
Suasana sekolah begitu ramai pagi ini. Banyak siswa siswi bercanda dan berteriak di halaman sekolah, seolah olah tawa mereka dapat melepas kepenatan sesaat dari tugas tugas yang menumpuk.
Sena memperhatikan pepohonan di halaman sekolah, rambutnya kejatuhan bunga caffra yang terbang terbawa angin. Banyak bunga caffra yang sedang bermekaran.
Jenis tanaman Erythrina caffra berwarna merah yang sering tumbuh di pesisir Afrika Tenggara, dan dibudidayakan di berbagai daerah. Sena terpesona dengan bunga yang mekar dan memberikan keharuman caffra saat terbawa angin.
Pikirannya memicu pertanyaan, bukankah saat ini sedang musim gugur, tetapi kenapa bunga Caffra bermekaran di musim ini?
Sementara angin menerpa rambutnya, udara dingin dan kering menusuk kulitnya. Bibir Sena pun ikut kering. Lehernya dibalut syal dan tangannya mengepal. Dingin sekali pagi ini.
Hatinya harus siap dengan yang akan terjadi hari ini. Siap menghadapi gosip miring tentang dia dan Axton. Biasanya Aksena selalu pergi bersama Sellyna ke sekolah. Tetapi kali ini Sellyna ijin berangkat lebih awal karena harus mempersiapkan presentasinya bersama kelompoknya yang lain.
Langkahnya memasuki lobby sekolah. Sena masih nyaman berjalan menaiki anak tangga satu per satu dan menuju lorong sekolah di lantai 2.
Hingga langkahnya mulai menaiki tangga, menuju lantai 3 kelas Science-9. Satu per satu kelas dia lewati.Semua mata menatap Sena. Mulut mereka berbisik satu sama lain. Berbisik sambil memperhatikan Sena berjalan. Seolah olah Sena melakukan kesalahan yang tidak dapat diampuni.
Kenapa sih tatapan mereka seperti itu?? Seperti melihat Alien saja.
Hingga langkah Sena tiba di depan kelas Axton Science-5. Para murid cewek menatap Sena semakin menjadi-jadi. Bola mata mereka berputar dan terlihat sinis, menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap Sena, bahkan ada yang sambil menunjuk nunjukkan jarinya ke arah Sena sambil berbisik bisik.
Bahkan sindiran sindiran halus keluar dari mulut mereka. Astaga, aku salah apa???
Sena mengalihkan pandangan dari tatapan tidak sedap mereka di lorong kelas. Langkahnya dipercepat hingga sampai di depan kelas Science-9.
Belum sampai Sena melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya, tiba tiba pintu kelasnya terbuka dan seseorang menarik tangannya ke dalam. Tiba-tiba Denise muncul di depannya.
"OK! Sekarang cepat katakan padaku apa yang terjadi kemarin sore Sena?! Kenapa semua murid tingkat akhir bergosip tentang kau dan Axton?? Kau sungguh menyebalkan ya Sena, kenapa kau tidak bercerita padaku tentang kejadian kemarin?? padahal semalam aku kan menghubungimu."
Denise mengernyitkan dahinya, matanya berkedip kedip, dan tangannya terlipat di depan dada menunggu penjelasan Sena.
"A-aku...juga tidak tahu Denise, aku bingung harus mulai dari mana..itu tidak seperti gosip yang beredar" jawab Sena sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Sena pun mulai menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir kepada Denise.
Tak menunggu lama, Sena sudah dikerubungi oleh teman teman sekelasnya yang penasaran ingin mendengarkan penjelasannya. Ada yang iba, ada yang tidak percaya dengan gosip yang beredar, dan ada juga yang kepo.
"Jadi inisial A yang ada di news sekolah benar kamu dan axton ya?" tanya Agnes.
"Keterlaluan sekali penyebar gosip itu. Kau tahu kan, Axton itu terkenal di sekolah ini. Dia favoritnya para cewek kan. Kurasa tatapan sinis mereka, karena tidak suka melihat kau didekati Axton. Bahkan ada yang percaya bahwa kau sedang pacaran dengan Axton" timpal Windy.
"Aku klarifikasi ya, aku tidak dekat dengan Axton! Dia bukan pacarku! Aku dan axton tidak berbuat mesum seperti yang diberitakan. Kalau tidak percaya tanya saja Lois, karena ia ada di sana juga. Benar kan Lois?"
Sena menoleh ke Lois. Dan Lois pun membenarkan ucapan Sena. Lois memang sahabat yang baik.
__ADS_1
"Ya teman teman. Aku dan Carla adalah saksi mata di sana. Aku tidak melihat mereka berbuat mesum. Berita itu tidak benar" ujar Lois.
Denting pelajaran pun dimulai. Pikiran Sena tidak fokus terhadap kegiatan belajar mengajar pagi itu. Hingga menjelang jam istirahat siang, nama Sena dipanggil menghadap tim Konselor yang menangani kenakalan siswa siswi di sekolah. Apa lagi ini??
Sena meninggalkan ruangan kelasnya. Denise melihat Sena berjalan menundukkan kepalanya dengan wajah murungnya. Andaikan saja aku bisa membantumu Sen.
Di ruangan konselor, sudah terlihat Axton bersama tim konselor 2 orang. Sena berjalan masuk dan dipersilahkan duduk di kursi sebelah Axton. Sena melirik lelaki itu.
Axton terlihat biasa saja tanpa kekhawatiran terukir di wajahnya. Satu per satu pertanyaan muncul dari konselor. Dan Axton pun menjawab dengan santainya.
Axton mampu menjelaskan kronologis kejadian di ruang ganti wanita kemarin. Setiap Sena menjawab dengan terbata-bata, Axton selalu dapat menambahi penjelasan Sena dengan baik.
"Jadi keributan yang terjadi di kalangan para siswa karena ada yang menyebar berita hoax?"
ujar konselor.
"Benar pak, kami tidak tahu bagaimana berita di grup siswa itu dapat terjadi. kami juga tidak tahu siapa yang menyebarkan berita fitnah itu" ujar Axton.
"Sebelumnya kami mohon maaf konselor, karena sudah membuat keributan di sekolah ini" jelas Sena sambil menoleh ke arah Axton.
"Baiklah, karena bukti bukti yang terjadi di lapangan tidak jelas dan tidak diketahui siapa yang menyebar berita di grup sekolah, dan akibat tindakan kalian yang telah memancing keributan di kalangan siswa sebagai pelanggaran tingkat 1 kategori ringan, maka kalian harus menyelesaikan sanksi dari konselor." jelas tim konselor.
"Sanksi berupa membuat surat pernyataan yang harus diketahui wali kelas bahwa tidak akan membuat keributan di kalangan siswa lagi, dan sanksi yang kedua yaitu kalian harus berpartisipasi memperbaiki sarana di sekolah ini. Selama 2 minggu ini kalian berdua ditempatkan di ruang perpustakaan untuk membantu pustakawan dalam menyusun label buku buku, dan menata buku buku baru yang terdapat di rak perpustakaan. Kalian tetap dapat menjalani kegiatan belajar mengajar, hanya saja sanksi ini kalian jalani setelah kegiatan belajar mengajar selesai yaitu di sore hari. Bagaimana? Apakah kalian siap menjalankannya?" jelas konselor.
Pada akhirnya Sena dan Axton dapat bernafas lega. Mereka tidak diskorsing sekolah, dan orangtua mereka tidak dipanggil menghadap kepala sekolah.
Di samping itu Sena juga berterimakasih dengan adanya axton di ruangan itu, dia sudah membantu mengurangi kekhawatiran Sena dengan penjelasan yang lebih santai. Axton tahu bahwa Sena sangat gugup.
*******
Sudah satu minggu ini Sena dan Axton menjalankan sanksi mereka di ruang perpustakaan. Sena sedang menempel label nama buku berdasarkan nomor yang tertera di arsip. Ini sudah buku yang ke seribu yang sudah mereka kerjakan. Masih ada 700 buku lagi yang belum dikerjakan.
Sena mengangkat tangannya ke atas kepalanya. Dia regangkan sendi dan otot otot tangannya serta menegakkan sandarannya. Kepalanya digerakkan ke kanan dan ke kiri. Lehernya terasa kaku. Raut wajahnya memperlihatkan kebosanan yang teramat sangat.
"Aww... pegal dan lapar" gumamnya sambil memijat jari jemarinya.
Sementara Axton yang sedang duduk di hadapannya masih menempel label buku berdasarkan abjad dan nomor buku. Kini saatnya mereka menata sebagian buku yang sudah diberi label di rak.
Axton melirik gadis di seberang mejanya. "Semakin cepat kita menyelesaikan ini, maka semakin cepat juga kita pulang" ujar axton.
"Baiklah" ujar Sena.
__ADS_1
Kini hanya ada mereka berdua di ruangan perpustakaan sekolah ini. Setelah para pustakawan ijin pulang karena sudah waktunya. Saat ini sudah menunjukkan pukul 6 sore. Hari pun mulai gelap.
Axton mengangkat dan membawa beberapa buku menuju rak perpustakaan no IX. Dia mulai menyusun buku dari nomor urut terkecil hingga nomor urut yang paling besar.
Sementara Sena, baru saja mulai membawa beberapa buku menuju raknya. Sena pun tiba di rak buku nomor XII dan menaiki tangga rak. Buku tersebut harus ia letakkan di rak teratas dengan ketinggian 3-4 meter. Kenapa jika mau menata buku saja, harus menaiki tangga setinggi ini sih??
Sena pun meyakinkan diri untuk menaiki tangga rak, dengan hati-hati ia langkahkan satu demi satu pada topangan dan pijakan tangga, sementara kedua tangannya memegang buku buku yang akan ia susun di rak.
Sena mulai memasukkan buku satu per satu dengan rapi dan sesuai dengan nomor urut dan abjadnya. Hal itu ia ulangi hingga ketiga kalinya, kali ini dia mengangkat buku lebih banyak dari sebelumnya hingga pandangannya tertutupi oleh buku. Pelan pelan ia mulai menaiki tangga. Tanpa ia sadari tali sepatunya sebelah kiri terlepas dari ikatannya.
Sena sudah sampai di tangga paling atas. Tangannya mulai menyusun satu persatu buku ke dalam barisannya. Kali ini tangannya mulai terasa pegal dan gemetar. Kesalahannya adalah ia teramat yakin dapat mengangkat buku itu dalam jumlah banyak.
Kakinya mulai oleng. Sena berusaha untuk turun dari tangga sesaat karena tangannya mulai lelah menopang buku begitu banyak. Saat ia akan melangkah turun, langkah kakinya tersangkut dengan tali sepatunya sendiri.
"Aah... Axton tolooong aku, aku mau turun tetapi tidak bisa" teriak Sena.
Axton pun berjalan mendekati lorong rak buku XII. "Kau membawa buku begitu banyak" ujar Axton.
"A-aku tidak bisa melihat bawah, tanganku juga pegal" kata Sena. Kakinya mulai mencari pijakan tetapi nihil. Dia malah terpeleset karena tali sepatunya sendiri. "Aaahhkk.." teriak Sena lagi. "Aaawwww"
BRAAAAKK
Buku buku yang ia pegang berhamburan di bawah. Sena terjatuh tetapi tidak merasakan sakit yang teramat sangat. Hanya saja kakinya terasa nyeri. Sena membuka matanya yang terpejam. Betapa kagetnya Sena, saat ia membuka matanya ia sudah terjatuh dan sudah berada pada posisi di atas Axton. Aroma parfum Axton pun bercampur di sekitar Sena.
Ya, Axton yang telah meraih tubuhnya dan sudah menopang tubuh Sena saat terjatuh tadi.
Kedua mata mereka bertatap-tatapan. Duh Malu Sekali. Wajah mereka dekat sekali.
Sena mulai mencoba untuk berdiri. Tetapi sebuah tangan kekar dan berotot milik Axton malah memegang pinggangnya yang mungil, dan memeluknya. Ah. Sena kaget. Kedua tangan Sena berada di dada Axton. Sena dapat merasakan debaran jantung pria yang saat ini sedang merangkul dia. Suara detak jantungnya begitu kencang.
Sementara wajah Axton malah mendekati ke Sena. Seperti sudah tahu dimana letak bibir Sena. Axton pun mulai mencium Sena. Apa-apaan ini???? Apa yang ada di pikiran lelaki ini??? Kenapa dia menciumku????
Ciuman pertamaku. Tolong, ini ciuman pertamaku. Axton menyatukan bibirnya ke bibir Sena. Terasa lembut. Semakin erat. Sena memejam matanya. Aku tidak tahu caranya berciuman. Aku ingin lepas dari ciuman pria ini, tetapi tidak bisa. Apa yang harus aku lakukan??
Rasanya seperti mau pingsan. Tubuh Sena terasa lemas, tangannya bergetar. Ternyata seperti ini rasanya ciuman. Tapi aku tidak suka. Aroma air liur yang sangat buruk.
Sena berusaha menarik kepalanya. Tetapi kedua tangan Axton meraih pinggang Sena dan memeluknya erat. Mendekapnya. Kepalanya ia dekatkan dengan kepala Sena. Lidahnya mulai membuka bibir Sena. Mencari-cari apa yang harus ia cari. Axton memainkan lidahnya di dalam mulut Sena. "Hmmmppppf"Aku tidak bisa bernafas.
Sena pun mendorong badan Axton dengan kuat. Ia pun melepas dekapan Axton dan langsung berdiri. Nafas Sena naik turun. Matanya berair. "Aku tidak sangka perbuatanmu terhadapku Axton!!AKU BENCI KAMU!!"
Sena pun pergi begitu saja, tanpa ia sadari wajah pria itu memerah dan bergumam.
__ADS_1
"Astaga, apa yang sudah kau lakukan Axton" ujar Axton. "ini ciuman pertamanya" Dia pun mengusap wajahnya dengan tangannya.