
Sena melangkah mengikuti sahabatnya yang berada di depannya. Mereka berjalan dari parkiran menuju Cafe Butter. Langkah mereka semakin dipercepat saat rintik gerimis mulai membasahi kulit mereka. Denise menutupi kepalanya dari tetesan air hujan dengan flap bagnya, sedangkan Sena menutupi hidung dan mulutnya dengan syalnya.
'Dingin sekali hari ini' pikir Sena. Kalau bukan karena harus menepati janjinya terhadap Denise, mungkin saat ini ia sedang bersantai di atas kasurnya yang empuk dan hangat daripada harus kehujanan di malam hari yang dingin seperti ini. Sena harus menemani Denise untuk makan malam bersama teman masa kecilnya di salah satu kafe terkenal di kota ini. 'Malam ini aku akan memesan makanan favoritku, setelah tadi siang otakku terkuras mengerjakan soal soal kalkulus di sekolah' pikirnya.
Mereka tiba di depan pintu Kafe, sesaat kemudian seorang pelayan membukakan pintu dan memberi sambutan hangat kepada mereka. " Selamat malam Nona, ada yang bisa saya bantu?" ujar pelayan kafe tersebut. "kami sudah memesan tempat, reservasi atas nama Ben" ujar Denise. "Baik, tabel 24 di lantai 2, mari ikuti saya" ujar pelayan tersebut.
Denise melirik Sena yang berada di sampingnya. Tatapannya menuju ke arah pakaian short knitted milik Sena. "Pakaianmu basah Sena, apakah kau membawa baju ganti?" tanya Denise.
"Tidak apa apa Denise, nanti juga kering kan, aku tidak membawa baju ganti dan tidak menyangka akan kehujanan seperti ini hehe" ujar Sena sambil tersenyum.
"Baiklah, tapi kau akan kedinginan karena bajumu basah, sebagai gantinya aku akan mentraktirmu, orderlah sesuka hatimu Sen" jawab Denise.
"Tentu saja! aku akan memesan makanan yang banyak sampai kenyang" ujar Sena lagi.
"Aku kan tahu, kau tidak bisa makan banyak, porsimu sedikit dan lambungmu kecil, hihihi" ungkap Denise lagi. Mereka berjalan menaiki tangga dan melihat seorang pria bersama 2 orang teman laki lakinya melambaikan tangannya ke arah Denise. "ah, itu dia, Ben!" Denise mengarahkan telunjuknya ke meja temannya sambil membalas lambaian tangannya, dan berjalan mendekati mereka.
Senyuman lebar terlihat di raut wajah Denise, dia begitu senang bertemu teman masa kecilnya yang tampan, dan Denise sungguh terlihat tidak dapat menutupi rasa sukanya terhadap Ben. Dia menghampiri sahabat masa kecilnya dan memeluk erat Ben. Denise pun tersadar untuk memperkenalkan Sena kepada Ben dan teman temannya.
"Hai, Ben! perkenalkan ini sahabatku Sena, dan Sena ini teman masa kecilku, Benedict!" ujar Denise. Sena memperkenalkan dirinya dan memberikan salam hangat.
__ADS_1
"Oh, Hai Sena, senang berkenalan denganmu! Denise, Sena perkenalkan ini teman temanku Albert dan Victor. Mereka adalah teman temanku di sekolah" ujar Ben.
"Aksena". Sena memperkenalkan dirinya kepada 2 orang teman Ben. Saat tangan Sena dan Victor bersentuhan, detak jantung Sena berdegup kencang. 'Ada apa gerangan? Kenapa jantungku berdegup kencang? Apakah karena senyumannya yang manis dan hangat' pikir Sena.
"Victor". Tangan yang besar dan hangat menyentuh tangan Sena yang mungil, mata yang indah dan tajam, gigi yang rapi, senyuman yang lebar dan manis , garis rahang yang memperlihatkan pesonanya, serta tampan.
Mata Victor tidak berhenti menatap Sena dan senyuman hangatnya membuat Sena luluh dan salah tingkah. Victor tersenyum melihat Sena yang sedikit gugup dengan wajah memerahnya. 'Tangannya halus dan lembut, dan dia tersipu malu' pikir Victor.
Dilihatnya Sena sesekali membetulkan rambutnya ke belakang telinganya dan mengalihkan perhatiannya, ia tidak berani menatap mata victor.
Sementara hati Sena masih berdegup kencang, 'aku tidak pernah segugup dan salah tingkah seperti ini, apa karena lelaki yang tampan ini berada di hadapanku? please, jangan tatap aku seperti itu, tatapannya membuatku salting' ujarnya dalam hati Sena sambil mengalihkan perhatiannya ke arah Denise. Dia malu untuk membalas tatapan mata Victor.
Obrolan demi obrolan mereka lalui, canda dan tawa membuat mereka semakin akrab. Di sinilah hubungan Sena dan Victor bermula. Ketika asyik mendengarkan Denise dan Ben bercerita, Sena yang sedang mengunyah strawberry cake kesukaannya, tiba tiba terdiam. Ia terkejut melihat Victor yang sedang mengamatinya makan sedari tadi, menatapnya dan tersenyum.
"Kenapa? A-Apa ada yang salah? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Sena kepada Victor. Victor mendekatkan tangannya ke pipi Sena. Ia mengusap cream yang ada di samping bibir Sena dengan jarinya.
"Maaf ya, ada cream di bibirmu.." ujar Victor sambil menelan cream yang ia ambil dari bibir Sena. "hmm..manis" ujar victor lagi sambil tersenyum. Sena yang terkejut dan terperangah melihat perlakuan Victor, mengedipkan matanya seolah olah tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. "terimakasih sudah membersihkan cream yang menempel di wajahku vict, tetapi creamnya tidak perlu sampai ditelan juga kan.." Sena mendengus malu dan salah tingkah.
__ADS_1
Victor mendekati Sena dan membisikkan sesuatu ke telinga Sena."Mau tau alasannya? karena rasanya manis, semanis kamu" ujar Victor menggoda gadis di depannya, sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
Mendengar bisikannya, wajah Sena memerah dan merona. 'bisa-bisanya dia menggoda aku?! help! makin salting kan jadinya' . Hati Sena meronta.
Denise yang melihat tingkah 2 orang temannya langsung menegur mereka. "hey! ada apa kalian berbisik seperti itu? kalian mencurigakan!" ujar Denise sambil memicingkan kedua matanya.
__________________________________
Denise dan Sena berjalan memasuki mobil, setelah keduanya berpamitan dari 3 orang teman laki laki di kafe tersebut karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan waktunya untuk pulang. Mereka tidak menyadari waktu, karena sangat menikmati kebersamaan. Mulai dari obrolan topik lawas hingga terkini, sport, musik, fashion dan kegiatan mereka masing masing.
Tubuh Sena juga merasa lebih hangat karena Victor meminjamkan mantel winter miliknya. Sena teringat ketika dia menggigil kedinginan karena bajunya basah akibat kehujanan sebelum menuju ke kafe. Sena tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Victor. Mereka saling berbagi nomor telepon seluler. Victor berjanji akan menghubungi Sena. Dalam hati kecilnya, ada sesuatu hal yang membuat Sena tertarik terhadap Victor, tetapi dia tidak tahu apa yang membuatnya penasaran dengan lelaki itu. 'Apakah ini yang dimaksud cinta pandangan pertama? seperti ada gejolak di dada..gejolak kebahagiaan' pikirnya.
"Hei! Sen! Daritadi kau senyum terus, sepertinya ada yang lagi bahagia?" tanya Denise kepada Sena yang tertunduk dan berusaha menutupi senyumannya di balik bibirnya. "Ntahlah" jawab Sena.
"Sepertinya kau dan Victor sangat cocok, menurutku dia lelaki yang baik, kau suka ya dengan Victor?" ujar Denise sambil menodongkan jari telunjuknya ke arah hidung sahabatnya.
Sena mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu, walaupun dia juga tahu pipinya sedang memerah dan merona. Dia pun enggan menjawab pertanyaan sahabatnya itu. "tak usah kau pungkiri, aku tau victor kan tipemu hahaha kau tidak bisa merahasiakannya Sena, pipimu merah saat kusebut namanya" ujar Denise.
Mobil Denise pun melaju keluar dari parkiran kafe dan menuju ke rumah Sena. 'aku sangat menikmati pertemuan pertama hari ini bersamanya, ya lelaki itu yang membuat hatiku berdebar, dan salah tingkah' pikiran Sena melayang bersama rintik hujan yang membasahi bumi malam itu.
__ADS_1