
...💐 READING BOOK 💐...
Kaisar Aldebaran, siapa yang tak mengenal namanya. Keluarga Aldebaran menjadi begitu tersohor dan terkenal dengan masuknya seorang tuan muda Aldebaran yaitu Kaisar Aldebaran. Pria dengan usia 24 tahun, tubuh yang tegap dan proporsional. Pembawaan yang dingin, berwibawa dan tak mengenal bulu banyak orang yang menatap ia segan meski dengan umur masih di bawah mereka.
5 tahun lama nya seorang kaisar melakoni menjadi seorang CEO muda, selama itu pula perusahaan keluarga Aldebaran semakin berkembang dengan sudah menambah 3 cabang dalam 5 tahun ini.
Kaisar POV
Aku Kaisar aldebaran, pemegang segala kekuasaan, sama seperti nama ku yang berarti berkuasa. Aku memegang beberapa perusahaan papa ku hingga akhirnya aku membangun satu perusahaan.
Perusahaan yang aku bangun masih dalam masa perkembangan sehingga aku selalu menutupi dari keluarga terutama ayah ku.
Saat ini setelah menyelesaikan pelelangan yang membosankan, aku malah di kejutkan dengan seseorang yang sudah begitu lama sangat aku tunggu.
Tunggu bentar, kenapa dia malah memakai baju seperti itu dan lihatlah darahnya begitu banyak, apa dia melakukan sesuatu, kenapa dia bisa sampai disini? Begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari ku, hingga ia tanpa sengaja menabrak ku, eh ralat aku sendiri lah yang menabraknya.
"So-sorry!" Ucapnya seperti menahan sakit. Astaga apa itu dia, kenapa penampilannya begitu berbeda saat ini, bahkan bisa dikatakan sangat jauh dari tampilannya yang pemalu, pendiam, culun dan sangat feminim.
Dia menatapku, eh tunggu...kenapa dia tak mengenali ku, apa aku jauh berbeda seperti dulu, tapi kan sama saja bedanya hanya sedikit dewasa.
"Maaf baju anda kotor anda bisa katakan berapa harganya" Suaranya sangat lembut namun tegas, apa ini beneran dia, lalu kenapa ia malah bersikap sangat tak kenal dengannya.
"Dirimu" Ucapku singkat, entahlah ucapan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut nya. Ingin sekali aku memukul mulut ku tapi ia masih mempunyai harga diri untuk tidak melakukannya
"Maksudnya gimana tuan!" Ia malah bertanya kembali, ingin sekali aku terkekeh tak aku masih menyimpan dendam untuk gadis ini.
"Aku mau dirimu!" Oh ayolah mulut kenap tidak sejalan sama pemikiran sih, kok malah langsung saja.
"Anda aneh!" Ya bisa dibilang seperti itu sih, tapi aku juga tidak suka mendengar bahwa ia aneh, padahal mah hanya sekedar keluar dari mulutnya saja.
Eh dia pergi begitu saja meninggalkan ku, aku menatap punggungnya. Semua rencana dan siasat diotak ku terus berputar-putar untuk membalas dendam akan semua yang ia lakukan.
"Kau kembali setelah sekian lama di cari, so...Baby, i still accept you!"
Setelah kepergian nya, aku menggerakkan tanganku, memberi kode pada asisten ku untuk mendekat.
__ADS_1
"Cari identitas dia!" Ucap ku yang langsung pergi dengan senyum merekah miring.
...End POV...
...****************...
Xiang baru saja sadar dari tidur panjangnya, matanya menatap sekelilingnya yang sudah berubah menjadi seperti kamar apartemen.
Ia menggerakan tubuhnya berusaha bangkit, ada rasa ngilu yang ia rasakan dan bahkan lidahnya terasa begitu kasar dan perih.
"Stttt!" Desis nya merasakan ngilu pada bahu nya.
"Eegghh..sial, ternyata racun nya sangat kuat...huh, untuk ayah memberikan sebuah penawar yang efektif!" Gumamnya.
Kini matanya mengedar ke segala arah, terdapat gorden yang masih tertutup namun masih ada sela-sela cahaya yang masuk.
Ia pun bangkit dengan tubuh lemasnya, entah sudah berapa lama ia tak sadar bahkan sudah memakai infus di tangan. Ia langsung melangkahkan kaki menuju jendela, perlahan tangannya pun membuka gorden tinggi itu.
Cukup sulit namun ia tetap bisa membuka gorden itu, ia menatap di luar yang begitu indah. Pemandangan kota yang berkegiatan membuat itu tak sengaja memberikan senyum manisnya.
"Sepertinya aku tidak bisa lihat ketinggian!" Gumamnya yang berusaha bersikap positif.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, datang lah bawahannya yang merupakan asisten nya, ia membawa sepiring makanan dan minuman beserta paper bag yang tergantung di lengannya.
"Anda sudah bangun nona...oh astaga kenapa anda lepas infus nya!" Ucap panik asistennya itu.
"Makasih!" Xiang tidak peduli, ia langsung saja mengambil makanan dan minuman dari asistennya itu.
Ia melahap dengan begitu lahap seperti seorang yang tidak makan beberapa hari. Eh tunggu, dia kan memang enggak makan beberapa hari.
"Berapa hari aku tak sadarkan diri?" Tanya Xiang dari sela-sela makannya.
"4! Ya cuman 4 hari doang!" Ucap asistennya yang bercebik mengejek.
__ADS_1
"Hey...aku terkena racun, jadi kamu jangan seperti orang nengejek!" Jengkel Xiang.
"Iya deh iya, btw itu ayah mu menelpon ku!" Ucap nya memberitahu.
"Kau bilang!" Kini Xiang menatap penuh selidik.
"Tidak, aku hanya mengatakan kalo kau masih bekerja!" Ucap nya menjelaskan.
"Haisshhh syukurlah, kau tau sendiri sifat ayahku...dia terlalu berlebihan!" Gerutu Xiang.
"Eh dia seperti itu karena kau tau sendiri bukan!"
"Ya aku tau Mardon, kau tak perlu mengingatkan ku!" Cebik Xiang.
Ya dia Mardon, asisten Xiang yang baru bekerja beberapa bulan ini namun sudah begitu akrab dengan nya, bahkan mereka bisa dibilang seperti kakak dan adek.
"Iya-iya, cepat habiskan makanan mu...kita masih ada urusan untuk melakukan pekerjaan lainnya!" Ucap Mardon mengingatkan.
"Ya ya ya...kau selalu bersikap seperti itu, berhentilah seperti emak-emak, aku saja sampai berpikir aku seorang emak-emak!" Ejek Xiang yang langsung menutup telinga nya dan bangkit menuju toilet meninggalkan pria itu.
Mardon hanya dapat berdecak kesal, ia pun memutuskan keluar menunggu nona nya selesai semuanya dan akan pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berbeda dengan Xiang, kaisar baru saja menyelesaikan semua pekerjaan nya, ini sudah selesai makan siang dan ia masih belum juga mengisi perutnya sedikit pun.
"Akhirnya" Gumamnya dengan lega.
Ia pun bangkit dari duduknya berjalan ke sofa ruangan, terdapat beberapa makanan yang sudah disediakan oleh sekretaris nya sendiri.
Tak banyak bicara ia pun langsung mengambil sumpit dan mengambil satu persatu makanan kedalam mulut hingga habis juga.
"Ck...selalu seperti ini, sayur dan sayur!" Ocehnya.
Ia pikir di balik kuah dalam mangkok sebuah daging, ternyata itu sayur dan ia juga memeriksa setiap mangkok dan semua nya sayur dengan bentuk masakan yang berbeda.
__ADS_1
Rasa lapar yang ia rasa langsung hilang, ia pun bangkit dari duduknya dengan wajah jengkel. Ia pun melangkah keluar, saat ini ia membutuhkan sedikit refreshing menenangkan otaknya yang sudah begitu panas akibat semua dokumen di depannya.