
(ST. Seven village, mansion Campound genovese family, pukul 17.00)
Seseorang pria berumur empat puluh tahun dengan Tuxedo berwarna hitam serta dasi kupu kupu yang melingkar dibawah lehernya, dengan model rambut high comb over, tengah duduk di sebuah meja kerja mewah terbuat dari kayu Gaharu yang dicat dengan pernis berwarna hitam Mengkilap, kedua mata pria itu tengah menatap kearah tumpukan dokumen yang berada di atas mejanya.
Pria itu kemudian menghisap cerutu yang di jepit oleh jari telunjuk dan tengahnya, menikmati setiap hisapan yang membuat pikiran nya terasa tenang.
Dia adalah, Don Carlo "the fox" Genovese, seorang Don atau kepala keluarga dari keluarga mafia genovese.
Don Carlo Adalah pria yang logis, ia memimpin kerajaan bisnis bawah tanah raksasa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal, perjudian, alkohol, pacuan kuda, serikat buruh, seorang tiran, pemeras, dan pembunuhan.
Meski terkenal akan reputasi kriminal yang di miliknya ia adalah seorang pria yang baik hati, Don Carlo selalu menawarkan persahabatan pada orang lain bahkan pada musuh-musuhnya sendiri.
"Don, dengan hormat, kita memiliki dua masalah hari ini" Ucap seorang pria yang berumur empat lima tahun dengan gaya rambut natural, ia berdiri di samping meja kerja nya, tepat sekitar 4 meter dari samping meja kerja sang Don, Don Carlo lalu melihat kearahnya.
"Masalah seperti apa Consigliere?," Tanya Don Carlo, sembari menghisap cerutu miliknya.
Consigliere, atau konselor adalah penasehat dan tangan kanan sang Don, sekaligus pengawas bawahan terutama tentang keuangan, dan merupakan posisi yang sangat penting dalam keluarga mafia bernama Leo Luciano, Pria itu kemudian berjalan mendekat ke samping sang Don sembari membawa beberapa lembar foto, dan sebuah koran.
"Pertama, anda pasti tau tentang Penggeledahan polisi di beberapa distrik kemarin, hal itu sampai menjadi headline surat kabar pagi hari ini."
"Lalu?"
"Polisi, menggeledah beberapa bisnis kita, judi pacuan, Speakeasy, dan tempat penyulingan, semua bisnis-bisnis itu tidak bisa beroperasi lagi dalam waktu dekat" jelas Leo.
Don Carlo kemudian menarik nafas untuk berpikir sejenak sembari mencari posisi yang enak untuk bersandar bagi punggungnya.
"Wali kota baru itu tampaknya sedang mencari muka, beri dia uang, beberapa ribu dolar ku rasa cukup dan katakan padanya Don Genovese menawarkan persahabatan untuknya, jika ia menerima persahabatan dariku, ia bisa datang padaku untuk meminta sebuah pertolongan"
"Ya, kita akan menyuruh orang untuk mencoba mengirim uang itu, tapi kalau dia menolak? "
"Beri dia sedikit intimidasi, tapi jangan terlalu berlebihan aku tidak ingin berurusan dengan anggota pemerintah, aku yakin tiga keluarga yang lainnya juga akan melakukan hal yang sama,"
"Padahal lebih mudah kalau kita membunuh nya" Timbrung seorang pria yang tengah duduk di sofa sembari mendengarkan perkataan mereka berdua.
pria itu memiliki perawakan besar dan tegap dengan potongan rambut cepak ala militer, Sontak saja ucapan nya itu membuat sang Don dan Leo tertawa.
"Paul, kalau kita melakukan itu kekacauan akan terjadi di kota ini, polisi akan memburu kita, begitu juga dengan tiga keluarga yang lainnya mereka akan menyalahkan kita menyudutkan kita diantara para Cosa Nostra, dan perang bisa pecah, keluarga Genovese akan terpinggirkan" Jelas Leo.
Paul "big paul" Castelano, salah satu Caporegime atau letnan keluarga Genovese yang memegang distrik Harlem, orang bertubuh besar itu mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dari Leo.
"Lalu apa masalah kedua? " Tanya Don Carlo, sembari menuangkan sebotol Wishky kedalam gelas, kemudian ia meminum nya seteguk.
Leo menaruh foto yang berada di tangan nya keatas meja, dalam foto itu terlihat seorang dengan cukuran rambut Cesar dan empat orang lain nya tengah memukuli seorang pemilik toko makanan.
"Orang ini, bernama Andrew Jackson dia seorang imigran dari Irlandia, dia dan geng nya melakukan ulah lagi di wilayah kita, beberapa pemilik toko di West side mengadu dan meminta kita untuk membereskan masalah ini"
Sang Don mengernyit kan dahinya, mencoba mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Bukan kah dulu kita telah memberikan peringatan kepada mereka? "
"Ya tampaknya mereka tidak mendengar kan nya"
Sang Don terdiam untuk beberapa saat, Dia terkadang tidak paham tentan geng irlandia kecil ini, sudah berapa kali ia mencoba menggunakan cara damai, tapi geng yang bernama Westties ini selalu saja berulah.
Don Carlo kemudian menghela nafas, ia pikir menyingkirkan begundal ini adalah pilihan terbaik, hal ini untuk menjaga reputasi keluarga mafia nya diantara para keluarga Costra Nostra yang lain nya.
"kita harus menyingkirkan nya, para pemilik toko ini membayar 20 dollar perminggu pada kita untuk menjamin keamanan mereka, kali ini tidak ada peringatan lagi, biarkan senapan berbicara dengan mereka" Perintah sang Don, sembari menghisap cerutu milik nya, ia tahu darah adalah harga yang mahal, tapi sayang begundal ini lebih memilih timah dibanding perak.
"Lalu siapa orang yang harus kita kirim? "
"Bagaimana kalau orang-orang ku?" Tawar Castelano, sembari menatap kearah mereka berdua.
"Kau punya orang yang berbakat dengan senapan?" Tanya Don Carlo,Yang di balas anggukan oleh Paul.
"Ya, ada empat orang bawahan ku disini yang ku tugaskan menjaga mansion, mereka mahir menggunakan senjata api"
"Kalau begitu, tolong panggilkan mereka"
"Dengan hormat Don, " Paul berdiri lalu. membungkuk kepada sang Don, ia lalu keluar dari ruangan itu, menuju gerbang belakang dimana anak buahnya berada.
-GERBANG DEPAN-
Paul sampai di halaman rumah, ia melihat salah satu bawahan nya tengah duduk di taman depan mansion itu.
Samuel Rizzi, melihat kearah Paul, ia merapikan mantel tailor suit hitam panjangnya, dan memakai topi fedora yang tergeletak di atas meja, lalu Rizzi berjalan menghampiri Paul.
"Yo, big Paul, ada apa? " Tanya Rizzi kepada Paul.
"Dimana Enzo, Monti dan Varoni? "
"Mereka berada di depan Grebang, apa perlu saya panggil?"
"Ya panggil mereka, lalu datang ke ruangan kerja Don, ada pekerjaan untuk di selesaikan" Perintah Paul, Rizzi mengangguk sebagai tanda mengerti.
"Baiklah" Ucap Rizzi yang kemudian pergi dari tempat itu, setelah melihat anak buahnya menghilang paul kembali masuk kedalam mansion.
Rizzi dengan cepat berjalan ke Grebang mansion, di sana ia melihat Enzo Banosera, Monti Santiago dan Varoni Bianco, yang merupakan rekan-rekan satu timnya tengah menikmati sebotol brandy di salah satu meja samping Grebang.
"Hey Rizzi, mau bergabung dengan kami hah?" Tanya Monti yang melihat kedatangan Rizzi.
"Brandy di sore hari, tidak buruk, tapi aku kesini bukan untuk itu kawan" Balas Rizzi, meski ia berkata seperti itu, tangan pemuda itu tetap menuangkan botol brandy ke dalam gelas lalu meminumnya dalam satu tegukan.
"Ada apa? " Tanya Enzo kepada Rizzi.
"Paul bilang Don memanggil kita. "
__ADS_1
"Hari kerja eh...., setelah sekian lama kita hanya jadi patung penjaga disini, akhirnya ada juga pekerjaan aku rasa tangan ku mulai kaku" Ucap Varoni.
"Aku malah lebih enak menjadi patung disini" Timpal Monti.
Mereka berempat pun segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ruangan sang Don.
-Ruang kerja sang don-
Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan tersebut.
"Masuk" Ucap Don Carlo mempersilahkan mereka masuk.
Keempat orang itu pun masuk, lalu menutup kembali pintu kayu hitam itu seperti semula.
"Dengan penuh kehormatan Don" Keempat pemuda itu membungkukkan tubuhnya memberi salam hormat kepada Don Carlo Genovese, Don Carlo kemudian melihat kearah Paul.
Don carlo memberi isyarat dengan tangan nya, ke empat pemuda itu lekas menaikan tubuhnya kembali. Sang don kemudian melihat kearah Caporegim Paul.
"Paul, ini orang orang mu?" Tanya Don Carlo yang hanya di balas anggukan oleh Paul.
"Anda tak usah khawatir, mereka sangat berbakat dalam senjata, saya pastikan itu atas nama saya sendiri" Tegas Paul.
"aku pikir kita harus memanggil beberapa orang lagi" Ucap Leo sembari melihat kearah mereka berempat.
"Tidak tuan Consiguliere, kami berempat sudah lebih dari cukup," Ucap monti.
"Kau yakin?,setidaknya kalian akan menghadapi lima belas orang"
"Tentu saja"
Sang Don nampak sedang berpikir, ia memainkan cincin emas yang melingkar di jari manisnya, Don Carlo kemudian menatap ke arah empat pemuda di depan nya, wajah mereka penuh dengan rasa percaya diri dan juga hormat kepada dirinya, dari sikap itu Ia tahu kesetiaan mereka terhadap keluarga tidak perlu di pertanyakan lagi.
"Kalian yakin? Ini pertanyaan yang terakhir" Tanya Sang don mengulangi pertanyaan dari consigulere nya, tanpa menjawab mereka berempat mengangguk.
"Baiklah," Sang Don mengeluarkan peta kota dari dalam laci di bawah mejanya dan menaruhnya di atas meja.
"Aku ingin kalian singkirkan mereka, berdasarkan informasi dari leo mereka sering berkumpul di sebuah gudang kosong di distrik West side,apa kalian tahu di gudang mana itu? " Tanya Don sembari memperlihatkan peta.
"Hanya ada satu gudang kosong dan terbengkalai di West side, lokasinya di dekat hutan Oaks yang berada di bagian ujung barat West side" Monti menunjukan lokasi gudang itu di peta.
"Itu lokasi yang bagus, tempat itu jauh dari keramaian jasad mereka tak akan mudah ditemukan, yah setidaknya sampai seseorang mencium bau busuk nya" Ucap Leo.
"Kapan kami memulainya?" Tanya enzo.
"Hari ini pukul delapan malam, di waktu itu saya yakin mereka tengah berkumpul di sana, dan tidak akan terlalu menarik perhatian" Ucap leo. Keempat pemuda itu mengangguk.
"Kalau begitu kami izin pamit" Ucap enzo, mereka berempat membungkuk, setelah itu pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1