
Di sebuah bandara internasional Soekarno-Hatta, Xiang bersiap bersama dengan para anggotanya untuk menuju ke China. Mereka menyewa satu pesawat untuk perjalanan mereka hingga ke China, bagaimana pun mereka harus segera kembali tanpa harus menggunakan pesawat ekonomis.
"Apa semua nya sudah siap?" Tanya Mardon pada para anak buah nya.
"Sudah tuan!" Ucap mereka secara serentak.
Xiang berjalan memasuki pesawat, ia masih cukup letih dan harus memperbaiki seluruh tubuhnya yang tampak begitu sakit karena terus disiksa setiap harinya.
"Sial...dasar bajing*n sial*n, ku pastikan kau mati ditangan ku!" Umpatnya dengan tangan yang mengepal kuat.
Ia memejamkan matanya, ia membiarkan asistennya itu terus menatapnya penuh pertanyaan.
"Nona!" Panggil Mardon.
Xiang hanya diam, tapi ia tetap mendengarkan apa yang diucapkan asistennya itu.
"Saya mohon maaf atas kelalaian ku dalam menjaga anda, anda tau tuan kakek begitu marah besar mendengar kabar anda hilang dan hal itu membuat akses kita ditutup hingga sebulan jika sudah menemukan anda!" Jelas Mardon dengan nada yang cukup ragu.
Xiang langsung membuka matanya, maksudnya apa. "Maksudnya?" Xiang mengerutkan keningnya menatap kearah Mardon.
"Ya...kami sempat dihukum berdiri kuda-kuda selama sehari semalam di lapangan militer milik kita dan kakek Zhang mengatakan jika anda telah ditemukan maka organisasi kita harus ditutup dulu sebulan itu paling cepat dan beberapa bulan mungkin sampai keadaan aman!" Jelas Mardon.
"Haish...baiklah, apa semua nya sudah siap?" Xiang tampak menghela nafas panjang mendengar sikap sang kakek, sepertinya masalah ini begitu besar dampaknya.
"Sudah dan akan melakukan perjalanan 15 menit lagi!" Jelas Mardon.
Xiang hanya diam, ia pun kembali memejamkan matanya dan mulai menenangkan pikirannya yang masih kacau.
"Oh ya cari informasi orang yang memenjarakan ku!" Ujar Xiang dengan mata menutup.
"Baiklah, 30 menit nona!" Ucap Mardon.
...****************...
Kini di dalam sebuah cafe estetik remaja, dimana menjadi tempat yang cukup ngetrend di kalangan anak muda, namun menjadi tempat janji temu dua orang yang telah lama tak pernah bertemu.
"Katakan cepat!" Dingin kaisar dengan tatapan tajam menatap gadis itu.
__ADS_1
"Duduklah dulu, apa kau tak merindukan ku!" Ucapnya dengan nada manja.
Kaisar langsung duduk di hadapan wanita itu, ia menatap tajam bagai elang yang siap membunuh musuh nya. Muak, ya hanya satu kata itu yang ia rasakan saat ini karena melihat wajah yang begitu ia benci.
"Apa kabar kaisar?" Sapa Cinta dengan nada yang dibuat manja.
"Katakan segera jangan banyak basa basi!" Sentak Kaisar.
"Haishh...kenapa kau terburu-buru, bukankah sekarang jam makan siang!" Ucap nya dengan wajah cemberut.
"Aku pergi!" Kaisar langsung saja bangkit ingin pergi, ia malas harus mengulang perkataan nya dan lebih baik tak berurusan dengan gadis itu.
"Aku masih tunangan mu Kaisar!" Ucap Cinta yang membuat kaisar langsung terdiam.
Kaisar tersenyum miring, ia menatap miris pada gadis itu yang begitu menyedihkan.
"Oh ya...tapi kita sudah putus bukan!" Sinis Kaisar.
"No...kita masih sama, karena kedua keluarga belum memutuskan hubungan kita!" Bantahnya yang menarik lengan baju Kaisar.
"Jangan sentuh!" Sentaknya yang langsung menghempaskan tangan Cinta. "Aku sudah memutuskannya dan satu lagi kau sudah tak diterima dalam keluarga Aldebaran!" Sinisnya dan langsung pergi meninggalkan Cinta yang tampak begitu kesal.
Dulu ia masih begitu tak peduli akan pertunangan itu karena merasa semua nya masih berada didalam genggaman nya, namun semua nya harus berakhir semenjak ia memutuskan keluar dari rumah sang ayah hanya untuk bebas dari aturan yang mengekang.
"Sial ini semua karena bajing*n tak bertanggungjawab itu," gumamnya dengan wajah jengkelnya sambil mengelus perutnya.
Ya dia saat ini sedang hamil dan ia harus segera mencari ayah yang tepat untuk ia dapat tompangi jika tidak ia akan kesulitan dalam ekonomi dan semua kebutuhannya.
"Aaaa...sial! Aku pastikan kau akan tau akibat Jiak berurusan dengan ku kai!" Matanya yang tajam menghunus kedepan dan kepalan tangan yang amat kuat mengeluarkan urat-urat biru nya.
Saat ini kaisar berada didalam mobilnya, mood nya yang sudah buruk menjadi begitu buruk saat ini ketemu dengan orang yang begitu tak diinginkannya.
Dulu ia masih menganggap Cinta teman sepermainan nya yang imut dan polos, namun itu semua hanya sifat tampang dua yang begitu memuakkan.
"Haish...kenapa aku mengingat Celsi ya!" Gumamnya, pasalnya adek kecilnya itu tidak pernah bertemu dengan nya setelah tamat sekolah, entah kenapa ia rindu akan sikap bar-bar dan jutek gadis itu.
"Haish...dimana ya aku harus mencari nya!" Gumamnya sambil menatap sekitarnya.
__ADS_1
Kaisar langsung melotot melihat seroang yang di pikirannya sekarang berada disampingnya, eh bentar dulu kenapa gadis itu sekarang begitu urakan yak, oh ya ia lupa bahwa gadis itu dari dulu memang bisa di sebut badgirl.
Kaisar pun melajukan mobilnya ingin menghampiri motor gadis itu, ia perlu berbicara sedikit banyaknya agar masih mengingat satu sama lain.
Tin...tin...tin
Klason mobil kaisar di bunyikan membuat sang pengendara langsung menatap kearah mobil nya. Dengan cepat kasar menurunkan kaca mobil nya, "singgah ke barista dulu!" Teriak Kaisar.
Celsi hanya diam, ia mengikuti mobil kaisar yang membawa nya pergi ke suatu tempat yang di sebut barista.
Disini lah mereka sekarang yang saling berhadapan satu sama lain dengan pemikiran masing-masing.
"Ada apa?" Tanya Celsi dingin.
"Apa kabar?" tanya kaisar.
"To the point, aku masih harus ada perlu!" Sinis Celsi.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mu, apa hidup mu baik?" Tanya kaisar.
"Ya, baiklah sudah tak ada lagi bukan..oh ya makasih!" Ucap Celsi.
"Apa kau tak ingin menanyakan kabar sahabatmu!" Kaisar sedikit berteriak agar Celsi berhenti.
"Dia sudah meninggal bukan, jadi kau jangan terus mengungkitnya!" Ujar Celsi.
Ya Berlin di kabarkan meninggal 3 tahun yang lalu, hal itu menjadi bongkahan batu besar menghantam gadis itu, ia cukup menyayangi Berlin bagaikan adeknya sendiri, namun sahabatnya itu ternyata sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Kau salah!" Ujar Kaisar.
Celsi berbalik, ia menatap lekat wajah Kaisar yang begitu gusar.
"Salah! Bukankah sudah ada tanah merah yang terpampang, lalu kau katakan semua itu salah!" Geram Celsi dengan mata yang berkaca-kaca siap melepas.
"Tapi itu hanya rekayasa, apa kau tak percaya!" Kaisar berusaha meyakini Celsi, ia masih berharap Celsi dapat membantu nya mendapatkan gadis itu kembali.
Celsi terdiam, ia sempat merasakan bahwa sahabatnya itu tak meninggal sedikit pun, ia masih merasa bahwa Berlin masih hidup dan tapi entah kemana.
__ADS_1
"Kenapa kau menemuiku hanya untuk kata bualan mu itu, ck... memuakkan!" Sentak Celsi yang langsung pergi meninggalkan kaisar yang terdiam sendiri ditempat.