
Sepulang sekolah Sena berlari mendekati Denise yang sedang berjalan menuju parkiran sekolah. "Denise!" teriakan Sena menggema dari jarak 30 meter tepat di belakangnya.
Denise menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Dilihatnya gadis berambut pendek itu sedang melambai lambaikan tangan ke arahnya.
"Deniiise!! Tunggu aku!" teriak Sena. "Iya! Iya! aku tunggu! cepat!" jawab Denise sambil memicingkan mata dan menutupi wajahnya dari sinar matahari.
Sementara itu sahabatnya sedang berlari tergopoh gopoh membawa baju renang basahnya di tangan kanan dan buku tebal di tangan kirinya.
Sesaat Sena sudah mendekati sahabatnya dan berjalan mengiringi Denise, dengan nafas tak beraturan.
"Hhah.. kau jalan cepat sekali Denise!..huh..kenapa kau meninggalkan aku di kolam renang?? dan kau juga tidak membalas pesanku..huh" tanya Sena dengan bibir yang cemberut kesal karena ditinggal sahabatnya saat ujian renang.
"Hey, kau tidak tahu ya perutku sedang sakit sejak pagi tadi. Jadi aku kembali ke ruang kesehatan setelah penilaian tadi. Sementara itu aku menjatuhkan ponselku sehingga layarnya rusak. Lihatlah! Oh, what a day." jawab Denise sambil memperlihatkan ponsel dengan layar retak.
"Ck...kasihan sekali sahabatku, lekas sembuh denise , by the way kau kan masih punya ponsel yang lain..hihi" ujar Sena.
Tiba tiba dari luar gerbang sekolah terlihat seorang pria berkaca mata hitam, sedang melambaikan tangannya ke arah Sena. Seorang lelaki dengan senyuman manis dan tampan.
Setiap cewek yang sedang berada di sekitar mereka menoleh dan terpana melihat kehadiran sosok pria itu. Ia tersenyum dan menampilkan giginya yang rapi, berjalan mendekati dua orang gadis tersebut.
"Bukankah itu Victor? Mengapa ia ada di sini??" tanya Denise.
"Coba tebak, kira-kira dia akan bertemu siapa??" ujar Sena sambil tersenyum dan membalas lambaian tangan Victor. Victor berjalan mendekati mereka berdua.
"Aku curiga bukankah dia sedang berjalan menghampiri kita?? Oh, apakah kau akan pulang dengan dia Sena? hahaha.." Denise tertawa renyah sambil mengernyitkan dahinya dengan alis naik separuh.
Sena menjawab sahabatnya dengan kepala mengangguk. "wah ada kemajuan ya" ujar denise.
Tiba tiba Victor sudah berada di hadapan dua gadis tersebut, "Hai Senaa ...haii Denise" Victor menyapa mereka berdua.
__ADS_1
Tubuhnya yang tinggi membuat kedua gadis itu menatapnya dengan mengangkat wajah mereka masing masing ke atas. Ya, tinggi Sena hanya sebahu Victor, sedangkan tinggi Denise hanya sedagu Victor. Mungkin karena Kalsium Victor lebih tinggi dibandingkan dua gadis tersebut.
Sena merekahkan senyumannya melihat Victor. Dia senang melihat Victor datang mengunjunginya sore ini. Denise mengobrol sejenak dengan Victor. Hingga akhirnya Victor menawarkan mereka untuk mengantar mereka pulang, tetapi Denise menolak, karena ia membawa kendaraan yang terparkir di sudut halaman sekolah.
Sedangkan Sena, dengan senangnya menerima tawaran Victor, tentu saja ia tidak menolak tawaran lelaki manis di hadapannya ini. Ditambah lagi Victor akan mengajaknya ke suatu tempat.
_________________________________
Victor membukakan pintu untuk Sena agar ia bisa masuk ke mobilnya. "Masuklah" ujar Victor. Sena menurut. Di dalam mobil, Victor memakaikan sabuk pengaman gadis itu.
"Jika tidak keberatan aku bantu pasangkan sabuknya ya" ujar Victor. Sena mengangguk, kagum melihat sikap pria di sampingnya ini, begitu sopan dan lembut perlakuannya. Berbeda dengan lelaki yang sebelumnya pernah ia temui terakhir kali, teringat saat terakhir kali ia berada di dalam mobil axton.
Victor mendekatkan badannya ke arah gadis itu sambil memasangkan seat belt milik Sena. Aroma parfum musk pria tersebut bercampur menjadi satu di ruangan mobilnya. Sena menghirup aroma victor yang berada dekat dengan wajahnya.
Sena melirik rahang pria tersebut, sedangkan victor melirik mata Sena sesaat. Saat dua mata mereka bertemu, victor mengedipkan sebelah matanya ke arah Sena. Wajah Sena memerah dan ia menjadi salah tingkah.
Saat victor mulai menyetir, tatapan lembutnya menyusuri jalanan, bibir tipis dan senyuman manis yang selalu tercipta di sela sela obrolan. Selalu ada canda dan tawa, kenapa ya aku bisa senyaman ini bersamanya?
Pada saat mobil Victor melaju pelan, Axton melihat sepasang muda mudi itu dari kejauhan. Dia menatap sinis dan menambah laju kendaraannya, melewati mobil victor.
Hingga tiba di traffic light, mobil Victor berhenti tepat di samping mobil Axton. Sena menoleh ke jendela samping mobilnya, dilihatnya Axton dari kaca jendela sedang tertawa dengan teman temannya.
Tepat saat Sena memalingkan wajahnya, Axton kembali menatap gadis itu di samping mobilnya, hingga kemudian traffic light berwarna hijau, membuat kedua mobil tersebut berjalan terpisah di dua jalur.
Saat mobil Victor akan berbelok ke arah kanan, mobil Axton mendahului mereka dengan kecepatan tinggi, hampir saja mobil Victor menabrak mobil Axton. "Astaga!" ucap Victor. "Dasar sopir ugal-ugalan!" teriak victor.
__________________________________________
Victor dan Sena tiba di rooftop cafe sekitar hutan kota. Mereka berjalan menuju receptionist dan mendapat meja nomor 17.
__ADS_1
Lokasinya lumayan ramai pengunjung. Pramusaji mengarahkan mereka menuju meja di pojok ruangan, sehingga mereka dapat melihat pemandangan hutan kota di sore itu. Hanya 2 cangkir latte hangat yang mereka pesan.
Victor dan Sena mengobrol tentang hal-hal kesukaan masing-masing, hobi, tentang kebiasaan mereka, tempat-tempat yang ingin dikunjungi, bahkan tentang keluarga. Victor mengajak Sena hiking ke gunung suatu saat nanti. Sena sangat excited dan berharap akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
Pastinya bersama sahabatnya. Tentu saja Sena tidak menolak tawaran itu. Bahkan dengan senang hati menerima tawaran untuk camping ke hutan pinus.
...Tapi, apakah aku bisa mendapat ijin dari ayah dan ibu??...
Sena menyeruput secangkir latte hangat miliknya. Tanpa dia sadari bibirnya dipenuhi oleh buih susu dan krim dari lattenya. Dia pun meletakkan cangkir kopi miliknya. Victor yang duduk di hadapan Sena, menertawakannya. "Pfftt..hahaa" Victor tak bisa menahan kelucuan di wajah Sena. Sena kebingungan melihat tingkah victor.
"Kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Sena.
"Pfft...Sen kumismu seperti Johnny Depp..lucu hahaa" Victor mengusap krim di bibir Sena dengan tangannya. Victor menatap bibir mungil Sena.
Andai aku bisa mengusap krim di bibirnya dengan bibirku.
"Ah..bisakah kau berhenti menertawakanku? aku malu.." ujar Sena.
Victor bukannya berhenti memegang wajah Sena. Tangannya malah melanjutkan mengelus rambut Sena di balik telinga gadis itu. Matanya yang teduh dan lembut terpesona melihat gadis di hadapannya.
...Aku ingin lebih dekat dengan gadis di hadapanku ini....
Tanpa mereka sadari, dari lantai atas seorang laki laki sedang menatap tingkah sepasang muda mudi itu yang sedang kasmaran. Axton sedang istirahat sejenak dari permainan biliar di lantai atas bersama teman temannya. Tidak sengaja menoleh dan memperhatikan pemandangan pasangan yang sedang mabuk cinta. Dilihatnya sang lelaki itu sedang membelai rambut gadis itu, lalu mereka berpegangan tangan.
...Sepertinya aku tahu gadis itu. Dia kan gadis yang bersamaku malam itu. Dia yang telah mabuk dan muntah serta mengotori mobilku....
__ADS_1
"Pemandangan yang sungguh membosankan" ujarnya dengan tatapan sinis.