
Sena dan Denise masuk ke dalam sebuah butik berlian terkenal. Mereka disambut oleh seorang pelayan toko dengan sapaan dan senyuman hangat di wajahnya.
"Selamat datang Nona Sena..Mari saya antar ke ruang VIP"
Seorang wanita paruh baya bernama Laura mengarahkan jalan kepada mereka untuk menuju ke ruang VIP.
Mereka berjalan mengikuti Laura ke dalam ruangan bermarmer putih yang dikelilingi oleh cermin di setiap dindingnya.
"Lama tidak berjumpa dengan Nona Sena, silahkan duduk Nona"
Sebuah senyuman hangat terpancar dari wajah Laura. Sena adalah tamu istimewa di butik diamond mereka.
Bagaimana tidak, Sena adalah puteri pemilik butik Berlian yang terkenal di kota itu. Bahkan bisnis berlian mereka memiliki cabang di berbagai negara. Salah satu butik yang dia kunjungi saat ini adalah milik ibunya.
Tentu saja Sena diperlakukan dengan spesial. Tanpa menunggu lama, secangkir minuman hangat disajikan untuk mereka berdua.
"Ah, terima kasih Laura, minuman cokelat hangat ini enak sekali"
Sena tersenyum gembira karena minuman kesukaannya berada dihadapannya. Sena menyeruput segelas minuman cokelat dengan topping bubuk hazelnut yang disajikan Laura.
Manis dan hangat.
Sebuah sofa besar berwarna ungu menjadi tempat mereka bersandar. Hanya ada 6 tamu VIP saat itu.
Sena melirik tamu VIP lainnya yang sedang berada di ruangan yang sama. Mereka sedang asyik memilih berlian dengan berbagai model dan carat.
Tidak jauh dari sofa Sena, terlihat seorang ibu-ibu muda dengan puterinya sedang memilih anting berlian. Wanita yang sangat anggun dan berkelas.
"Ada yang bisa saya bantu Nona Sena?"
Sena yang sedari tadi memperhatikan Ibu-ibu muda tersebut, mengalihkan pandangannya ke arah Laura.
"Oh, ya..Saya sedang mencari Liontin berlian untuk ibu saya, saya pikir liontin berbentuk round classic akan cocok untuknya.."
Laura memperlihatkan berbagai pilihan berlian di hadapan mereka, mulai dari bentuk baguette hingga bentuk pear dengan berbagai carat. Sangat indah.
Laura pun mengeluarkan kalung berlian dan perhiasan liontin lainnya dari box penyimpanan yang terpasang di etalase.
Mata Sena dan Denise tertuju pada kilauan berlian yang bersinar. Ada kebimbangan dalam memilih berlian kesukaan ibu Sena.
__ADS_1
Sena tahu, ibunya memiliki koleksi berlian dengan berbagai tipe, karat dan model di rumahnya.
Pada akhirnya, Sena pun menjatuhkan pilihan liontin untuk ibunya.
"Sebentar lagi ibuku akan pulang dari luar negeri, aku ingin memberi kejutan liontin ini untuknya, kuharap kau tidak memberitahu ibuku Laura, kau harus merahasiakannya, ok?"
Sena mengerlingkan matanya kepada Laura. Senyuman manis Sena pun dibalas dengan anggukan oleh Laura.
"Tentu saja Nona"
"Sangat indah liontin pilihanmu anak manis."
Tiba-tiba terdengar suara ibu-ibu yang sedari tadi memperhatikan liontin pilihan Sena, ia mendekati Sena dan memberikan komentar tentang kalung berlian pilihan Sena.
Wanita tersebut berdiri di sebelah Sena dan melihat liontin yang dipajang di etalase. Sena pun tertegun.
Seorang pelanggan VIP berusia hampir 50 tahunan, bersama putrinya yang memiliki mata brown eyes indah seindah ibunya.
Tetapi wajah dan penampilannya tidak memperlihatkan usia yang tua. Kulitnya masih kencang dan mulus, anggun dan berkelas. Ia pun memberikan pujiannya kepada Sena.
Sena tidak tahu bahwa wanita tersebut sudah berdiri di sampingnya sedari tadi dan tersenyum kepadanya. Memperhatikan pilihan berlian milik Sena.
"Terima kasih, sebenarnya ini pilihan sulit karena saya tidak tahu model kalung kesukaannya" Sontak Sena membalas senyuman ibu itu.
...****************...
Sena dan Denise baru saja keluar dari butik berlian. Walaupun butik berlian tersebut adalah milik ibunya, tetapi ia tetap membayar transaksi liontin tersebut menggunakan uang tabungannya. Ia tidak ingin memanfaatkan privilegenya sebagai anak dari pengusaha berlian, meskipun ia membeli dari butiknya sendiri. Dan tentu saja dia tidak ingin ibunya tahu bahwa saat ini ia baru saja berkunjung ke butik berlian milik ibunya tersebut.
Denise pun mengajak Sena untuk melakukan hair treatment di salon kecantikan terbaik saat ini. Saat sedang berjalan menuju lift, Sena melihat ibu ibu dan putrinya yang ia temui di butik berlian tadi sedang berjalan menuju pintu exit mall. Ibu Ibu tersebut tidak menyadari bahwa kalung berlian miliknya terjatuh. Sena pun kaget dan berlari menuju sesuatu yang berkilau tersebut.
"Sen, apa yang kau lakukan?" teriak Denise dengan rasa penasaran terhadap sahabatnya. Sena lalu berlari dan memperlihatkan sesuatu kepadanya.
"Lihatlah apa yang aku temukan Denise!" genggaman tangannya terbuka dan memperlihatkan sebuah kalung berlian yang bukan miliknya kepada Denise.
"Kalung ini milik Ibu-ibu yang kita temui di butik berlian tadi. Aku harus mengejarnya Denise sebelum dia pergi." Tanpa pikir panjang, Sena pun berlari mencari Ibu dan anak yang sudah menghilang dari pandangannya. "Denise, tunggu di sini, ok!"
Bukankah mereka tadi berjalan ke arah pintu exit Mall dan pintu itu menuju parkiran? Semoga saja aku bisa bertemu dengan pemilik kalung ini. Sena berlari menuju parkiran dan mengelilingi deretan mobil yang terpampang di sekitarnya. Mencari ibu-ibu anggun yang ia temui tadi. Tanpa ia sadari peluhnya bercucuran dari wajahnya.
Sena hampir saja menyerah, ketika dari kejauhan ia melihat ibu-ibu itu akan memasuki mobilnya. "Ketemu!"
__ADS_1
Ia berteriak dan melambai lambaikan tangannya tetapi usahanya percuma. Ibunya sudah masuk ke dalam mobilnya, sementara sopirnya sudah menyalakan mobil. Sena pun berlari kencang mendekati mobil tersebut.
Hampir saja mobil ibu tersebut menabrak Sena. "STOP! PLEASE STOP!" Sena berteriak dan menghentikan mobilnya dengan nafas tersengal sengal.
Jendela mobil pun terbuka dan muncul wajah seorang gadis di balik jendela tersebut. "Ada apa?" ujarnya.
"P-permisi nyonya! Nyonya tadi menjatuhkan kalung berlian yang baru anda beli dan saya menemukannya terjatuh di lantai" ujar Sena yang masih menjelaskan ucapannya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Oh, kau kan kakak yang membeli liontin tadi kan?" ujarnya sambil menoleh kepada ibunya.
"Iya benar"
Kemudian pintu mobil pun terbuka. Gadis tadi dan ibunya turun dari mobil mendekati Sena.
"Oh, Astagaa... Aku menjatuhkan kalungnya" Ibu tersebut meraba raba lehernya.
"Iya Nyonya, ini kalungnya Nyonya" Sena pun menyerahkan kalung berlian milik wanita tersebut.
"Terima kasih gadis cantik, terima kasih atas kebaikanmu" ujar wanita tersebut bahagia karena kalungnya telah ia terima. "Siapa namamu nona manis?"
"Nama saya Sena Nyonya" jawab Sena.
"Aku ingin membalas kebaikanmu. Sebagai ungkapan terima kasihku atas pertolonganmu, maukah kau ikut ke rumahku Nona Sena?"
"Tidak perlu Nyonya, dengan senang hati saya menolong anda. Mohon M-maaf saya tidak bisa memenuhi keinginan Nyonya, karena malam ini saya sudah ada janji sebelumnya Nyonya" jawab Sena.
"Kebetulan minggu depan akan ada acara jamuan keluarga di rumahku, kuharap kau bisa hadir Nona Sena" Nyonya tersebut memberikan kartu namanya kepada Sena beserta alamat dan nomor telephonenya.
J. Eleanor Halton.
"Baik Mrs. Eleanor" Sena mengangguk dan menyimpan kartu nama pemberian Nyonya Elenor.
"Panggil saja aku Mrs. Ellie" jawabnya. "Oh ya dan ini anak perempuanku Alexa" ujarnya.
"Hai kak Sena, aku Alexa. Senang berkenalan dengan kak Sena." Gadis paruh baya itu pun terlihat ramah seperti ibunya.
"Nice to meet you too Alexa" ujar Sena.
__ADS_1