
( 1 Desember 1914, East Bay Amerika Serikat)
Enzo tengah tertidur nyenyak di atas kasur queen size di kamarnya, cahaya matahari menerobos masuk melewati sela gorden kedalam ruangan, Cahaya itu terasa seperti menusuk kedua mata Enzo. Seakan memaksa dirinya untuk bangun dari mimpi indah yang tengah diputar dalam tidurnya, dengan rasa enggan anak itu membuka kedua matanya.
"Hoamzz, loh udah pagi? " Enzo meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, setelah tinggal bersama Paul sekarang ia bisa tidur dengan sangat nyenyak. Dahulu tubuhnya selalu sakit saat bangun tidur.
Enzo kemudian melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Ia kemudian beranjak dari atas kasur menuju jendela besar yang berada tepat di depan tempat tidurnya. Enzo lalu menyibakan gorden jendela, pohon-pohon yang dulu berwarna hijau di sekitar rumah Paul sekarang telah berubah menjadi putih terselimuti salju, sudah hampir 2 tahun tahun ia tinggal di rumah ini.
perlahan-lahan Enzo mulai mengetahui siapa sebenarnya Paul, Pria itu memiliki kaitan dengan sindikat kejahatan terorganisir Genovese, dan sekarang Enzo mulai terbiasa akan pekerjaan yang dilakukan nya bersama Paul.
Enzo kemudian merapikan tempat tidurnya, dan membersihkan seluruh kamarnya sampai benar-benar bersih, sekarang anak itu telah tumbuh menjadi orang yang sangat menyukai kebersihan itu semua dikarenakan Paul sering menyuruhnya membersihkan rumah.
setelah itu ia segera melakukan segala rutinitas di pagi hari yang memakan waktu sekitar lima belas menit, kini anak itu tengah menatap dirinya sendiri dari balik cermin, sembari merapikan rambut hitam halus dengan potongan gabungan Curtain dan undercut miliknya dengan kedua tangan.
"Kau sangat tampan kawan" Gumamnya pada dirinya sendiri sembari berpose layaknya seorang model, Enzo kemudian memakai topi appolo yang telah dia modifikasi, topi oppolo berwarna coklat itu memang terlihat seperti topi biasa, tapi dari balik kerutan sampingnya, tertanam ratusan silet bak barisan gigi hiu putih yang mampu merobek apapun di depannya. Itu adalah senjata tersembunyi milik enzo, ia sudah menghajar puluhan bajingan dengan topi ini.
Enzo lekas turun dari lantai atas, di lantai bawah anak itu melihat paul tengah menyantap sarapan pagi dengan sereal gandum di meja makan yang berada dekat dengan dapur.
"Hey, Enzo kau mau? " Tawar Paul sembari menunjuk bungkus sereal dan sekotak besar susu di depan nya.
Enzo kemudian menghampiri nya, dan duduk di salah satu kursi bagian samping meja, ia kemudian memasukan sereal kedalam mangkuk dan mencampurkannya dengan susu.
"Hey pak, minggu kemarin kamu janji mau mengajariku menggunakan senjata api, kapan kita akan melakukannya? " Tanya Enzo sembari menuangkan air hangat dari teko ke dalam gelasnya.
"Aku tidak lupa Enzo, dan jangan panggil aku pak, itu membuatku terdengar sangat tua" Balas paul sembari tetap memakan sereal nya yang hanya di balas anggukan oleh enzo.
Selang beberapa menit Paul sudah menghabiskan sarapan nya, ia kemudian mencuci mangkuk yang ia gunakan di wastafel, setelah itu Paul berbalik menghadap kearah Enzo.
"habiskan sarapan mu dan rapih kan meja itu, setelah itu temui aku di gudang" Perintah nya, sesudah mengatakan itu, Paul berjalan pergi menuju halaman belakang rumah.
Menuruti perintah Paul, Enzo mempercepat sarapan nya dan melakukan apa yang di suruh oleh pria besar itu. Setidaknya itu memakan waktu 5 menit baginya untuk membereskan meja makan.
Setelah tempat makan rapih, ia lekas berjalan ke gudang yang berada di halaman belakang, dari kejauhan enzo melihat pintu gudang yang sudah terbuka, ia lekas masuk kedalam.
'Tok tok tok'
"Apa yang sedang anda lakukan tuan paul?" Tanya Enzo sembari mengetuk pintu gudang.
"Hey enzo kau sudah selesai? " Paul, pria besar itu tengah duduk di kursi kayu reot dengan cerutu menggantung di bibir merah nya, sembari kedua tangan nya sibuk mengutak-atik Double-barreled shotgun yang berada di atas meja, ia tidak menjawab pertanyaan Enzo tapi malah balik bertanya.
"Ya" Jawab Enzo singkat.
"Kemarilah Enzo lihatlah" Enzo kemudian menghampiri paul dan berdiri di samping mejanya.
"Senjata ini sangat kuat, mampu membuat tengkorak manusia pecah dalam satu tembakan kau tau apa maksudku? "
"Benda itu berbahaya?"
"Ya, benda ini berbahaya, senjata di ciptakan untuk membunuh, dan sekarang sesuai dengan ucapanku kemarin, aku akan mengajarimu bagaimana caranya melakukan hal itu."
Ucap paul sembari memasukan 2 butir peluru kedalam barel shotgun, lalu menutupnya. Enzo menatap kearah shotgun yang di pegang paul dengan pandangan cukup tertarik, melihat hal itu paul lalu tertawa kecil.
"Bukan yang ini penjahat kecil, kau masih terlalu dini untuk memakai nya"
__ADS_1
ia kemudian memasukan shotgun itu kedalam tas dan menaruhnya di bawah meja, sesudah itu ia mengeluarkan Revolver hitam dari balik jas coklat nya dan memperlihatkan nya pada Enzo.
"Wetsson model 10 Sangat cantik bukan?" Ucap Paul sembari mengelap besi hitam tersebut. pria itu kemudian berdiri dan berjalan keluar gudang.
"Ikut aku Enzo, aku akan menunjukan kepadamu cara menggunakannya"
Tanpa sepatah kata Enzo segera mengikuti pria besar tersebut dari belakang.
Mereka berdua berjalan sampai di halaman belakang yang sangat luas, Halaman ini sering di gunakan oleh Paul saat latihan menembak, plat besi terpasang dalam jarak bervariasi yang digunakan sebagai sasaran tembak.
Paul menghisap cerutu besar di mulutnya hingga hidungnya mengeluarkan asap layaknya Cerobong kereta uap. kemudian ia menunjuk kearah 3 buah botol bir yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat mereka berdiri.
"Lihat dan perhatikan bocah" Ucapnya santai.
Paul mengangkat Revolver model 10 tersebut sampai sejajar dengan bahu dengan tangan kanannya, mata kiri pria itu menutup untuk memudahkan mata kanan nya membidik botol.
'DOR!!... DOR!!!... DOR!!' Asap mengepul dari ujung laras, ketiga botol kaca pecah dalam waktu hampir bersamaan.
"Wow, itu sangat luar biasa Tuan Paul"
"Hahaha, tentu saja kemampuan menembak ku salah satu yang terbaik di kota ini" Ucap Paul dengan nada bangga, sembari memutar-mutar revolver itu di jari telunjuk nya.
"Sekarang giliran mu bocah" Paul menyerahkan revolver yang berada di tangan nya kepada Enzo, Anak itu menerimanya dan melihat setiap detail dari senjata api ini.
"Cukup berat ya tuan Paul"
"Sekarang Dorong atau tarik silindernya dengan tangan mu kearah kiri, silindernya akan terbuka"
Enzo melakukan apa yang di suruh paul, silinder revolver terbuka ke samping kiri, tiga butir peluru sudah hilang hanya meninggalkan Selongsongnya saja di dalam lubang.
Enzo kemudian memasukan peluru itu satu persatu kedalam lubang silinder, itu memerlukan waktu 8 detik bagi nya untuk memasukan seluruh peluru ke dalam lubang.
"Sekarang ayunkan atau dorong silinder itu ke kanan"
Enzo mengayunkan pistol itu ke kanan 'Klek' silinder revolver itu telah kembali ke tempatnya semula.
Paul kemudian menunjuk kearah pelat besi yang tergantung sekitar 10 meter dari tempat mereka berdiri.
"Itu sasaran mu, sekarang pegang handel pistol tersebut ke antara jari telunjuk dan ibu jari tanganmu yang dominan. Dengan ibu jarimu pada satu sisi dari pegangan, jagalah jari tengah, jari manis dan kelingking mu menggenggam secara aman di sekeliling sisi lainnya tepat di bawah pengaman pelatuk menggunakan tangan yang dominan, lalu topang bagian bawah gagang dengan tangan yang nondominan jangan lupa sejajarkan kedua ibu jarimu untuk akurasi yang bagus, setelah itu angkat senjata itu sampai sejajar dengan bahu mu"
"Seperti ini?" Tanya Enzo, ia sudah dalam posisi apa yang Paul perintahkan kepadanya, tapi posisi lengan kanan nya kurang lurus.
"Lengan kanan mu luruskan" Ucap Paul sembari meluruskan lengan kanan Michael.
"Pertahankan posisinya" Terus paul yang di balas anggukan oleh Michael.
Enzo berkonsentrasi untuk memembidik plat besi yang tergantung, ia menutup mata kirinya untuk memudahkan pem bidikan. Setelah yakin ia menarik pelatuknya.
'Klek'
"Loh?"
"Kau belum menarik Hammer nya bocah" Jelas Paul sembari menarik hammer yang berada di belakang pistol.
__ADS_1
"Sekarang coba tembak"
'DOR!!' suara ledakan terdengar saat Enzo mulai menarik pelatuknya, tangan anak itu terpental ke atas karena menahan efek Recoil dari revolver tersebut.
"Tembakan mu meleset jauh, lebih rapatkan selaput tangan mu agar laras senjatanya tetap mengarah ke depan dan tetap stabil, coba lagi"
"Baiklah" Enzo sekali lagi memfokuskan konsetrasinya pada plat besi, ia memantapkan genggaman tangan nya, dan membayangkan kalau pistol itu bagian dari dirinya. Setelah dirasa yakin, bocah itu mulai menarik kembali pelatuknya.
'Dor!!, Tingg!!, Dor!!!, Tengg!!' suara peluru dan plat besi beradu terdengar sebanyak 5 kali, seluruh peluru yang tersisa di dalam revolver berhasil mengenai sasaran.
Paul melongo melihat kejadian itu, tidak mungkin bocah yang baru pertama kali memegang senjata api bisa sampai semahir ini, padahal dulu waktu dirinya pertama kali belajar menembak ia hanya mampu mendaratkan 2 butir peluru dari jarak 10 meter tapi bocah ini bisa 5 kali berturut-turut di jarak yang sama. Apakah ini bakat dari lahir atau hanya sebuah keberuntungan?.
"Wow, itu benar-benar sangat luar biasa Enzo, coba sekali lagi, sekarang isi peluru itu pakai alat loader ini"
Paul menunjukan sebuah alat loader yang berbentuk bulat, Di alat itu, 6 butir peluru sudah tersusun rapih dalam posisi berdiri, dengan alat itu Enzo bisa memasukan 6 butir peluru secara bersamaan dan itu hanya memakan waktu 2 detik. Enzo kembali berkonsentrasi terhadap plat besi yang menggantung di depan nya.
'Dor!!!, klontang!!!, Dor!!!, Tengg!!' bunyi tersebut terus terdengar sebanyak 6 kali.
Mata Paul kembali melotot melihat hal itu, sulit baginya untuk mempercayai hal ini.
'Tidak itu bukan kebetulan, tapi Bocah ini memiliki bakat dari lahir, bila aku terus melatih anak ini, saat ia dewasa nanti ia bisa jadi orang yang diperhitungkan' gumam Paul dalam hati.
'Prok!! Prok!! Prok!!'
"Luar biasa Enzo, kau sangat berbakat, kau bisa mengenai target jarak sepuluh meter dengan perbandingan satu banding sebelas, untuk awalan kau mengalahkan diriku yang dulu" Ucap Paul sembari bertepuk tangan.
Paul kemudian mengambil sekotak peluru dari dalam gudang dan menaruhnya di atas salah satu meja halaman.
"aku mau membersihkan beberapa senjata di gudang, Coba lagi sampai kamu terbiasa dengan senjata api, " Setelah mengatakan itu, Paul kembali masuk kedalam gudang.
-pukul 09.50 pagi-
'Teeet!!! Teet!!'
"Hey Enzo ada orang yang menekan bel rumah, lihat siapa dia mungkin itu Fanucci!!" Teriak paul dari dalam gudang.
"Ya tuan paul!!!" Enzo menaruh pistol nya di meja dan lekas bergegas masuk kedalam rumah menuju pintu gerbang.
sesampainya di gerbang ia bisa melihat seorang pria dengan kumis lengkung memakai jas berwarna coklat dan topi apollo dengan warna yang sama. Enzo kemudian membuka Grebang yang terkunci.
"Buon Giorno Enzo" Sapa pria itu sembari mengangkat topi appolo nya.
"Selamat pagi juga tuan Fanucci"
Fanucci adalah rekan Paul, Fanucci merupakan seorang Associate, atau orang yang punya hubungan dengan kelompok mafia tetapi bukan bagian dari keluarga, lebih simpelnya mirip seperti seorang Tentara bayaran yang akan mendapatkan upah kalau menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada nya.
"Dimana Paul?"
"Dia ada di gudang, akan ku panggilkan" Balas Enzo yang hanya di balas anggukan oleh fanucci. Beberapa menit kemudian anak itu telah kembali bersama paul.
"Fanucci kau sudah membawa semua yang ku pesan?"
Seperti yang kau lihat paul ada tembakau di box merah, cerutu di box putih, Gan** dibox biru dan di kotak kayu itu ada Rum dan Liqueur," Balas fanucci sembari menunjuk kearah truk dengan jempolnya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita berangkat, Enzo kunci rumah" Tanpa banyak tanya Enzo segera melaksanakan perintah paul, Beberapa menit kemudian ia kembali sembari membawa satu bondol kunci, anak itu lalu menyerahkan nya kepada paul.
Setelah itu mereka berangkat menuju west lower side untuk menjual barang-barang tersebut.