Nikah Kontrak 365 Hari

Nikah Kontrak 365 Hari
Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Denise dan Sena tiba di klub NorthWing pukul 19.40. Denise terlihat anggun dengan gaun hitam round neck berbahan jacquard foil yang dipenuhi glitter, sedangkan Sena menggunakan gaun short sleeve hitam dengan tulle di bagian roknya. Mereka menaiki tangga menuju pintu klub dan memperlihatkan undangan ulangtahun Michelle ke penjaga klub.


Dari luar ruangan sudah terdengar volume musik yang begitu kerasnya. Tampak sekumpulan orang orang memadati pintu NorthWing, menunggu giliran untuk memasuki ruangan. Sena berjalan di belakang Denise. Di sela sela kerumunan manusia yang mereka lalui tercium berbagai aroma parfum yang berbeda. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah meja dengan kursi yang masih kosong. Kedatangan mereka disambut Michelle Si Ratu Pesta.


"Hi, Sena! Denise! Thankyou atas kehadirannya ya!" kata Michelle yang sedang melambaikan tangannya dengan wajah riang gembira dan memeluk mereka. Dia memakai gaun lace putih dan kelap kelip penuh glitter pada bagian rok mini dan sepatunya, begitu pula dengan make upnya dipenuhi dengan shading full glitter berkilauan memperlihatkan bahwa dialah ratu di acara ini.


Michelle terlihat semakin cantik dengan dandanan glamour seperti ini. Dia tidak terlihat seperti gadis yang sedang merayakan ulangtahun sweet seventeen. Dengan riasan eyeliner yang intens, eyeshadow yang dark, dan komposisi warna yang ekstrem menonjolkan make up party look sehingga dandanan ini memang cocok untuk Michelle. Dia lebih terlihat seperti gadis dewasa berusia dua puluh lima tahunan.


"Oh Hi, Michelle! Happy birthday to my irreplaceable best friend! Kamu juga terlihat sangat cantik malam ini" ucap Sena tersenyum sambil mengecupkan bibirnya ke pipi Michelle. Sena membawa sebuah kotak hadiah mungil berwarna pink dan memberikannya kepada Michelle. "What a wonderful gift Sena! Thank you dear! Selamat menikmati acara y!" ujar Michelle tersenyum sambil berjalan menyapa tamu undangan lainnya.


Alunan electronic dance music bergema mengisi seluruh ruangan dan membuat tamu undangan beranjak ke lantai dansa. Mereka semakin tenggelam dalam alunan musik ketika ritme terdengar semakin padat dan tempo yang lebih cepat. Pengunjung klub NorthWing bersorak sorai ketika Disc Jockey memutar lagu dengan deep genre populer. Sena dan Denise terhanyut dalam gelombang manusia yang sedang berdansa. Mereka melompat sambil tertawa dan berdansa menyesuaikan irama lagu saat itu. Gairah muda mereka pun begitu membara.


Ketika Denise menghilang dari pandangan Sena, dia berjalan menuju mejanya. Dengan penuh kesulitan dia menyusuri padatnya pengunjung saat itu. 'ternyata tamu undangan Michelle banyak sekali, aku tidak kenal siapa mereka, Denise juga menghilang, sebaiknya aku duduk saja dan menikmati suasana, tempat ini mulai sesak' pikirnya.


Sena kembali menuju mejanya. Tiga orang teman Sena menghampiri dia dan duduk di sebelah Sena, yaitu Myla, Clara dan Lois. Mereka menawarkan Sena segelas cocktail sembari mengobrol dan menikmati suasana. "Sena, dimana Denise?" tanya Clara.


"Entahlah, sepertinya dia sudah berdansa sampai ke Hawai dan lupa jalan pulang" jawab Sena tertawa. "Bagaimana jika kita bersulang untuk Michelle di hari ulang tahunnya ini" ujar Lois.


"Sukses untuk kita semua, dan semoga tahun depan kita dapat masuk ke university yang kita inginkan" ujar Myla sambil mengangkat gelasnya bersama sama.

__ADS_1


Sena mengangkat gelasnya, bersulang dan membenturkan gelasnya dengan yang lainnya lalu meneguk cairan berwarna pink di depannya. "Cheers, raising our glass before drinking!" ujar Sena tersenyum.


...--------------------------------------------------...


Tak Terasa Sena sudah meneguk gelas ke empat di hadapannya. Kepalanya mulai pusing dan matanya terasa berat. Sekarang dia menghadapi rasa mengantuk yang luar biasa. Myla dan Clara masih mengobrol dengan Sena mulai dari berbagai topik kalangan muda dan style terkini. Hingga seorang waitress menghampiri mereka dan menawarkan gin tonic cocktail dengan seiris kulit jeruk dan berry di dalamnya.


Lois mengangkat telunjuknya dan mengambil gelas yang berada di tangan waitress. Dengan cekatan Lois memberikan gelas tersebut ke masing masing temannya. "teman-temanku, mari kita coba berry gin cocktail ini, sulangan terakhir di malam ini" ucap Lois tertawa.


Clara dan Sena menolak ajakan Lois. "enough Lois, aku sudah tidak sanggup minum cocktail lagi, kepalaku pusing" ujar Sena.


"ayolah, kita terima saja ajakan Lois, setelah ini kita bisa berdansa lagi dan pulang" jawab Myla.


"hei, bukankah itu campuran mix martini? alkohol di atas 35%! jangan cari masalah Lois!" ucap Clara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ke empat gadis itu pun memulai permainan di meja mereka. 1 round, 2 round, 3 round terlampaui hingga tiba giliran Sena yang harus menghabiskan berry gin tonic tersebut. Sena mengambil gelas di hadapannya dengan terpaksa, meneguknya dan mulai menyerah.


Beberapa menit kemudian, kepala Sena terasa lebih pusing daripada sebelumnya, isi perutnya pun campur aduk, sehingga perasaan mual melanda. Jemari Sena berkali kali menyentuh kepalanya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menuju toilet. Sena bangkit dan berdiri dari tempat duduknya. "gals, sepertinya aku harus ke toilet sebentar" ujarnya. Badannya agak limbung, sehingga Clara menawarkan diri untuk membantunya.


"Sen, apakah perlu bantuan? maukah kutemani sampai toilet?" ujar Clara. Sena menolak "terima kasih Clara, tapi aku masih baik baik saja, aku bisa sendiri" ujar Sena tersenyum.

__ADS_1


Sena berjalan menuju ke toilet yang berada di ujung lorong. Kepalanya bertambah pusing dari sebelumnya. Dia melihat beberapa orang berdiri di pinggir lorong, sementara suara musik semakin menggema dan sorak sorai audience semakin riuh. "kenapa pintu toilet ini sangat jauh dan harus berada di ujung lorong?" gumam Sena. Dia mulai berjalan perlahan, tangannya meraba dinding lorong di sekitarnya.


Sena melihat seorang lelaki yang pagi tadi membuatnya terjatuh di tangga sekolah. Lelaki itu baru keluar dari pintu toilet pria. Lelaki itu mengenakan kemeja berwarna biru navy dan dipadukan dengan celana slim cut dan sepatu sneaker berwarna putih. Sena memicingkan matanya dan berusaha mengingat namanya. 'Siapa ya namanya? bukankah Sellyna menyebut namanya 'Axton'?' batinnya.


Saat lelaki itu berjalan menuju ke arah Sena, Sena menghampiri dan memegang lengannya. "Hey, kamu A-axton kan?" ucap Sena. Lelaki itu pun menoleh dan melirik Sena. "Ya, tapi aku tidak tahu kamu siapa?" jawab lelaki itu sinis.


"Hey, Axton, ada masalah yang perlu kita selesaikan! Pagi tadi kamu mendorong dan membuatku terjatuh di tangga sekolah, apakah kamu ingat?!" ujar Sena dengan mata gusar. Aroma alkohol masih tercium dari mulut Sena.


"*A*ku ingat, perempuan dengan tali sepatu yang tidak diikat kan? btw, aku tidak pernah mendorongmu, bukankah kamu terjatuh karena tali sepatumu yang terlepas? siapa namamu tadi?" ujar Axton.


"Namaku Sena! ingat ya namaku S-E-N-A! aku terjatuh bukan karena tali sepatu! tetapi karena kamu yang sudah mendorongku! aku kesal karena kamu juga yang membuang permen karet dari jendela kan?! permen karet itu jatuh di rambutku tahu?!" teriak Sena kesal.


Kepalanya semakin berputar dan pusing. Sena menarik kerah baju Axton dan mendekat, aroma cocktail dan alkohol tercium dari mulut Sena. "Seharusnya Kamu tahu Axton bahwa kamu sangat menyebalkan! kamu sudah membuat hariku begitu buruk hari ini! Bad Day!" teriak Sena semakin kesal.


Axton meraih kedua tangan Sena, dan berusaha melepas cengkeraman tangan Sena di kerahnya, tetapi tidak terlepas. Sena tidak mau melepas kerah kemeja Axton, dia malah semakin mendekati wajah Axton. "Kamu juga sudah menyakiti perasaan adikku Sellyna!" ujar Sena.


Axton melirik mata gadis itu. Wajah mereka begitu dekat. Walaupun gadis di hadapannya begitu mungil, tetapi gadis ini memiliki keberanian untuk melabraknya. Axton kaget melihat gadis di hadapannya sedang mengomel dan memarahi axton. Perkataan gadis itu tidak begitu jelas dengan intonasi sedikit bergumam. Axton paham sepertinya gadis ini sedikit mabuk.


"Maaf jika sudah membuat harimu tidak menyenangkan. Aku tidak ada maksud untuk melukai bahkan tidak sengaja telah membuatmu jatuh dari tangga. Mungkin karena aku terlalu terburu-buru. Dan yang terpenting, aku tidak berniat untuk menyakiti perasaan adikmu. Aku tidak ..." Axton belum menyelesaikan ucapannya ketika gadis di hadapannya menutup mulutnya dan ingin memuntahkan isi perutnya ke wajah Axton meskipun masih tertahan. Axton terkejut. Mata Axton terbelalak melihat tingkah Sena, dia berusaha menghindari gadis itu. "Hey, kamu mabuk y, jangan sampai kamu muntah di pakaianku" ujar Axton.

__ADS_1


Sekarang wajah sena berubah menjadi pucat, jari jemarinya memegang pelipis dahinya yang pucat. Matanya terpejam dan tubuhnya lunglai. Dia merasa pusing yang teramat sangat. Bahkan Sena tidak mendengar Axton sedang memanggil namanya. Gadis itu pingsan dan Sena terjatuh dalam pelukan Axton.


'Semuanya gelap..' batin Sena.


__ADS_2