Nikah Kontrak 365 Hari

Nikah Kontrak 365 Hari
Lelaki itu


__ADS_3

Sena dan Sellyna tiba di gerbang sekolah tepat pukul 07.55. Mereka paham apa yang harus mereka lakukan menjelang 5 menit sebelum pintu sekolah ditutup oleh penjaga dan untuk ke sekian kalinya mereka harus berlari menuju kelas sebelum Miss Sandra masuk ke ruangan kelas di lantai 2.


Sedangkan Sellyna harus berlari ke lantai 3, ruang laboratorium. Mereka memilih berlari menaiki tangga dibandingkan lift sekolah, menghindari pelajar lain yang tentunya akan berdesakan mengantre di depan lift.


"Kita naik lewat tangga sayap timur saja kak!" Sahut Sellyna sambil mengeluarkan jas labornya dari dalam tas. "Okey!" ujar Sena. Sementara Sena tidak menyadari tali sepatunya terlepas dari simpulnya.


Seiring dengan langkah mereka yang terburu-buru, ponsel Sena bergetar di sakunya, dilihatnya layar ponsel di genggaman tangannya bertuliskan nama sahabat karibnya, Denise. Sena bergegas menerima panggilan Denise dari layar ponselnya.


"Sen, kamu di mana?! Miss Sandra sedang berjalan di lorong, sebentar lagi beliau akan tiba di ruangan" tanya Denise.


"REALLY?! Masih di tangga menuju ruangan, wait for me Denise.." dia menutup ponselnya dan semakin panik berlari menaiki 2 anak tangga sekaligus.


"Kak Senaa..! Buruaan kak!" ujar Sellyna yang sudah sampai di lantai 3, ia melihat kakaknya yang masih di lantai 1 menuju lantai 2, sedang menaiki 2 anak tangga sekaligus.


"Kak, aku duluan!" dalam hitungan detik Sellyna sudah menghilang menuju lorong kelas di lantai 3. Sena yang merasa kekurangan energi akibat menunda sarapan tampak lelah. hah. Ngos-ngosan.


Dia terbayang wajah Miss Sandra yang akan memarahinya apabila terlambat masuk kelasnya atau beliau akan mencecar dengan berbagai pertanyaan kepadanya atau bahkan beliau akan memberikan kuis dadakan di awal materi. Sena pasrah. Sena mengusap keringat yang menetes di dahinya. 'Naik tangga 2 lantai saja sudah capek begini. Dasar Sena kurang olahraga', batinnya.


Jantung Sena semakin berdegup kencang, dia pun mencoba berlari menaiki 2 anak tangga sekaligus. PANIK. Tiba tiba terdengar langkah kaki berlari dari arah bawah tangga menuju ke lantai 2. Suara langkah berlari semakin mendekat ke arah Sena. Sena yakin bahwa saat itu siswa tersebut punya takdir yang sama dengan dia, pasti sama sama telat.

__ADS_1


Saat lelaki tersebut hampir mendekatinya dan berada di anak tangga yang sama dengan Sena, dia berusaha melewati Sena dan tanpa sadar menyenggol lengan Sena dengan kuat.


Sena tidak tahu bahwa lelaki tersebut juga menginjak tali sepatu miliknya, sehingga membuat Sena goyah dan limbung ke arah belakang. Sena kaget, ia berusaha menahan keseimbangan agar tidak jatuh, lalu dia berusaha menarik seragam lelaki tersebut, tetapi tidak terjangkau. Dan ..


BRAK!


"Aaakkhh!" teriaknya. Di saat bersamaan ia melihat lelaki tersebut berdiri dan memegang handle tangga sambil menoleh ke arah Sena yang limbung kemudian melanjutkan langkahnya.


"Oops!" Ujar lelaki itu.



"Aduuuh sakiit" Sena meringis kesakitan. Tetapi tidak terlihat inisiatif dari lelaki tersebut untuk membantunya berdiri, bahkan mengucapkan kata maaf dari mulutnya juga tidak ada.


"Hey kamu! Perhatikan jalan dong!" Ucap Sena kesal. Tetapi lelaki itu sudah menghilang dari pandangannya. Ia pun berusaha berdiri memegang dinding tangga dan tertatih menuju ruang kelas Miss Sandra.


...‐-------------------------------------------------...


Di ruang kelas, pikiran Sena melayang membayangkan kejadian memalukan yang dia alami pagi tadi. Dia masih ingat bagaimana dia terjatuh dari tangga, dan mengikuti kelas Miss Sandra yang mencecarnya dengan banyak pertanyaan karena datang terlambat. 

__ADS_1


Sena bersyukur karena Miss Sandra masih mengijinkan dia untuk mengikuti pelajarannya. Walaupun pada akhirnya dia ditunjuk Miss Sandra untuk mempresentasikan tugas yang diberikan minggu lalu. Pada akhirnya Sena mampu menjawab semua pertanyaan Miss Sandra dengan baik. Syukurlah. Dibalik keterlambatannya Miss Sandra masih mengampuni Sena karena Sena mampu menjawab dengan baik. Ya, Sena memang anak yang Smart.


Dalam lamunannya tiba tiba terbersit di benaknya wajah lelaki tidak tahu diri yang mendorong lengannya hingga membuat ia jatuh. 'Semua ini karena dia, lelaki angkuh yang tidak sopan dan kasar' pikirnya.


Dia pun mengambil pena dan mencoret buku agendanya dengan kesal. Ia menuangkan kekesalannya pada buku bersampul merah bertuliskan Aksena Amethysia Delwyn di covernya. Benar, itu adalah nama lengkap Sena.


Aksi Sena terhenti ketika Denise sahabat karibnya yang berada di sebelah mejanya histeris melihat darah yang mengalir di lutut Sena.


"Sena, apa yang terjadi?! Lututmu berdarah" ujar Denise yang sedang mengarahkan jari telunjuknya ke lutut Sena. "Apakah kamu baik baik saja?" tanya Denise sambil mengeluarkan plester steril untuk luka dari tasnya.


"Aku terjatuh di tangga, Denise, dan aku tidak tahu lututku terluka" jawab Sena menatap lukanya dengan mata berlinang. hiks. "Aku terjatuh karena tali sepatuku lepas dan diinjak oleh lelaki yang tidak tahu diri. Lelaki itu menyenggol lenganku dan berlalu begitu saja tanpa kata maaf dan aku tidak tau siapa lelaki itu, yang jelas dia juga sekolah di sini".


"Baiklah, bagaimana jika aku obati lukamu, aku plester ya, untung aku masih menyimpannya Sen" pinta Denise. "Apakah sakit?"


"Ya nis, sedikit perih, terima kasih Denise,..." jawab Sena sambil meringis perih akibat luka di lututnya.


"Sekarang jam istirahat, Bagaimana jika kita makan siang di taman bawah?" pinta Denise.


"Baiklah, aku akan membawa sandwich buatan ibuku yang kubawa dari rumah tadi, yuk" kemudian mereka keluar dari ruang kelas dan menuju taman sekolah.

__ADS_1


...--------------------------------------...


__ADS_2