ngak adil banget, kakak Ica boleh beli semuanya yang dia mau tanpa batas kami berdua kenapa harus kerja dulu baru boleh jajan?" protesnya


"Benar ini namanya deskriminasi gender. kami sebagai laki-laki merasa dijajah kali ini" ujar Daniel dengan membawa kertas layaknya orang demo.


"Betul" kata Fatih sambil menggoyangkan kertas demonya.


"Kami tidak terimah Ati pilih kasih" Kata Daniel


"Betul"


"Kamu juga memiliki kebutuhan dan kami meminta hak kami"


"Parnert demo macam apa kau dari tadi betul-betul terus, ngomong yang lain kek"


"Ok" katanya mengakat jari simbolis ok lalu kembali berkata "Benar"


Seketika Daniel hanya bisa menepuk jidadnya lalu memasang wajah kesal pada Fatih, sedangkan Fatih yang tidak sadar kesalahannya dengan santai berkata


"Apa lagi?" dengan wajah polos dan tetap memegang kertas aksi demonya.

__ADS_1


Melihat itu, Caca bukannya membujuk atau mengabulkan mereka malah tertawa terbahak lalu dengan masa bodohnya caca berlalu pergi kedapur dan kembali dengan 2 gelas susu dan beberapa potong roti, setelah itu berkata


"Nih makan dan minum biar Demonya kuat"


lalu dibalas Fatih dengan kalimat "Makasih ati, tapi titi mau salad buah ya?"


"oke tunggu sebentar ya pendemoku"


"iya Ati"


melihat itu Daniel memasang wajah kesal namun tetap menikmati apa yang diberikan Caca. Selang tak begitu lama akhirnya caca kembali dengan semangkuk salat buat dan berkata


"ini buat pendemo Ati yang paling cakep"


Fatih jelas tertawa bahagia dan memeluk Caca dengan manja sedangkan Daniel seketika histeris dan berkata


"Ati tidak sayang Iel" jeritnya dan bersiap pergi namun dengan sigap caca memeluk dan membawanya kepangkuannya.


Daniel menangis dan berusaha berontak namun dengan lembut caca berkata


"Itu salad buah Iel dibawa Bibi, itu spesial dan banyak buah anggurnya sesuai kesukaan buat pendemo Ati yang paling manja" tidak sampai di situ caca juga mencium kening Daniel lama dan itu sukses membuat Daniel tenang dan berkata

__ADS_1


"iel sayang Ati"


itulah mereka, kadang aku binggung dengan semua anak lelakiku, semakin usia bertambah bukannya semakin dewasa malah semaki manja pada Caca. seperti itu sok-sokan mau Demo? tidak mungkin karen caca lebih jago soal itu.


__ADS_2