
Axton memapah gadis mungil di hadapannya. Awalnya dia bingung apa yang harus dia lakukan terhadap gadis yang tidak ia kenal ini. Gadis belia yang mabuk dan emosional serta jatuh ke dalam pelukannya itu terlihat pingsan dan tak sadarkan diri.
Digendongnya gadis itu sembari berjalan keluar klub. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Mulai dari perasaan kaget, kesal, marah bercampur aduk menjadi satu. Bahkan saat ini orang-orang di sekitar mereka memperhatikan Axton dengan penuh tatapan.
Axton melangkah menuju Bugatti Divo berwarna hitamnya. Lengannya yang kuat mengangkat gadis itu dan perlahan-lahan meletakkannya di kursi mobilnya. Gaun yang dipakai Sena terlihat sangat terbuka dengan model V neck yang lebar, begitu juga dengan rok pendeknya membuat warna kulit paha Sena yang putih dan mulus itu terlihat jelas.
Axton melirik gadis di hadapannya. Dia memandang gaun gadis itu yang sangat terbuka. Udara malam yang dingin mulai terasa menusuk kulit. Axton pun mengambil jaket miliknya dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan jaketnya. Sial! Apa yang harus aku lakukan dengan gadis ini.
Axton mulai menyalakan mesin dan penghangat mobil serta pergi meninggalkan lokasi Klub Northwing tersebut. Tanpa ia sadari, dari kejauhan seorang wanita di depan lobby Klub melihat kepergian mobil Axton dan menatapnya dengan sinis serta kesal. Seseorang yang sangat menyukai Axton.
Bibirnya tampak cemberut dan matanya menyimpan amarah melihat lelaki yang ia sukai pergi bersama seorang wanita lain. Mobil Axton pun menjauh dan hilang dari pandangan wanita itu. 'Ke mana ia akan pergi?' pikirannya dipenuhi rasa penasaran.
Axton memutuskan pergi ke suatu tempat yang ia sukai. Dia mengarahkan mobilnya menuju area bukit di tepi kota. Empat puluh lima menit waktu yang ditempuh menuju lokasi yang ia tuju. Axton pun mulai mengurangi laju kecepatan mobilnya, hingga ia masuk ke area parkiran dengan view pemandangan kota di depan mereka. Dia membawa Sena ke Yellow Hills. Daerah berkontur dataran tinggi dengan perbukitan di sekitarnya.
Saat malam hari, pemandangan kota dengan kelap kelip lampu gedung bertingkat terlihat jelas jika dilihat dari bukit Yellow Hills. Entah apa yang membuat Axton ingin pergi ke daerah ini. Yellow Hills terkenal dengan pemandangan matahari di saat Sun Rise, berwarna kuning seperti Egg Yolk dan indah.
Axton melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 02.30 malam. Diliriknya gadis yang duduk di sampingnya sedang tertidur pulas. Dia yakin bahwa gadis di sebelahnya sedang tertidur nyenyak karena mendengar dengkurannya yang keras serta mulut yang terbuka. 'Bagaimana bisa ia tertidur dengan nyenyaknya saat ini, padahal tadi ia mabuk dan marah seperti orang gila?' pikir axton.
__ADS_1
"Hey! bangunlah!" teriak Axton. Dia pun menepuk pipi gadis itu dan berusaha membangunkannya. Tetapi tidak ada reaksi apa pun yang terlihat dari gadis itu, sama sekali tidak bergeming. 'dia tidur seperti orang mati' pikirnya. Malam yang hening dan udara yang dingin membuat mata siapapun akan terpejam. Beberapa menit kemudian Axton pun tak kuasa membuka matanya. Ia pun mulai terlelap bersamaan dengan gadis di sampingnya.
..._____________________________________________________________________...
Sena merasakan hangat menjalar di wajahnya. Sinar matahari pagi terasa panas menyinari kulit di lengan dan wajah Sena. Berat rasanya ia untuk membuka matanya. Keinginan dirinya untuk tetap terlelap harus ia hempaskan saat matahari mulai terasa terik dan berada di sudut 45 derajat dari garis cakrawala. Hangat. Ia pun terbangun dan menghirup aroma parfum laki laki yang tidak ia kenal sebelumnya. Matanya mulai terbuka perlahan diiringi rasa pusing yang masih belum hilang. Kepalanya masih terasa berat.
Sebuah jaket kulit laki laki berwarna hitam menutupi sebagian tubuhnya. Dimana ini? Ia pun menoleh ke samping dan menyadari dia sedang bersama seorang lelaki di dalam mobil. Siapakah dia?
Pria itu menutup separuh wajahnya dengan lengannya saat ia tertidur, sehingga Sena tidak dapat memastikan siapa pria di sampingnya ini. Apakah aku mengenalnya?
Sena menatap pria tersebut dengan seksama. Pria dengan rambut kecoklatan, rahang tegas, dan bertubuh atletis ini dapat dikategorikan maskulin dengan daya tarik tersendiri. Matanya terbelalak ketika ia menoleh pria yang sedang bersamanya itu. Axton. Dia kan lelaki yang membuatku kesal kemarin. Kenapa aku bisa bersamanya di sini? pikirnya. Dia kan pria yang disukai adikku Sellyna?
Sena mulai mencari ponsel dan tas miliknya di sekitarnya. Ia meraba raba bagian bawah kursi, tetapi tidak ada. Sena melirik cermin di mobil, dandanan wajahnya sudah kacau balau. Eyeliner dan maskara yang mulai luntur serta lipstik yang memudar. Sena malu dengan wajah bangun tidurnya. Ia masih berusaha mencari ponselnya tetapi tidak menemukannya.
"Sedang apa?" ujar seorang lelaki di sebelahnya dengan suara baritonnya. Sena kaget dan menoleh ke arah asal suara tersebut. Dilihatnya Axton baru terbangun dari tidurnya. Dia mengusap matanya dan menoleh ke arah Sena. Mata mereka saling bertatapan.
Sejenak Sena terpana dengan paras wajah lelaki itu. Mata berwarna cokelat dan rambut cokelat keemasan yang terkena sinar matahari. Tampan, pikirnya. Selera Sellyna pintar juga dalam memilih kriteria pria dalam hal fisiknya. Ya, Sellyna pintar memilih pria tampan, tapi tidak dengan sifatnya.
__ADS_1
"Aku sedang mencari ponselku, tetapi aku tidak menemukannya" jawab Sena.
"Aku tidak melihatnya. Semalam kamu mabuk dan pingsan, jadi kubiarkan saja kamu tertidur pulas di sini. Tetapi aku tidak melihatmu membawa apapun pada saat itu" Ujar Axton.
"Oh, dan aku membawamu ke bukit Yellow Hill ini Sena." lanjut Axton.
"Apakah aku bisa menggunakan ponselmu? Ku rasa ponsel dan tasku tertinggal di Klub tadi malam" ujarnya panik.
"Baiklah" ujar Axton. Axton memberikan ponsel miliknya.
Tak lama Sena menggunakan ponsel Axton, dan menekan nomor ponsel milik Sena. Nada panggilan di ponselnya tersambung, tetapi tidak ada yang menerima panggilan. Untuk ke tiga kalinya dia mencoba menghubungi ponselnya, dan terdengar suara sopran seorang wanita di seberang. "Halo, dengan Siapa ini?" ujar wanita tersebut.
Sena lega karena suara pertama yang ia dengar adalah suara Denise, sahabatnya. "Denise, ini aku..syukurlah kamu yang memegang ponselku, mungkin nanti akan aku ambil ya Denise. Terima kasih karena sudah mau menyimpan ponsel dan tasku" ujar Sena senang.
"Hei, kemana saja dirimu? semalam seusai dansa aku mencarimu. Lois berkata bahwa kamu ke toilet dan tidak kembali. Kupikir kamu sudah sibuk dengan teman lainnya. Aku menunggumu lama sampai acara selesai. Sampai melupakan barang berhargamu.huh. Harusnya kan kamu pulang bersama aku..."
"maafkan aku denise, nanti aku ceritakan semua.."
__ADS_1
"by the way..nomor siapa ini? dimana kamu sekarang? aku bingung menjawab telepon adikmu mencari kamu dari semalam. Aku bilang bahwa kamu bersamaku. Jam 3 sore nanti aku akan ke rumahmu, biar aku yang mengantar ponselmu, ok?"
"baiklah denise, terima kasih.. see you very soon" ujar Sena panik. Dia pun semakin bingung harus menjawab apa jika pulang nanti. Gawat. Bahaya jika mommy tahu aku tidak pulang.