Nikah Kontrak 365 Hari

Nikah Kontrak 365 Hari
Perbincangan


__ADS_3

Sena bergegas masuk ke kamarnya dan melepas pakaiannya. Dia mengernyitkan dahinya saat mencium aroma alkohol dan muntahan di gaun dan tubuhnya.



Dia pun bergegas menuju kamar mandinya dan menyalakan air hangat dalam bathtubnya. Make up di wajahnya pun sudah terhapus. Kini saatnya relaksasi dengan air hangat pikirnya.


Mata Sena terpejam saat sensasi air hangat menyentuh kulitnya dan menghirup aroma green tea bathbomb yang begitu menenangkan. Sesekali dia benamkan wajahnya ke dalam air di bathtubnya dan terdiam dalam lamunannya.



Pikirannya melayang mengingat kembali kejadian apa saja yang ia lalui bersama Axton semalam.


Kenapa aku bisa seemosional itu semalam?


Kenapa aku bisa sangat mabuk hingga pingsan di pelukannya?


Kenapa aku tidak ingat kejadian setelah aku pingsan tadi malam?


Dan kenapa aku bisa tidur senyenyak itu di mobilnya? yang lebih memalukan lagi, kenapa aku bisa muntah di depan Axton? Betapa malunya aku.


Beribu ribu tanda tanya mengisi benaknya. Tapi....


Bisa bisanya dia membawaku pergi ke bukit itu? walau sejujurnya aku takut kalau dia punya pikiran jahat terhadapku. Aku juga tidak tahu kan apa yang ada di pikiran Axton. Bisa saja kan dia punya pikiran buruk.


Tapi dia sangat menyebalkan, Axton sudah menghina aku, bisa bisanya dia menyebut tubuhku seperti papan kering.


Meskipun dia sangat menyebalkan, tetapi di lubuk hati Sena, dia sedikit merasa lega karena Axton tidak berbuat jahat terhadapnya.


Mungkin saja kan laki laki lain memanfaatkan kesempatan dan berbuat jahat terhadap wanita yang sedang mabuk. Tapi..


Syukurlah Axton tidak bertindak seperti itu.


Walaupun sikapnya menyebalkan, tetapi ternyata dia tidak sejahat yang aku pikirkan. Bahkan dia sampai mengantarku pulang. Ah.. seandainya aku tidak memenuhi keinginan Lois untuk menghabiskan minumanku, pasti aku tidak akan semabuk itu.


Berarti Axton juga menjaga aku kan. Meskipun sifatnya yang dingin dan menyebalkan, tetapi juga lumayan tampan.

__ADS_1


Apa?! Tampan?!


Duh! Sena kamu sudah Gila!


Kenapa aku tiba tiba memikirkan wajahnya?! Dia kan lelaki incarannya Sellyna.


Sebenarnya Sena selalu grogi jika berbicara dengan pria yang tidak ia kenal. Apalagi pria yang wajahnya lumayan tampan.


Selama ini Sena belum punya pacar. Mungkin karena dia selalu menolak pria yang mengutarakan perasaan suka terhadapnya. Lamunannya terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya dan memanggil namanya.


"Aksenaa...ini aku Denise! Boleh aku masuk?" Denise melanjutkan mengetuk pintu kamarnya dan memanggil Sena dengan suara lebih nyaring dari sebelumnya.


"Iyaa... jangan lupa passwordnyaa...Sena is a beautiful princess!" ujar Sena dari dalam kamarnya.


"Oh, you're a princess? But I'm the queen, haha" ujar Denise. Sena tertawa dan membuka pintu kamarnya, dia muncul dengan rambut yang dililit handuk di kepalanya.


Sena menyambut Denise dari dalam kamarnya, dengan wajah riang ia mempersilahkan sahabatnya untuk duduk di sofa kamar Sena, sedangkan Sena duduk di depan meja riasnya.


"So.. first of all.. I have to return your mobile phone and your bag.. mungkin kamu perlu cek siapa saja yang sudah menghubungimu.. dari sekian panggilan masuk, hanya nomor Sellyna yang aku jawab" lapor Denise sembari memberikan ponsel milik Sena dan menyerahkan tas clutch milik Sena.


...13 missed call from Mommy...


...12 missed call from Sellyna...


...3 missed call from Daddy...


...1 missed call from Aunty Anne...


...*1 missed call fro**m Oma*...


...1 missed call from anonymous...


Sena terkejut melihat panggilan masuk tak terjawab di layar ponsel miliknya. Sena bingung alasan apa yang harus dia katakan ke mommy karena tidak pulang ke rumah semalam. Ibunya telah menghubunginya sampai 13 kali. Pasti dia akan dimarahi kedua orangtuanya karena tidak menerima panggilan mereka, apalagi mereka sudah menghubungi dari luar negeri. Bagaimana ini?


Sementara semenjak pulang, Sena belum bertemu dengan Sellyna. Asisten rumah mereka, Miss Jane mengatakan Sellyna sedang latihan ballet saat ini. Dia menyampaikan bahwa Sellyna mencarinya tadi malam. Sena yakin pasti dia akan diinterogasi oleh orangtuanya. Ketika Sena sedang asyik dengan layar ponselnya, Denise pun mulai menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan yang panjang.

__ADS_1


"Jadi, coba jelaskan padaku kenapa kamu meninggalkan aku di klub dan kemana kamu pergi tadi malam Sena? Kamu membiarkan aku pulang sendiri padahal kamu datang bersama ku ke acara itu..


Dan mengapa kamu meninggalkan tas dan barang berhargamu di meja? Bersyukurlah karena aku menyelamatkan barang barangmu tadi malam Sena..


Aku juga menanyakanmu ke Lois, tapi mereka mengatakan kamu sedang ke toilet dan tidak kunjung kembali. Aku juga mencarimu ke toilet tetapi kamu tidak berada di sana. You know aku menunggumu sampai acara selesai" tanya Denise bagaikan wartawan dengan penuh interogasi.


"Satu lagi, kamu pulang bersama siapa Sena? yang jelas karena Sellyna mencarimu, kamu tidak pulang ke rumah kan Sena? Aku khawatir Sena karena kamu tidak pernah menginap di luar" Denise menyipitkan matanya dengan penuh kecurigaan sehingga membuat Sena seolah olah berada di pojok ruangan yang tidak bisa membuatnya menghindar lagi dari pertanyaan Denise.


Sementara Sena berusaha memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan pertanyaan Denise. Sena rasanya ingin kabur dan lari dari kenyataan. Dia menghela nafasnya dengan berat.


"Okey, baiklah my bestie..aku akan menjawab semua pertanyaanmu satu per satu, pertama tama semalam aku mabuk akibat permainan truth or dare nya Lois, dan aku harus menghabiskan semua minuman pink devilku.


Lalu aku berjalan menuju toilet dan aku bertemu dengan laki laki menyebalkan. Dan kamu tahu siapa laki laki itu? Dia adalah Axton, lelaki yang membuat aku terjatuh di tangga sekolah. Tetapi sesuatu telah terjadi, aku mabuk berat dan tak sadar apa pun. Walau aku sedikit mengingat saat ia menggendongku menuju mobilnya.


Bahkan aku tidak ingat kenapa pagi tadi aku terbangun di mobilnya. Maaf Denise, bukan maksud aku meninggalkanmu di klub. Tahukah kamu kemana ia membawaku semalam? Dia membawaku menuju Yellow Hill. Satu hal yang membuatku malu, aku muntah di hadapannya."


Denise menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya, dia terkejut mendengar curahan hati sahabatnya. Matanya berkedip kedip meyakinkan dirinya atas apa yang didengarnya saat ini. Oh My Goodness. "Apakah pertemuan kalian bisa dikatakan takdir? kamu tahu Axton itu kapten Basket dan sering memenangkan pertandingan basket antar kota. Banyak wanita yang mengejar dia. Pertama karena ia tampan dan maskulin, kedua karena dia pintar dan berbakat, ketiga karena ia kaya. Terakhir aku dengar dia dekat dengan model Catheryn. At least dia telah mengantarmu pulang ke rumah dengan selamat, tapi... benar tidak terjadi apa apa bukan?" ujar Denise.


"Ya, aku akui dia baik karena sudah mengantarku pulang, tapi tetap saja keangkuhannya membuatku sebal. Walaupun aku tidak begitu mengenalnya. Dan sekarang aku bingung harus menjawab apa jika Mom dan Sellyna menginterogasiku?" tanya Sena.


"Jangan khawatir, saat Sellyna menghubungiku tadi, aku sudah menjelaskan bahwa kamu bersamaku semalaman " jawab Denise.


"Aww, terimakasih my lovely bestfriend, kamu memang sahabat yang dapat diandalkan" Sena berjalan mendekati Denise dan merangkulnya.


"Bagaimanapun aku tidak ingin melakukan kebohongan. Dan aku tidak mau berbohong lagi hanya karena kamu tidak bersamaku. Lain kali aku akan berkata apa adanya jika ada yang mencarimu. Oh, dan aku baru ingat, di klub aku bertemu dengan teman kecilku, ternyata dia juga kenal Michelle dan dia mengundangku dinner bersama teman temannya di Butter Cafe besok, kamu harus menemani aku Sena. Kamu berhutang padaku." pinta Denise.


"Haha, baiklah, aku akan pergi bersamamu." jawab Sena.


 


Di lain tempat, Sellyna memasuki rumah dan menuju ke ruangan laundry untuk meletakkan baju balletnya yang basah. Dia disambut oleh Miss Jane yang sedang membawakan segelas susu hangat untuk Aksena dan Sellyna di dapur. Saat Sellyna akan kembali ke kamarnya ia melihat sebuah jaket tim basket sekolahnya. Langkahnya berhenti dan kembali mengambil jaket berwarna biru silver tersebut.


"Bukankah ini jaket klub basket, kenapa bisa ada di rumah ini?" Sellyna membaca name tag yang tertera di dada bagian kanan jaket. Axton J. C.


"Ini kan pakaiannya Axton? Kenapa ada di ruang laundry?" pikirnya.

__ADS_1


Sellyna bergegas menuju dapur dan meluapkan rasa penasarannya.


__ADS_2