
POV Xiang.
Aku merasakan gelap yang tak kunjung dapat ku lihat, aku berteriak sebisa mungkin dan berlari mencari jalan keluar namun semua nya percuma, sepertinya ini adalah lorong hitam tak terarah.
Aku terus memanggil nama kakek dan ayah ku, namun mereka tak kunjung menyahut. Tapi satu suara yang membuatku merinding dan ingin berlari sejauh mungkin.
"Berlin apa kau melupakan ku, aku pacar mu!"
"Sayang kemana kamu pergi, kamu begitu tega meninggalkan ku!"
"Kamu jahat Berlin, lihat apa yang akan ku lakukan!"
"Kamu akan menyesal meninggalkan ku berlin!"
"Berlin!"
"Berlin*!"
"DIAM! DIAM KAU SIAL*N!" Aku menutup telinga ku sangat kuat berharap suara berisik itu hilang dari hadapannya.
Siapa berlin? Kenapa harus ada nama Berlin, namaku adalah Xiang kenapa nama Berlin begitu familiar di ingatan ku.
Aku berlari berharap suara itu hilang dan tak mengganggu ketenangan ku. Titik cahaya, ya titik itu membuat senyum ku semringah dan ku percepat lari untuk mencapai titik putih itu.
Semakin dekat dan semakin dekat titik itu semakin besar, aku berhenti mata ku begitu silau untuk melanjutkan langkah itu. Namun satu yang ku tau adalah cahaya itu semakin mendekat dan membuat diriku menutup mata menghalau cahaya terang itu.
"Akhhh!" Cahaya itu hilang, perlahan mata ku yang buram beberapa kali mengerjap menyesuaikan cahaya yang begitu kentara mengenai mata ku.
Satu yang ku lihat, wajah cemas ayah ku yang berlari masuk bersama dengan kakek Zhang. Aku terdiam, bukan kah aku hanya tertidur kenapa mereka berdua begitu khawatir.
"Kamu sudah sadar nak! bentar ayah panggil dokter kembali." Kenapa harus menggunakan dokter, aku mengeryitkan kening ku dan menatap lamat pada sosok kakek yang kini masih mematung di tempat nya.
"Kakek~" Suara ku begitu pelan, bahkan bisa dibilang serak dengan tenggorokan yang begitu sakit.
"Jangan banyak bergerak xixi, bentar kakek ambilkan minum!" Kakek ku langsung berjalan tergopoh-gopoh menuju meja kecil di samping kasurku.
__ADS_1
Aku terdiam, ini telah sekian lama nya tak terjadi. Kakek ku begitu mengkhawatirkan ku. Padahal aku hanya merasakan tubuhku kaku saja.
"Minumlah!" Aku pun menerima gelas berisi air itu dan berlahan meminumnya dengan bantuan kakek ku.
Aku tak bersuara tetap diam memperhatikan kakek ku hingga dokter datang bersama ayah dengan berjalan tergesa-gesa. Aku diam saja membiarkan semua nya dilakukan dokter untuk memeriksa nya.
"Saya sempat berpikir untuk membawa nona Xiang mendapatkan penanganan lebih lanjut, terlebih ia pernah mengalami patah pada punggungnya. Namun saya salah ternyata hanya beberapa bagian tulang yang retak yang tak perlu penanganan lebih lanjut, tapi masih harus membutuhkan waktu penyembuhan enam bulan jika nona Xiang selalu memakan makanan bergizi!" Ucap dokter itu.
Aku hanya menyimak, iya sih aku merasakan bahkan seluruh tubuh ku kaku bahkan tak dapat digerakkan. Bahkan lehernya cukup sakit untuk menatap kiri dan kanan.
"Satu lagi nona Xiang mengalami lumpuh sementara dan mungkin bisa lumpuh selama nya jika sampai melakukan pergerakan lebih!" Aku membelalakkan mataku, tak habis pikir bahwa keadaan nya cukup parah.
"Lalu, apakah bisa sembuh?" Aku melihat guratan sangat khawatir ayahku, aku tau pria paruh baya itu hanya memiliki dirinya dan aku akan berusaha untuk sembuh sepenuh nya.
"Kasih obat paling mahal yang bisa menyembuhkannya!" Tegas kakek Zhang.
Aku sekali lagi hanya diam menyimak, tak ada yang bisa aku katakan sedangkan tenggorokan ku saat ini begitu serak dan sakit.
Aku tersentak dalam lamunan, sebuah tangan keriput namun tetap kekar itu menggenggam erat tangan ku. Aku melihat pria yang lebih setengah abad itu yang tampak memasang wajah yang sangat bersalah.
"Maafkan kakek!" Lirihnya yang menunduk.
"Kakek terlalu berlebihan, kamu kenapa tidak memohon pada kakek. Mungkin kakek bisa saja mengabulkannya!" Lirihnya kembali.
"Aku salah kakek, anda tak perlu merasa bersalah." Tegas ku meski cukup sakit mengeluarkan suara saat ini.
POV AND
Kakek Zhang terdiam, pemikiran nya melayang dan begitu merasa bersalah. Ternyata hukuman yang ia berikan begitu berat terlebih gadis dihadapannya itu baru saja pulang dengan wajah kentara lelah.
Ia tau ini bukan salah cucu nya itu, namun bagaimana pun ia harus memberikan hukuman pada seseorang yang berani tak menaati aturan.
"Apa kau mau jujur dengan kakek?" Tatapan yang menyiratkan kesedihan dan keputusasaan begitu terlihat jelas.
"Ya, Aku akan jawab apa pun itu kakek!" Jawabnya yang mengulas senyum tipis.
__ADS_1
"Apakah seorang pria yang telah mengurungmu?" Pertanyaan yang mampu membuat Xiang terdiam, ia bingung harus menjawab seperti apa.
"Hmm...Ya!" Jawab nya singkat.
Pria tua itu terdiam, "Kau tau nama nya?" Sekali lagi kakek Zhang bertanya.
"Aku tak tau, namun yang ku tau hanya satu! Dia mengurung ku agar membayar semua kesalahan ku." Ucap Xiang.
"Kesalahan~" Lirihnya dan menatap jauh menerawang, ia tidak mengetahui apa pun itu soal masa lalu cucu sahabatnya itu namun yang pasti ia mengetahui bahwa gadis itu pernah mengalami kecelakaan dan masuk kerumah sakit cukup lama.
"Apa dia orang berpengaruh?"
"Ya, dia orang berpengaruh." Jawab Xiang.
"Kaisar!" Sebuah nama yang mampu memompa jantung Xiang begitu cepat, gadis itu menatap kearah sang ayah yang dari tadi terdiam ditempat mendengarkan pembicaraan mereka.
"Benar bukan, bocah itu adalah orang berpengaruh di Asia." Ucap Yudha.
"Aku tak tau, aku pusing!" Xiang segera memejamkan matanya, ia tak ingin mendapatkan pertanyaan lebih jauh lagi yang membuat dirinya pusing untuk menjawab.
Kakek Zhang terdiam, ia menatap tajam kearah Yudha. Matanya memberikan kode dan Yudha mengikuti apa yang di perintahkan oleh tetua kakek Zhang.
...****************...
"Siapa kaisar, apa kau mengetahui dirinya?" Tatapan intimidasi terlayang tajam oleh kakek Zhang.
"Dia adalah masa lalu Berlin." Jawab Yudha.
Ya kakek Zhang sudah mengetahui nama asli Xiang, ia hanya ingin menutupi identitas cucunya itu agar tidak ada lagi yang bisa mengetahui nya.
"Lalu, dia ingin balas dendam dengan mengurung xixi ku!" Geramnya.
"Aku tak tau, dulu kami hanya memanfaatkan uang yang di berikan oleh nyonya Desi untuk merawat Berlin dan melakukan perobatan tanpa sepengetahuan Berlin dan kaisar!" Jelasnya.
"Baiklah, aku akan mencari identitas pria itu." Tatapan penuh keyakinan, hanya tau yang ia tau adalah tidak ada yang boleh menyentuh gadis kecilnya sedikit pun, bahkan membuat gadis kecilnya terkurung dan tersiksa dalam sebuah sangkar.
__ADS_1
Dimana ia tau Xiang tersiksa, ia mendapatkan semua nya dari dokter yang melakukan ronsen beberapa Minggu yang lalu dan menyatakan bahwa keadaan gadis itu memang sudah sangat kacau akibat terlalu banyak mengalami kekerasan.
Kakek Zhang menggeram, satu meja nya pun terbelah dua akibat geprakan yang cukup keras.