
Di akhir sesi meeting yang berada di lantai 27 Golden Tower, seorang wanita berusia hampir lima puluh tahun mendapat pesan suara dari seseorang. Wanita dengan gaya fashion trendy dan kekinian itu terlihat anggun menggunakan blouse kantor berwarna putih elegan dengan gaya rambut pendek wedge bobnya. Tampilan ini memperlihatkan kesan glamour. Setiap orang yang melihatnya dapat memastikan bahwa dia adalah CEO dari perusahaan diamond itu.
Wanita tersebut adalah Mrs. Verlyn Ruby Delwyn, ibu dari Aksena Amethysia Delwyn dan Sellyna Emeraldine Delwyn. Kedua putri cantik Mrs Verlyn memiliki arti nama seperti permata dan berlian, sesuai dengan kegemarannya yang menyukai perhiasan logam mulia dan permata. Mrs. Verlyn memiliki karakter seorang ibu yang penyayang terhadap anak anaknya tetapi ia juga terkenal sebagai wanita yang cerdas, tegas dan disiplin bagi karyawannya.
Ia mendengarkan pesan suara dari seseorang di smartphonenya dan kembali menghubunginya. "Selamat sore Ibu,.. Apa kabar?"
"Halo, Verlyn, kabar Ibu baik, bagaimana kabarmu? Apakah kau masih di Tokyo? Bagaimana kabar putraku Delwyn?"
"Kabar saya dan Delwyn baik Bu, saya masih di Tokyo, pertengahan bulan depan saya akan kembali. Delwyn masih di Mesir hingga bulan depan Ibu"
"Baiklah, sebenarnya ada hal penting yang harus ibu bicarakan dengan kalian. Aku dan Tuan Adney Delwyn akan menunggu saat kalian datang. Bagaimana kabar cucu cucu cantikku Ver? Kenapa mereka tidak pernah menghubungi oma dan opanya?
Apakah mereka tahu kami merindukannya? sebagai anak menantu harusnya kau rutin membawa mereka berkunjung ke tempat kami, kau kan tahu usia kami sudah tidak muda, tenaga kami juga tidak seperti dulu jika harus bepergian, karena kami sudah mempercayakan semua aset ke anak kami Eric Delwyn dan cucu cucu kami nantinya"
"Oh, mohon maaf ya Ibu, saat liburan pasti kami akan berkunjung ke tempat Ibu dan Bapak, kabar mereka baik dan semakin cantik Bu, sebenarnya ada hal apa Bu? Jika ada hal penting yang harus dibicarakan, katakan saja"
"Begini Ver.. sebenarnya tidak pantas jika aku katakan sekarang. Aku dan Papa Delwyn akan menjodohkan cucu kami dengan keluarga Jourell, sebenarnya perjanjian perjodohan ini kami sepakati saat Delwyn akan menikah dulu, tetapi keluarga Jourell kan hanya memiliki satu orang putra. Sedangkan kami hanya memiliki seorang putra kan, dan kami rasa perjodohan ini akan mempererat persahabatan keluarga Delwyn dan Jourell"
"Kau tahu kan siapa keluarga Jourell, mereka dari keluarga terpandang dan memiliki banyak aset bisnis, penyatuan ini akan mempererat persahabatan kami serta membuat saham antara Delwyn dan Jourell juga akan meningkat nantinya. Sebenarnya perjodohan ini adalah perjanjian yang dulu pernah diutarakan oleh Tuan Jourell, kuharap kau mengerti ya Ver"
"M-maksudnya?? kalian mau menjodohkan salah satu anakku? Apakah ibu lupa usia mereka masih sangat belia" ucap Mrs. Verlyn dengan alis berkerut.
__ADS_1
"Ya, kemarin saat reuni, keluarga Jourell membicarakan perjodohan dengan kami, mereka memiliki cucu yang tampan, sedangkan aku memiliki cucu cucu yang cantik, lagipula ini kan masih sekedar perjodohan ver, belum pernikahannya, pernikahannya bisa dilaksanakan jika cucu cucuku yang cantik sudah beranjak usia matang dan lulus studi serta berkarir nantinya"
"Sepertinya hal ini akan saya diskusikan dengan Delwyn ya Ibu, T-tapi kan mereka masih sangat muda, sepertinya belum pantas jika saat ini kita sudah membahas perjodohan mereka Bu"
"Ah, kau tidak perlu khawatir, kami yang akan mengaturnya dengan baik, mari kita tentukan jadwal pertemuan dengan cucu cucuku, kami saaangat menantikannya, baiklah sampai jumpa menantuku tersayang, jaga dirimu baik baik di sana.. hahaha.." (suara sambungan telephone terputus).
Perbincangan antara Ibu mertua dan menantu pun selesai. Saluran telephone mereka sudah tidak terhubung lagi. Betapa kagetnya ia mendengar perbincangan ibu mertuanya tadi, rasa shock muncul di hati dan pikirannya. Mrs. Verlyn meletakkan ponselnya dan memegang kepalanya dengan jemarinya. Perlahan lahan ia memijat dahinya dengan jemarinya yang lentik.
Hatinya disambut oleh rasa kecemasan yang sedang bergejolak. Kerutan di alis dan raut wajahnya menyiratkan tanda tidak setuju terhadap perjodohan ini. Perasaan seorang Ibu yang gundah mendengar anaknya akan dijodohkan oleh ibu dan bapak mertuanya.
Tidak pernah terbesit bahwa dia akan menjodohkan anaknya dengan orang lain. "Tidak, ini tidak boleh terjadi.. Mereka adalah putri kesayanganku, aku akan menentang perjodohan anakku dengan orang lain, aku tidak ingin kebahagiaan mereka direnggut"
Dia gelengkan kepalanya, dan berusaha berpikir jernih, perasaan emosional mulai muncul. "Aku harus menghubungi suamiku".
Di sebuah acara makan malam, keluarga Jourell yang terdiri dari sepasang lansia dan satu pasangan muda, serta 3 orang pemuda dan 1 orang remaja perempuan, sedang bercengkerama dan menikmati makan malam mereka di ruang makan. Saat pelayan menyajikan makanan penutup manis dengan topping caramel, seorang pria tua dengan rambut memutih memulai pembicaraan tentang perjodohan.
"Baru baru ini saya menghadiri acara reuni alumni universitas dan menemui seorang sahabat setelah 21 tahun tidak bertemu. Dia adalah Adney Delwyn, sahabat 1 kamar di asrama, kami teringat akan janji kami dahulu, untuk menjodohkan anak anak kami, apakah kalian pernah mendengar nama Adney?" Pria tua tersebut tersenyum dengan raut wajah yang penuh kerutan. Semua orang di meja makan tersebut meliriknya dan terdiam.
"Maksud papa bagaimana? Apakah papa akan menjodohkan cucu cucu papa ini? Bukankah keluarga Delwyn adalah pengusaha tambang ya, bisnis propertinya juga dimana mana" ujar Tuan Halton Jourell kepada ayahnya, Tuan Harrison Jourell.
Tampak 3 orang pemuda dan seorang gadis di hadapannya saling bertatap tatapan. Mereka terdiam dan berhenti menikmati dessert di hadapannya.
__ADS_1
"Ya, aku akan menjodohkan salah satu cucuku yang gagah dan tampan ini kecuali kamu Alexa, mereka memiliki cucu cucu yang cantik dan pintar" ujarnya serius sambil melirik cucu cucunya.
"Tidak mungkin aku kan, karena aku sudah menikah dan mendapatkan pujaan hati hahaha" ujar anak laki laki tertua mereka, Frey Jourell.
"Tentu saja bukan aku Grandpa, aku kan wanita dan masih sangat muda, belum mengerti tentang pernikahan hihihi" ujar anak bungsu mereka, Alexa Jourell.
"Tentu saja bukan, kandidat terbesar adalah cucu kedua dan ketigaku kan, bagaimana Carv? Apakah kau setuju Carver? kau kan sangat pintar dan sangat tampan, serta lebih dewasa, tidak mungkin Carly adikmu kan?" ujar Tuan Harrison kepada cucu laki lakinya yang tampan, Carver Jourell.
"Tidak, saya tidak setuju. Perjalananku untuk membangun bisnis dan karir masih sangat panjang, kenapa harus melaksanakan perjodohan dengan orang yang tidak saya kenal?" ujarnya sambil memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Pa, sekarang sudah bukan jamannya lagi perjodohan. Biarkanlah mereka yang menentukan pasangannya seperti Frey dahulu." ujar Tuan Halton.
"Aku akan menyerahkan 50 persen aset asetku untuk dikelola kepada cucuku Carver kelak, jika ia bersedia menikah dengan cucu dari sahabatku Delwyn. Apakah kau akan menolak permintaanku? Kau adalah cucuku yang smart Carver, dan kuharap kau tidak menolak keinginanku" ujar Tuan Harrison bersikeras dengan tatapannya yang tajam dan serius, ucapannya membuat semua yang mendengarnya terkejut. Aset Tuan Harrison Jourell bukan main banyaknya, dia memiliki banyak bisnis di bidang properti, pertambangan dan perkapalan. Sedangkan dia bersedia menyerahkan aset 50 persen hartanya jika cucunya mau memenuhi keinginannya untuk dijodohkan dengan cucu keluarga Delwyn.
"Tapi ia masih sekolah papa" Tuan Halton membela anaknya Carver.
"Pernikahan akan dilangsungkan jika mereka sudah selesai studi dan berkarir nantinya, dalam waktu dekat akan kuatur jadwal pertemuannya, karena perjodohan ini adalah keinginanku" ujar Tuan Harrison.
Carver beranjak dari mejanya dan berjalan meninggalkan keluarganya.
"Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir Carv, secepatnya aku akan menyatukan keluarga Jourell dan Delwyn, sudah waktunya aku memberikan asetku kepada pewarisku" ujar Tuan Harrison.
__ADS_1
"Ayah, bukankah itu terlalu berlebihan? biarkanlah ia menentukan pasangannya. Perjalananan putraku masih panjang ayah" ujar Tuan Halton sambil melirik istrinya di hadapannya. Sementara istri Tuan Halton berusaha tenang dan tegar. Ia tidak bisa menolak keinginan ayah mertuanya saat ini.