
Sena baru saja masuk ke dalam kamarnya. Pintu kayu yang terukir namanya itu menjadi tempatnya bersandar saat ini. Masih dalam posisi berdiri sambil memperhatikan gelang pemberian Victor sore tadi. Lagi-lagi membuat air matanya hampir tumpah terharu karena indahnya.
...^^^Gelang yang indah. Terimakasih ya Victor. Kutunggu kehadiranmu di mimpiku malam ini.^^^...
Jari jemarinya menyentuh keningnya. Dia pejamkan matanya mengingat kembali memori kebersamaan Victor sore tadi.
...Kecupan bibirnya di keningku masih terasa.. Kecupan pertama dari seorang pria, dalam hidupku sosok pria pertama yang menciumku hanya daddy.. Kali ini rasanya berbeda.. Seolah-olah seperti perutku dipenuhi kupu-kupu sehingga aku ikut melayang.. Rasanya ingin selalu bersamanya.. Apakah ini yang dinamakan Jatuh Cinta??...
...Saat bersamanya waktu begitu cepat berlalu...dan aku menikmati setiap momen kebersamaan ini......
Kalau diingat kembali memori sore tadi, rasanya malu, malu karena Sena dengan percaya dirinya yakin Victor akan mencium bibirnya.
...Apakah aku terlalu berharap? Padahal aku sudah siap jika dia ingin mengecup bibirku. Hah, Kenapa saat ini terasa panas sekali? Apakah aku sedang demam??...
Sena mengibas-ngibas tangannya ke wajahnya. Mencoba mengurangi rona merah di pipinya dengan melambaikan tangannya ke wajah. Lalu ia pegang kedua pipinya.
Tiba tiba ponsel Sena bergetar. Ia mendapat notifikasi dari sahabatnya, Denise.
"Sen, kau sudah lihat berita di group siswa sekolah belum?"
^^^"belum, memangnya ada berita apa?^^^
"Sekolah gempar, ada siswa yang berbuat mesum di ruang ganti olahraga dan berasal dari kelas kita, sepertinya orang yang menyebar beritanya melihat langsung, katanya mereka berciuman dan tanpa busana, kau tahu siapa orangnya??"
^^^"HAH, serius??"^^^
"Ya, sebaiknya kau baca beritanya, kau tahu kan sanksi yang akan diberikan sekolah kepada mereka, ada ada saja ya, berani sekali mereka berbuat di sekolah, mengerikan sekali gosip itu."
Sena langsung membuka link bertaut yang dikirim Denise. Beritanya keterlaluan. Tangan Sena gemetar. Panik. Wajahnya terlihat pucat. Walaupun tidak ada foto tertera, tetapi inisial siswanya tercantum di berita itu. Keduanya berinisial A. Apakah ini berita tentangku?? Siapa yang menulis gosip ini??
Apakah ini perbuatan Lois dan Carla?? atau salah satu dari mereka. Yang jelas jika memang berita ini ditujukan untukku, maka aku harus meluruskan berita ini bagaimanapun caranya.
Sena menghempaskan badan di kasurnya yang empuk. Hari ini begitu indah dan bahagia, tetapi dibalik kebahagiaan itu ada saja hal lain yang membawa kekhawatiran. Sena khawatir besok tidak akan kondusif karena berita tentangnya yang tersebar. Aku khawatir besok tidak bisa fokus belajar karena hal ini. Bagaimana ini??
Sena tenggelam dalam kekhawatirannya. Ponselnya bergetar. Dia mendapat notifikasi dari nomor yang tidak ia kenal. Dahinya mengerut. "Nomor tak dikenal."
5 menit lagi di depan rumahmu. Keluarlah. Kita perlu bicara. -Axton-
Darimana Axton tahu nomorku?
__ADS_1
Sena berpikir sejenak mengingat kejadian minggu lalu. Pada saat itu aku mencoba menghubungi Denise dan mencari ponselku menggunakan ponselnya. Ternyata dia masih menyimpan nomorku.
_______________________________________
Sena keluar dari halaman rumahnya dan melihat Axton bersama motor besarnya yang sudah terparkir di tepi jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Ada apa?" tanya Sena. Bukannya menjawab pertanyaan Sena, Axton malah memberikan helm motornya untuk Sena pakai. "pakailah, ikut aku" ujar Axton.
"Kemana??? aku belum pernah naik motor, aku takut. Sebenarnya apa yang perlu kita bicarakan Axton?" tanya Sena lagi.
"Ssstt..naik saja, kau cukup pegangan seperti ini, kita diskusi di tempat lain, bukan di sini" Jawab Axton.
Tanpa basa basi Sena menuruti perkataan Axton. Sena duduk di atas motor Axton, dan mengikuti saran Axton untuk berpegangan kepadanya. Ketika Sena sudah mulai duduk dengan nyaman, Axton langsung menyalakan sepeda motornya dan melaju dengan kencang.
Mereka melewati udara malam yang dingin, kulit Sena merasakan sensasi angin malam yang menusuk kulitnya, sementara rambutnya berkibar kibar dihempas angin, dia lupa menggunakan jaket tebal, membuat dia menggigil kedinginan. Axton menambah laju kecepatan.
Tanpa sadar Sena memejamkan matanya, dan memeluk erat pinggang Axton. Sementara kepalanya bersandar di pundak belakang Axton. Axton paham bahwa gadis itu sedang gemetar dan ketakutan, tak bernyali melihat kecepatan Axton dalam berkendara.
"Pleeeeaaaaasseeee Axtooon.... Kurangi kecepatannyaaa" teriak Sena. "Aku belum mau mati sekaraaang" teriak Sena berasa uji nyali.
"Iyaaa... kau jahat sekali Axton. Kita mau kemana?" tanya Sena penasaran.
"Kau akan tahu jika sudah sampai..Kau kedinginan ya?? tanya Axton kembali. Mereka semakin melewati lembah dan jalan berkelok kelok, serta elevasi yang semakin tinggi, sekeliling mereka sudah tidak terlihat rumah. Hanya lampu jalan dan pohon pinus yang terlihat di sekitarnya.
Axton merasakan tubuh Sena yang sedang gemetaran di belakangnya. Dipegangnya jari Sena yang sedang memeluk pinggang Axton, lalu ia masukkan tangan Sena ke dalam jaketnya. Sena terperanjat, merasakan tangan Axton yang hangat sedang memegang jari jemarinya.
Kendaraan mereka tiba di Pine Forest. Area tersebut dekat dengan Yellow Hill. Tempat yang dulu pernah mereka kunjungi saat Sena mabuk. Mereka dapat melihat keindahan lampu kota dari puncak bukit. Tidak jauh dari sana banyak mobil yang terparkir, dengan pengunjung yang berpasangan, yang hanya ingin melihat keindahan kota di malam hari dan bintang- bintang.
Axton mengajak Sena menaiki tangga di area Pine forest. Kemudian mereka duduk menikmati keindahan lampu kota di malam hari.
"Jadi setelah perjalanan kita ke sini, apa yang ingin kau diskusikan padaku Axton?" tanya Sena.
"kau sudah lihat berita grup sekolah?" tanya Axton. Matanya melirik ke arah Sena yang sedang kedinginan.
Mendengar pertanyaan Axton, Sena mendengus, kepalanya mengangguk. "Ya, aku sudah melihatnya, membayangkan sanksi yang akan diberikan oleh sekolah saja aku takut. Ini kan gara-gara kamu Axton" Sena menggeleng gelengkan kepalanya, dan memicingkan matanya.
__ADS_1
"Sorry untuk hal hal yang sudah membuatmu sulit Sena..terutama kejadian tadi sore di ruang ganti..dan saat kau terjatuh di tangga waktu itu" ujar Axton. Axton menatap mata Sena, dan ketika Sena juga menatap mata Axton, mereka sama sama mengalihkan pandangan masing-masing.
"Ya, dan maaf karena sudah muntah di dalam mobilmu..sorry karena sudah mengotori jaketmu Axton" Sena menundukkan wajahnya.
"Dan aku perlu mencari tahu siapa yang menyebarkan berita itu.. Kau tenang saja, tidak perlu takut...besok akan aku luruskan semua" ujar Axton.
"hmm..kurasa aku tahu siapa penyebar gosip itu, yang jelas bukan Lois, karena dia sangat dekat denganku" jelas Sena.
"Baiklah, kita lihat saja besok" ujar Axton. Tak menunggu lama, ponsel Axton bergetar. Axton menerima panggilan dari seorang wanita. Samar-sama Sena dapat mendengar suara wanita itu.
"Sayang, kamu dimana??"
^^^"di pine forest, ada apa?"^^^
"Axton, aku rindu kamu, kau tidak memberiku kabar, apakah kau bersama teman temanmu?"
^^^"ya, aku bersama temanku"^^^
"Apakah aku tahu siapa mereka?"
^^^"***Aku bersama Sena,^^^
^^^gadis yang kau temui di Cafe sore tadi***"^^^
"APAA?!!! Untuk apa kau bertemu dia Axton?! Aku kan sudah bilang agar tidak dekat dekat dengan.....!!" (wanita itu mulai mengomel dan terdengar nadanya yang kesal) BIIIPPPP.
Axton mematikan ponselnya.
"Axton, aku tidak mau berurusan lagi dengan kekasihmu, sebaiknya kita pulang saja Axton, sudah larut malam" ujar Sena sambil melambaikan tangannya tanda menyerah dengan alis mengkerut. Ia malas bertengkar dengan Catheryn.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Sena. Saat Sena sudah berjalan masuk ke pekarangan rumahnya, Axton mulai menggoda Sena.
"Hey Sen!! ada satu hal yang aku ingat hingga detik ini" ujar Axton.
"Apakah itu??" tanya Sena.
Axton menyeringai dan menertawai Sena. "Kau hebat ya Sen. Tubuhmu yang seperti Spanish Guitar itu, tidak bisa hilang dari ingatanku, aku masih ingat saat kau telanjang di ruang ganti tadi siang..Sorry, karena aku tidak bisa memejamkan mataku, aku tidak bisa melewatkan kesempatan emas..WOW..AMAZING HAHAHA" Axton memainkan jemarinya menyerupai Spanish Guitar. Kemudian ia pergi meninggalkan Sena yang dengan teriakan khasnya sedang memaki maki Axton dengan kesal.
"HIIISS...APAAN SIIH AXTOON?!!DASAR CABUL!MESUM!"
__ADS_1