
Dering ponsel membangunkan pria yang berada di ranjang yang luas. Pria itu mengeliat dan berusaha membuka matanya untuk menyesuaikan cahaya.
"Bangs*t, siapa yang ganggu tidurku!" Gerutu nya dengan tangan meraba kearah nakas.
"Ya!"
"Ya, kau berisik!"
"Baiklah!"
Kaisar segera mematikan sambungan telepon nya, saat ini ia malas untuk melakukan apapun terlebih harus berurusan dengan keluarga nya.
Tok...tok...
Pintu kamarnya di ketuk beberapa kali dengan cukup kuat, kaisar berdecak kesal dan akhirnya bangkit dari tidur nyamannya.
"Apa!" Tatapan tajam menatap kearah pria yang ada dihadapannya, siapa lagi kalo bukan asistennya.
"Tuan apa anda akan segera ke kantor? Saya sudah menyiapkan segala kebutuhan anda." Ucap asistennya itu yang memegang paper bag di tangannya.
"Siapa yang kasih tau?" Dingin Kaisar.
"Hmm...itu tuan, saya hanya melacak mobil anda karena sebentar lagi akan diadakan meeting dengan para HRD dan staf manajemen!" Jelas asistennya itu dengan sedikit terbantah.
"Ya!" Dengan kasar kaisar menutup pintu kamarnya, asistennya itu hanya mampu mengelus dada dan geleng-geleng kepala.
...****************...
Sebuah layar monitor menyala dengan satu orang berdiri menjelaskan setiap unsur dan materi. Kaisar menatap dengan tak penuh minat, yang di pikirannya adalah segera pulang dan bertemu dengan gadis nya itu.
Wanita itu menatap kaisar yang menatapnya kasar, persentase nya telah selesai namun tidak ada sedikitpun tanggapan dari CEO nya itu.
"Gunakan cara singkat dan tidak memerlukan begitu banyak dana, satu lagi jika biaya deposit meningkat seharusnya menggunakan sebuah cara menarik orang bukan membuat produk semakin besar dan merugikan perusahaan!" Jelas kaisar datar.
"Ba-baik bos!" Jawab wanita itu.
"Sekarang lakukan perubahan waktu 3 jam untuk memperbaiki nya!" Kaisar langsung bangkit dari duduknya, ia melangkah meninggalkan ruang meeting yang membosankan.
Kaisar duduk di kursi kebesarannya, satu ponsel lipat yang di bentuk seperti tablet itu menyala memperlihatkan seseorang yang berada di layarnya.
Xiang, gadis itu tampak berusaha bangkit dari tidurnya yang dimana saat ini gadis itu baru saja bangun. Kali ini kaisar membiarkan gadisnya itu lepas dulu di dalam kamar, ia tak ingin terlalu memaksakan kehendak dan membuat Xiang stres.
"Sepertinya ia membutuhkan sesuatu, apa aku keterlaluan?" Pertanyaan mulai bermunculan di benaknya.
"Apakah aku harus mengembalikan ingatan gadisnya itu, haruskah?" Tanya yang terus saja berputar di benaknya.
...****************...
__ADS_1
Kaisar melangkah memasuki apartemen nya, ia harus menemui gadisnya itu dan membuat gadisnya kembali mengingatnya.
Ceklek...
Pintu di buka memperlihatkan wajah damai seorang gadis yang berada di atas ranjang.
"Dia begitu cantik, ya aku mencintainya!" Ucapnya menatap penuh kagum dan sedu secara bersamaan.
Kaisar melangkah mendekati gadisnya itu, ia harus membangunkan gadisnya itu untuk makan malam. Ia tak ingin Xiang semakin kurus dan tak terawat.
"Hay bangunlah, apa kau tak mau makan hmm..." Kaisar menggoyangkan tubuh Xiang dengan sangat pelan.
"Egghh!" Erangan terdengar dari Xiang, dengan gesit tangan Xiang langsung mencekram tangan kaisar dengan kuat dan membuka matanya tajam.
"Ssttt...ayo bangun!" Ajak kaisar.
"Menjauh!" Xiang segera mundur kebelakang, ia tak ingin berdekatan dengan kaisar bahkan ia juga menghempas tangan kaisar dengan kasar.
"Hmm...jangan takut, ayo berdamai!" Ajaknya yang memperlihatkan senyum manisnya, kaisar menjulurkan tangan dengan perlahan.
Xiang menatap tangan itu, masih ada rasa dendam dan bingung secara bersamaan.
"Kenapa?" Satu kata itu keluar secara spontan dari mulut Xiang.
Kaisar menurunkan tangannya, ia masih memperlihatkan senyumnya.
"Apa kah itu sesungguhnya?" Tanya Xiang meyakinkan.
"Ya, aku mengatakan itu sesungguhnya. Apa kau mau?" Kaisar kembali menjulurkan tangannya dan berharap bahwa gadisnya itu menerima juluran tangannya.
Xiang tersenyum ia mengangkat tangannya perlahan dan menerima juluran tangan itu. Keduanya tersenyum memperlihatkan senyum manisnya.
"*Aku akan membuatmu bahagia selamanya berlin!"
"Aku akan membalas semua perlakuan mu, lihatlah bagaimana kau akan mempercayaiku*!"
"Baiklah ayo makan!" Ajak Kaisar yang menyudahi momen haru itu.
Xiang hanya mengangguk dan tetap membiarkan tangannya digenggam erat oleh pria yang ada didepannya itu.
Mereka makan bersama di dalam meja makan bundar. Hanya ada keheningan keduanya saling larut dalam renungan masing-masing.
"Ini adalah makanan favorit mu, dulu aku selalu memperhatikan mu!" Ucap Kaisar yang menunjuk ayam kecap.
"Benarkah, kenapa aku tampak asing!" Ucap Xiang yang cukup antusias.
"Kau alergi seafood dan kacang, aku juga mengetahui nya!" Jelas Kaisar.
__ADS_1
Xiang terdiam, ia memikirkan setiap perkataan kaisar padanya. Kenyataan bahwa ia alergi seafood itu memang benar, namun makanan kesukaan ayam kecap, sungguh selama ini ia tidak pernah merasakannya waktu di Jepang.
Namun satu, ia menyukai makanan itu dan ingin menambah dan terus menambah.
"Tambahlah kau begitu kurus!" Ucap Kaisar yang langsung meletakkan satu sendok nasi kedalam piring Xiang.
"Makasih!"
Kembali lagi keheningan yang ada hanya bunyi sendok yang beradu dengan piring.
"Apa aku boleh keluar?" Tanya Xiang.
Kaisar terdiam, ia menatap Xiang dengan tajam. "Saat ini tidak akan sampai aku mempercayai mu!" Dingin nya.
...*Flash back....
Xiang bangun dari tidur nya, ia melihat kanan dan kiri sudah tidak ada lagi orang yang mengurungnya. ia melangkah perlahan merasakan tubuhnya yang sakit akibat semua yang dilakukan kaisar padanya.
Ia melangkah kekamar mandi, ia harus membersihkan tubuh kotor yang sudah di sentuh oleh pria itu meski belum sampai menerobos tubuhnya.
Ia tak menangis atau apalah, namun satu ia harus membalas semua penghinaan yang ia rasakan. Selama ini ia sama sekali tak pernah di sentuh oleh pria, bahkan untuk berjabat tangan saja masih harus memilih.
Ia mengguyur tubuhnya yang lengket, semua memori yang entah dari mana berputar dengan sendirinya di otaknya, ia harus menyegarkan kepalanya. Namun semuanya tetap berputar dan bahkan membuat kepalanya pusing tak kepalang*.
bugh...
*Tubuhnya terjatuh dilantai, semua nya sakit bahkan air yang turun dari atas saja terasa begitu sakit di kepalanya.
"Egghhh....sakit, sial*n!" Umpatnya.
"Siapa Berlin, pergi menjauh dari ku...nama siapa, aku tak mengenal Berlin!" Teriaknya.
Hingga ia harus menenangkan semua pikirannya dahulu dan merasakan kepalanya yang beransur membaik.
"Aku harus mencari tau dia!" Gumamnya.
...Flash of*....
"Apakah kau sudah selesai, ayo jangan melamun terus!" Ajak kaisar meraih tangan Xiang.
Xiang tersentak merasakan tangan yang menyentuhnya, reflek ia menarik tangannya.
"Ma-maaf!" Lirihnya menunduk.
"Tak apa, ayo kita tidur kembali aku cukup lelah!" Ajak kaisar merangkul Xiang.
Xiang hanya manut menerima perlakukan kaisar yang berubah 180° dari sebelumnya yang selalu memaksa.
__ADS_1