Obsession Revenge Becomes Love.

Obsession Revenge Becomes Love.
Bab 9: Regret


__ADS_3

...💐 READING BOOK 💐...


Kini di sebuah markas bayangan, mereka semua kelimpungan mencari keberadaan nona mereka yang sudah hilang 3 hari setelah pesta itu.


Mereka semua menyesali ketidak becusan mereka menjaga nona satu-satunya mereka, bahkan sebentar lagi kabar hilangnya nona mereka akan menjadi malapetaka untuk mereka hadapi.


"Kalian harus siap mendapatkan hukuman, sekarang pencar cari ke segala daerah, jika tidak nona kita akan mendapatkan hukuman yang sangat berat!" Intruksi Mardon dengan rahang yang mengeras.


"Siap!" Ucap mereka yang langsung dengan cepat hilang dari ruangan itu.


Mardon hanya dapat menghela nafas berat, ia sungguh tak bisa tidur saat hilangnya nona mereka. Ia merasa telah lalai akan tanggung jawab yang di berikan oleh kakek Zhang pada nya.


"Sial...tidak ada info apa-apa!" Umpatnya menatap nanar pada ponsel retak milik Xiang.


...****************...


Sekarang di kamar serba putih, seorang gadis baru saja bangun, ia masih dalam keadaan yang sama dengan begitu sangat tragisnya.


"Aku harus buat rencana!" Batinnya menatap ke sekeliling nya yang semua serba putih.


"Aku muak dengan warna polos ini, sial aku tak bisa kabur!" umpatnya yang meruntuki semua yang ia rasakan.


Ceklek


Pintu di buka oleh seseorang, seorang pelayan masuk dengan se-nampan makanan lengkap dengan buah serta susu. Pelayan itu hanya masuk tak mengatakan apa-apa dan langsung saja mendekatinya.


Pelayan itu membuka semua borgol yang mengait di semua pergelangan kaki dan tangannya dan hanya meninggalkan satu sebagai pengaman. Ya begitu lah, percuma rasanya.


Pelayan itu pun pergi meninggalkan Xiang dengan makanan yang telah dihadapannya. Xiang mengambil makanan itu, toh ia memang sedang sangat lapar terlebih nanti setelah ini ia akan kembali di siksa.


Xiang cukup lahap memakan makanannya, sesekali ia melirik kearah cctv kamera pengawas itu dan ia tersenyum mengejek bahwa dipastikan disana ia sedang di awasi.


Setelah selesai makan, Xiang nurut saja dan tidur kembali untuk mengistirahatkan tubuh nya yang masih cukup lelah. Entah berapa lama ia akan masih berada disini, ia berharap anggota intelijen nya bisa menemukannya.

__ADS_1


...****************...


Kaisar menatap puas akan nurutnya Xiang, gadis itu tidak banyak bicara dan hanya mengikuti semua yang ia mau. Bahkan saat pelayan datang pun ia hanya menatap pelayan itu biasa saja seperti tidak membutuhkan orang lain.


"Sekarang kau lebih cerdik sayang, aku sampai ingin selalu untuk menyiksa mu!" Gumam Kaisar.


"Bagaimana menurut bapak!" Ucap salah satu karyawan yang memang sedang menjelaskan semua proposal yang ia perlihatkan.


Ya Kaisar sedang melakukan riset pada proposal yang akan segera di luncurkan, namun disini ia malah lebih fokus dan tertarik dengan rekaman yang menampilkan Xiang didalamnya.


"Ah...minta pada Tomi melakukan semuanya dan kembali lagi setelah Tomi mengatakan benar!" Ucap Kaisar dingin dan datar.


"Baiklah pak, saya permisi dulu!" Ucap karyawan itu yang sedikit menunduk dan hilang di balik pintu.


Kaisar hanya berdecak kesal, entah kenapa ia malah fokus pada wanita itu dari pada fokus dengan kerjaan nya. Sial mungkin ia harus melakukan jadwal untuk menonton kegiatan gadis itu.


...****************...


Disebuah kamar apartemen, seorang gadis baru saja menyelesaikan mandi paginya yang menyegarkan, eh ralat sekarang sudah siang bukan berarti mandi siang dong.


Sedikit nyanyian untuk suasana hati nya yang memang lagi sangat mood saat ini. Dia adalah Celsi, gadis berdurasi rambut pendek dengan sedikit warna yang ia pakai. Saat ini ia akan kembali pergi ke markas hanya untuk bermain saja.


Celsi berjalan membuka pintu apartemen, hingga menampilkan dua orang sepasang suami-istri istri. Seketika mood nya yang senang berubah menjadi muram.


"Apa kabar nak!" Sapa wanita paruh baya itu.


"Baik bun!" Jawab Celsi sekena nya saja.


"Bawa kita masuk nak, kita mau bicara!" Ucap Galdis dengan wajah penuh kerinduan.


"Kita ke kafe dekat sini!" Ucap Celsi dengan wajah datar dan langsung menutup pintu apartemen nya.


Kedua orang tua paruh baya itu hanya menurut saja, toh disini mereka memang tak ingin mencari masalah dan ada maksud yang mungkin akan di sampaikan.

__ADS_1


Disini lah mereka sekarang, Celsi berhadapan pada kedua orang tuanya. Ia menatap penuh rindu pada keduanya namun masih memendam kekecewaan pada sang ayah. Ya ayahnya, Weldan malah menatap diri nya dengan tatapan sinis.


"Bunda rindu kamu nak!" Ucap Galdis yang langsung saja memeluk tubuh Celsi.


Celsi tetap diam hingga beberapa detik ia membalas dengan kaku pelukan hangat itu.


"Celsi juga bun!" Ucap Celsi lirih.


Pelukan hangat itu pun terlepas, kedua anak dan ibu sudah melepas kerinduan dan kini tatapan mereka tertuju pada Weldan.


"Ehemm... baiklah, kamu tau kabar kakak mu!" Ucap Weldan dengan sorot tajam menghunus menatap sang anak.


"Aku tau dan aku tak peduli!" Jawab Celsi dengan wajah santainya.


Weldan menggertak gigi nya geram bahkan sampai terdengar suaranya. Celsi tau maksud dari kedatangan kedua orang tua nya itu.


"Jaga nada bicara kamu celsi!" Sentak Weldan.


Celsi hanya diam menatap keluar kaca, ia muak menatap wajah sang ayah yang begitu membencinya. Memang ya kata orang jika anak yang sangat mirip oleh salah satu orang tuanya pasti selalu berkelawanan dan ingin terus bermusuhan.


"Baiklah, to the point saja!" Ucap Celsi dengan wajah muaknya.


"Kau harus kembali dan mengurus perusahaan, kau tau kakak mu aku kirim ke luar negeri untuk dia merenungi semua kesalahannya!" Ucap Weldan dengan tegas.


"Aku tak mau, anda telah membuang ku bukan jadi jangan memungutku kembali!" Tolak Celsi yang langsung bangkit dan melangkah hendak pergi.


"Lakukan semua nya, jika tidak kau akan tau akibatnya!" Geram Weldan dengan penuh penekanan.


"Baiklah, akan saya urus dan anda tak perlu menyuruh saya kembali!" Lirih Celsi dan langsung meninggalkan Weldan dengan pemikiran yang kalut.


Dulu ia begitu kesal jika berhadapan dengan sang anak hingga ia pernah membenci dan kembali merasakan rasa salah yang begitu terbebani.


Celsi sudah begitu berusaha, bahkan sudah mendapatkan sertifikat sarjana 1 dengan nilai yang fantastis. Celsi bahkan selalu diminta untuk masuk ke perusahaan-perusahaan besar dan ia membuat gadis itu menjadi sangat sukses saat ini. Ia bersyukur anaknya masih bisa hidup enak tapi yang menjadi rasa bersalah semakin besar adalah ia adalah seorang ayah yang tega mengusir anaknya dan tak sedikit pun memberikan dukungan.

__ADS_1


"Aku ayah yang buruk!" Sesalnya


__ADS_2