
Di dalam Villa, Asap putih mengepul di kamar Rey dan menutupi seluruh area. Hanya sesaat semua asap itu kembali hilang dan Ray yang berada di pusat asap mulai terbatuk batuk.
"Uhuk uhuk"
Ray menstabilkan kondisinya dan melihat hasil dari percobaanya. Dia mendapati ada seseorang yang berbaring di dekatnya dengan wajah yang mirip dengan Rey serta pakainya, tapi wajahnya begitu lesu tak bernyawa.
"Berhasil" Ray begitu senang dengan keberhasilanya, walau dia tau itu juga gagal dalam seri animenya.
"Itu berhasil, tandanya aku bisa menciptakan cakra aku sendiri dan teknik teknik kuat yang di beri System dapat aku pakai" Ray mengepal tinjunya dengan semangat.
Tiba tiba bayangan Ray yang lesu meledak menjadi asap putih dan menghilang. Keberhasilan Rey tentu mengejutkan Cindaku di dalam tubuh Ray.
[ Teknik apa itu, sebenarnya siapa kamu Bocah ]
Rey," Haha...jika aku katakan padamu, apakah kamu dapat di percaya dan mempercai?"
[ Hmm jika kamu seorang raja iblis mungkin aku tida mempercayaimu ] Dari perkataan Cindaku tiba tiba Ray merasa aura dingin Cindaku.
"Tenang saja, aku masih manusia namun bukan dari dunia ini, Raga aku sudah mati di dunia lain dan jiwa aku berpindah ke dunia ini. tubuh ini adalah milikku sejak lahir jadi jangan khawatir" Balas Rey saat dia duduk kembali di depan buku.
[ Baguslah kalau begitu ]
Ray kembali ke situasinya, dia memikirkan kekurangan dalam pelepasan teknik ninjutsu yang dia lepaskan tadi.
"Jutsu seribu bayangan sangat memakan banyak cakra dalam seri Naruto, tapi bagiku itu hanya sedikit memakan mana. Sepertinya aku dapat melakukanya beberapa kali lagi" Pikir Ray.
Ray kemudia memberesakn buku bukunya dan mencoba jutsu itu sekali lagi.
"Kagebunsin No Jutsu" Ray melakukan prosedurnya.
Ray yang hanya bisa memanggil satu orang sebelumnya sudah bisa menambah jumlahnya namun masih terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Apa yang salah?" Ray kembali berpikir.
Ray tidak mencoba lagi namun merenung dengan tenang.
"Hmm mungkin aku terlalu terburu buru, pengetahuan aku tentang dunia ninja dan disini terlalu dangkal"
Karna pengetahuanya yang kurang, Ray memutuskan belajar penuh di kamar tentang Chakra dan ninjutsu. dia tidak mencoba sedikit pun jutsu itu lagi sebelum dia benar benar berpengetahuan.
Tiga hari mengurung diri, Ray sudah membaca banyak sekali buku. mulai dari peredaran chakra, titik chakra, segel instan, pelatihan kontrol cakra, pelatihan suriken dll.
kecepatan membaca Ray memang hebat karna dulunya dia termasuk pengemar membaca. Semua buku yg dia baca mengacu pada pelatihan untuk peningkatan.
Saat Ray akan tidur karna lelah membaca, dia tiba tiba terkejut dengan seseorang duduk di jendela kamarnya.
Ray"Siapa"
Dia wapada langsung dari posisinya.
__ADS_1
"Hahaha... adikk, aku sangat merindukan kamu"
seorang pria muda tampan agak mirip Raytios tertawa di sana.
"Kakak...lama tidak bertemu" Ray agak cangung dengan situasi, faktanya dia dan kakak nya di sebut musuh untuk perebutan tahta pangeran mahkota. kami sering bertengkar diam diam untuk melepas kebencian satu sama lain.
"Raytios Jeger, aku tidak menyangka kamu akan di buang oleh ayah"
Ray terdiam mendengar itu.
" Apa kamu sakit hati mendengarnya!!" dia menyeringai.
Sans jeger merupakan anak kedua Raja, alias ayah Ray yang sangat dia benci karna telah membuangnya.
"Apa tujuan kamu kesini kakak" Teriak Rey
"Hmm jangan pikir kita masih saudara dasar mosnter. aku kesini ingin melihat sosok monster yang di kandang oleh ayah...hahaha" Ejekan Sans tidak berhenti sama sekali.
"Berhentilah bertindak seperti anak kecil" Ray muak dengan ocehanya dan melangkah keluar kamar.
" Apaa!!... kamu takut dan ingin lari?"
Ray berhenti dan berbalik untuk menatap lawan.
"Cukup, kita sudah bukan lagi saudara kan, jadi jangan memancing aku atau aku akan mengeluarkan monster ini keluar" Kata Ray dengan lantang.
"kita memang musuh, tapi aku tidak bisa membunuh kamu lagi, sayang sekali" dia mengelengkan kepalanya.
Lalu sans menghilang dari tempatnya di bawah sinar redup rembulan.
"Itu teknik assasin,stealth" Rey memandang kepergian Sans dengan mata penuh tatapan dendam.
Rey"Tapi aku bisa membunuhmu..."
...
Istana kerajaan, Dalam ruang tahta raja yang sedang mengadakan rapat hingga membuat ruang itu di jaga ketat. Ray datang ke istana dan masuk dengan sembrono.
"Ayahh...aku ada keperluan dengan kamu" Teriakan keras Rey mencapai ruang Rapat dan membuat kegaduhan.
Para mentri dan bangsawan yang mendengar itu terlihat jelek.
"Siapa itu" Balas salah satu mentri
Dengan nada marah para mentri, membuat raja juga berkerut kening dan menyuruh seseorang memberitahu dia siapa itu.
"Ray anak kamu yang mulia" Kata sang informan.
"Rrrraaayyy...." Kerut kening raja semakin jelas.
__ADS_1
Dia berdiri dan menyuruh seseroang untuk membawa Rey ke dalam. Ray masuk sesuai perintah dengan senyum indah di wajahnya.
"Ayaahh...aku kangen sama kamu" Pangil Ray dengan malas.
Raja,"Berhenti bertinkah Ray"
Ray"Maaf ayah...hehe"
"Apa alasan kamu kesini, kamu harus tau hahwa aku sedang melakukan rapat penting" Nada raja semakin tinggi pada Ray.
Ray mengatur nafas sebelum berbicara.
"Ayah, aku akan langsung ke intinya, aku sangat kekurangan uang di Villa, bahkan makanan itu tidak cukup bagiku, apakah tidak ada uang jajan untukku?"
"Kamu mengganggu kami hanya karna uang jajan?" Raja hampir pingsan.
"Yap" jawab Rey tanpa dosa.
Tindakan Rey sangat ekstreem, nyatanya jika itu adallah Ray yang dulu atau pangeran lain mungkin dia akan mati di tempat. Namun Ray termasuk senjata rahasia kerajaan yang penting sekarang.
Ayah Rey terkenal karena berhati kejam, jika anaknya berulah maka dia akan menghukumnya dengan kejam. namun berbeda dengan kakak pertamanya yang selalu dapat perhatian penuh.
"Rey...kamu tau apa yang kamu lakukan sangat mengganggu kepentingan kerajaan. plajurit, berikan dia pukulan 1000 cambukan, setelah itu beri dia seratus emas perbulan." Perintah raja dengan dingin.
Ray,"Tidak, jangan ayah"
"Lakukan" kata raja bertambah marah.
Berlahan para plajurit ber armor dan berpedang di pinggang mendekati Ray dan memegangnya dengan erat.
"Ohhh shhhhh**t mothe**r fu*ker...aku salah perhitungan" Ray menyesal karna sembrono, dia pikir dia akan aman dengan status wadah spiritnya.
Namun itu sudah berlalu, Ray sudah di cambuk cambuk di ruang rapat istana.
"owwhhh"
"ahhhkkk"
"Uhhhh"
"Awuuuu"
"Shyaahhh"
Ratapan demi ratapan Ray keluar dari mulutnya, Cambukan itu benar benar sakit dan morebek bajunya. punggungnya sudah tidak mulus lagi dengan bekas luka lama dan baru di punggung Ray seperti sudah sering di cambuk.
luka baru muncul satu persatu menutup luka lama, namun para mentri bukan terlihat ngeri, akan tetapi terlihat senang dan terhibur.
...
__ADS_1