
Axton berjalan mendekati gadis yang menuangkan minuman ke bajunya. Seragam putih itu berubah menjadi warna merah.
"Kau berani menumpahkan minuman itu ke bajuku!" Axton dengan tatapan siap menerkam gadis itu kapan saja, sambil menggeram akibat noda merah yang tercipta di bajunya.
Teman teman Axton bersorak riuh menggoda mereka. Axton yang tidak menyangka terhadap apa yang dilakukan gadis itu kepadanya, berdiri dari mejanya. Langkahnya menghampiri Sena yang sedang diam terpaku. Kedua bola mata mereka saling bertatapan. Wajah Sena memucat ketika kemarahan tercipta di raut wajah Axton. Ada rasa gelisah menghampiri dirinya.
Sena berusaha menghindar dari jangkauan Axton, dan kakinya bergerak mundur langkah demi langkah. Tapi pijakan axton 2 langkah lebih dekat darinya.
"Apakah kau senang dengan caramu seperti ini Sena?" Mata pemuda itu menatap tajam ke arah Sena.
"Bukankah seharusnya kau klarifikasi terlebih dahulu, orang yang mengganggu Sellyna, bukan aku tapi dia orangnya, Albert!" Alis Axton berkerut. Jari telunjuknya mengarah ke pemuda blasteran berambut ikal yang sedang duduk bersama teman teman lainnya. Albert tersenyum sinis begitu namanya disebut.
Sedangkan tatapan ganas Axton tidak bisa lepas dari wajah gadis di hadapannya. Bola mata Sena mencari pemuda yang ditunjuk oleh Axton. Sena menatap Albert dengan tajam. "Dasar kau..!"
Sena menggeram dan hendak berjalan menuju Albert, tetapi Axton dengan tubuh besarnya menghadang Sena, lengannya dipegang dengan begitu eratnya oleh lelaki itu.
Axton malah semakin mendekatinya, hingga nafas mereka saling bertabrakan. Bulu Sena merinding merasakan nafas Axton yang begitu dekat, tak berjarak, memaksa Sena untuk berjalan semakin mundur hingga tubuhnya tersandar pada tembok di belakangnya dan tak bisa bergerak lagi.
"Tunggu, kau mau pergi begitu saja? Urusanmu denganku belum selesai" Axton menunjuk noda merah yang ada di bajunya. Ironisnya, ditambah lagi sensasi dingin dari es yang mencair menyentuh kulitnya. Membuatnya semakin kesal. "Apakah kau bisa bertanggungjawab dengan ini?" Dipandangnya bola mata gadis itu lekat-lekat.
"Itu karena aku tidak suka jika seseorang mengganggu adikku!" Sena membalas tatapan Axton. Tatapan teduh Sena perlahan menghunjam hati Axton.
Membuat Axton ingin mempermainkannya lebih lama. Sementara bola matanya menatap bibir Sena, bibir merah yang ia cium kemarin sore.
__ADS_1
"Dan aku juga tidak suka perlakuanmu terhadapku kemarin sore Axton!" Sena menambahkan perkataannya melawan tatapan liar Axton.
Ya, kemarin sore kau seenaknya menciumku, mengambil ciuman pertamaku. Harusnya bukan kau Axton, tapi Victor.
"Sekarang tolong lepaskan tanganmu dari lenganku!" teriaknya gusar. Sena menarik lengannya dengan kasar, sehingga Axton melepas lengan mungil gadis itu dari jeratan tangannya. Walaupun jika ia mau, bisa saja ia tidak mau melepaskannya, hanya saja ia tidak ingin menyakiti gadis itu lebih lama.
Pada akhirnya kedua telapak tangan Axton menghadang tubuh Sena di tembok tempat Sena bersandar. Sehingga kepala Sena berada di antara kedua telapak tangan lebar milik Axton.
Sementara suara teman teman Axton semakin bersorak, menggoda mereka yang sedang berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. "Ciuum!..Ciuum!..Ciuum!"
Kini Sena tidak bisa bergerak leluasa. Nafasnya tertahan, ada rasa gelisah menghadapi kapten basket di sekolahnya itu. Lelaki yang sedang berada di hadapannya ini semakin mendekatkan diri ke wajah Sena.
Sena merasa terganggu dengan sikap Axton. Dia pun mulai memutar otak bagaimana cara melepaskan diri dari lelaki itu. Dengan sekuat tenaga ia menginjak kaki Axton hingga pria itu mengerang kesakitan dan menggeram. Bukan cuma sekali tetapi dua kali. "Arrghh!" Sena mendorong dada Axton sekuat tenaganya, lalu ia pergi menjauh dari pria yang ia benci saat ini.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja Sena.. sebelum kau bertanggung jawab dan membersihkan noda ini!"
Ketika Axton melepas Sena, gadis itu segera beranjak menuju Albert dan memarahinya habis-habisan "Albert, Kau harus minta maaf dengan adikku! Kalau kau tidak melakukannya, kau akan merasakan akibatnya!" Ujung jari telunjuk Sena mengarah ke wajah Albert, lelaki yang mengganggu adik Sena.
Murka Sena membuat kecemasan di hati Albert. Dia juga tidak tahu bahwa gadis yang diganggunya adalah adiknya Sena. Ya, Sena yang dinobatkan sebagai murid teladan dan juara olimpiade sekolah itu. Tapi dibalik sosoknya yang feminim, ternyata murkanya mengerikan.
KRIIIIIIIING!
Suara bel sekolah berdering pertanda pelajaran akan segera dimulai.
__ADS_1
♤♤♤♤♤♤♤♤
Di Mall
"Kau tau kan betapa kesalnya aku siang tadi" gadis bertubuh ramping itu sedang menyusuri toko kosmetik bersama temannya, gadis berambut ikal. Tentu saja Sena sedang mencurahkan isi hatinya dan mengungkapkan kekesalannya tentang apa yang ia hadapi siang tadi kepada sahabatnya Denise.
Sementara gadis berambut ikal tersebut hanya mendengarkan celotehan sahabatnya sambil mencoba liptint di bibirnya. Tangannya mencoba satu per satu liptint yang sesuai dengan yang ia harapkan.
Denise telah berjanji untuk menemani Sena ke Mall sepulang sekolah. Sena juga ingin membeli gift perhiasan untuk ibunya yang akan pulang minggu depan. Sementara ini mereka masih melihat lihat update kosmetik terbaru yang sedang hits di kalangan remaja.
"Dia tidak punya attitude. Bisa bisanya dia mengambil kesempatan mencium...Oops!" Sena hampir saja keceplosan bercerita tentang ciuman pertamanya dengan Axton di perpustakaan.
"Apa? mencium? kau bilang apa barusan?" Denise masih saja mencoba lipstick di depan cermin, tanpa melihat ekspresi Sena yang sedang bermuka masam kebingungan karena hampir saja Denise tahu tentang kejadian kemarin.
"Bukan... bukan...kau salah dengar.. bukan mencium, tapi mencibir.. Axton itu selalu saja menggangguku... aku tidak nyaman..walaupun bukan dia yang mengganggu Sellyna, tapi kan Albert juga temannya Axton. Tetap saja aku tidak suka jika mereka mengganggu adikku, jadi aku melampiaskan kekesalanku dengan menyiram minuman ke bajunya hufft"
Sena juga mengambil blush on peach dan mencobanya di pipi.
"Lalu apa yang dia lakukan terhadapmu saat kau menyiramkan minuman itu Sena?" Denise menemukan warna lipstick yang pantas untuknya dan memberikannya ke penjaga butik. "Tolong 2 warna berry cherry ya"
"Tentu saja dia marah, dan entah apa yang akan dia lakukan kepadaku, sebelum dia benar benar menyantapku, aku berhasil menghindar dan kabur dari lelaki itu"
"Tapi kenapa belakangan ini kau selalu saja berurusan dengan Axton? Apakah kalian berjodoh? hahahahah" Denise tertawa sambil berjalan menuju cashier untuk melakukan pembayaran.
__ADS_1
"Hei! apa kau bilang?? dia itu bukan jodohku,, kau saja yang berjodoh dengannya"
Sena cemberut mendengar sahabatnya mengolok oloknya dengan Axton. Dia tidak rela jika harus berjodoh dengan Axton, karena ia hanya ingin bersama Victor bukan Axton.