Omerta: City Of Gangsters

Omerta: City Of Gangsters
Saudara


__ADS_3

-Michael Romano-


Michael terbangun dari tidurnya, pandangan matanya melengok kearah jam usang yang tergantung di dinding, jarum jam telah menunjukan pukul setengah enam pagi.


Ia lalu beranjak bangun dari sofa yang selama ini telah menjadi kasurnya. Karena kamar di apertmen ini hanya ada satu jadi dia harus tidur di ruang tengah.


Michael kemudian meregangkan otot-otot miliknya yang terasa kaku, tubuhnya masih terasa sakit meski sudah 3 hari berlalu sejak si bangsat lucas menghajarnya habis-habisan. Perutnya terasa seperti keram, tapi obat yang di berikan dokter kemarin cukup meredakan sedikit rasa sakitnya.


“Michael kamu sudah bangun?” Tanya maria dengan sedikit berteriak dari dalam kamar.


Michael kemudian berjalan menghampiri ibunya yang masih berada di kamar, ia berdiri menyender di pintu sembari melihat ibunya yang tengah merapihkan pakaian kerjanya di depan cermin. Pandanganya kemudian beralih ke adik perempuanya yang sedang tidur.


dia terlihat seperti malaikat pikir Michael dalam hati.


“apa ayah sudah berangkat bu?”


“baru saja sekitar 10 menit yang lalu, ibu juga mau berangkat kamu jaga isabela dan beres-beres rumah ya” ucap maria sembari berjalan menuju pintu depan.


“oh hampir saja ibu lupa, Michael tolong nanti belanja bahan masakan di depan, bahan-bahannya udah ibu tulis di kertas, kertas nya ibu taruh di atas meja, uangnya ada di laci kamar”


“baik bu, hati hati di jalan” balas Michael sembari mengangguk, setelah itu maria pergi menuju tempat kerjanya.


Selepas ibunya pergi Michael mulai mengerjakan pekerjaan rumah, ia mulai menyapu lantai pekerjaanya di mulai dari kamar orang tuanya, ia mencoba menyapu sesenyap mungkin agar tidak menganggu tidur nyenyak adik kecilnya, tapi saat ia tengah membersihkan kotoran debu di bawah ranjang kepalanya kejedot kerangka besi, yang membuat isabela terbangun dari tidurnya.


”selamat pagi isabela” sapa Michael sembari mengusap ubun-ubun kepalanya yang sakit.


“loh kakak kenapa?”


“nggak apa-apa, kakak Cuma sedang beres-beres aja”


"Beles beles? Boleh aku bantu" Dengan semangat Isabela berdiri di atas ranjangnya.


Michael selalu saja merasa gemas karena adiknya tidak bisa menyebut huruf R, ingin rasanya ia mencubit pipi adik imut nya ini.


"Boleh tapi cuci dulu wajahmu ya,"

__ADS_1


"Baik kak" Isabela kemudian melompat dari atas kasur dan berlari kecil menuju kamar mandi,


"Jangan lompat-lompat nanti jatuh" Tegur Michael.


Tidak memakan waktu lama isabela kembali dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah. Michael kemudian menghela nafas melihat hal itu. Ia lalu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil handuk.


"Wajah mu masih masih basah tuh, di lap dulu sama handuk" Ucap Michael sembari mengelap wajah adiknya.


Isabela memasang muka cemberut "Um iya iya" Ia kemudian merebut handuk dari tangan kakaknya dan mengelap wajahnya sendiri. Setelah selesai ia mengembalikan handuk itu kembali ke kamar mandi. Isabela kemudian menghampiri kakaknya yang tengah menyapu di dapur.


"Sekalang apa yang aku halus lakukan kak?" Tanya isabela.


Michael tampak berpikir sejenak, memikirkan pekerjaan apa yang harus di kerjakan adiknya? , tentu saja seharusnya sebuah pekerjaan yang simpel dan mudah, mata hitam nya melihat kearah kemoceng yang tergantung di dinding.


"Kamu bersihin barang-barang yang berdebu aja ya, ini pakai ini" Kata Michael sembari mengambil kemoceng dan menyerahkan nya kepada adiknya. Isabela mengangguk paham.


Perempuan kecil itu segera melakukan apa yang di suruh oleh kakaknya, ia membersihkan barang-barang yang bisa di jangkau oleh tangan mungilnya. Setelah melihat adiknya bekerja tanpa hambatan Michael kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Mengepel, mengelap kaca, mencuci piring, mencuci pakaian semuanya telah michael selesaikan dalam waktu yang singkat, dan kini dirinya berada di atas loteng untuk menjemur pakaian.


Michael menjemur pakaian di bagian ujung loteng, sembari menanti kakaknya, isabela melihat kesibukan kota dari pinggir loteng yang di pasang kawat pengaman setinggi dua meter, adik kecilnya itu menggenggam kawat dengan cukup kuat entah apa yang di pikirkan olehnya.


Setelah menjemur pakaian Michael kemudian mengajak adiknya untuk turun kembali ke apertemen, dan membereskan kamar mandi.


Setelah seluruh pekerjaan rumah telah ia kerjakan ia memandikan isabela terlebih dahulu sebelum dirinya. Yang memakan waktu 15 menit. Michael membaca kertas pesanan dari ibunya, nama-nama bumbu dapur seperti bawang, cabai ketumbar tertulis di kertas tersebut, serta setengah kilo buah jeruk.


Setelah itu ia melihat kedalam laci lemari di kamar, uang belanja sudah di pisahkan di sana ia lalu mengambil dua kertas uang satu dollar dan memasukanya kedalam saku celana.


"Isabela kakak mau belanja, kamu mau ikut apa diem di rumah?" Tanya Michael pada adiknya.


Mata isabela berkilat penuh cahaya, ia lekas berlari menghampiri kakaknya "Ikut!!!" Balas adiknya dengan penuh semangat.


"Yaudah sini pakai sepatu dulu"


Michael kemudian memakaikan sepatu kepada kaki mungil adiknya. Setelah itu mereka berangkat menuju pasar yang berada beberapa blok dari apertemen.

__ADS_1


Ia menuntun adiknya isabela di sepanjang perjalanan, adiknya sangat riang, matanya menatap penuh antusias pada keramaian kota.


Beberapa menit berjalan akhirnya kedua bersaudara itu telah sampai ke tempat tujuan.


Pasar, tempat yang cukup berantakan banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan mereka diatas meja-meja kayu, meski jalanan yang becek dan lingkungan kotor sekalipun tidak mengikis keramaian di tempat ini, lagipula hanya di pasar tradisional inilah orang-orang bisa mendapatkan harga yang murah.


Tanpa membuang-buang waktu Michael segera membeli barang-barang yang tertulis di dalam kertas, anak itu mencari dari pedagang ke pedagang lain sembari menggenggam tangan adiknya dengan erat, bagaimanapun juga ia takut isabela tersesat dalam keramaian.


Sudah sekitar satu jam berlalu, kini Michael tengah berada di penjual buah-buahan.


"Beli Jeruk satu setengah kilo" Ucap michael yang di balas anggukan oleh pedagang, sang pedagang mengambil bungkusan kertas dia memasukan jeruk yang di tunjuk oleh michael kedalam bungkusan sampai berjumlah enam buah. Setelah itu sang pedagang melipat bagian atas bungkusan dan menyerahkan nya kepada michael, ia kemudian membayar nominal yang di pinta sang pedagang.


"Kak boleh aku yang bawa buah jeluk nya?" Tanya isabela.


Michael tersenyum lalu berkata "Boleh, pegang yang erat ya jangan sampai jatuh" sembari menyerahkan bungkusan jeruk di tanganya kepada adiknya, isabela lalu menerima bungkusan itu dan membawanya dengan cara di peluk oleh kedua tanganya.


"Sekalang kita kemana lagi kak?"


"Sebentar" Balas Michael sembari melihat kertas, untuk memastikan barang-barang yang ditulis sudah terbeli. Setelah memastikan semuanya sudah terbeli, ia lalu memasukan kertas tulisan itu kedalam saku mantelnya.


"Kita pulang" Sambungnya. Yang di balas anggukan penuh semangat oleh adiknya.


Dalam perjalanan menuju apartemen, michael melihat dua orang dengan aura tidak bersahabat, topi fedora berwarna hitam menutupi wajah dua pria itu.


Dua orang itu masuk kedalam sebuah toko roti, meski terdengar samar ia bisa mendengar suara kaca pecah dan keributan lainnya,hal itu membuat michael merasa was-was, tangan kanannya memegang pundak adiknya, membuat adiknya berjalan lebih cepat untuk mengimbangi langkah kaki kakaknya hal itu membuat isabela bingung.


"Ada apa kak?"


"Kakak ingin cepat-cepat pulang kerumah apa kamu ingin dengar kelanjutan kisah penyihir oz?"


Isabela mengangguk dengan penuh semangat "tentu saja"


Sepanjang perjalanan Michael menceritakan kisah dari penyihir oz yang dia ingat, penyihir oz atau The Wonderful Wizard of Oz adalah novel anak-anak yang di tulis oleh Lyman Frank Baum tahun, , 1900


Kisah dari Dorothy Gale di Negeri Oz mewarnai perjalanan kedua saudara itu menuju tempat tinggal mereka.

__ADS_1


__ADS_2