
Xiang sudah di biarkan membuka borgol nya, bahkan ia sudah dipindahkan ke kamar yang lebih layak. Semua itu tidak berjalan dengan lancar, setelah semua penyiksaan dan jeritan Xiang, jangan lupa dengan patuh ia menurut saja hingga akhirnya semuanya sedikit legam.
Xiang mengelilingi kamarnya, ia berjalan menuju balkon yang menampilkan Padang bunga segar yang sangat tertata rapi. Xiang tersenyum tipis, entah berapa hari atau bahkan berapa bulan ia tidak pernah melihat pemandangan luar, bahkan matanya saja sampai sangat silau saat melihat luar.
"Apa yang kau lihat?" Suara bariton terdengar dari belakang tubuhnya.
Xiang tetap diam, ia malas untuk membalas ucapan pria itu. Ia sudah tau siapa yang sedang mengajaknya bicara, siapa lagi kalo bukan Kaisar.
Kaisar mendekati Xiang, tampak sekali rahang pria itu mengeras melihat sikap Xiang yang mengabaikan nya.
"Apa kau tuli dan bisu!" Sentak Kaisar dengan menarik kuat dagu Xiang.
Xiang meringis saat dagunya yang di cekram sangat kuat oleh Kaisar namun ia tahan ekspresi nya itu dengan tatapan dingin, ia menatap manik mata coklat elang itu, sangat tajam dan bahkan menghunus menembus dalamnya tatapan nya.
"Kau menantang ku!" Sentak Kaisar semakin menguatkan cengkraman itu.
"Kau terlalu berlebihan tuan, bukankah anda yang mengajarkan saya untuk menatap anda jika anda berbicara!" Ucap Xiang membela diri.
Ya Kaisar selalu marah jika Xiang tak menatap matanya saat ia berbicara dan lebih parahnya lagi jangan pernah mengabaikan nya jika tidak akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.
"Sudah berani menjawab ya...heh!" Sarkah Kaisar yang langsung menghempas dagu Xiang.
"Kebawah buat makanan dan bawa kemari!" Ucap kaisar mengintruksikan.
Xiang hanya mengangguk, ia segera beranjak pergi dengan cepat sebelum kaisar murka padanya. Kaisar menatap sinis kepergian Xiang, ia muak. Ia muak pada dirinya yang malah terbawa perasaan dan bahkan tak tega untuk menghukum gadis itu lagi.
"Siapkan satu wanita untuk ku!" Ucap Kaisar dalam sambungan telepon dan segera mematikannya.
Kaisar memejamkan matanya, bersandar pada sofa dengan lengan yang menutup sebagian wajah nya.
"Sial! Kau telah terlalu jauh mempengaruhi hatiku Berlin!" Umpatnya dengan mata terpejam.
...****************...
Kini di dapur luas dengan semua alat masak lengkap dan beberapa koki yang masih sibuk dengan masakannya.
"Ada apa nona, apa ada yang bisa kamu bantu?" Tanya salah satu koki.
__ADS_1
"Tak makasih!" Tolak Xiang dan langsung melangkah menuju kompor.
Koki itu hanya mengangguk dan kembali fokus dengan masakannya, Xiang sempat heran dengan semua banyak masakan yang dimasak oleh koki, namun kenapa Kaisar masih meminta dirinya untuk memasak untuknya.
"Apa ada udang?" Tanya Celyn.
"Ada, coba anda lihat di kulkas ketiga pintu pertama atas!" Jawab koki itu.
Xiang hanya menurut saja, ia pun berjalan ke kulkas ketiga untuk mengambil udang. Saat ini ia akan membuat tumis udang saos tiram, itu bukankah sangat lezat.
"Bentar apa tuan mu itu memiliki alergi?" Tanya Xiang sebelum ia benar-benar mendapat masalah.
"Hmm...ya, dia alergi merica dan juga ikan!" Jawab koki itu.
"Apa yang tidak ia sukai?" Kembali lagi Xiang bertanya.
"Makanan yang memakai bawang putih dan juga seledri!" Jawabnya.
"Baiklah makasih!" Ucap Xiang, ia pun kembali melanjutkan kegiatannya.
Kulkas pertama untuk buah-buahan, kulkas kedua untuk berbagai sayuran dan juga bumbu dapur yang mungkin perlu di masukkan, ketiga adalah tempat berbagai macam daging, ikan dan juga telur atau semacamnya, yang keempat tempat minuman kaleng dan juga es.
Xiang mulai membuka dan memotong bahan-bahan nya, ia dengan cepat menumis semua nya hingga terakhir udang yang di masukkan setelah saos tiram dan juga kecap.
Masakan Xiang tercium dengan sangat harumnya, Xiang yang memang berasal dari negara penghasil racikan masakan yang nikmat membuat ia denda lihainya menyiapkan masakan itu dengan cepat.
"Siap!" Ucapnya dengan puas.
Ia pun segera langsung menyiapkan nasi dan tumis udang yang telah ia masak dan diletakkan di atas nakas bersama dengan minumnya.
Ia berjalan dengan sangat hati-hati, ia tidak boleh melakukan kesalahan, apalagi ini menyangkut nyawanya yang mungkin akan melayang jika terus di siksa.
Sesampainya di lantai 3 menggunakan lift, ia berjalan menuju kamar yang ia tempati. Ya ia pastikan bahwa Kaisar masih berada disana.
"Ini makanannya tuan!" Ucap Xiang yang menyajikan masakannya dimeja sofa tempat Kaisar duduk.
Kaisar yang awalnya hampir terlelap segera merasakan aroma sedap yang menguar di indra penciumannya. Ia segera membuka mata dan menatap dengan dingin gadis yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Xiang segera mengundurkan diri, ia beranjak ingin keluar kamar hanya untuk berputar-putar mencari rencana untuk bebas, kini harus tertahan karena mendengar suara intruksi dari kaisar.
"Buka kulitnya!" Ucapnya tanpa ekspresi sedikit pun.
"Tapi tuan....!"
"Buka kulitnya Xiang, apa kau suka aku selalu mengulang perkataan!" Tekan Kaisar menatap tajam Xiang yang ada dihadapannya.
Dengan sedikit merengut ia pun duduk di lantai, dengan perlahan tangannya mengambil kaos tangan yang memang disediakan untuk kaisar tadi, namun harus ia pulang yang buka.
"Hehehe...menggemaskan! Oh astaga apa yang aku pikirkan" Batinnya yang terus bergerutu tak jelas.
Xiang dengan fokus membuka satu persatu udang dan meletakkan di kembali di mangkok udang itu kembali, sedangkan kulitnya di letakkan mangkok yang memang sengaja dibawa tadi.
"Sudah tuan!" Ucap Xiang yang perlahan membuka kaos tangan karet yang sudah dipenuhi oleh saos tiram yang lengket. Xiang pun kembali bangkit untuk segera pergi menghindar dari hadapan Kaisar, namun semua nya malah berakhir akibat teguran Kaisar yang membuatnya sangat jengkel.
"Hey!" Panggilnya.
"Iya tuan ada apa!" Geram Xiang dengan berbalik badan memperlihatkan senyum terpaksa nya.
"Kau jelek saat tersenyum seperti itu!" Ucapnya dengan wajah datar nya seakan ucapannya itu tidak ada salahnya.
"Iya saya tau saya jelek tuan, jadi bisakah saya pergi!" Ucap Xiang dengan berusaha menahan rasa geramnya melihat tatapan polos Kaisar.
"Suapkan saya!" Ucapnya.
Seketika Xiang langsung membelalakkan matanya mendengar permintaan Kaisar yang keterlaluan menurutnya, bukankah tangan pria itu nganggur. Lalu guna tangan nya apa jika makan masih saja dirinya yang suapkan.
"Kenapa keberatan!" Ucapnya dengan menaikkan satu alisnya remeh.
"Itu tuan, bukankah tuan masih memiliki tangan!" Ucap Xiang dengan sedikit berhati-hati.
"Lalu jika aku tak memiliki tangan baru kau mau suapkan!" Sarkah Kaisar.
"Eh bukan itu, tapi bukankah itu sebaiknya anda makan sendiri biar lebih nikmat!" Ucap Xiang yang berusaha meluruskan kesalahpahaman itu.
"Tapi aku lagi malas!" Jawabnya dengan santai.
__ADS_1