
Hallo gaes...ini adalah S2 dari BENCI MENJADI CINTA, semoga banyak yang suka ya☺️😉
...💐READING BOOK 💐...
Disebuah daerah yang cukup terdalam di daerah China bagian Utara, lebih tepatnya Shanxi, tongkok bagian Utara.
Nama Shanxi (“Pegunungan Barat”—yakni, sebelah barat Pegunungan Taihang ) membuktikan medan terjal di wilayah tersebut. Kota terbesar dan ibu kota provinsi,Taiyuan , terletak di tengah provinsi.
Seorang gadis sedang melatih ilmu bela dirinya, terdapat samsak yang dijadikan lawan untuk semua pukulan dan tendangan.
Keringat sudah sangat membasahi seluruh wajahnya, wajahnya yang putih dan mata yang seperti elang, menambah kecantikannya yang terkuak keluar.
Srekk
Tiba-tiba sebuah pisau kecil nan tajam sudah tertancap tepat di dinding bambu, pisau itu awalnya mengarah padanya, namun karena ia memiliki insting yang begitu kuat membuat ia dengan mudah menghindar.
"Sungguh cucu ku yang hebat!" Ucap seseorang dengan suara serak khas orang tua.
Tepukan tangan terus di lakukan hingga pria tua itu menghampiri gadis itu dengan wajah yang tersenyum bagai malaikat. Gadis itu hanya dapat menghela nafas panjang untuk menetralkan rasa kesalnya sekaligus rasa lega karena pisau yang untungnya bisa langsung terhindar darinya.
"Bagaimana kau menyerang cucu mu kek seperti itu, kau bahkan mau mencelakai ku!" Ucap gadis itu mengerucut kan bibirnya.
"Oh benar kah, aku suka dengan itu bagaimana menurut mu!" Ucap nya tanpa dosa seakan itu adalah hal yang tidak salah.
Sang kakek tiba-tiba mengayunkan tangannya dengan cepat, terdapat sebuah pisau kecil ditangannya juga, untung saja gadis itu dapat menghindar, jika tidak mungkin sudah tamat riwayatnya.
__ADS_1
"Insting yang bagus, bagaimana dengan latihan mu?" Tanyanya yang sangat antusias.
"Cukup meningkat, bagaimana menurut mu kek jika aku menerima sebagai penjaga bayangan orang besar itu?" Tanya nya dengan ragu, bagaimana pun misi itu sangat berbahaya dan itu begitu mempertaruhkan nyawa.
"Aku akan melepaskan mu jika kau melawan 10 senior mu tanpa terjatuh sedikit pun!" Ucap sang kakek dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu.
Gadis itu diam, ia semakin ambisi jika ditantang seperti ini. Semangat untuk berlatih nya semakin besar dan sangat ingin terus berlatih hingga ia bisa mengenal dunia lebih luas.
Dia bernama Zhang Zhi Xiang, gadis yang berusia 23 tahun dengan mata hijau hanzel nya. Ia adalah gadis yang dulu koma akibat kecelakaan dan mengalami amnesia selamanya yang otomatis tak akan mengenang masa lalu lagi.
Namu yang dulu bersama yaitu Berlin Aisyah Yudha, kini hilang berganti menjadi nama penduduk disana. Marga Zhang diberikan oleh kakek pengajar di perguruan nya, karena ia dianggap sebagai cucu nya sendiri dan ia mendapatkan keistimewaan sebagai cucu angkat seorang pemilik perguruan ini.
"Bagaimana dengan latihan mu nak?" Tanya seorang pria setengah abad yang baru saja datang dengan membawa bakul pemetik tanaman obat.
"Baik ayah, apa kamu kembali lagi memetik tanaman obat, bukan kah daerah itu begitu terjal ayah!" Ucap Zhi Xiang dengan raut wajah cemas.
"Haiss...kau sudah tua ayah, seharusnya kau hanya duduk dirumah menikmati teh penenang!" Ujar Zhi Xiang dengan wajah kesalnya.
"Kau sama seperti ibu mu saja, tapi...!" Ucapan Yudha terpotong kali ini, kesedihan kembali menimpa dirinya.
Ya Tami meninggal setelah 2 tahun saat Berlin sadar dari koma nya, Tami menahan semua penyakitnya karena beralasan takut ia malah menambah beban untuk suaminya, hingga kini rasa penyesalan Yudha masih begitu besar karena tidak mengetahui semuanya dari awal.
"Sudah ayah, ini sudah hampir 3 tahun dan kamu masih begitu sedih, jangan membuat mommy menjadi sedih disana!" Ucap Zhi Xiang lembut, bahkan sekarang ia berusaha menahan air matanya, sudah cukup untuk 2 tahun ia berduka.
"Maafkan ayah nak, bagaimana kalo kita jalan-jalan ke pasar untuk menjual beberapa tanaman obat yang ayah cari!" Ucap Yudha yang mengalihkan pembicaraan yang jika terus di manut mungkin akan menjadi kesedihan yang kembali tergores.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku mandi dulu ayah. Aku siap latihan dan tubuh ini mengeluarkan aroma yang tak sedap!" Ucap Zhi Xiang DNA hanya diangguki oleh Yudha.
Zhi Xiang tersenyum tipis, hanya itu yang dapat ia lakukan untuk menutupi kesedihan yang ia rasakan saat ini. Yudha menatap punggung ramping anaknya itu, ia menghela nafas berat untuk menetralkan perasaan nya yang cukup kacau karena mengenang almarhum istrinya.
...----------------...
Kini di pasar besar Shanxi, terdapat begitu banyak warga yang berlalu lalang di dalam pasar, suara-suara teriakan mempromosikan barang yang di jual mereka terdengar secara bersamaan dan berlomba-lomba.
Zhi Xiang telah siap dengan baju laki-laki nya dan rambut yang diikat lurus di belakang, di daerah ini tidak ada yang akan bergosip dengan seorang lelaki yang berambut panjang, karena disini adalah hal yang lumrah tak perlu sampai harus di gosipkan.
Zhi Xiang bersama dengan sang ayah menelusuri setiap kedai setelah menjual sebagain tanaman obat yang memiliki harga yang cukup untuk biaya mereka 3 Minggu.
"Kau mau beli apa, aku akan membelikan makanan untuk mu?" Tanya Yudha yang masih fokus melihat sekitarnya.
"Aku memiliki uang sendiri, kau tak perlu mentraktir ku dengan uang kerja usahamu itu!" Tolak Zhi Xiang, bagaimana pun uang yang di dapat ayahnya masih begitu sedikit jika sampai ia rusak.
"Haisshh...aku mengajakmu untuk mentraktirmu bukan menyuruhmu sombong!" Jengkel Yudha, menurut nya itu adalah nada sombong, meski ia tau anaknya tidak bermaksud seperti itu.
"Aku tidak sombong ayah, huh...baiklah aku akan menerima nya!" Pasrah Zhi Xiang, ucapan ayahnya sungguh sulit dibantah apalagi seperti nya ayahnya begitu sensitif saat ini.
"Begitu kan lebih baik, ayo kita makan bakpao daging yang disana, aku pernah mencoba nya dan rasanya sangat enak!" Ucap Yudha yang langsung menarik tangan Zhi Xiang.
"Ah ayah, apa kau lupa kita beragama Islam, ayolah kenapa kau sembarangan membeli bakpao daging!" Ucap Zhi Xiang yang mengingatkan sang ayah.
"Aku tau dan itu menggunakan daging sapi jadi kau jangan risau!" Ucap Yudha yang masih saja menarik tangan Zhi Xiang.
__ADS_1
Zhi Xiang hanya dapat menghela nafasnya pasrah, ayahnya ini begitu antusias atau memang lapar, padahal toko bakpao itu tidak akan lari tapi kenapa harus sampai lari untuk kesana yang hanya 5 meter dari tempatnya berdiri.
Akhirnya ayah dan anak itu pun menghabiskan waktu luang mereka dengan menjelajahi makanan halal yang ada di Shanxi.