
Masa lalu Enzo memang cukup kelam, ia sekarang menjadi seorang Pezzonovante kaliber .90 yang ditakuti, namanya terkenal di dunia bawah sebagai seorang pembunuh yang handal, dan orang yang pertama kali dibunuh oleh tangan nya adalah ayahnya sendiri. Sebuah fakta yang cukup ironis.
Langkah kakinya terhenti di sebuah toko pakaian, Mata hitamnya melihat ke dalam toko melalui kaca jendela, ia masih ingat dulu paul dan dirinya pernah mengobrak abrik toko itu dikarenakan pemiliknya tidak mau membayar uang 'keamanan'.
Ia menatap pantulan dirinya dari kaca toko, enzo telah berubah, ia bukan anak kecil yang lusuh seperti dulu, sekarang ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, ia punya apartemen besar atas nama pribadinya, ia bisa makan di tempat yang ia mau, memakai pakaian seharga ratusan dollar, ia punya banyak uang tapi anehnya ia tidak merasa senang dan bahagia sama sekali.
Andai saja ibunya masih hidup, apa yang akan ia katakan tentang jalan yang di pilihnya ini?.
Pandangan mata Enzo terfokus pada pemilik toko yang tengah memberi intruksi pada para karyawan nya, dia merupakan seorang pria yang telah berumur, sang pemilik toko tidak sengaja menangkap tatapan Enzo, raut mukanya berubah menjadi ketakutan ia bergegas masuk kedalam kantornya meninggalkan para karyawannya yang terlihat kebingungan. Rasa trauma yang di tinggalkan oleh Enzo dan paul masih membekas di dalam diri pria tua itu.
Enzo menghela nafas ia kemudian memasukan kedua tanganya kedalam saku mantel, dan kembali berjalan menuju restoran.
Beberapa menit berjalan ia telah sampai di restoran italia 'Tratorria Italian restoran' yang berada di jalan Carmine West side, disanalah pria itu akan bertemu dengan tiga orang lain nya.
Ia membuka pintu restoran, bebarengan dengan suara kencring dari jingle bell yang terpasang di pintu masuk, membuat beberapa orang yang berada di dalam restoran melirik kearahnya.
Mata hitamnya melirik ke seluruh penjuru ruangan, ia tidak mendapati rekan-rekan nya disana hanya ada beberapa orang dengan pasangan dan keluarga mereka yang tengah menikmati hidangan di meja, tampaknya Enzo adalah orang pertama yang datang, enzo lalu berjalan kearah meja bartender ia kemudian duduk di kursi bulat yang di sediakan di sana.
"buona fortuna signore enzo, Apa anda mau memesan sesuatu?" Tanya Sang bartender sekaligus anak dari pemilik restoran italia tersebut kepada Enzo.
Dia bernama maximiliam willy dan berumur 28 tahun, keluarganya memiliki hubungan yang dekat dengan don carlo, willy sangat suka bekerja, itulah kenapa ia menjadi bartender padahal ia bisa hidup berfoya-foya dengan uang yang ia punya.
Don carlo sendiri mempunyai restoran pribadi di wilayah inti keluarga genovese St seven village, restoran itu bernama Anthony&Frank italian Restoran, dinamai berdasarkan anaknya sendiri.
tapi di dalam restoran itu lah dia membuat ruang kerjanya sendiri, dari sana ia mengontrol seluruh bisnis keluarga. Bisnis illegal maupun legal.
"Satu botol bir" Jawab Enzo, sembari mengeluarkan sebungkus rokok dan korek dari balik saku mantelnya keatas meja. Enzo melihat ke sekeliling ruangan mata hitam nya beberapa kali memergoki orang-orang yang mencuri pandang kearahnya.
Tidak berselang lama pemilik restoran kembali sembari membawa satu botol bir dan gelas, ia kemudian meletakkan nya di meja. Enzo lalu merogoh 10 sen dari saku celana nya dan menaruhya di samping gelas.
"Tidak tuan Enzo ini gratis untukmu, anda sudah menyelamatkan nyawa saya dan saya mungkin tidak bisa membalas kebaikan anda" Sebelum Enzo sempat membalas, willy sudah pergi dari hadapan Enzo untuk melayani pelanggan lain.
Willy berhutang nyawa pada Enzo, dulu ia pernah di culik oleh sekelompok orang tidak di kenal, saat itu Enzo banosera datang menyelamatkannya seorang diri.
Enzo lalu menuangkan bir nya kedalam gelas, meneguk nya satu kali sebelum menyelipkan satu batangan rokok di mulut nya dan membakarnya.
Berselang beberapa menit Seorang pria dengan pakaian jas hitam rapih dan mantel yang panjangnya sampai bagian bawah lututnya duduk di samping kanan kursi enzo, pria itu meletakan topi fedora hitamnya ke atas meja, wajah yang berbentuk oval kumis tipis menghiasi wajah putih nya dengan gaya rambut Texturised Crop yang di sisir ke belakang. Di balik penampilan baiknya tidak akan ada yang menyangka Monti Santiago adalah seorang pembunuh brutal.
"Kau selalu terlihat tampan Enzo" Ucap pria itu.
"Brisik Monti, mendengar itu dari mulut mu terdengar menjijikkan" Balas Enzo dengan muka datar sembari menghisap rokok di tangan nya.
Monti kemudian memanggil Bartender dan memesan satu gelas Rum.
"aku hanya bercanda enzo, Menurut mu siapa yang akan menang hari ini?"
"Billy boy mungkin punya peluang, Dia kuda Russia"
"Kuda russia memang tangguh, tapi aku bertaruh kepada stephen 500 dollar"
"Kau bertaruh pada kuda Gipsi"
"Jangan remehkan Gipsi enzo mereka ahli merawat kuda"
Satu gelas Rum pesanan Monti telah tersedia di meja, monti kemudian menggeser uang 5 sen milik Enzo dengan jari telunjuknya nya dan menyerahkan nya kepada sang bartender. Si bartender kemudian melihat kearah enzo, melihat raut muka Enzo yang tidak mempermasalahkan hal itu ia kemudian mengambil uang 5 sen tersebut.
Monti lalu meminum Rum yang berada di tanganya.
"Kau tahu Enzo, ada beberapa kenalan wanita ku yang sedang mencari pasangan, apa kau tertarik?, aku bisa mengenalkanmu kepada mereka"
Enzo tidak membalas tawaran Monti, ia lanjut meminum bir miliknya.
"Ayolah kawan, kau bukan pria sejati kalau belum berkencan dengan wanita, sejak dari pertama kali aku mengenal mu aku belum pernah sama sekali melihatmu berhubungan dengan wanita, terkadang itu membuatku merinding, atau jangan-jangan kau itu seorang penyuka sesama jenis"
"Kau katakan itu lagi ku tembak kepalamu" Ancam Enzo yang di sambut tawa oleh Monti.
"Wow, tenang kawan aku hanya bercanda, lihatlah banyak wanita yang curi pandang kearahmu, apa kau tidak tertarik membawa salah satu dari mereka ke rumah?"
"Aku tidak tertarik"
"Aku kagum pada mu Enzo, kau sangat tampan bahkan aku yang seorang pria pun sampai mengakui itu tapi kau bukan seorang Playboy, padahal dengan kharisma yang kau miliki kau bisa menaklukan banyak wanita di dunia ini, mungkin seorang bintang Holywood juga akan menuruti perintah mu untuk naik keatas kasur"
Enzo bukanlah seorang gay, dia lurus, hanya saja iya tidak terlalu tertarik dengan wanita, bila kalian bertanya wanita seperti apa yang di inginkan Enzo Banosera, dia ingin wanita yang memiliki sifat layaknya ibunya yang penuh kasih sayang, menerima apa adanya akan dirinya, dan tetap setia sampai maut memisahkan, ia hanya tidak ingin menarik orang lain kedalam bahaya karena dirinya, meski dalam dunia mafia Italia membunuh Wanita dan anak-anak adalah sesuatu yang tidak terhormat dan melanggar aturan, dalam dunia gelap aturan seperti itu sering kali di langgar.
Setelah berselang beberapa menit akhirnya Varoni dan samuel datang bersamaan.
"Kau membawa mobilnya? " Tanya Enzo kepada samuel yang duduk di samping kirinya.
__ADS_1
"Ya, aku habis menjemput Varoni di rumahanya"
"Kalau begitu kita berangkat"
"Setidaknya biarkan aku minum segelas brandy terlebih dahulu"
"Tidak, lebih cepat lebih baik setelah pekerjaan selesai kau bisa minum sepuasnya sampai pagi, ayo"
"Hah, seperti yang kau perintahkan Enzo"
Enzo lalu lekas berdiri dari tempat duduknya di ikut dengan tiga rekan nya, mereka kemudian berjalan keluar dari restoran italia tersebut untuk menaiki mobil menuju markas geng irlandia.
-Gudang kosong di West side-
Mobil hitam yang mereka tumpangi telah sampai di gudang terbengkalai yang di jadikan markas para begundal irlandia, samuel memarkirkan mobil di bahu jalan yang sudah tercampur dengan tanah.
Kelompok itu kemudian turun dari mobil, cahaya bulan menyinari lingkungan sekitar, tempat ini sangatlah sepi, tidak ada mobil ataupun pemukiman hanya ada pepohonan oaks dan tiang lampu dengan cahaya remang-remang.
"Mungkinkah di sini ada hantu atau monster?" Tanya samuel.
"Hentikan omongan konyol mu itu, sesuatu seperti itu tidak pernah ada" Balas monti sembari mengambil senapan lupara di bagasi mobil.
"Kau tahu rumor yang beredar tentang hutan ini? Kudengar ada manusia setengah domba di sini, terutama saat bulan purnama"
"Bila mahluk itu muncul kita tinggal menembaknya, lagi pula kita datang kesini untuk berburu"
"Berburu orang irlandia" Lanjut monti.
Enzo lalu mengeluarkan revolver miliknya dari balik jas dan mengecek senjata itu berkali-kali begitu juga dengan tiga rekannya, diantara empat orang itu Monti satu-satunya orang yang memakai lupara.
Setelah memeriksa senjata mereka masing-masing, samuel kemudian mengambil tongkat baseball dari dalam mobil, selepas itu mereka berempat berjalan ke pintu masuk gudang yang terbuat dari alumunium.
Samuel lalu menggedor-gedor pintu tersebut menggunakan tongkat baseball.
"Buka pintunya!!!!" Teriak samuel sembari terus menggedor-gedor pintu alumunium tersebut.
Setelah beberapa puluh gedoran pintu itu mulai terbuka sedikit, seorang dengan tubuh agak tinggi mengintip keluar, langsung saja mereka berempat menghampiri orang tersebut.
"Hey bajingan, apa mau kalian malam-malam be-"
'BUAKHH!!!' sebelum pria itu selesai bicara samuel telah menghantam kepalanya menggunakan tongkat baseball, pria itu terbaring tidak sadarkan diri.
Mereka berempat kemudian berjalan melangkahi pria tersebut, dan masuk kedalam gudang, begitu masuk tiga orang yang berjaga di sana dengan reflek menodong kan pistol kearah mereka.
'Dor!!! Dor!!Dor!!' suara letusan senjata api terdengar, dengan cepat keempat orang tersebut berpencar mencari tempat berlindung.
Suara ribut mulai terdengar, karena letusan senjata api tadi anggota geng irlandia mulai berkumpul di area tersebut.
Beruntungnya bagi Enzo dan kawan-kawan nya, kegelapan malam yang senada dengan warna stelan mereka, dan cahaya lampu yang samar menyamarkan keberadaan.
Enzo dan varoni bergerak ke samping kiri untuk bersembunyi di balik sebuah mobil usang yang terparkir di sana. Ia mengintip kearah kelompok geng irlandia yang juga tengah mengawasi sekitar.
'Dzingg!!Dzingg!!' Dua tembakan lupara terdengar dari samping kanan, samuel dan Monti mulai melakukan serangan, yang membuat geng irlandia itu mengalihkan perhatian ke samping kanan mereka.
Enzo melihat dua geng irlandia yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi, dua orang itu tengah membalas tembakan ke posisi Monti dan samuel, Enzo lalu memberi isyarat kepada Varoni untuk mengikuti dirinya, paham akan isyarat Enzo Varoni mengangguk.
Mereka berdua kemudian menyelinap kebelakang dua pria tersebut, dengan senyap dan cepat Enzo mengeluarkan pisau dari balik jas nya, ia segera mengunci tubuh salah satu pria dari belakang dan menusukan pisau ke arah tenggorokannya berkali-kali. Kaget akan aksi itu teman irlandia di sampingnya segera menondongkan pistol milik nya kearah Enzo.
'Dor!!!' sebelum pria itu menarik Pelatuk nya kepalanya telah tertembus peluru revolver milik Varoni.
Varoni dan Enzo lalu berlindung di balik pagar beton, di ikuti oleh peluru yang mulai menerjang kearah mereka.
Suara tembakan bersahutan terdengar di bawah sinar bulan purnama, selama beberapa menit. Sampai orang terakhir di area itu tewas. Setidaknya delapan orang irlandia tewas di tempan ini.
Enzo,Varoni, Monti dan samuel kemudian berkumpul kembali mereka berempat kemudia berjalan kearah bangunan gudang, varoni mencoba membuka pintu besi gudang, tapi pintu itu di kunci dari dalam. Akhirnya mereka memutar ke bagian belakang gudang memecahkan sebuah jendela kaca yang tersambung dengan toilet, dan masuk kedalam melalui jendela tersebut.
Enzo mengintip dari balik lubang kunci pintu kamar mandi untuk memastikan tidak ada orang yang berdiri di depan pintu, setelah itu ia mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata di kunci.
Enzo membuat kode dengan kepalanya kepada samuel, memahami maksud Enzo samuel lalu membuka pintu itu paksa menggunakan kawat yang ia bawa.
'Klek'
Enzo membuka pintu secara perlahan, mereka berempat lalu berjalan mengendap-endap mengikuti lorong bangunan yang gelap.
'Klontang'
Tiba tiba terdengar suara kaleng jatuh dari belakang, dengan reflek ketiga orang itu melihat kearah varoni yang berada di barisan paling belakang.
__ADS_1
"Ups"
"Siapa itu?" Terdengar suara pria di ikuti dengan langkah kaki yang mendekat.
Enzo mengintip dari balik tembok, melihat seorang irlandia dengan revolver di tangan nya, pria itu berjalan secara perlahan kearah mereka.
"Sttt ada yang datang" Ucap Enzo yang berada di barisan terdepan, ia lalu mengeluarkan pisau dari balik jasnya, suara langkah kaki semakin dekat suara itu terdengar tepat di sampingnya.
"Hey apa yang kau lakukan disana?, andrew memanggil kita semua ke ruang tengah"
"Oh okay, bagaimana dengan begundal italia itu?"
"Entahlah suara tembakan sudah tidak terdengar dari luar, tapi kawan-kawan kitu belum kembali"
Suara langkah kaki terdengar menjauh, ini bisa menjadi kesempatan bagi enzo, Enzo merasa keberuntungan berada di pihaknya ia tidak usah mencari Andrew di bangunan gudang yang luas ini.
"Ayo" Bisik Enzo kepada rekan rekan nya, mereka kemudian menyelinap mengikuti langkah dua orang irlandia tadi.
Mereka sampai di ruangan yang sangat luas tempat menaruh barang, di sana telah berkumpul 10 orang geng westies, enzo bisa melihat andrew berdiri di atas sebuah kotak kayu, pria itu seperti tengah membicarakan sesuatu.
"Aku yang akan membunuh andrew kalian alihkan bawahan nya" Ucap enzo kepada tiga rekan nya.
Ketiga teman nya mengangguk, mereka kemudian menyelinap diantara tumpukan kotak kayu, jarak kelompok enzo dan geng Irlandia hanya tersisa beberapa belas meter.
"Gentleman iniziamo lo spettacolo(ayo kita mulai pertunjukan nya) " Ucap varoni langsung saja mereka berempat berdiri dari tempat persembunyian dan melepaskan tembakan.
'DOR!!! DOR!! DOR!!" suara tembakan terdengar menggema di ruangan, geng Irlandia itu terkejut akan aksi itu. Mereka yang selamat dari serangan kejutan langsung berpencar mencari tempat perlindungan. Andrew sang pemimpin mulai membalas tembakan, ia merasa percaya diri karena menang jumlah.
"DING dzing" Lupara menyemburkan timah panas yang menyebar dalam jumlah banyak kearah orang Irlandia malang, tubuh pria malang itu terkoyak oleh terjangan timah panas dalam jarak sedekat ini, senjata sawn off shotgun meski hanya menampung dua peluru tapi efek tembakan jarak dekat yang di hasilkan benar-benar mengerikan.
Pesta senjata api mulai kembali bergema, suara tembakan memekakan telinga bergema di ruangan tertutup ini, satu persatu anak buah andrew berjatuhan.
Andrew hanya bisa membelakakan mata melihat anak buahnya tumbang, hanya dalam beberapa menit setengah dari mereka telah di habisi. Ia terpojok.
Menunggu kesempatan Andrew berlari ke lorong di belakangnya, bagaimana pun juga ia akan kalah dalam baku tembak itu, dengan raut muka ketakutan. Ia tidak tahu yang di hadapinya adalah para pezonovante kaliber tinggi milik keluarga genovese
Enzo yang melihat Andrew kabur, memberi isyarat kepada varoni, varoni mengangguk paham, Enzo akan berlari menerobos orang Irlandia yang tersisa untuk mengejar Andrew, dan varoni akan memberinya tembakan perlindungan dari orang Irlandia yang mencoba menghalanginya, varoni lalu mengisi ulang revolver miliknya.
"Kita mulai varoni!!! "
"Yo!!! "
Enzo mulai berlari secepat yang ia bisa, orang Irlandia yang melihat musuhnya keluar dari persembunyian nya tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, mereka mulai mengincar enzo. Salah satu orang berdiri dari tempat persembunyian nya dan mencoba menembak Enzo, tapi sayang sebelum pria itu berhasil menarik pelatuknya timah panas milik varoni telah bersarang terlebih dahulu di Kepala nya.
'DOR!! DOR!! DOR!!' satu orang lagi tumbang ketika mencoba menembak Enzo, hal itu membuat orang Irlandia, yang tersisa hanya bisa bersembunyi.
Enzo berhasil mencapai lorong, ia terus berlari mengikuti lorong, derap langkah kaki dari ketua geng Irlandia andrew masih terdengar di telinganya, menandakan kalau dia masih belum kabur terlalu jauh.
Enzo terus berlari mengikuti suara derap langkah kaki, sampai ia melihat Andrew yang tengah menaiki tangga.
'DOR!!' Enzo menembak kearah Andrew, peluru itu menyerepet pembatas tangga dan menancap di kaki kanan Andrew. Tapi ketua geng Irlandia itu terus menaiki tangga dengan terseok Seok.
Enzo berjalan santai mengikuti andrew yang bersusah payah mencoba kabur darinya, darah dari luka tembak di kaki kanan nya tercecer di lantai. Hingga akhirnya andrew jatuh tersungkur karena kakinya sudah tidak kuat lagi berjalan.
"Tolong ampuni aku, tolong, kau mau uang? Aku bisa memberi seluruh uang yang ku kumpulkan"
Enzo menatap pria malang di depan nya, beberapa menit lalu andrew merasa jumawa dan sombong sekarang muka pria itu tergantikan dengan wajah orang yang takut akan kematian.
"Don carlo telah memberimu pilihan sebelumnya, dan ini adalah pilihan yang kau ambil" Ucap enzo ia kemudian menyentuh dahinya dengan tangan kanan untuk membentuk tanda salib.
"Buona notte"
'DOR!!!!' asap mengepul dari ujung laras revolver milik enzo, bersamaan dengan meledaknya kepala andrew, serpihan otak dan tengkorak berserakan di lantai, darah menyiprat ke tembok meninggalkan noda merah.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dari belakang Enzo, pria itu mengintip kebelakang dari ujung matanya, terlihat para rekannya tengah berjalan santai menghampiri dirinya.
"Kau sudah membereskan nya enzo?" Tanya varoni, Enzo tidak membalas pertanyaan varoni, pria itu mengangguk saat melihat mayat andrew yang tergeletak di lantai.
"Yah sepertinya semuanya sudah beres" Lanjut varoni.
"Sekarang haruskah kita pergi dari sini?"
"Yap kita rayakan ini dengan minum-minum"
"Tunggu dulu bagaimana dengan mayat irlandia itu? Apa kita biarkan saja seperti ini?" Tanya bianco.
"Tinggalkan saja mereka, terlalu banyak untuk di kubur lagi pula gudang ini sudah lama di tinggalkan, tidak ada orang yang akan datang kesini" Balas samuel.
__ADS_1
"Yup, biarkan mereka membusuk di sini" Timbrung varoni.
Mereka berempat kemudian berjalan keluar bangunan gudang melalui jalur mereka masuk, sesampainya di gerbang luar, samuel menutup pintu gudang dengan rapat, tak lupa ia membelitkan sebuah rantai ke handle gerbang. Setelah beres mereka berempat masuk kedalam mobil lalu pergi dari lokasi menuju restoran tempat awal mereka berkumpul.