
Diruangan luas bernuansa klasik China terdapat beberapa orang yang menatap satu orang gadis bersimpuh di tengah-tengah mereka.
"Kemana saja kau Xixi, kau tau semua nya kacau mencari mu." Ucap kakek Zhang dengan tatapan tajam menghunus.
Xiang, gadis itu hanya menunduk tak berani melihat amarah yang ditunjukkan oleh sang kakek. Ia sudah melanggar peraturan dan mungkin akan mendapatkan hukuman berat kali ini.
"Apa kau sebegitu ceroboh nya. Kau tau aku memberikan mu peraturan agar kau bisa kembali tepat waktu, ini waktu yang tidak sesuai perjanjian!" Udara sekitar berubah mencekam, bahkan cahaya lampu tidak membuat suasana menjadi remang-remang ini hidup. Semua orang menegang, apalagi mereka tidak ingin mendapatkan amukan dari kakek Zhang.
"Apa kau mengenalnya?" Pertanyaan itu terlontar oleh kakek Zhang.
Xiang mengangkat wajahnya, ia menatap lekat wajah pria tua itu. "Tidak sama sekali kakek, bahkan aku tidak mengetahui namanya!" Jawab Xiang.
"Baiklah, kau tau hukuman untuk mu yang melanggar aturan yang kuberikan!" Tatapan intimidasi dari sang kakek mampu membuat tubuh Xiang bergetar, dengan pasti ia mengangguk.
"Lakukanlah!" Tintah kakek Zhang.
Xiang melakukan berlutut kesatria, ia menundukkan kepalanya dan mengangkat wajahnya penuh keyakinan.
"Izin melakukannya kakek!" Ucap siang yang langsung melangkah pergi meninggalkan aula podium diskusi.
Gadis itu melangkah ke belakang, ia membawa dua timba kayu dua dan satu kayu panjang sebagai tempat pemegang keduanya.
Ia harus melakukan ini dengan cepat sehari semalam dengan berisi 100 timba yang berisi. Jarak sungai dari kediaman nya ini sekitaran 500 meter atau bisa dikatakan 1/2 km.
Dengan menggunakan keahlian bela diri yang mudah untuk melakukan meski menggunakan banyak mengeluarkan tenaga, ia melakukan teknik jalan cepat.
Hingga tengah malam, ia baru saja mengisi 40 timba besar itu, bagaimana jika sampai besok ia masih belum bisa mendapatkannya.
"Istirahat lah nak, kamu pasti letih!" Ucap seseorang yang begitu lembut menyapa gendang telinganya.
Ia tersenyum dan menghampiri pria itu, "kenapa ayah belum tidur, bukankah sekarang sudah tengah malam," ucap Xiang dengan mengecup tangan ayahnya.
"Aku tak bisa tidur, apalagi melihat kau terus saja berdatangan dengan wajah lelah dan dua tong air yang berat itu!" Lirihnya dengan tatapan sedu.
__ADS_1
"It's oke ayah, aku bisa melakukannya. Ini semua memang salah ku tak menaati aturan." Ucap Xiang yang langsung menangkup wajah ayahnya itu.
Yudha hanya bisa menatap sedu anaknya itu, tubuh ringkih nya itu pasti semakin ringkih karena terus membawa beban berat yang tidak sesuai porsi tubuhnya.
"Tidur lah ayah, jangan menunggu ku! Aku akan menyelesaikan ini sekarang." Ucap Xiang.
"Tapi kamu~" Xiang tersenyum manis, ia meyakinkan ayahnya untuk tidak khawatir dengan senyuman nya itu.
"Aku pergi dulu ayah, semoga saja selesai sampai besok!" Ucap Xiang penuh keyakinan.
Yudha menatap tak rela punggung kecil itu, ingin sekali ia menyuruh Xiang untuk istirahat namun percuma karena semua atas kendali tuan besar kakek Zhang.
Yudha pergi dari halaman belakang, namun tak berapa lama kakek Zhang keluar dari persembunyiannya dengan senyum manisnya.
"Kau memang gadis yang tangguh Xiang, tapi aku harus tegas pada mu agar tidak menjadi iri para senior mu..." Lirih kakek Zhang.
...----------------...
Dua timba besar di samping kiri dan kanannya yang terangkat oleh satu kayu panjang mampu menambah berat badannya yang kecil itu. Nafasnya sudah sangat tercekat dengan tatapan yang mulai kabur.
Dia bukan gadis lemah yang selalu merengek untuk tak dihukum, namun kali ini ia sudah hampir menyerah dengan keadaan nya dan mungkin ia siap menerima hukuman selanjutnya.
Bug...
Tubuh Xiang terjatuh tepat di pinggir hutan, wajahnya yang pucat dan tubuh ringkih nya itu sudah tak tahan menahan beban berat itu.
Bahunya sudah cukup lecet, hanya satu perkataan nya. "Maaf kakek, aku istirahat sebentar dan jika kau mau menghukum ku lagi aku menerima nya!" Lirih nya dan mata nya pun mulai menghitam.
~
Disinilah sekarang, dikamar sederhana seorang gadis. Gadis terbaring lemah dengan infus ditangan nya itu. Dua orang pria beda usia itu terus berputar-putar di depan pintu kamar gadis itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya kakek Zhang yang langsung menyerobot saat melihat seorang dokter keluar dari kamar Xiang.
__ADS_1
"Bahunya mengalami memar yang cukup parah, ia mengalami dehidrasi kekurangan air, bahkan sekarang ada pergeseran tulang di dua kakinya dan mungkin harus di perbaiki kembali!" Ucap Dokter itu menjelaskan keadaan Xiang.
Kakek Zhang terpaku, apa ia keterlaluan akan hukuman itu? Sepertinya ia terlalu memikirkan pemikiran para senior cucunya itu dari pada melihat keadaan nya.
"Kapan ia sadar?" Tanya kakek Zhang dengan wajah khawatir.
"Paling lama sebulan, jika pertahanan tubuhnya kuat mungkin dua Minggu bisa sadar!" Ucap dokter itu menjelaskan.
"Baiklah, makasih dok!" Ucap kakek Zhang dan hanya di balas senyuman oleh dokter itu.
"Saya pergi dulu tuan, besok saya akan kembali memeriksa nona Xiang kembali." Ucap dokter itu dan langsung pergi.
Setelah kepergian dokter keluarga itu, kakek Zhang langsung terduduk di depan pintu kamar Xiang. Rasa bersalahnya sangat besar saat itu, apalagi ia sudah berjanji untuk merawat Xiang penuh kasih pada almarhum cucu sahabat nya itu, ibu Xiang sendiri.
"Aku ingin melihat keadaan Xiang dulu, anda kalo ingin masuk ayo bersama!" Ucap Yudha dengan wajah yang berantakan karena khawatir.
"Pergilah dulu, aku disini!" Ucap kakek Zhang dengan wajah dinginnya.
Yudha hanya mengangguk dan langsung masuk kekamar Xiang, ia sangat khawatir dengan gadis kecilnya itu. Lihatlah air matanya sudah menetes beberapa kali saat melihat tubuh kurus itu terbaring lemah di ranjang.
"Maaf kan ayah ya sayang, ayah tidak bisa menentang kakek mu itu!" Lirihnya dengan menggenggam erat tangan yang ber-infus itu.
"Kamu tau, jika saja kamu tidak pergi sejauh itu mungkin ayah masih melihat senyum mu itu." Lirihnya dengan wajah sedu.
Tatapannya menatap lekat pada wajah cantik anaknya itu, pucat pasih dengan tubuh yang berbalut perban yang cukup banyak dan mata bengkak memerah.
"Kamu terlalu memaksakan diri mu, padahal kamu bisa memohon untuk mengurangi hukuman mu tapi kamu tetap melakukan itu," Yudha merebahkan kepalanya disisi tubuh anaknya itu, beberapa kali ia mengecup tangan dingin itu dan terisak sedih.
"Kamu tau, kamu adalah harta berharga bagi ayah. Ayah tak ingin kehilangan mu setelah ibu pergi meninggalkan ayah begitu saja dengan kamu yang baru sadar!" Yudha terus berceloteh dengan air mata mengalir.
Lemah, ya ia lemah saat ini. Pertahanan nya runtuh melihat keadaan gadis kecilnya itu, air mata nya sukses mengalir dengan sendirinya tanpa bisa ditahan.
"Ayah harap kamu segera bangun sayang!" Lirihnya.
__ADS_1