
...💐 READING BOOK 💐...
Kini disebuah area turnamen yang sudah di Pagari oleh beberapa bambu kuning. Kini sudah berdiri 11 orang yang akan bertanding, di perjelas bukan satu lawan satu tapi satu lawan sepuluh.
Dia Zhi Xiang dengan 10 seniornya, tepat hari ini hari dimana ia harus melawan para senior nya yang sudah memiliki ilmu bela diri yang tak main-main.
"Kau bisa mengatakan berhenti saat ini, tapi jika sudah sedang berlangsung tidak ada kesempatan mu mundur!" Ucap kakek Zhang yang duduk di kursi goyah bambu nya.
"Aku tidak akan menyerah, semua nya sudah aku pikir bulat-bulat!" Tungkas Zhi Xiang dengan tatapan mata yang pasti.
Senior nya yang disana hanya tersenyum, selain mereka bisa mengetahui kekuatan Zhi Xiang mereka juga bisa akhirnya bertarung dengan gadis itu, pasalnya gadis itu jarang bertarung namun sering di gunakan untuk bertanding disetiap perlombaan dan bahkan menjuarai nya.
"Kami tidak akan segan-segan untuk melakukan kekerasan untuk Zizhi, kau bisa menyerah sekarang!" Ucap senior laki-laki nya dengan senyum remehnya.
"Apa kau meremehkan ku senior Dae, bahkan kau tak pernah merasakan keahlian ku!" Sarkah Zhi Xiang dengan tatapan tajam menghunus.
Beberapa senior mereka sempat gemetar melihat tatapan Zhi Xiang yang begitu dingin dan tajam, namun mereka tetap mempertahankan mimik wajah tegas.
"Ck...baiklah, aku akan yang mulai dulu!" Ucap Dae dengan sombong.
Ia langsung mengepalkan tangannya dan berlari menuju kearah Zhi Xiang, lalu melompat mengarahkan tinjunya pada gadis itu.
Gadis itu menghindar, gerakan tenang nya menjulurkan kaki dan bergerak cepat. Brukk...Dae terjatuh tanpa sedikit pun Zhi Xiang mengeluarkan kekuatannya.
Semua yang ada disana terdiam, mereka melongo dengan apa yang di lakukan Zhi Xiang, bukan kah itu sama saja melakukan siasat bukan kekuatan.
"Kau curang!!!" Teriak Dae tak terima.
"Kau yang terlalu bodoh, aku hanya sedikit melakukan siasat dan kau sudah terjatuh!" Remeh Zhi Xiang.
Prokk...prokkk...
Suara tepuk tangan yang dilakukan seseorang yang tak lain adalah senior yang selalu bermusuhan dengan nya. Gadis itu mendekati Zhi Xiang dengan senyum miring nya seakan mengejek Zhi Xiang.
__ADS_1
"Bukan kah pertandingan belum dimulai, tapi Dae sudah terjatuh, bagaimana jika aku ganti nya!" Ucap nya dengan sombong.
"Berhenti lah Vivian kau sudah senior tingkat dua kenapa kau mau melawan junior mu!" Halang kakek Zhang.
"Kenapa, apakah anda masih melindungi cucu mu guru, ini tidak adil bukan!" Ucap Vivian dengan wajah yang disengaja bermimik sedih.
Kakek Zhang tampak geram, bagaimana pun Zhi Xiang masih tidak bisa melawan senior tingkat dua, apalagi Vivian selalu melakukan serangan pada kepala dan leher yang mungkin membuat Zhi Xiang terdapat cendera kembali di kepala nya.
"Aku tak apa kakek, baiklah jika kau memaksa kakak senior, masuk lah ke dalam area dan kau tau sendiri kan aturannya!" Ucap Zhi Xiang dengan senyum miringnya.
keduanya saling memberikan tatapan dan senyuman remeh seakan saling meregukan kemampuan masing. Namun sedikit berbeda, Zhi Xiang malah mempunya beragam gerakan untuk memblokir serangan yang akan di lakukan Vivian, beberapa kali ia memperhatikan gerakan Vivian saat bertanding dan gerakannya itu tak jauh dari serangan kepala dan leher.
"Ya tentu aku tau, bagaimana kau siap bukan!" Senyuman licik pun terlihat di bibir Vivian.
"Baiklah, jika kalian sudah siap kita mulai semua!" Ucap Kakek Zhang.
Tanpa menunggu ucapan lain, Vivian langsung menyerang Zhi Xiang dengan gerakan nya. Ia sudah berlatih dengan sangat keras demi membuat seorang Zhi Xiang terjatuh dan di remehkan semua orang yang menganggap sebagai seorang yang hanya mengandalkan kakek Zhang saja.
Kini Zhi Xiang serius, ia mulai menggerakkan tubuhnya dengan menghindar lalu melakukan serangan berusaha menjatuhkan Vivian begitu juga sebaliknya.
"Ck... bagaimana, siapa yang kalah maka ia harus menganggap yang menang hebat dan tidak ada lagi perlawanan!" Sambung Vivian
Zhi Xiang mencari cela untuk mengeluarkan Vivian dari area, seperti dengan aturan yang telah di tetapkan, siapa yang sudah keluar area sudah dikatakan kalah.
Dan dengan gerakan cepat, ia langsung menendang Vivian sangat kuat hingga pembatas bambu pecah, dan akhirnya Vivian pun berhasil keluar dari area pertandingan.
"Bagaimana kakak senior!" Zhi Xiang mendekat dengan senyum meremehkan.
Berjongkok menyetarakan tinggi tubuhnya, ia menatap remeh dan angkuh, siapa saja yang berani menantang nya maka berakhirlah seperti ini.
"Sesuai perjanjian, anda kalah dan so...kau pecundang!" Bisik Zhi Xiang dengan menekankan kata pecundang di akhir kalimatnya.
Zhi Xiang pun kembali ke area, ia sekarang harus melawan senior nya yang lain. Hingga tak butuh waktu lama, akhirnya ia bisa melawan semua seniornya meski ia beberapa kali mendapatkan serangan, namun tidak sampai terjatuh.
__ADS_1
"Bagus...aku bangga pada mu, kau di perbolehkan keluar melakukan semua yang kau suka, namun ingat kau harus kembali setelah menyelesaikan nya!" Ucap kakek Zhang menghampiri.
"Baiklah kakek!" Ucap Zhi Xiang.
"Aku memberi mu waktu 2 Minggu, jika lewat waktu itu maka aku akan menyuruh para senior mu yang tersebar disetiap daerah untuk mencari mu, aku tau misi itu cukup berbahaya!" Ucap kakek Zhang dengan mengelus rambut Zhi Xiang dengan penuh sayang.
Zhi Xiang hanya mengangguk dan ia pun memeluk kakek Zhang dengan menyalurkan kehangatannya. Mungkin ia akan merindukan pelukan ini dan akan selalu merindukan nya.
Setelah puas berpelukan, ia kini beralih pada sang ayah yang memalingkan wajahnya, sepertinya pria setengah abad itu sedang menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Ayah...!" Panggil Zhi Xiang.
Yudha tetap diam, ia enggan berbalik menatap anaknya itu, ia masih tak mau anak nya keluar dan pergi mengenal dunia, ia tidak ingin kehilangan keluarga satu-satunya, sudah cukup semua yang ia rasakan, tidak untuk kali ini.
"Ayah!" Sekali lagi ia memanggil dengan nada lirih.
Ia cukup bersedih harus meninggalkan sang ayah meski ia tau ayah nya pasti bisa hidup dengan baik dibawah pengawasan kakek zhang.
"Ayah apa kau tak mau sedikit pun menatap ku!" Ucap Zhi Xiang pilu.
Entah kenapa ketidak relaan sang ayah membuatnya semakin tak rela dan sakit hati, satu sisi ia harus lebih berwawasan dan mengerti daerah luar, disatu sisi ia masih tak rela meninggalkan perguruan ini meski hanya sebentar.
"Aku lebih baik kau babak belur dan tak sadar kan diri, sehingga aku bisa merawat mu dari pada ini yang membuat mu bisa pergi dari sini!" Sentak Yudha yang masih tetap memalingkan wajahnya.
"Ayah aku mohon mengerti lah...jangan seperti ini!" Air matanya mengalir deras, ia langsung berlutut di bawah kaki sang ayah meminta izin.
"Berdiri lah!" Teriak Yudha.
"Aku mohon ayah, bukan kah aku sudah membicarakan nya pada mu, ini hanya 2 minggu!" Zhi Xiang berusaha meyakinkan ayahnya dengan lirih.
"Berdirilah, aku akan mengizinkan mu!" Ucap Yudha yang kini sudah menatap anaknya, tangan nya merentang siap menerima pelukan sang anak.
"Aku menyayangi mu!" Zhi Xiang langsung bangkit dan memeluk tubuh Yudha dengan sangat erat.
__ADS_1
Ayah dan anak itu saling menyalurkan semua yang mereka rasakan, melepas kerinduan yang mungkin akan tertahan 2 Minggu.