
"Namaku Carlo Genovese"
Colinham terdiam sesaat setelah Don memperkenalkan dirinya, perutnya terasa mual,kakinya bergetar tubuhnya menjadi lemas, dan rasa takut mulai menguasai dirinya secara perlahan.
Tentu saja colinham tahu siapa 'Carlo Genovese' nama itu sering muncul di pemberitaan koran pada tahun 1916 selama kekacauan dunia bawah di eastbay. Seorang yang di duga sebagai kepala penjahat, seorang pembisnis Italia yang mendirikan perusahaan Nexi.C o, yang bergerak di industri garmen dan pangan.
Colinham masih ingat dengan foto wajah pria Italia yang terpampang di koran-koran pada tahun itu, meski sekarang Don sudah terlihat lebih tua, tapi wajahnya tidak terlalu banyak berubah. Hanya kerutan-kerutan tipis yang mulai tumbuh di beberapa lekukan wajahnya.
kepala agensi itu teringat akan sikapnya yang kurang sopan, ia mengutuk ketololanya sendiri, insting bertahan hidupnya telah beraksi otaknya dengan reflek menyuruh nya meminta maaf sebelum terlambat, dengan terbata-bata Colinham membuka mulutnya "s-s-sung-guh tu-an Car-lo aaku t-tidak tahu kalau itu anda" dengan gemetaran ia duduk di sofa yang berhadapan dengan sang Don, dengan meja kaca memberi jarak diantara mereka berdua.
Don Carlo membenarkan posisi duduknya "Ada apa dengan anda tuan colinham?, Kenapa anda terlihat gugup seperti itu" tanya Don Carlo dengan santai.
"**-tidak, sa-ya moh-on ma-af de-ng-an ya-ng saya katakan sebelumnya" jawab colinham.
"Lupakan itu, mari kita bicara baik-baik, saya datang kesini atas permintaan Mayer, seperti yang anda bilang sebelumnya anda akan melepaskan dia kalau ia membayar satu juta dollar kepada anda" ucap Don dengan masih mempertahankan kesopanan di setiap kata-kata nya. Ia lalu memberi isyarat kepada tessio untuk meletakan koper yang di bawanya keatas meja.
"Di sini terdapat enam ratus ribu dollar, sisanya aku akan membayar anda dengan cek" terus Don sembari membuka koper. Satu juta dolar bukanlah jumlah yang besar bagi seorang jutawan seperti Don Carlo.
Colinham melongo melihat tumpukan uang di depan nya, ia menelan ludah, bukan perasaan senang atau bahagia karena ia akan menjadi seorang jutawan yang ada hanya rasa takut, ia tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Don setelah dirinya menerima uang sebesar itu. Mana mungkin orang seperti Don Carlo rela melepaskan satu juta dollar miliknya begitu saja.
"Maaf dengan yang saya katakan sebelumnya itu hanya candaan orang Amerika, anda tidak perlu membayar saya sebesar itu" balas colinham menelan kembali kata-katanya.
"Kalau begitu Berapa yang harus ku bayar?"
"Lima puluh ribu dollar, itu sudah cukup"
__ADS_1
Don Carlo kemudian tersenyum, ia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, dengan takut dan gemetar colinham menerimanya.
Don berkata"Anda pria yang baik hati," dengan nada penuh sanjungan sembari mengambil uang lima puluh ribu dolar dari koper nya. Ia lalu menaruh uang itu diatas meja.
Colinham berdiri menuju lemari, dan kembali ketempatnya dengan kertas yang berisi pemutusan kontrak di tangannya. Ia lalu menaruhnya di atas meja, Colinham lalu menandatangani kertas tersebut sebagai tanda setuju. Setelah itu Don membereskan berkas dan menyuruh tessio untuk membawa kembali koper nya.
Mata hitam sang Don menatap kearah wajah colinham, membuat colinham bergidik ngeri meski Don masih terlihat tenang dan bersahabat tapi tatapan yang di arahkanya seakan penuh intimidasi bagi lawan bicaranya, "Bila hal yang terjadi di ruangan ini tersebar ke publik, serta muncul gosip yang tidak mengenakan dan mempengaruhi karir dari Mayer maka orang pertama yang akan ku cari adalah dirimu, aku harap kau camkan itu dalam kepalamu" ancam Don, biasanya ia selalu menawarkan timah atau perak saat bernegosiasi, tapi khusus untuk colinham ia hanya menawarkan timah untuk kepala agensi tua itu. Tidak ada tawaran persahabatan bagi si tua sombong.
"Aku paham, aaku akan menutup mulut"
"Bagus" Don memakai kembali topi fedora hitam miliknya dan beranjak bangun dari sofa, ia lalu berkata "saya tidak akan berlama-lama di sini tuan colinham, senang bertemu dengan mu" Don kemudian mengangkat topi fedora miliknya sebagai isyarat pamit.
"Ya, mohon maaf atas ketidak sopanan ku" colinham menundukan kepala kepada Don, sikap yang tidak pernah ia lakukan sepanjang hidupnya, meski harga dirinya berteriak, tapi ia harus melakukanya, ia tidak ingin berurusan dengan orang-orang seperti Don Carlo.
Sekarang urusannya sudah selesai, mereka berjalan menuju mobil sewaan, di tengah perjalanan tessio memecah keheningan.
"Sekarang kita akan kemana Don?,"
"Kita akan pulang tapi sebelum itu aku ingin mampir terlebih dahulu ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa gaun bagi carmela" jawab Don, don sangat memanjakan anak bungsunya itu, mungkin karena ia seorang perempuan, berbeda dengan saudara laki-laki nya Don tidak terlalu memanjakan mereka tapi masih memberi perhatian kebapakan kepada putra-putranya. Bagaimana pun juga don adalah seorang ayah yang baik bagi keluarganya.
#-Paul Castelano, sore hari dermaga, Harlem bagian utara
Di hari kunjungan Don ke new york telah terjadi protes di dermaga, protes itu di lakukan oleh serikat buruh yang selama ini berada di bawah naungan keluarga Genovese, mereka mengeluh akan upah yang mereka terima tidak sebanding akan pekerjaan yang mereka lakukan dari pagi sampai sore tanpa hari libur.
Keluarga Genovese memang sudah cukup lama mengontrol serikat buruh, mereka mendapatkan banyak keuntungan dari itu, Genovese menyediakan pekerja kepada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pekerja dengan upah murah, dan mereka akan mendapatkan bagian dari upah yang di bayarkan, mereka mengambil bagian hampir setengah dari upah pekerja dengan dalih, jasa karena para buruh itu mendapat pekerjaan dan jaminan perlindungan.
__ADS_1
Genovese juga menggunakan serikat buruh nya untuk kepentingan mereka, melibatkan mereka dalam bisnis ilegal maupun legal yang di jalankan Genovese, dan sebagai daya tawar politik bagi partai yang ingin mengambil banyak suara dalam pemilihan walikota, dewan maupun kepala distrik.
Tentu saja itu adalah senjata dan bisnis yang memberikan banyak keuntungan kepada keluarga, dan sekarang mereka melakukan protes di dermaga dengan ancaman pemogokan massal. Buruh-buruh yang protes ini kebanyakan adalah orang-orang lama, yang tidak mengalami banyak perubahan dalam pendapatan dan kehidupan mereka meski sudah lama bekerja.
Itu hanyalah faktor sampingan, pemicunya adalah sebuah perusahaan kontraktor yang menggunakan jasa serikat buruh ini bangkrut dan para buruh tidak mendapatkan upah mereka selama satu minggu, kejadian ini terjadi berselang satu hari setelah sang Don pergi ke newyork, pemilik perusahaan itu kabur keluar kota menghindar dari tanggung jawab, dan juga takut akan ancaman dari keluarga mafia. Semua itu luput dari perhatian Castelano yang bertanggung jawab atas wilayah Harlem, ia tidak akan menyangka protes itu akan membesar padahal sebelumnya ia telah memberikan sedikit uang kompensasi kepada buruh-buruh yang terdampak. Atau mungkin karena hal itulah membuat mereka berani melakukan protes.
Don dan Leo tidak ada di rumah, dia harus mengurus masalah ini sendiri, pertama ia harus bertemu dengan orang yang menjadi pemimpin para buruh itu.
Pria bertubuh besar itu berjalan kaki di ikuti Enzo, Varoni dan 3 anak buahnya yang lain, dari kantornya di blok apartemen yang menjadi tempat penyulingan alkohol yang terletak bersebrangan dengan dermaga.
Tapi sesampainya di parkiran dermaga langkah kakinya di hadang oleh seorang remaja berumur 17 tahunan, rambut lurus dengan wajah yang mirip dengan Don, memakai sebuah kemeja putih dengan dasi yang di longgarkan memberikan kesan berandalan pada anak itu.
Dia adalah Frank Genovese anak kedua Don Carlo, entah karena urusan apa ia datang kesini bersama dua orang pengawal di belakangnya.
"Pak Castelano bagaimana kabar mu?" Tanya Frank sembari mengulurkan tangan nya untuk bersalaman.
Castelano menatap kearah wajah Frank, ia lalu tersenyum tipis "kabarku baik Frankie, kenapa kamu datang kesini?" Tanya balik Castelano.
"Aku hanya berjalan-jalan di Harlem dan kebetulan melihat keramaian di sini, kupikir situasinya kacau bukan begitu pak Castelano?"
Castelano mengerinyitkan dahi mendengar itu, Castelano tidak secerdik tessio, tapi Castelano tahu ada maksud tersendiri dari omongan Frank, ia meragukan omongan putra kedua sang Don itu. Ia pasti datang karena sesuatu, terlebih Frankie adalah orang yang tertarik dengan bisnis keluarga.
"Seperti yang kamu lihat"
Frank menarik nafas, "Ayah ku tidak ada jadi kupikir kita akan membereskan masalah ini bersama" ini bisa menjadi panggung pertama bagi Frank untuk terjun dalam urusan keluarga, ia sudah punya rencananya sendiri untuk mengurus kekacauan ini dengan cepat rencana yang mungkin tidak akan pernah di setuju oleh ayahnya. Frank adalah orang yang frontal,mudah emosi, dan senag melakukan tindakan langsung, karena sifatnya ia membawa reputasi bagi dirinya di keluarga maupun di dunia bawah untuk kedepannya.
__ADS_1