
Di dalam Villa yang sunyi, Ray duduk diam dalam ketenangan, jika orang lihat dia hanya bermeditasi diam, akan tetapi di dalam tubuhnya dia sedang melakukan pembuatan lautan kesadaran.
Lautan kesadaran berfungsi menyimpan mana dalam tubuh dan juga mengukur kekuatan seseorang, semakin besar lautan kesadaran juga semakin besar mana yang bisa di simpan.
Dalam keheningan Villa tiba tiba suara retakan terdengar dari dalam tubuh Ray.
"Krakkk"
Ray sontak membuka mata dan memegang kepalanya dengan kesakitan, hidung nya juga mengeluarkan darah.
"Pembuatan lautan kesadaran berhasil, tapi ini menimbulkan sakit yang sesuai dalam deskripsi buku" Gumam Ray sambil menahan sakit.
Dia berlahan berjalan ke tempat tidurnya dan berbaring.
Ray,"Ahh...sakit sekali"
[ Dasar lemah, Dasar payah ]
Ray,"Diam kau Kucing garong"
[ Siapa yang kamu bilang kucing garong, aku bisa memakan kamu tanpa mengunyah bodoh ]
Ray," Aww... diam Bangs*t, aku kesakitan saat kau berbicara di dalam"
[ Hehe... itu resiko karena kamu lemah ]
Ray mengabaikan Cindaku yang mengomel di pikiranya, pada akhirnya Cindaku juga diam dan membiarkan Ray beristirahat.
...
Pagi hari, Villa Ray di penuhi peti peti di depan pintu yang di antar oleh tentara kerajaan. Ray melihat dan mendapati itu berisi makanan dan pakaian.
"Setidaknya dia tidak lupa bahwa aku bisa makan" Ucap Ray.
Ray sibuk hari itu memindahkan barang barang, setelah semua selesai Ray tidak lupa makan, habis makan hari pun sudah siang bolong, Ray brangkat ke akademi.
Di perjalanan Ray juga membaca sebuah buku Berjudul Jalan awal penyihir, dia hanya berjalan sambil membaca dan menghiraukan orang sekitar.
"Sungguh aku tidak peduli dengan mereka" Pikir Ray.
Dalam buku itu berisi cara menjadi Mage dan belajar langkah tepat jalan Penyihir. Seorang Penyihir hanya perlu merapal Mantra, tapi tantangan tersulit adalah Mantra itu sendiri.
Jika seorang salah merapal mantra dan masih melepaskanya, itu akan menjadi serangan balik bagi pengguna.
"Tidak masalah dalam merapal Mantra, tapi ini juga merepotkan untuk membaca Mantra yang panjang dalam waktu singkat"
...
Ray sudah sampai di akademi, dia masuk ke sebuah bangunan paling dekat dengan gerbang dan juga paling ramai pengunjung. Saat Ray datang akan banyak tatapan hina orang orang, tapi tidak masalah bagi Ray
__ADS_1
"Sang UZUMAKI NARUTO pasti akan memikirkan perasaan orang lain di waktu kecil, tapi aku berbeda dan juga bukan berasal dari dunia ini" Gumam Ray
[ Memang dari mana kamu berasal? ]
Ray," kamu akan tau nanti"
[ Hmm... menarik ]
Ray datang kedepan seorang yang duduk di meja tunggu melewati antrian di depanya tanpa peduli.
"Heyy apa yang kamu lakukan, tolong antrilah di belakang" Kata yang mengantri paling depan.
Ray" Ohh...dengan siapa kamu berbicara?"
"Dengan ka...mmhh" sebelum kata katanya selesai, mulutnya di tutup oleh teman di belakangnya.
Berbisik"Dia masihlah pangeran, jangan biarkan emosi menguasaimu" Kata temanya.
Orang yang di depan tertegun dan mengangguk mengerti.
"Maaf...bukan sama kamu pangeran"Ucapnya pada Ray.
Ray mengangguk dan mendatangi conter depan.
"Pak, tolong tes mana aku dan beri ruang pelatihan pribadi" kata Ray pada lawan bicaranya
Orang itu mengerutkan kening, dan menatap Ray dengan aneh.
kata orang di konter.
"Tapi aku juga pangeran" Balas Ray.
"Maaf tapi itu tidak bisa" Ucap orang itu dengan lantang dan arogan.
Ray menatapnya dengan tajam, menatap dengan mata curiga.
Ray,"Baiklah cuman tes dan lakukan"
Orang itu mengangguk dan meminta Ray masuk ke sebuah ruangan, di dalam ada sebuah bola kaca sebesar kepala manusia di atas meja, Ray di suruh memegang bola di tengah.
"Pegang itu dan alurkan sedikit mana"
Ray maju dan melakukanya sesuai kata orang itu, setelah bola itu di pegang dan di aluri mana, bola itu bersinar dengan cahaya gelap di tengah dan dua warna lain mengelilinginya merah dan kuning.
"Elemen petir dan api dengan bakat kegelapan"
orang itu menjelaskan pada Ray, sikapnya acuh tak acuh
Ray," apa itu bakat gelap"
__ADS_1
Orang itu menatap Ray dengan malas, karna bakat Ray masuk dalam kategori biasa saja dia benar benar malas melayani Ray.
"Bakat yang lebih cepat menguasai teknik teknik kegelapan, anda di takdirkan menuju jalan kegelapan"Ucap orang itu dengan wajah datar
Ray"Lalu adakah bakat yang lain?"
"Tentu, ada bakat Cahaya berwarna emas artinya Hero, Merah gelap sang penghancur, Hijau tua pelindung Dan biru tua sang pemimpin. Tapi tenang, tidak semua bakat sesuai ramalan, itu hanya tebakan, dan selagi kamu bersama kami, tentu jalan gelap jauh dari jangkauan kamu" Ucapnya
Ray mengangguk mengerti. Ray pergi dari tempat itu dan berpindah ke perpustakaan dan melupakan sikap mereka. Ray hanya ingin mengambil buku dan mengembalikan dua buku yang dia pinjam.
Yang pertama Cara Membuka Lautan kesadaran dan yang ke dua Jalan Awal Penyihir, menggantinya dengan buku Rapalan Mantra Tinkat Rendah dan Alkemis Pemula.
[ Sepertinya kamu benar benar mau menjadi penyihir, apakah kamu tidak tau bahwa penyihir sangat lemah di awal.] Cindaku berbisik pada Ray
Ray,"Aku tidak hanya ingin menjadi penyihir"
[ Aahh keserakahan...apakah kamu ingin menjadi job ganda!!...itu sangat menyita waktu ]
Ray,"Jangan pedulikan, Cukup saksikan"
[ Hehe bocah tengik bertindak sok hebat ]
Ray,"Terserah kamu"
Ray bergegas pulang membawa buku buku itu, dia tidak punya urusan lagi di akademi yang suka bertindak rasis padanya.
"Jalanku di takdirkan sendirian,kesunyian akan menemani aku, lalu apa gunanya hubungan, hah cuman candaan...hahaha" Ray yang sudah menerima takdirnya membuat pernyataan pada diri sendiri.
[ Kamu tidak sendirian lagi Bocah, aku ada untuk menyaksikan jalan hidup kamu ] Bantah Cindaku.
Ray"Ya, aku mengijinkan kamu melihatnya"
[ Hehe...aku menantikanya ]
...
Di Villa, Ray memeletakan buku buku di depanya secara terbuka, setidaknya ada empat buku di depanya dan satu di tangan sedang di baca berjudul Ninjutsu terlarang Konoha.
"hmm jadi jutsu terlarang seribu bayangan memperlukan cakhra yang sangat banyak. tapi hanya ini yang cocok untuk percobaan jutsu dengan mana." Rai menutub buku dan berdiri dari tempatnya.
"Tahap penting dari jutsu adalah segel di awal, ini seperti ini kan" Ray mengubah tanganya menjadi segel seperti ninja di Naruto dengan gerakan lambat.
Ray membiasakanya sebentar dan terus mengulang sampai dia tidak salah dalam lankah segel.
"lalu alirkan mana sesuai edaran cakra dalam buku" Ray mengedarkan mana sesuai jalur dalam tubuhnya
Ray sekarang sudah mencapai lvl pemula tahap awal sejak dia membangun lautan mental kemarin, dan sudah bisa mengedarkan mana di dalam tubuhnya secara kasar.
Ray berdiri dengan menutup mata dan segel di tangan.
__ADS_1
" Jurus Seribu Bayangan..." Teriak Rey.
....